Category Archives: Wisata

Menjelajahi Raja Ampat (2)

Sudah saya bilang sebelumnya, bahwa baru kali ini saya menggunakan jasa pemandu wisata.  Dalam bayangan saya, pastinya nanti akan yang mendokumentasikan perjalanan saya, mungkin dalam bentuk video atau foto-foto saya selama perjalanan menjelajahi Raja Ampat.  Tidak berlebihan saya berharap, karena menurut saya, itulah yang (seharusnya) membedakan antara jalan secara independen yang semua kebutuhan serba diurus sendiri dibandingkan dengan bantuan jasa pemandu.

Pemandu, seharusnya memberikan motivasi agar kita semangat melakukan perjalanan ke sana, ada hal-hal yang membuat kita penasaran. Sayangnya sang pemandu ini, bukan menceritakan hal menarik, justru menceritakan hal-hal buruk mengenai tempat yang akan saya tuju, yaitu Wayag. Menurutnya medannya berat, jaraknya sangat jauh, dan untuk mendakinya sangat sulit. Sehingga mereka menyarankan untuk tidak jadi kesana.  Loh … 😦

Biaya perjalanan saya cukup mahal karena paketnya adalah untuk menjelajah sampai ke Wayag, lalu mau di gagalkan? Tentu saja saya tidak setuju.

Pagi pagi, walaupun agak kesiangan, saya putuskan untuk tetap ke Wayag. Rupanya, perjalanannya sangat jauh, membutuhkan waktu hampir 6 jam dari Paiynemo ke Wayag. Ketika saya lihat di Google Maps, posisi Wayag memang di ujung Raja Ampat. Jaraknya mungkin hampir separuh jarak kalau ke Maluku. Beruntung cuaca saat itu sangat cerah, air laut nampak tenang seperti di danau saja. Sehingga tidak begitu khawatir walaupun perjalanan sangat jauh.


Untuk memasuki kawasan tersebut harus lapor dulu di tempat pendaftaran di sebuah kantor kecil pos jaga kawasan Raja Ampat. Saat itu pengunjung sangat banyak, sehingga jika ke sana, harus antri menunggu yang di atas turun, barulah kita diijinkan naik.

Sambil menunggu antrian, kami sempatkan untuk menikmati hiu hiu liar yang lalu lalang di pantai pos jaga tersebut. Beginilah suasana pantai di pos jaga tersebut.

j6

Pantai Pos Jaga Wayag, Raja Ampat (10/12/16)

Berbeda dengan Paiynemo, untuk mendaki Wayag kondisinya memang masih alami, kita harus mencari pijakan sendiri dan sesekali mencari pegangan di antara batu batu karang yang tajam dan ranting-ranting pohon.

Cukup menguras tenaga untuk mencapai puncak, namun begitu sesampai di atas, sungguh pemandangan yang sangat indah luar biasa. Seluruh kelelahan, terbayar sudah, lunas. Inilah keindahan alam Indonesia yang memang harus disyukuri, karena hanya terdapat di Indonesia. Tuhan sudah menciptakan surga kecil, untuk kita nikmati.

j18

Puncak Bukit, Bentangan Kars Wayag, Raja Ampat (10/12/16)


Pulang Menuju Waiwo Resort

Matahari nampak sudah berada di ujung, hampir menyentuh batas garis laut. Warna merah keemasan sudah mendominasi warna langit saat itu.

j20

Nampak juga pelangi yang melengkung dengan sempurnanya.

j19

Menurut sang “sopir” kemungkinan kita pulang akan malam, sehingga menyulitkan dia menentukan jalur pulang. Waduh… kalau sang Nahkoda dan sang pemandu sudah berkata begitu, sudah berbahaya.

Semula saya memang akan ke Teluk Kabui dan Batu pencil, tetapi sepertinya dilewati karena sudah malam. Tidak apa-apa, saya memakluminya kalau gagal ke sana.

Tetapi yang saya heran sang sopir dan pemandu tidak tahu posisi ke resort tempat menginap. Sedang bercandakah? Dan nyatanya memang tersesat. Di kegelapan malam, kapal ini tetap berjalan, dengan bermodalkan pandangan mata dari jarak dekat saja. Dan saya melihat sang “sopir” agak panik, ketika tiba tiba saja ada sebuah benda di depan kapal. Dengan sekuat tenaga sang sopir memutar kemudinya. Ups … hampir saja, katanya.

Akhirnya, kapal ini berlabuh juga, bersandar di sebuah dermaga yang kelihatannya sangat bagus. Tetapi sayangnya, salah sandar karena bukan dermaga tempat kami menginap. Kami pun harus kembali ke speedboad.

Laut masih nampak tenang, hanya saja, kondisi di speedboad sangat gelap. Sambil berdoa agar lekas sampai. Sang pemandu terlihat beberapa kali menelepon resort untuk menentukan lokasi penginapan tersebut.

j25

Akhirnya, keresahan, kelelahan pun berakhir, ketika tanda tanda di mana speedboad ini harus bersandar. Sudah cukup malam, tetapi bersyukur.

Postingan ini masih draft, nanti akan diperbaiki lagi.

 

 

Iklan

Video, Menikmati Telaga Bintang dari atas Bukit

Telaga Bintang adalah laguna yang dikelilingi bukit karang. Bentuk bintang hanya dapat dilihat dari ketinggian di puncak bukit. Jarak Telaga Bintang dengan Bukit Piaynemo hanya 10 menit perjalanan dengan speedboad.


Video, Menjelajah Bukit Karang Piaynemo

Piaynemo adalah gugusan pulau karang atau yang lebih dikenal dengan sebutan miniaturnya Wayag. Jika wisatawan ke Raja Ampat, inilah tempat kedua yang wajib dikunjungi setelah Wayag. Seperti apa Wayag, pada Vlog berikutnya akan saya tayangkan.

Menurut “pak sopir” speedboad,  Piaynemo berasal dari bahasa masyarakat Biak yang artinya ujung tombak yang ditusukan. Untuk mencapai gugusan batu karang ini dibutuhkan 2 jam perjalanan dengan speedboad dari Waisai, Ibu Kota Raja Ampat.

Sebelum memasuki kawasan ini, setiap pengunjung wajib lapor di pintu masuk pos dermaga dan mengisi buku tamu.

Untuk mencapai bukit tertinggi dibutuhkan 15 menit dengan menaiki anak anak tangga yang terbuat dari papan papan kayu. Cukup aman dan nyaman, berbeda ketika akan mendaki bukit Wayag di ujung Raja Ampat maupun telaga bintang yang tak jauh dari tempat pendakian ini.

Dan mulailah, berpetualang di gugusan pulau karang Piaynemo.


Video, Keindahan Pasir Timbul di Raja Ampat

Walaupun udara agak mendung ketika kami berangkat dari pelabuhan rakyat usahamina. Tetapi sesampainya di pasir timbul, udara sangat cerah, matahari bersinar dengan teriknya.

Beruntung masih timbul pasirnya, biasanya disaat jam begini sudah tenggelam, kata sang nahkoda speedboat yang saya tumpangi. Beruntung juga masih ketemu “mahluk” yang masih berada di sana, walaupun hanya 6 orang dari Irlandia, tetapi pulau pasir itu masih cukup luas untuk kami jejakan kaki di sana.  🙂

Bayangkan jika sudah berhimpit himpitan … nggak kebayang jadinya 🙂 bisa jadi makanan hiu yang banyak saya temui di sini.

Untuk mencapai lokasi ini, butuh waktu 2 jam dari pelabuhan usahamina Sorong. Cukup melelahkan, tetapi terpuaskan ketika melihat indahnya pantai pasir putih ini.

 


Indahnya Telaga Formasi Bintang

img_9932

Foto: Telaga Bintang, Raja Ampat, Papua Barat (9/12/2016)

Telaga bintang ini  terbentuk dari gugusan pulau-pulau yang membentuk formasi bintang.  Formasi ini hanya bisa dilihat, jika kita mendaki ke salah satu bukit yang ada di sekitar kawasan Piaynemo. Berbeda dengan bentang alam Piaynemo yang sudah tersedia anak anak tangga yang terbuat dari kayu. Untuk mendaki ke bukit ini, cukup berat  tetapi cukup menyenangkan.


Keindahan Bentangalam Kars Piaynemo

img_9902

Foto: Bentangalam Kars Piaynemo, Raja Ampat, Sorong, Papua Barat (09/12/2016)

Bentangalam kars ini sering disebut sebagai miniaturnya Kepulauan Wayag. Keindahan fenomena bentangalam kars ini dipengaruhi oleh pelarutan dan struktur geologi. Unik, hanya ada di Indonesia.

 


Eiserner Steg, Jembatan Gembok Cinta di Frankfurt

Frankfurt,  April 27,  2015 (latepost)

Ini adalah salah satu obyek wisata yang saya kunjungi di Frankfurt. Namanya adalah Eiserner Steg atau banyak orang menyebutnya Jembatan “Gembok” Cinta. Disebut demikian, karena di sisi kanan dan kiri penyangga jembatan tersebut banyak sekali ditemui gembok gembok yang sudah digrafier dengan nama-nama pasangannya, lengkap dengan hari jadi pernikahan, dsb.

IMG_2700

IMG_2685

IMG_20150427_183843

Eiserner Steg, Jembatan Gembok Cinta, Frankfurt, 27 April 2015

IMG_20150427_182527

Jembatan Gembok Cinta, Frankfurt

Jembatan ini dibangun sejak tahun 1868, yang melintas di atas sungai Main yang menghubungkan Römerberg dan Sachsenhausen. Panjang jembatan ini sekitar 400 meter. Di sisi kanan dan kiri sungai juga tersandar beberapa kapal wisata.

IMG_20150427_185222

Di bawah Eiserner Steg, Frankfurt

IMG_20150427_190827

IMG_20150427_223837

Bagaimana saya bisa sampai ke tempat ini? Gampang, saya menggunakan bus wisata. Jatuhnya memang agak sedikit mahal, karena seharusnya bisa digunakan sampai sore hari, untuk mengelilingi kota Frankfurt ini. Tetapi begitu melihat ada tempat menarik saya langsug turun dari bis.

Maunya sih sebetulnya mengeksplore sendiri sambil bawa bawa map 🙂 Mengingat waktu, sepertinya nanti akan kehabisan di jalan. Ya, sebab sebentar lagi saya akan melanjutkan perjalanan ke Zurich, Swiss. Dan fokus saya memang akan berlama-lama di Swiss, khususnya di Lucerne.

Bersambung