Category Archives: Kesehatan

Aplikasi Pengukur Tes Pendengaran

Beberapa waktu lalu, saya menyempatkan diri untuk memeriksakan anak saya yang sulung ke Rumah Sakit THT, tepatnya tanggal 25 Juni 2012. Masalahnya adalah kalau saya memanggil seperti tidak dia dengar. Lalu, saya tanya juga, “bagaimana kalau di sekolah?”  Ternyata sama saja, terkadang dia tidak mendengar dengan baik apa yang gurunya terangkan.

Atas dasar inilah, maka saya bawakan anak saya ke dokter spsialis THT. Dari hasil laboratorium, ternyata tidak ada masalah dengan pendengaran tersebut. Masking Level (dB) Rinne baik yang kiri maupun kanan positif, demikian juga Weber 500, 1000, 2000 (saya tidak tahu istilah ini) tetapi dari keterangannya tidak ada lat.
Lanjutkan membaca


Menjadi Head Line di Kompasiana

Biasanya, kalau saya nulis, ya setulis-tulisnya saja, tanpa berpikiran nantinya tulisan ini akan menjadi menarik atau nggak. Berbeda dengan prinsip orang dagang. Berdagang biasanya, isi tulisan disesuaikan dengan selera pasar, yang paling banyak dicari khususnya melalui mesin pencari Google atau lainnya. Tujuannya jelas, yaitu meningkatkan jumlah pengunjung.

Sehingga ketika saya lihat tulisan saya masuk dalam headlines di Kompasiana pun saya tidak tahu  artinya apa.

Setelah menuliskan kata kunci “head line” di mesin pencari di blog tersebut,  saya baru mengerti, kalau tulisan yang di index di HL adalah sebuah karya “masterpiece’ nya blogger di Kompasiana (kompasianer). Aneh juga, tulisan yang hanya ditulis cuma semalam itu, bisa masuk kesana.

Padahal tulisan itu hanya tadi malam saja di tulis, antara pkl 03.00 – 06.00 pagi. Sambil merasakan telinga yang nyut-nyutan inilah saya tuliskan artikel itu, yang saya beri judul, ” Kelainan itu bernama Fistula Preaurikular Kongenital”.  Semalaman memang saya nggak bisa tidur, menikmati  demam, dan telinga yang bengkak.

Info lengkap mengenai penyakit ini, silahkan klik tautan berikut di sini.


Kaki yang bengkok dan terlipat ke atas, bisa disembuhkan!

Saat  terlahir, anak saya memiliki kelainan bentuk kaki,  kedua kakinya bengkok ke dalam, dan terlipat  ke atas. Saat ini sudah sembuh dan bisa berjalan normal.

Tulisan ini saya tujukan untuk calon Ibu yang akan memiliki anak. Dan pengalaman ini, nampaknya perlu saya tularkan kepada orang lain. Karena saya melihat ada banyak juga orang tua yang memiliki kasus yang sama dengan saya, tetapi mereka  membiarkan anaknya tetap dengan kondisi demikian, tanpa ada upaya  yang signifikan dari orang tuanya.

Untuk orang yang tidak mampu, mungkin bisa dimaklumi, tetapi  saya melihat seorang artis, yang notabene punya duit pun tetap tidak melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Mereka menganggapnya sebagai takdir, sebagaimana yang disampaikan di sebuah acara infotainment beberapa tahun lalu di televisi. Saat itu, istri saya hendak menghubungi sang artis tersebut, sayangnya tidak tahu kemana harus menghubungi.

Saya yakin, karena ketidaktahuan sang artis itulah yang menyebabkan dia bersikap seperti itu. Untuk alasan itulah, tulisan ini saya buat.

Ketika menuliskan ini, saya ijin lebih dulu kepada anak saya, yang saat ini sudah berusia 12 tahun, “Apakah boleh ditayangin foto-fotonya waktu kecil”, dan dia pun menyetujui.

Adriel, ketika berusia 1 tahun, berpose di Pantai Kuta, tahun 2001

Pengalaman saya, penyakit itu sangat bisa disembuhkan, bisa dikoreksi, asalkan jangan terlambat. Pada  kasus anak saya, setelah seminggu dilahirkan, saya langsung bawa ke dokter spesialis bedah tulang. Dan menurut dokter spesialis itu, kasus seperti ini sangat banyak, hanya saja pasien justru terlambat membawanya, sehingga tidak bisa dikoreksi lagi, kecuali dilakukan operasi bedah tulang. Dan jika sudah pada tahapan ini pun sulit sembuh, apalagi mengalami terlipat ke atas seperti yang dialami anak saya. Tidak bisa lagi dikoreksi.

Tetap semangat Backpacking …

Padahal sebelumnya, di  rumah sakit di mana anak saya dilahirkan pun bilang, bahwa kemungkinan sembuh ini kecil. Tetapi dengan tekad dan doa yang kuat, dan keyakinan saya, saya yakin anak saya sembuh.

Backpacking ke Curug Cilember tahun 2003

Dua minggu sekali, anak saya dibawa ke dokter spesialis yang saat itu alamatnya di Tebet, untuk dikoreksi, yang kemudian hasil koreksian itu digips. Tentu saja anak saya yang masih bayi itu, menangis sejadi-jadinya, karena memang dipaksa ke arah sesuai bentuk kaki yang seharusnya. Perlakuan ini, semula saya ragu juga, takutnya dokter itu salah, mengingat dia baru berumur 1 minggu.  Satu minggu!.

 

Perlakuan ini saya kerjakan hingga anak saya  berumur delapan bulan. Selesai di gips perlakukan selanjutnya adalah menggunakan sepatu khusus.

Dan saat  yang ditunggu itupun tiba, pada waktu itu saya masih ragu, apakah dia bisa berjalan normal? Layaknya anak-anak lain?  Mengingat perlakuan koreksi dan penggunaan sepatu tentu akan berpengaruh ke struktur tulang di atasnya. Nyatanya, ketika umur 1 tahun 3 bulan, apa yang saya cemaskan, ternyata anak saya bisa berjalan normal. Puji Tuhan.

Naik Delman dengan Kakek di Bogor

Penggunaan sepatu ini, tetap dilakukan hingga kelas 3 SD. Sepatu ini dibeli di YPAC (Yayasan Penderita Anak Cacat) di daerah Hang Leukir, Kabayoran.  Sepatu ini diganti setiap 3 bulan sekali, sesuai dengan pertumbuhan ukuran kaki.

Kampus ITB, Bandung 2004

Semoga tulisan ini bisa dibaca oleh orang yang sedang menghadapi permalahan seperti itu. Intinya, kelainan tersebut bisa dikoreksi,  jangan terlambat dalam penanganan, dan jangan salah dalam menangani, karena kesalahan menangani yang semula bisa dikoreksi, justru menjadi cacat yang tidak bisa disembuhkan lagi.

Apa yang saya lakukan tentu atas pertolongan Tuhan yang sudah memberi hikmat, bagaimana saya harus menyikapi derita yang dihadapi anak saya.

Foto-foto lain, menyusul, sedang di scan.


Diabetes (6): Memperbaiki Kebiasaan Makan yang salah

Olahraga sudah dibahas, sekarang adalah  soal memperbaiki pola makan. Pola makan saya biasanya begini: pagi, sarapan  dan  menurut saya normal tidak ada masalah, demikian juga makan siang, jadi tidak perlu dibahas secara detail makanannya apa. Yang menjadi masalah adalah makan malamnya. Kalau makan malam, biasanya minimal adalah 2 piring   🙂   Menurut saya ini salah, seharusnya  cukup sekali saja, nggak perlu ada acara nambah segala.  Sejatinya, makan itu untuk bekerja, lah ini untuk tidur, nambah pula. Bagaimana perut nggak buncit???

Menurut Hiromi Shinya dalam bukunya Mukjizat Mikroba, “kalau memang masih lapar, makan buah apel yang dipotong kecil-kecil”. Masih lapar? Kebangetan!

Inilah kebiasaan makan yang salah, biasanya makan dulu, baru makan buah, salad dan sayur sebagai penutup. Harus dibalik, makan buah atau salad atau sayur dulu, baru makanan utama. Makan buah dan sayur lebih dulu maksudnya supaya lambung terisi lebih dulu, sehingga keinginan makan nasi yang biasanya suka nambah menjadi berkurang. Minimal tidak lagi 3 piring, tetapi cukup 1 piring   🙂

Keuntungan lain, makan buah dan sayur lebih dulu adalah  akan merangsang keluarnya hormon  inkretin, yaitu hormone yang dikeluarkan oleh saluran  usus. Hormon inkretin  ini akan menuju pancreas, sehingga organ ini akan mengeluarkan insulin.

Nah, saat makanan utama masuk, maka kadar insulin yang sudah cukup itu tinggal men-set agar makanan utama yang masuk itu tidak menyebabkan tingginya kadar gula dalam tubuh.

Gampang bukan? Tinggal praktek!

(Bersambung)


Diabetes (5): Seberapa besar pengaruh olahraga dalam menghindari diabetes.

Baru kali ini, saya menjalani olah raga dengan “serius”, biasanya dilakukan hanya kalau ada waktu luang.  Tetapi kali ini ada waktu atau tidak, harus saya jalankan. Bukti keseriusan itu, kemarin saya membeli sepatu khusus untuk olahraga badminton, mereknya R**bok, warna putih, type REE6-J82036, Nomor 40. Sebetulnya sepatu itu bukan khusus untuk badminton sih, cocoknya untuk tenis. Masalahnya yang untuk badminton itu, warnanya yang nggak nahan. Genjreng banget. Saya nggak suka warna-warna mencolok, mengkilat pula.

Cuma beli sepatu saja koq diumumkan?  😀   Suka-suka yang punya blog dong.  Bukan, maksudnya mau hitung berapa lama umur sepatu ini, itu saja. Jadi, tulisan ini semacam logbook-nya lah. Itupun beli dengan harga discount 50%. Lumayan, kan nggak ada yang tahu kalau sepatu itu mereknya discount  🙂

Selama ini  saya olahraga menggunakan sepatu yang biasa saya gunakan untuk backpacking, dan sekarang sudah ringsek ujungnya  🙂

Seberapa besar pengaruh olahraga dalam menghindari diabetes? Ini dia catatan saya, yang diambil dari berbagai sumber:

  1. Olahraga akan membakar kalori, yang berarti akan membantu mempertahankan atau menurunkan berat badan.
  2. Olahraga akan meningkatkan jumlah reseptor, sehingga insulin bisa melekatkan diri. Dengan demikian akan meningkatkan penggunaan glukosa oleh sel-sel.
  3. Olahraga akan membantu meredakan stress, sehingga menghambat munculnya hormon yang berlawanan dengan fungsi insulin.
  4. Olahraga akan memperbaiki peredaran darah sekaligus  menjaga kondisi otot-otot jantung.

(Bersambung)

 


Diabetes (4): Penderita di Jakarta 1:8

Penyakit ini nampaknya sangat populer, sebab satu dari delapan orang penduduk Jakarta menderita penyakit ini.  Data tersebut diperoleh dari Divisi Endokrin dan Metabolik RSCM, hasil riset populasi  tahun 2006.   Bayangkan saja,  jika penduduk di Jakarta tahun 2012 ini  berjumlah 9,6 juta jiwa, maka berdasarkan perhitungan perbandingan tadi, maka jumlah penderita berjumlah 1,2 juta jiwa.

Menurut saya, jumlah penderita pastinya bakalan meningkat. Nggak percaya? Coba saja buktikan, banyak faktor penyebab yang membuatnya menjadi meningkat. Mungkin menarik untuk dijadikan topik penelitian, adakah korelasi antara semakin macetnya Jakarta dengan meningkatnya penderita diabetes? Atau ini, adakah korelasi antara jumlah kendaraan motor roda dua dengan meningkatnya penderita diabetes.

Cara menghitungnya, gampang, hitung saja, berapa jumlah kendaraan bermotor roda ini pada tahun 2006, dan berapa jumlahnya sekarang. Terus bandingkan juga bagaimana kemacetan Jakarta di tahun 2006, dibandingkan dengan sekarang. Dan hitung juga berapa jumlah penderita diabetes tahun ini.  Sebuah penelitian yang menurut saya menarik.

Terlalu luas? Bisa dipersempit, coba saja hitung, berapa jumlah karyawan di kantor Anda? Dan berapa jumlah penderita diabetesnya? Survey juga bagaimana mereka bertrasnportasi.

Hipotesis saya, ada korelasi!! Kemacetan akan membuat orang semakin stres. Demikian juga orang-orang yang selalu menggunakan kendaraan motor roda dua, membuat orang menjadi malas bergerak. Bahkan hanya untuk beli sabun mandi  ke warung dekat rumah saja, perlu naik motor.  Tubuh menjadi pasif.  Sehingga saya yakin penderita diabetes ini akan meningkat pesat. Berapa persen jumlahnya? Nah inilah yang perlu diteliti lebih jauh.

Saya, maunya kalau ke kantor itu, naik sepeda atau sambil jogging, masalahnya, takut  ketabrak …   😦   Jakarta tea atuh   🙂  Yang jalan di trotoar aja di tabrak, apalagi yang menyatu dengan kendaraan umum …

Karena nggak bisa, maka agar aktif, karena meja kerja saya di lantai 4, maka setiap pagi untuk mencapai lantai 4, saya pun menaiki tangga  sambil berlari.  Lumayan …  berapa ratus kalori tuh yang terbakar …


Diabetes (3): Hati-hati dengan perut yang membuncit

Sesungguhnya ini adalah bentuk perut saya sekarang ini   😦   makanya anak-anak saya pada complain. Dan si sulung pun menyuruh saya, “coba dech pah … berdiri tegak lurus, coba lihat jari kaki ke bawah, dan jangan membungkuk. Terlihat enggak?”.

Terlihat sih, tapi cuma ujungnya saja, sedikit, itupun sambil membungkuk sedikit …   🙂    “Artinya itu sudah termasuk buncit Pah …” begitu kata anak saya yang sulung.

Lain lagi sibontot, dia paling gemes lihat perut saya, selalu ingin menabrakan kepalanya ke perut saya  😀

Nampaknya saya harus benar-benar memberi  perhatian lebih untuk yang satu ini, memalui olahraga rutin dan diet rendah lemak.

Olahraga ini memang benar-benar bukan dikerjakan kalau ada waktu, atau pun sambil lalu. Harus benar-benar dijadwalkan. Itu adalah tekad saya. Makanya semalam saya coba cari sepatu khusus untuk  olahraga kesukaan saya, Badminton. Walaupun bisanya cuma tepak tepok, dan nggak pernah menang setiap bertanding.  Itu adalah olahraga yang saya sukai dibandingkan olahraga lainnya.

Lemak yang menumpuk di perut, atau disebut juga dengan lemak visceral adalah pangkal sering terjadinya diabetes. Semakin berat volume lemak visceral ini, risiko terkena diabetes akan semakin besar. Tidak percaya? Coba saja cek di jurnal Annals of Neurology edisi Mei 2010. Hasil riset yang melibatkan 700 orang dewasa ini, ternyata membuktikan hal tersebut.

Selain olahraga, program diet rendah lemak juga harus mulai dilakukan.

(Bersambung)