Tag Archives: Lingkungan

Panas

Biasa kerja di ruang ber AC, sehingga ketika keluar kantor panasnya bukan main. Itu pengalaman yang lalu-lalu. Tetapi masalahnya siang itu ketika hendak menghadiri sebuah seminar di kantor Microsoft(23/10) sekitar pkl 11.30 wib panasnya luar biasa sekali, panas terik. Ada apa? 

Saya coba googling dan ternyata menurut sebuah informasi di Detiknews.com yang mengutip pendapat Endro Cahyono, Kepala Seksi Data dan Informasi BMG Jawa Timur, bahwa posisi bumi terhadapa matahari saat ini adalah posisi terdekat.  Dijelaskan bahwa bumi mengeliling matahari tidak dalam keadaan posisi bulat tetapi elips, dan saat ini merupakan pada posisi yang terdekat. Dijelaskan juga oleh Kukuh Rubiyanto, Kepala Subbidang Informasi Metereologi Public BMG  bahwa: posisi matahari  saat ini tepat berada di atas Pulau Jawa dan juga tidak adanya awan yang melindungi. Sehingga bukan Jakarta saja yang mengalami peningkatan suhu tersebut, tetapi juga Surabaya, dan Semarang.

Pertanyaannya, benarkah karena hanya persoalan itu? Sebetulnya menurut saya banyak faktor lain yang ikut menyumbang terjadinya peningkatan suhu tersebut. Pertama, adanya variasi iklim yang dipengaruhi oleh aktifitas alam seperti El Nino, La Nina, dan Dipole Mode. Kedua adalah adanya pemanasan global yang disebabkan oleh meningkatnya gas rumah kaca di atmosfer. Ketiga, pemanasan lokal di Jakarta sendiri yang disebabkan degradasi lingkungan karena kurangnya ruang hijau. Ditambah lagi kadar polusi di Jakarta yang sangat tinggi yang memerangkap sinar matahari itu sendiri, sehingga udara menjadi kian panas luar biasa.

Kalau saja Jakarta banyak pohon-pohon hijau, polutan yang sebagian besar berasal dari gas buang kendaraan bermotor itu tentu akan dapat diserap tanaman untuk proses fotosintesis. Sayang Jakarta saat ini lebih banyak mall, pembangunan gedung ketimbang hutan-hutan kota. Jadi tidak heran, kedepannya kita akan semakin gerah dan panas.


Krisis Pangan dan Lemari Penyimpan Benih

Beberapa waktu lalu, dikabarkan bahwa Norwegia telah melakukan upaya penyelamatan pangan dunia dalam menghadapi situasi “hari kiamat” yang diakibatkan oleh bencana alam seperti pemanasan global, gempa bumi, maupun akibat perang nuklir. Yaitu dengan dibangunnya sebuah lemari penyimpanan benih sedunia (Svalboard Global Seed Vault) di Longyearbyen.

 

Sebuah upaya yang mirip jaman Nabi Nuh, yang berupaya menyelamatkan manusia dan makhluk hidup lainnya dari penghukuman Tuhan melalui bencana air bah. Lemari penyimpan tersebut memuat jutaan bibit tanaman dari seluruh dunia yang disimpan di kedalaman 1000 km di gunung Arctic.  Sebuah antisipasi yang cukup visioner.

 

Lepas dari upaya-upaya yang terlalu jauh ke depan tersebut, saat ini justru bencana krisis pangan sudah ada di depan mata.  Saat ini krisis pangan seolah melanda hampir di semua Negara, yang berakibat efek domino. Kondisi ini sudah membuat instabilitas geopolitik di beberapa Negara.

Beberapa faktor pemicu krisis pangan tersebut, adalah sebagai berikut:

Pertama, kondisi haus pangan yang dipicu booming ekonomi di China dan India, yang mengakibatkan lonjakan harga. Kedua, iklim yang tidak kondusif dan efek pemanasan global menyebabkan produksi pangan gagal. Negara-negara penghasil pangan seperti Thailand, India dan China akhirnya memberhentikan ekspor dan lebih memprioitaskan kebutuhan dalam negeri.  Kecuali Indonesia yang justru malah mau mengekspor. Lho? Nampaknya sejauh ini kedaulatan pangan (kemampuan Negara memenuhi kebutuhan pangan warganya)  belum menjadi visi pemerintah. Padahal krisis pangan jelas-jelas sudah di depan mata. Ketiga, pemenuhan kebutuhan pangan menyebabkan kebutuhan energi berbasis fosil yang juga besar.  Keempat, tekanan terhadap energi fosil yang begitu besar menyebabkan banyak Negara mencari alternative energi (Biofuel), seperti  jagung, gandum, kedelai, dsb. Celakanya, upaya ini justru berbenturan dengan kepentingan perut.

Inilah kondisi real yang mulai kita hadapi hari-hari ini. Entah sampai kapan ?

Bagaimana menurut Anda?