Perang Survey Pilkada DKI

Menarik, mencermati hasil survey lembaga-lembaga survey terkait Pilkada DKI, sebagaimana yang dilaporkan oleh Gatranews (19/01/2017).

Hasil survey yang dilakukan oleh LSI Denny JA, menyebutkan:

  1. Agus – Sylviana : 36,7%
  2. Ahok – Djarot : 32,6%
  3. Anis – Sandy : 21,4%

Sedangkan hasil survey Polmark Research Centre:

  1. Agus – Sylviana : 23,9%
  2. Ahok – Djarot : 20,4%
  3. Anis – Sandy : 25,3%

Hasil survey LSI yang juara adalah pasangan calon No Urut 1 sedangkan hasil survey Polmark yang juara adaah No Urut 3.  Hasilnya saling bertolak belakang, padahal dilakukan dalam rentang waktu relatif bersamaan. Menunjukan bahwa, lembaga survey pun punya kepentingan juga terhadap paslon tertentu.

Hanya sekedar iseng aja, saya akan coba lakukan survey sendiri melalui blog ini?

Siapakah calon gubernur DKI yang akan Anda pilih?


Menambah Fitur SoundCloud

Kebetulan Minggu ini saya nggak kemana-mana, jadi saya manfaatkan untuk mengotak atik blog. Kali ini saya mau menambah menu SoundCloud (SC) ini di blog saya. Saya mulaikan dengan cerita tentang kisah penipuan pulsa. Konten di SC sendiri sudah saya upload sekitar 3 tahun yang lalu, sudah lama, yaitu mengenai rekaman percakapan telepon staf saya dengan seseorang yang bermaksud menipu pulsa. Saya tidak tahu, apakah modus seperti ini masih ada sampai sekarang?

Berikut ini rekaman percakapan tersebut.

Ceritanya, pada 24 Juli 2013, pkl 14.00, ada seseorang yang bermaksud menipu staf saya. Biasa, mau mengakali pulsa telepon.
Agak telat merekam, sehingga komunikasi sebelumnya saya narasikan di bawah ini.
Dia mengaku sebagai temannya staf  saya … yang katanya namanya Udhin (Nama itu sebetulnya hasil tebakan staf saya sendiri, karena dikira si Udhin), yang mengalami musibah terkena razia polisi.
Dengan berlagak sok akrab ….

Komunikasi sebelumnya, kira-kira begini:
Si penipu (SP): Hallo Bro …. wah … gw kena razia nih …
Staf Saya (SS): Ya hallo … dengan siapa ya ini … ???
SP: Lah masa lw gk kenal gw sih …
SS: ???
SP: Wah parah lw, temen dilupain …
SS: Oh si Udhin ya …

Karena tahu, bermaksud menipu, ya sudah diladenin aja.

SP: Iya … masa lw gk ngenalin suara gw …
SS: Iya knapa lw …
SP: Gw kena razia … lw ada duit gk, bayarin dulu nih buat polisi … dompet gw, SIM, STNK ketinggalan di rumah … ntar gw ganti lah …
SS: Lah gimana ngasihnya …. gw juga lagi gk ada duit …
SP: Gini, barusan juga baru aja ada anak sekolah kena razia, trus dia ternyata bisa bayar pake pulsa, dan ternyata lolos … Nah gw mau ikutin kaya gitu …
Selanjutnya … dengarkan saja percakapan selanjutnya …
Durasi percakapan ini sebetulnya selama 1 jam lebih, karena selama “perjalanan” tidak direkam … hehehe


Foto: Keindahan Raja Ampat

Foto: Keindahan Raja Ampat (10/12/16)


Bentangan Kars Wayag

j13

Foto: Bentangan Kars Wayag (10/12/16)

Inilah bentangan kars Wayag. Wisatawan dianggap belum ke Raja Ampat jika belum ke tempat yang eksotik ini. Butuh 6 jam perjalanan menggunakan speedboad dari Waiwo untuk mencapai lokasi ini. Jika ke sini, pastikan berangkat pagi pagi, agar bisa kembali ke Waiwo dengan langit masih terang.


Menjelajahi Raja Ampat (2)

Sudah saya bilang sebelumnya, bahwa baru kali ini saya menggunakan jasa pemandu wisata.  Dalam bayangan saya, pastinya nanti akan yang mendokumentasikan perjalanan saya, mungkin dalam bentuk video atau foto-foto saya selama perjalanan menjelajahi Raja Ampat.  Tidak berlebihan saya berharap, karena menurut saya, itulah yang (seharusnya) membedakan antara jalan secara independen yang semua kebutuhan serba diurus sendiri dibandingkan dengan bantuan jasa pemandu.

Pemandu, seharusnya memberikan motivasi agar kita semangat melakukan perjalanan ke sana, ada hal-hal yang membuat kita penasaran. Sayangnya sang pemandu ini, bukan menceritakan hal menarik, justru menceritakan hal-hal buruk mengenai tempat yang akan saya tuju, yaitu Wayag. Menurutnya medannya berat, jaraknya sangat jauh, dan untuk mendakinya sangat sulit. Sehingga mereka menyarankan untuk tidak jadi kesana.  Loh … 😦

Biaya perjalanan saya cukup mahal karena paketnya adalah untuk menjelajah sampai ke Wayag, lalu mau di gagalkan? Tentu saja saya tidak setuju.

Pagi pagi, walaupun agak kesiangan, saya putuskan untuk tetap ke Wayag. Rupanya, perjalanannya sangat jauh, membutuhkan waktu hampir 6 jam dari Paiynemo ke Wayag. Ketika saya lihat di Google Maps, posisi Wayag memang di ujung Raja Ampat. Jaraknya mungkin hampir separuh jarak kalau ke Maluku. Beruntung cuaca saat itu sangat cerah, air laut nampak tenang seperti di danau saja. Sehingga tidak begitu khawatir walaupun perjalanan sangat jauh.


Untuk memasuki kawasan tersebut harus lapor dulu di tempat pendaftaran di sebuah kantor kecil pos jaga kawasan Raja Ampat. Saat itu pengunjung sangat banyak, sehingga jika ke sana, harus antri menunggu yang di atas turun, barulah kita diijinkan naik.

Sambil menunggu antrian, kami sempatkan untuk menikmati hiu hiu liar yang lalu lalang di pantai pos jaga tersebut. Beginilah suasana pantai di pos jaga tersebut.

j6

Pantai Pos Jaga Wayag, Raja Ampat (10/12/16)

Berbeda dengan Paiynemo, untuk mendaki Wayag kondisinya memang masih alami, kita harus mencari pijakan sendiri dan sesekali mencari pegangan di antara batu batu karang yang tajam dan ranting-ranting pohon.

Cukup menguras tenaga untuk mencapai puncak, namun begitu sesampai di atas, sungguh pemandangan yang sangat indah luar biasa. Seluruh kelelahan, terbayar sudah, lunas. Inilah keindahan alam Indonesia yang memang harus disyukuri, karena hanya terdapat di Indonesia. Tuhan sudah menciptakan surga kecil, untuk kita nikmati.

j18

Puncak Bukit, Bentangan Kars Wayag, Raja Ampat (10/12/16)


Pulang Menuju Waiwo Resort

Matahari nampak sudah berada di ujung, hampir menyentuh batas garis laut. Warna merah keemasan sudah mendominasi warna langit saat itu.

j20

Nampak juga pelangi yang melengkung dengan sempurnanya.

j19

Menurut sang “sopir” kemungkinan kita pulang akan malam, sehingga menyulitkan dia menentukan jalur pulang. Waduh… kalau sang Nahkoda dan sang pemandu sudah berkata begitu, sudah berbahaya.

Semula saya memang akan ke Teluk Kabui dan Batu pencil, tetapi sepertinya dilewati karena sudah malam. Tidak apa-apa, saya memakluminya kalau gagal ke sana.

Tetapi yang saya heran sang sopir dan pemandu tidak tahu posisi ke resort tempat menginap. Sedang bercandakah? Dan nyatanya memang tersesat. Di kegelapan malam, kapal ini tetap berjalan, dengan bermodalkan pandangan mata dari jarak dekat saja. Dan saya melihat sang “sopir” agak panik, ketika tiba tiba saja ada sebuah benda di depan kapal. Dengan sekuat tenaga sang sopir memutar kemudinya. Ups … hampir saja, katanya.

Akhirnya, kapal ini berlabuh juga, bersandar di sebuah dermaga yang kelihatannya sangat bagus. Tetapi sayangnya, salah sandar karena bukan dermaga tempat kami menginap. Kami pun harus kembali ke speedboad.

Laut masih nampak tenang, hanya saja, kondisi di speedboad sangat gelap. Sambil berdoa agar lekas sampai. Sang pemandu terlihat beberapa kali menelepon resort untuk menentukan lokasi penginapan tersebut.

j25

Akhirnya, keresahan, kelelahan pun berakhir, ketika tanda tanda di mana speedboad ini harus bersandar. Sudah cukup malam, tetapi bersyukur.

Postingan ini masih draft, nanti akan diperbaiki lagi.

 

 


Menjelajahi Raja Ampat (1)

rajaampat

Gambar: Jalur perjalanan di hari pertama ke Raja Ampat (9/12/16)

Perjalanan ke Raja Ampat ini sebetulnya, tidak direncanakan, karena tujuan sebenarnya  ke Sorong adalah dalam rangka mengikuti sebuah kegiatan di Aimas Convention Center. Di akhir kegiatan ini lah saya berkesempatkan mengunjungi Raja Ampat. Biasanya saya tidak pernah menggunakan jasa pemandu, baru kali ini, mengingat ada beberapa teman yang sudah lebih dulu membookingkan speedboad. Sedangkan menurut informasi, untuk mengunjungi ke Raja Ampat harus berkelompok untuk menekan biaya sewa speedboad.

Alih-alih ingin berhemat, tetapi menurut saya, jatuhnya menjadi mahal. Karena sudah menyewa speeboad dari Pelabuhan Rakyat Mina Usaha di Sorong. Seharusnya memulai sewa speedboad ini dari Waiwo, karena ada trayek harian yang murah untuk rute dari pelabuhan ini ke Waiwo. Baru dari sanalah kita akan memulai petualangan.

Sewaan speedboad ini memang rutenya terlalu jauh, bahkan sampai Pulau Wayag, sehingga wajar jika biayanya mahal. Saya pun tidak menyalahkan teman teman saya dalam group itu.

img_9716

Berfoto di Pasir Timbul, Raja Ampat (9/12/16)

Tempat pertama yang dikunjungi adalah Pasir Timbul. Butuh waktu sekitar 2 jam untuk mencapai lokasi ini. Tentu saja di Google Map tidak dtemukan, karena pulau pasir yang berwarna putih ini, kadang timbul kadang tenggelam.

Pulau yang sangat eksotis. Ketika ke sana ada 6 orang turis dari Irlandia, tidak banyak orang. Luas  pulaunya tidak seberapa, kalau terlalu banyak, tentu nggak kebagian pijakan. Jadi ada untungnya nggak ada orang lain lagi.


Setelah berfoto-foto, perjalanan di lanjutkan ke Yenkoramu.

Menurut sang pemandu, kegiatan utama di Yenkoramu adalah memberi makan ikan Hiu. Tetapi entah kenapa kegiatan yang saya tunggu tunggu ini, justru di abaikan. Hanya sandar saja di dermaga untuk lapor.

Dan seperti biasa, akhirnya saya hanya berfoto-foto saja. Ini penampakannya.

img_9751

Perjalanan selanjutnya adalah Yenbuba

Hampir setiap desa di sini memang menarik, rata-rata lautnya bersih, ikannya beraneka ragam mudah terlihat dari dermaga. Demikian juga dengan anemmon laut yang beraneka bentuk dan warna dengan mudah terlihat.

Raja Ampat benar-benar surganya keanekaragaman hayati laut. Spot yang sangat menarik untuk diving maupun snorkeling. Sayangnya, saya tidak membawa perlengkapan untuk keperluan tersebut. Hanya puas dengan memandangnya  dari atas dermaga.

Perjalanan di lanjutkan ke Piaynemo

Piaynemo adalah bentangan alam kars yang di dunia hanya ada di Indonesia, tepatnya di Raja Ampat. Walaupun untuk menikmatinya harus mendaki ke atas bukit, tetapi tidak terlalu sulit, karena sudah ada undakan-undakan terbuat dari papan kayu untuk memudahkan pengunjung mencapai puncak bukit. Ini akan berbeda dengan bentangan kars Wayag yang lebih alamiah, karena tidak ada papan-papan tersebut.

Cukup berkeringat, apalagi saya yang tidak pernah berolehraga. Inilah penampakannya.

img_9900

Keindahan Bentangan Kars Piaynemo dari atas bukit (9/12/16)


Perjalanan selanjutnya adalah Telaga Bintang

Perjalanan ke sini memang agak berat, karena untuk melihat formasi bintang ini, kita harus mendaki ke puncak bukit. Yang jadi masalah adalah untuk mencapai bukit tersebut tidak ada alat bantu. Kita harus benar benar mendaki batu batu karang terjal yang tajam. Cukup menantang, cukup menguras tenaga, tetapi penasaran jika tidak sampai di ujung sana.

Hanya bermodalkan penasaran inilah, yang memampukan untuk tetap mendaki ke atas bukit, demi melihat formasi bintang tersebut. Lupa, kalau salah pijak saja, bisa nyemplung ke laut.

Dan inilah penampakannya.

img_9937

Pemandangan Telaga Bintang dari atas Bukit Piaynemo (9/12/16)


Menuju Piaynemo Homestay

Hari sudah menjelang sore, langit sudah nampak gelap. Sebagaimana pengakuannya sang pemandu, bahwa jika malam, sudah tidak terlihat lagi jalur menuju lokasi penginapan. Jadi diputuskan untuk langsung ke penginapan, namanya Piaynemo Homestay.

Penginapan yang sangat unik, karena berada di tengah tengah laut. Tempat yang benar-benar saya sukai. Di bawahnya banyak ikan beraneka ragam, ikan pari, bahkan sekail sekali terlihat anak hiu. Pokoknya asyik.

Beginilah penampakannya.

img_9987

Penginapan, Piaynemo Homestay, Raja Ampat (9/12/16)

Sampai di sini dulu ceritanya, masih draft, nanti dilanjut.

 

 

 

 

 

 


Video, Mendaki Bukit Kars Wayag

Wayag adalah destinasi utama jika wisatawan ke Raja Ampat.  Panorama seperti ini tidak ditemukan di belahan dunia manapun selain di Indonesia. Yang mirip mirip ada seperti di Vietnam atau di Phi Phi Island, tetapi percayalah, kalah cantik dengan yang ada di Papua Barat ini.

Untuk mendaki puncak dari Wayag memang tidak mudah khususnya yang belum pernah mendaki, tetapi juga tidak sulit, yang penting tidak terburu-buru, bawa santai aja. Yang penting persiapkan mental, sepatu atau sandal gunung dan bawa air mineral. Untuk mencapai puncaknya juga harus gantian, karena tidak begitu luas.  Jangan, memaksakan diri untuk mendahului, karena resikonya, langsung nyemplung ke laut 🙂 .