Category Archives: Catatan Harian

Masih di RS yang sama

Ini hari ke-3 masih di RS yang sama. Layanannya kurang menyenangkan. Sejak awal sudah ada penolakan di RS ini, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Masalah kali ini, ketika obat yang sudah diambil dari apotik dan diserahkan ke suster. Saya tunggu sampai 2 jam tidak ditindaklanjuti. Sementara saya sangat khawatir jika bakteri itu cepat menyebar.

Terpaksa saya temui suster suster tersebut, “kapan akan ditindaklanjuti, apakah disuntik, apakah diberi obat”. Tidak jelas dan sekarang susternya bingung, obatnya tidak jelas ada dimana.

Suster datang dengan kereta dorongnya. Kaget juga karena di atas rak itu ada obat tetanusnya? Aneh juga. Tapi dia bilang bukan untuk anak saya. Apa nggak mengerikan ini. Cari obat nggak ketemu lalu yang muncul obat tetanus? Gila!

Kaxus lannya, sorenya, ketika cairan infus habis, istri lapor ke suster sekitar jam 18.00, melaporkan kalau cairan infus sudah habis. Sudah 2 jam, nggak muncul juga. Hingga 3 kali melapor. Jam 23.00 saya datangi ke pimpinannya, saya langsung tanya susternya, kenapa sudah 5 jam minta agar cairan infus diganti, kenapa tidak ada yang melayani? Saya complain!.

Barulah seorang petugas melayani permintaan saya tersebut. Dan sayang sekali, mereka mengerjakan apa yang menjadi tugas mereka sambil melecehkan saya, dengan bahasa bahasa candaan ke temannya, yang menurut saya tidak pantas. Ingat yang dilayani adalah pasien yang sedang sakit dan orang tua yang menjaga anaknya.

Saya laporkan ke penanggungjawab si RS saat itu. Ada apa dengan RS ini? Sebab sejak awal sudah menunjukan sikap tidak suka mendapat rujukan dari puskesmas, walaupu diterima. Tetapi tidak dilayani dengan baik. Saya sampaikan, apakah para petugasnya pada takut, karena pasien difteri? Ataukah karena pasien peserta BPJS? Sebab jika tidak mau melayani, saya akan ke rumah sakit swasta. Saya bukan tidak ada uang, tetapi saya hanya menggunakan fasilitas BPJS, dimana saya menjadi anggotanya, apa salah? Ataukah takut karena menghadapi penderita difteri? Bukankah mereka semua dididik untuk menghadapi kemungkinan tersebut? Aneh.

Saya sudah jelaskan, besok saya akan ke keluar. Tetapi sebelun keluar saya akan diskusi dulu dengan dokter spesialisnya. Sebab dokter spesialisinya pun sama saja, boro boro bisa diajak diskusi ☺

Pagi harinya sudah agak mendingan, pelayanan agak membaik, pagi pagi sudah disunti antibiotik jenis Procaine Penicilin-G Meiji. Tapi aneh juga, setelah disuntik melalui saluran infus tiba tiba  penglihatan menjadi gelap, dan kepala pusing, telinga berdengung keras kata anak saya. Untung hanya sebentar. Saya jadi curiga, obat apa sebenarnya yang disuntik?.

Tidak lama kemudian, tidak seperti kemarin, pagi ini mendapatkan sarapan. Dan suster pun mulai melakukan pengecekan pengambilan darah. Untuk apa lagi? Saya tanyakan ke dokter penanggungjawab, bahwa itu umtuk pengambilan darah. Dan saya sudah katakan bahwa saya akan keluar dari rumah sakit ini. Dan beliau merujuk ke RSPI, dengan menggunakan ambulans.

 

Masih berlanjut

Iklan

Begadang di Rumah Sakit

debrot

Debby, sedang dirawat di rumah sakit

Tepat di ulang tahun saya, anak saya yang bontot mendadak sakit. Padahal semula janjian mau makan bersama, terpaksa dibatalkan. Semula saya menganggap penyakitnya biasa saja, mungkin penyakit anak jaman now:  paling  kebanyakan makan sambel, sehingga radang tenggorokan.  Bukan hal yang mengkhatirkan, sehingga saya akan memanfaatkan fasilitas BPJS ini. Sudah 4 bulan nggak bayar, sehingga hari itu saya bayar seluruh tunggakan sebesar Rp 1.200.000,- untuk 4 orang.  Lumayan besar juga dendanya ya.

Sesuai prosedur, pertama saya bawa ke Puskesmas. Hasil pemeriksaan, dokter mengatakan suspect difteri. Kok bisa? Bukankah anak saya sudah dua kali vaksin? Sampai di sini saya menduga bahwa itu diagnosis yang keliru. Jadi saya masih nyantai aja.

Tapi nanti dulu, ternyata anak saya dirujuk ke rumah sakit, karena peralatan di Puskesmas tidak lengkap. Dan untuk ke rumah sakit rujukan, puskemas sudah menyiapkan ambulans yang  juga didampingi perawat dari puskesmas.  Loh kok jadi heboh kaya begini?.

Saya sudah bilang ke dokter, “dokter nggak usah repot-repot, biar saya sendiri yang akan ke rumah sakit tersebut”.  Maksud saya biar saya pulang aja, baru besok saya lanjutkan ke rumah sakit. Ternyata dokter melarang, karena sudah menjadi prosedur bahwa pasien yang suspect difteri harus menggunakan kendaraan khusus dan diantar ke RS rujukan.

Sampai di Rumah Sakit, petugas tanya, “kenapa di bawa ke sini, karena disini sudah tidak lagi melayani penderita suspect difteri. Selain itu juga tidak tersedia ruang isolasi dan perlatan yang memadai”.

Waduh  … Kok bisa ada prosedur yang ngawur begini ya? Ya sudahlah, mungkin ini juga bagian dari proses “BPJS”. Saya jalani saja, sambil agak mulai sedikit panik juga.

Sebegitu hebohkah dalam menghadapi penyakit ini? Bisa jadi ya, karena daya tular penyakit yang disebabkan oleh bakteri difteri ini belum lama sudah menghebohkan Tangerang. Kota yang bersebelahan dengan DKI. Jenis penyakit ini seharusnya sudah tidak ada lagi di Jakarta, tetapi kenapa bisa muncul. Mungkin karena persoalan ini sehingga perlu penanganan serius agar tidak melebar kemana-mana.

Sejauh ini saya masih percaya bahwa anak saya bukan kena difteri. Tetapi begitu dicek oleh dokter spesialis, dan membandingkannya dengan penderita di sebelahnya yang semula suspect difteri yang ternayata bukan. Akhirnya saya percaya juga, kalau anak saya positif difteri.

Saat ini saya masih menunggu ketersediaan kamar kosong di RS khusus tersebut tersebut. Sementara ini saya harus menginap dulu di sini. Kamar yang dipaksa didesain menjadi ruang  untuk menjadi ruang dekontaminasi.  Menyedihkan.

Sampai di sini dulu, nanti lanjut.

12 Febuari 2018

therapy menulis, supaya nggak cepat  pikun 🙂

 

 


Fenomena Super Blue Blood Moon (Late post)

blood moon

Super Blue Blood Moon, 31 Januari 2018

Sudah hampir 1 tahun saya nggak nge-post.  Saya akan mulai lagi, mungkin mulai dari fenomena langka kemarin aja kali ya 🙂

Semoga waktu mendatang saya akan tetap bisa menyempatkan waktu menulis, sekedar therapy agar nggak cepat pikun. Itu, kata seorang dokter yang pernah saya baca artikelnya, entah di mana, lupa.  Tuh kan, kalau jarang nulis begitu bawaannya suka lupa, jangankan nama fenomena alam ini yang panjang, nama temen sendiri pun kadang susah nyebutnya. Itu masih mending, ada yang malah lupa nama istrinya 😀

Nama fenoma alam yang langka ini adalah Super Blue Blood Moon. Namanya panjang dan agak ribet. Kenapa sepanjang ini, supaya kelihatan keren, spektakuler?. Ternyata menurut NASA,  ada 3 peristiwa langka sekaligus yang terjadi pada Rabu 31 Januari 2018 malam itu, yaitu: Bulan berada pada posisi yang paling dekat dengan bumi. Kedua, bulan purnama kedua dalam satu bulan, dan peristiwa di mana bulan memancarkan warna merah darah.

Peristiwa ini, kabarnya terjadi setiap 150 tahun sekali, jadi layak untuk saya dokumentasikan dalam blog pribadi ini. Sayangnya malam itu Jakarta tertutup awan, saya pun tidak juga berusaha mencari tempat terbaik, cukup di halaman rumah saja. Menggunakan kamera yang biasa saya gunakan, Canon DSLR jadul. Sehingga jangan complain kalau hasilnya biasa aja, jadi jangan dibandingkan dengan jepretan NASA ya 😀

Ketiga peristiwa ini, ternyata pernah terjadi sekitar 3000 tahun yang lalu, tepatnya 30 Oktober 1207 (SM). Peristiwa ini terdokumentasikan dengan baik di dalam Alkitab, khususnya dalam Kitab Yosua 10:13, “Maka berhentilah  matahari  dan bulanpun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya …”.

Peristiwa ini terjadi ketika bangsa Israel di bawah Pimpinan Yosua berjalan di antara perbatasan antara Israel dan Palestina menuju Kanaan.  Jadi, peperangan Israel dengan Palestina benar-benar sudah lama ya? Tapi maaf, saya nggak mau bahas politik.

Tentang bulan menjadi darah ini juga ditulis dalam Kitab Yoel 2:31, “Matahari akan berubah menjadi gelap gulita  dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari TUHAN  yang hebat dan dahsyat itu”.  

Kedua kitab tersebut berada dalam Perjanjian Lama, dalam Perjanjian Baru juga ada, ditulis, dalam  Wahyu 6:12, “Maka aku melihat, ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keenam, sesungguhnya terjadilah gempa bumi  yang dahsyat  dan matahari menjadi hitam  bagaikan karung rambut dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah”.

Jika sampai ditulis 3 kali tentu saja, bahwa gejala fenomena ini sepertinya bukan main-main. Sekedar memberi isyarat kepada manusia, untuk berjaga-jaga.

Tapi bagi yang tidak percaya juga tidak apa-apa, itu pilihan, karena NASA pun menganggap tidak ada bukti ilmiah apapun kalau bulan darah adalah tanda petaka. Hanya fenomena alam biasa.

Nama juga kepercayaan, tentu tidak membutuhkan bukti, kalau sudah ada bukti tentu bukan disebut percaya lagi namanya. Betul nggak? Tinggal anda yang memilih 🙂

Jakarta, 10 Pebruari 2018,  pas ulang tahun saya


Bentangan Kars Wayag

j13

Foto: Bentangan Kars Wayag (10/12/16)

Inilah bentangan kars Wayag. Wisatawan dianggap belum ke Raja Ampat jika belum ke tempat yang eksotik ini. Butuh 6 jam perjalanan menggunakan speedboad dari Waiwo untuk mencapai lokasi ini. Jika ke sini, pastikan berangkat pagi pagi, agar bisa kembali ke Waiwo dengan langit masih terang.


Google kena hack?

hackDua hari yang lalu, tersiar kabar bahwa Google terkena hack. Tapi, sejak kemarin saya coba akses ke situs mesin pencari tersebut, tidak ada masalah. Sehingga informasi itu saya abaikan. Tetapi pagi ini baru saya merasakan adanya keanehan pada tampilan dari Google tersebut.

Dalam tampilan itu, layar Google nampak hitam dengan tulisan “Struck by 1337, Google Indonesia stamped by TeaM MaDleeTs, Security is just an illusion”.

Anehnya, tampilan itu hanya terlihat ketika menggunakan akses internet Speedy. Provider lain tidak masalah, misal menggunakan Telkomsel yang saya  gunakan pada Blackberry.  Jika memang seperti itu, berarti bukan server Googlenya yang bermasalah. Bisa jadi DNS Hijacked, pengalihan DNS.  Orang-orang yang mengakses mesin tersebut dialihkan ke DNS si hacker.

 


Memulai Hari

File0026Biasanya (dulu) saya tidak ada waktu untuk mengantar anak-anak sekolah. Bagaimana mau antar, pulang kerja saja larut malam, sehingga setiap bangun menjadi kesiangan. Praktis setiap hari anak-anak diantar oleh pembantu, Tetapi sekarang nggak lagi, saya sendiri yang harus antar mereka.  Pertumbuhan anak-anak menurut saya cepat sekali, bahkan tidak terasa jika sekarang yang sulung  sudah masuk SMA dan yang kecil ke SMP.  Jika saya tidak menyertai mereka tentu ada fase ini yang akan terlewati oleh saya dalam sejarah hidupnya.

Setengah enam, saya harus siap untuk mengantar mereka. Kegiatan rutin yang harus saya biasakan mulai saat ini.  Kecuali pulang, karena mereka terkadang ada eskul yang jam pulangnya tidak jelas sehingga hanya waktu-waktu tertentu saja saya jemput, mereka pulang sendiri naik angkot. Sesekali saya memang sengaja membiarkan hal ini, sekedar membiarkan mereka belajar bagaimana berjuang hidup walaupun cuma (sekedar) berjuang untuk pulang ke rumah.

Sepele, tetapi penting.


Mulai Ngeblog (Lagi)

Bandrek

Ditemani segelas bandrek

Sudah lama saya nggak menyambangi blog saya yang satu ini. Kedepannya saya akan lebih aktif lagi, karena terus terang ngeblog adalah inspirasi saya untuk membuat hidup ini menjadi lebih hidup, menggembirai hidup, menikmati hidup. Prinsipnya membuat lebih bersemangat untuk melakukan sesuatu, apa yang akan saya capai ke depannya.

Ada beberapa alasan, kenapa sejak bulan Mei tidak aktif. Pertama, karena pekerjaan (proyek) yang harus saya selesaikan. Maklum, jika sebelumnya saya bekerja pada (bos) orang lain, kali ini saya menjadi bos untuk diri sendiri dan juga orang lain. Sehingga praktis tidak ada waktu untuk melakukan kegiatan tersebut.

Jika sebelumnya pekerjaan yang memperbudak saya, maka untuk selanjutnya, saya lah yang (seharusnya) memperbudak pekerjaan tersebut. Saya harus mampu mengatur itu semua. Bukan lagi saya yang dikejar-kejar oleh pekerjaan, sehingga (nyaris) tidak menikmati hidup. Jangankan menulis, untuk hobby saya nge-backpack saya nggak jalan juga. Parah.