Author Archives: harjo

Hasilnya, Negative!

Sesuai dugaan saya sebelumnya, barusan saya melihat hasil lab RSPI, ternyata hasilnya negative difteri. Sehingga kata dokternya besok boleh pulang. Syukurlah.

Kesimpulannya, saya benar benar dikerjain oleh Rumah Sakit sebelumnya. Saya masih mempertimbangkan, apakah membuat surat complain? Betapa sembrononya cara kerja rumah sakit seperti itu?

Baik dokter, petugas, perawat tidak ada yang benar benar melakukan pengecekan terhadap penyakit anak saya. Semua pada ketakutan tertular bakteri difteri. Sehingga terjadi pembiaran, tanpa melakukan apapun. Mereka baru melakukan sesuatu setelah saya mendesak. Jadi saya yang harus aktif.

Mereka pada salah ambil jurusan seharusnya ambil tata boga, sepertinya lebih bagus 😀

 

 

Iklan

Menghadiri Undangan Kualifikasi di Sampang

Hari ini adalah jadwal saya menghadiri undangan kualifikasi di Sampang, Madura, Jawa Timur. Undangan dimulai jam 12.00, sehingga sejak subuh saya harus sudah berada di bandara sekitar pkl 05.50 karena pesawat berangkat pkl 06.50 wib.

Jadwal yang cukup berat karena di satu sisi anak saya masih dirawat di rumah sakit, sementara pekerjaan tidak bisa ditinggalkan. Jadilah Omah-nya yang harus menunggu untuk 1 hari ini. Mobil saya titip di parkiran menginap di bandara. Perlu saya catat, pernah mobil nggak diambil, langsung naik damri ke rumah. Atau kadang pesawat pulangnya milih yang ke Halim 😀

Sampai di Surabaya pkl 08.15, lanjut menggunakan bus Damri ukuran tanggung menuju terminal bis Bungurasih. Sekarang saya sudah rada hafal jika ke sini. Sebelumnya suka nanya-nanya, ujung-ujungnya malah dikerjain. Jadi kali ini tidak ada yang saya tanya, dan juga tidak ada yang saya jawab ketika ditanya,”mau tujuan ke mana?”. Bakalan ribet, akan diikutin terus sama calo calo di terminal itu. Nggak lah, kapok setelah kejadian terakhir, saya tanya tanya, ada orang yang berlagak mau nolongin, malahan dikerjain. Padahal saya tanya sama seorang penjual di kantin. Bukannya dijawab, malah dia manggil “gerombolan”calo, hadeuh 😀.

Sesampai di Bungurasih, lanjut dengan bis patas tujuan Madura. Busnya ber AC, cukup nyaman. Bus baru berangkat setelah penumpang penuh, cukup lama juga nunggu, tapi nggak masalah toh saya kualifikasi masih lama. Berangkat pkl 10.00 sampai di tujuan pkl 12.45 di kota kabupaten Sampang.

Baru kali ini ikut proyek, dengan persyaratan yang nggak begitu ribet, alias mengada-ada. Semoga saja panitianya jujur sampai keputusan pemenang. Sebab sudah 3 kali ikut proyek sejenis di tahun 2018 ini selalu dimenangkan oleh perusahaan yang alamatnya sama dengan di mana instansi itu berada. Lucu juga sih, padahal tender diumumkan secara nasional. Semangat kedaerahannya cukup tinggi ☺ atau mungkin untuk lebih memudahkan dalam memonitoring pekerjaan. Nggak apa apa sih, anggap belum rejeki 😀.

Upsss… pengumuman untuk memasuki pesawat sudah terdengar, nanti dilanjut.

Bandara Juanda, 19 Pebruari 2018

TTD


Pindah ke Rumah Sakit Khusus Infeksi

Sudah 2 malam anak saya pindah ke rumah sakit khusus infeksi. Tidak ada peralatan canggih, yang membedakannya hanya ada ruang isolasi yang jumlahnya lumayan banyak, dengan pengawasan yang agak ketat. Rumah sakit ini memang dikhususkan oleh pemerintah untuk antisipasi menghadapi meledaknya penyakit difteri, setelah sebelumnya flu burung. Penyakit yang seharusnya sudah hilang dari Indonesia, entah kenapa sekarang muncul lagi di beberapa daerah dan sekarang “menimpa” anak saya.

Sebetulnya, di RS sebelumnya yang disebut ruang isolasi itu adalah kamar mandi, dan selama 3 hari tidak ada tindakan apa apa dari RS tersebut, luar biasa 🙂

Nih fotonya,

IMG_20180213_231923

Ruang Dekontaminasi (katanya)

Sebetulnya sejak kemarin lapisan putih keabuan di tenggorokan anak saya sudah hilang. Dan sampai anak saya dipindah, saya tidak berkesempatan sama sekali dengan dokter yang menangani anak saya tersebut untuk berdiskusi.

Saya tetap berpendirian bahwa suspect diftery menurut saya keliru. Sekarang sudah terlanjur, ketimbang kelamaan di rumah sakit sebelumnya yang tidak dilayani. Di sini lebih baik, walaupun  seperti dipenjara, tetapi sangat bersih, sepi, suster pun baik baik. Saya harus mengikuti prosedural standar dalam menangani penyakit menular ini, harus menginap sampai 10 hari ke depan.

Masalah lain yang muncul sekarang, disekujur tubuhnya muncul bintik kemerahan sejak kemarin sore. Menurut dokternya, ada 3 kemungkinan: alergi obat, karena AC yang terlalu dingin, atau campak. Bisa jadi ini campak, dan baru keluar sekarang artinya dugaan sebelumnya adalah diftery, benar benar keliru. Yang kebetulan baru hari ini muncul bintik merahnya. Gatal, suhu tubuh panas sepertinya memang iya, campak.

Dokter pun nampak bingung, saya berkesimpulan ini karena campak, tetapi dokter menduga karena alergi penicillin, sehingga untuk sementara pemakaian penicillin dihentikan. Cek darah kembali dilakukan.

Sampai saat ini saya masih mengikuti prosedural dan melalui BPJS.

TTD


Masih di RS yang sama

Ini hari ke-3 masih di RS yang sama. Layanannya kurang menyenangkan. Sejak awal sudah ada penolakan di RS ini, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Masalah kali ini, ketika obat yang sudah diambil dari apotik dan diserahkan ke suster. Saya tunggu sampai 2 jam tidak ditindaklanjuti. Sementara saya sangat khawatir jika bakteri itu cepat menyebar.

Terpaksa saya temui suster suster tersebut, “kapan akan ditindaklanjuti, apakah disuntik, apakah diberi obat”. Tidak jelas dan sekarang susternya bingung, obatnya tidak jelas ada dimana.

Suster datang dengan kereta dorongnya. Kaget juga karena di atas rak itu ada obat tetanusnya? Aneh juga. Tapi dia bilang bukan untuk anak saya. Apa nggak mengerikan ini. Cari obat nggak ketemu lalu yang muncul obat tetanus? Gila!

Kaxus lannya, sorenya, ketika cairan infus habis, istri lapor ke suster sekitar jam 18.00, melaporkan kalau cairan infus sudah habis. Sudah 2 jam, nggak muncul juga. Hingga 3 kali melapor. Jam 23.00 saya datangi ke pimpinannya, saya langsung tanya susternya, kenapa sudah 5 jam minta agar cairan infus diganti, kenapa tidak ada yang melayani? Saya complain!.

Barulah seorang petugas melayani permintaan saya tersebut. Dan sayang sekali, mereka mengerjakan apa yang menjadi tugas mereka sambil melecehkan saya, dengan bahasa bahasa candaan ke temannya, yang menurut saya tidak pantas. Ingat yang dilayani adalah pasien yang sedang sakit dan orang tua yang menjaga anaknya.

Saya laporkan ke penanggungjawab si RS saat itu. Ada apa dengan RS ini? Sebab sejak awal sudah menunjukan sikap tidak suka mendapat rujukan dari puskesmas, walaupu diterima. Tetapi tidak dilayani dengan baik. Saya sampaikan, apakah para petugasnya pada takut, karena pasien difteri? Ataukah karena pasien peserta BPJS? Sebab jika tidak mau melayani, saya akan ke rumah sakit swasta. Saya bukan tidak ada uang, tetapi saya hanya menggunakan fasilitas BPJS, dimana saya menjadi anggotanya, apa salah? Ataukah takut karena menghadapi penderita difteri? Bukankah mereka semua dididik untuk menghadapi kemungkinan tersebut? Aneh.

Saya sudah jelaskan, besok saya akan ke keluar. Tetapi sebelun keluar saya akan diskusi dulu dengan dokter spesialisnya. Sebab dokter spesialisinya pun sama saja, boro boro bisa diajak diskusi ☺

Pagi harinya sudah agak mendingan, pelayanan agak membaik, pagi pagi sudah disunti antibiotik jenis Procaine Penicilin-G Meiji. Tapi aneh juga, setelah disuntik melalui saluran infus tiba tiba  penglihatan menjadi gelap, dan kepala pusing, telinga berdengung keras kata anak saya. Untung hanya sebentar. Saya jadi curiga, obat apa sebenarnya yang disuntik?.

Tidak lama kemudian, tidak seperti kemarin, pagi ini mendapatkan sarapan. Dan suster pun mulai melakukan pengecekan pengambilan darah. Untuk apa lagi? Saya tanyakan ke dokter penanggungjawab, bahwa itu umtuk pengambilan darah. Dan saya sudah katakan bahwa saya akan keluar dari rumah sakit ini. Dan beliau merujuk ke RSPI, dengan menggunakan ambulans.

 

Masih berlanjut


Begadang di Rumah Sakit

debrot

Debby, sedang dirawat di rumah sakit

Tepat di ulang tahun saya, anak saya yang bontot mendadak sakit. Padahal semula janjian mau makan bersama, terpaksa dibatalkan. Semula saya menganggap penyakitnya biasa saja, mungkin penyakit anak jaman now:  paling  kebanyakan makan sambel, sehingga radang tenggorokan.  Bukan hal yang mengkhatirkan, sehingga saya akan memanfaatkan fasilitas BPJS ini. Sudah 4 bulan nggak bayar, sehingga hari itu saya bayar seluruh tunggakan sebesar Rp 1.200.000,- untuk 4 orang.  Lumayan besar juga dendanya ya.

Sesuai prosedur, pertama saya bawa ke Puskesmas. Hasil pemeriksaan, dokter mengatakan suspect difteri. Kok bisa? Bukankah anak saya sudah dua kali vaksin? Sampai di sini saya menduga bahwa itu diagnosis yang keliru. Jadi saya masih nyantai aja.

Tapi nanti dulu, ternyata anak saya dirujuk ke rumah sakit, karena peralatan di Puskesmas tidak lengkap. Dan untuk ke rumah sakit rujukan, puskemas sudah menyiapkan ambulans yang  juga didampingi perawat dari puskesmas.  Loh kok jadi heboh kaya begini?.

Saya sudah bilang ke dokter, “dokter nggak usah repot-repot, biar saya sendiri yang akan ke rumah sakit tersebut”.  Maksud saya biar saya pulang aja, baru besok saya lanjutkan ke rumah sakit. Ternyata dokter melarang, karena sudah menjadi prosedur bahwa pasien yang suspect difteri harus menggunakan kendaraan khusus dan diantar ke RS rujukan.

Sampai di Rumah Sakit, petugas tanya, “kenapa di bawa ke sini, karena disini sudah tidak lagi melayani penderita suspect difteri. Selain itu juga tidak tersedia ruang isolasi dan perlatan yang memadai”.

Waduh  … Kok bisa ada prosedur yang ngawur begini ya? Ya sudahlah, mungkin ini juga bagian dari proses “BPJS”. Saya jalani saja, sambil agak mulai sedikit panik juga.

Sebegitu hebohkah dalam menghadapi penyakit ini? Bisa jadi ya, karena daya tular penyakit yang disebabkan oleh bakteri difteri ini belum lama sudah menghebohkan Tangerang. Kota yang bersebelahan dengan DKI. Jenis penyakit ini seharusnya sudah tidak ada lagi di Jakarta, tetapi kenapa bisa muncul. Mungkin karena persoalan ini sehingga perlu penanganan serius agar tidak melebar kemana-mana.

Sejauh ini saya masih percaya bahwa anak saya bukan kena difteri. Tetapi begitu dicek oleh dokter spesialis, dan membandingkannya dengan penderita di sebelahnya yang semula suspect difteri yang ternayata bukan. Akhirnya saya percaya juga, kalau anak saya positif difteri.

Saat ini saya masih menunggu ketersediaan kamar kosong di RS khusus tersebut tersebut. Sementara ini saya harus menginap dulu di sini. Kamar yang dipaksa didesain menjadi ruang  untuk menjadi ruang dekontaminasi.  Menyedihkan.

Sampai di sini dulu, nanti lanjut.

12 Febuari 2018

therapy menulis, supaya nggak cepat  pikun 🙂

 

 


Fenomena Super Blue Blood Moon (Late post)

blood moon

Super Blue Blood Moon, 31 Januari 2018

Sudah hampir 1 tahun saya nggak nge-post.  Saya akan mulai lagi, mungkin mulai dari fenomena langka kemarin aja kali ya 🙂

Semoga waktu mendatang saya akan tetap bisa menyempatkan waktu menulis, sekedar therapy agar nggak cepat pikun. Itu, kata seorang dokter yang pernah saya baca artikelnya, entah di mana, lupa.  Tuh kan, kalau jarang nulis begitu bawaannya suka lupa, jangankan nama fenomena alam ini yang panjang, nama temen sendiri pun kadang susah nyebutnya. Itu masih mending, ada yang malah lupa nama istrinya 😀

Nama fenoma alam yang langka ini adalah Super Blue Blood Moon. Namanya panjang dan agak ribet. Kenapa sepanjang ini, supaya kelihatan keren, spektakuler?. Ternyata menurut NASA,  ada 3 peristiwa langka sekaligus yang terjadi pada Rabu 31 Januari 2018 malam itu, yaitu: Bulan berada pada posisi yang paling dekat dengan bumi. Kedua, bulan purnama kedua dalam satu bulan, dan peristiwa di mana bulan memancarkan warna merah darah.

Peristiwa ini, kabarnya terjadi setiap 150 tahun sekali, jadi layak untuk saya dokumentasikan dalam blog pribadi ini. Sayangnya malam itu Jakarta tertutup awan, saya pun tidak juga berusaha mencari tempat terbaik, cukup di halaman rumah saja. Menggunakan kamera yang biasa saya gunakan, Canon DSLR jadul. Sehingga jangan complain kalau hasilnya biasa aja, jadi jangan dibandingkan dengan jepretan NASA ya 😀

Ketiga peristiwa ini, ternyata pernah terjadi sekitar 3000 tahun yang lalu, tepatnya 30 Oktober 1207 (SM). Peristiwa ini terdokumentasikan dengan baik di dalam Alkitab, khususnya dalam Kitab Yosua 10:13, “Maka berhentilah  matahari  dan bulanpun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya …”.

Peristiwa ini terjadi ketika bangsa Israel di bawah Pimpinan Yosua berjalan di antara perbatasan antara Israel dan Palestina menuju Kanaan.  Jadi, peperangan Israel dengan Palestina benar-benar sudah lama ya? Tapi maaf, saya nggak mau bahas politik.

Tentang bulan menjadi darah ini juga ditulis dalam Kitab Yoel 2:31, “Matahari akan berubah menjadi gelap gulita  dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari TUHAN  yang hebat dan dahsyat itu”.  

Kedua kitab tersebut berada dalam Perjanjian Lama, dalam Perjanjian Baru juga ada, ditulis, dalam  Wahyu 6:12, “Maka aku melihat, ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keenam, sesungguhnya terjadilah gempa bumi  yang dahsyat  dan matahari menjadi hitam  bagaikan karung rambut dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah”.

Jika sampai ditulis 3 kali tentu saja, bahwa gejala fenomena ini sepertinya bukan main-main. Sekedar memberi isyarat kepada manusia, untuk berjaga-jaga.

Tapi bagi yang tidak percaya juga tidak apa-apa, itu pilihan, karena NASA pun menganggap tidak ada bukti ilmiah apapun kalau bulan darah adalah tanda petaka. Hanya fenomena alam biasa.

Nama juga kepercayaan, tentu tidak membutuhkan bukti, kalau sudah ada bukti tentu bukan disebut percaya lagi namanya. Betul nggak? Tinggal anda yang memilih 🙂

Jakarta, 10 Pebruari 2018,  pas ulang tahun saya


Perang Survey Pilkada DKI

Menarik, mencermati hasil survey lembaga-lembaga survey terkait Pilkada DKI, sebagaimana yang dilaporkan oleh Gatranews (19/01/2017).

Hasil survey yang dilakukan oleh LSI Denny JA, menyebutkan:

  1. Agus – Sylviana : 36,7%
  2. Ahok – Djarot : 32,6%
  3. Anis – Sandy : 21,4%

Sedangkan hasil survey Polmark Research Centre:

  1. Agus – Sylviana : 23,9%
  2. Ahok – Djarot : 20,4%
  3. Anis – Sandy : 25,3%

Hasil survey LSI yang juara adalah pasangan calon No Urut 1 sedangkan hasil survey Polmark yang juara adaah No Urut 3.  Hasilnya saling bertolak belakang, padahal dilakukan dalam rentang waktu relatif bersamaan. Menunjukan bahwa, lembaga survey pun punya kepentingan juga terhadap paslon tertentu.

Hanya sekedar iseng aja, saya akan coba lakukan survey sendiri melalui blog ini?

Siapakah calon gubernur DKI yang akan Anda pilih?