Category Archives: Kuliner

Ice cream, favoritnya anak-anak

Biasa, anak-anak, kalau ke restoran, yang dipilih pasti ini, ice cream. Pulang renang dari Sunshine Bay, Taman Wisata Matahari, mampir di Cimori Resto. Lokasinya tidak terlaku jauh dengan tempat wisata ini.

Dan satu lagi, banana chocho.

Iklan

Bagaimana cara nempelin wijen pada Onde-onde?

Sewaktu kecil, saya sering dengar lawakan begini, “bagaimana caranya si tukang kue nempelin wijen ke kue onde-onde itu ya? Betapa luar biasa ribetnya!”  Tentu saja, kalau ngelawak begitu lagi, sesuatu yang nggak lucu lagi. Tetapi setiap kali saya melewati daerah Pancoran – Pasar Minggu, selalu saja tersenyum kalau melihat toko kue Onde-Onde Banyumas ini.

Jadi, kemarin saya sempatkan mampir untuk membeli satu dus ukuran kecil kue ini. Ternyata seperti istilah yang sering dibilang Pak Bondan, “Maknyus …”. Ini berbeda dengan kue sejenis yang biasa di jual pedagang asongan di tempat lain. Yang kalau di goyang-goyang, bunyi gludak gluduk …   🙂 Yang ini nggak!


Pecel Picung


Pagi ini sebetulnya  ada janji, mau ketemuan temen-temen kuliah di Bogor, sekaligus menghadiri acara Kolokium.  Tetapi waktunya bersamaan, karena i, saya  ada janji juga dengan seorang pengacara di Raffles Hill Cibubur.

Jadinya, saya harus mampir dulu di sini sebelum nantinya lanjut ke Bogor. Terpaksa, datangnya menjadi agak  siangan dikit. Nggak masalah lah, dari pada nggak datang sama sekali. Jarang-jarang ketemu temen lama. Tetapi ketemu pengacara ini juga sama pentingnya.

Masalahnya, ketika sampai di sini masih terlalu pagi, dan orang yang akan ditemui pun ternyata belum siap. Jadilah saya harus menunggu dulu, mengulur waktu, sambil mencari-cari sarapan.  Dan akhirnya ketemulah dengan rumah makan ini, Pecel Picung.

Warungnya sederhana, tetapi nampak ramai pengunjung. Kesimpulan awal saya, pastilah makananya enak dan (mungkin)  murah. Masa sih, makanan tradisional begitu mahal? Dan ternyata memang betul, enak dan murah.

Jadi, boleh dicoba nih. Alamatnya di dekat pom bensin Shell, sebelum perumahan Raffless.

 


Nguliner: Sop Sumsum Tulang Sapi

Biasanya, kalau soal nguliner,  yang saya tulis adalah yang indah-indah. Tetapi kali ini tepaksa nggak! Jadi, saya mohon maaf. Pasalnya, kemarin sengaja tidak makan dulu dari Jakarta, tergiur ingin mencicipi sop sumsumnya di daerah Bogor.

Dengan perjalanan yang luar biasa, menembusi macetnya kota Bogor, di saat long weekend ini.   Akhirnya sampai juga. Saya parkirkan kendaraan di seberang jalan, di luar area rumah makan tersebut, karena memang tidak memungkinkan untuk parkir di sana.  Bukan karena banyaknya pembeli, tetapi karena jalanan sangat macet, tidak bisa nyeberang.

Sudah kebayang, akan nikmatinya seperti apa tuh Sumsum  🙂   ….   Sayangnya, ternyata sop sumsumnya,  tidak sesuai dengan apa yang diberitakan di koran, televisi, dsb.

Tentu saya harus menulis apa adanya, untuk menjadi perhatian si pengelola. Entah ini memang yang dijual produknya  seperti itu, atau ulah oknum internal di rumah makan tersebut untuk mencari keuntungan pribadi. Saya tidak tahu. Dan saya pun tidak mau berpikir negatif.

Yang jelas, ketika sore kemarin saya makan, dan memesan 2 porsi sop sumsum. Besar sekali ukuran tulangnya, nggak seimbang antara ukuran  nasi dan mangkuknya  🙂   Tetapi bukan itu masalahnya, karena tulang sapi memang besar, dilarang komplain!.  Masalahnya adalah, kenapa cuma tulangnya doang? Lah, itu tulang benar-benar gundul!  Tidak ada yang tersisa. Lalu, bagaimana saya bisa membedakan itu tulang baru dari “sononya” atau produk daur ulang?

Padahal seninya makan sumsung tulang sapi kan seperti ketika saya pernah makan  Sop sumsum Langsa di Medan, yang memang sangat asyik. Lah di sini, cuma tulangnya doang, plus sumsum di dalamnya yang seuprit. Ya, sumsum memang seuprit. Masalahnya kalau isinya cuma sumsum, ngapain juga beli tulangnya, yang nggak bisa diapa-apain  🙂

Yang makan tentu akan berpikir, apakah ini tulang bekas orang atau memang asli dari dapurnya begitu? Kalau memang baru, kenapa gundul begitu? sisain kek dikit  hehehe …   Tetapi, kalau memang produknya memang seperti itu, apakah ini tidak menjadi perhatian sipengelolanya terhadap kemungkinan efek psikologis orang yang makan?

Yah … itu soal makanan, sudah berlalu!  Nggak perlu dibahas. Tetapi yang pasti, tentu itu adalah terakhir kali saya ke situ.


Nguliner Ayam bakar Taliwang dan Pelecing Kangkung

Ayam taliwang dan pelecing kangkung adalah makanan khas Lombok. Belum lengkap rasanya jika ke sini belum nyobain yang dua ini. Sebetulnya, ada  makanan khas Lombok lainnya seperti:  Bebalung, Beberuk, Nasi Puyung, Nasi Sukaraja, Sate Bulayak, Sate Ikan, dan Sate Rembige. Untuk itu saya pilih makanan di daerah Cakranegara, yaitu: Rumah Makan Lesehan Taliwang Irama di Jalan Ade Irma Suryani No 10.

Paduan antara Ayam Taliwang dengan Pelecing kangkung adalah kombinasi yang sangat pas.  Sama-sama bercita rasa pedas, sangat cocok dengan saya yang juga suka pedas.

Cerita lain, tentang Gili Trawangan:


Wangfujing Street

Wangfujing St, 14 April 2010

Wangfujing street adalah salah satu pasar yang paling terkenal dan bersejarah di Beijing.  Panjang jalan ini, hampir 1 km di kiri kanan jalan ada departemen  store, penjual kerajinan, toko buku Xinhua, dan juga kuliner.  Tetapi buat saya, bukan untuk mencicipi makanannya, melainkan melihat-lihat apa yang dijual … 🙂 soalnya makanannya aneh-aneh, ada serangga air, ulat sutera, bintang laut, bulu babi, kuda laut, kalajengking, dsb. Coba aja lihat pada foto di bawah ini:


Baru buka, RM Ampera di Matraman

Sepulangnya dari ibadah, biasanya saya suka makan di depan gereja, tetapi untuk kali ini tidak. Kebetulan posisi mobil saya menghalangi kendaraan yang lain. Jadi mau tidak  mau harus cepat-cepat pergi, meninggalkan tempat parkir tersebut. Padahal hewan peliharaan di dalam usus ini sudah pada teriak semua, kelaparan 🙂 

Sesudah makan, biasanya anak-anak suka minta diajak ke Gramedia, biasalah, sekedar numpang baca-baca sambil lesehan. Meskipun begitu biasanya tetap saja ada yang minta dibelikan satu dua buah buku.

Sambil menuju ke sana, saya pun sibuk mencari-cari tempat makanan yang enak, murah, meriah, tetapi enggak bikin mules. Setelah tengok kanan kiri sepanjang perjalanan, akhirnya ketemu. Ternyata di jalan Matraman, sebelum toko buku Gramedia itu ada rumah makan Ampera, dan baru akan dibuka besok.  Setahu saya, rumah makan Ampera ini, pusatnya di Bandung. Kalau kebetulan ke Bandung, biasanya tempat yang selalu saya singgahi, kalau enggak di Jl. Soekarno – Hatta atau di Cihampelas.

Pertama kali kenalan dengan Rumah Makan Ampera, yaitu  pada waktu perjalanan mau kuliah ke Bandung.  Saat itu, dalam  perjalanan, sangat melelahkan (waktu itu belum ada jalan TOL Cipularang), dan berisitarahat  di daerah Purwakarta, yang belakangan saya ketahui bernama RM Ampera. Di sini sambelnya, enak banget. Bahkan kalau saya makan, lebih banyak sambelnya dari pada nasi nya enggak percaya? gila ya!  😀   Berbeda dengan di Soekarno Hatta, sambelnya luar biasa pedas. Beugh … enggak nahan …

Walaupun sama-sama Ampera, sepertinya untuk urusan sambel, agak sedikit belum standar. Perbedaan ini mungkin disebabkan diterapkan system Franchise (barangkali loh …).

Ternyata Rumah Makan Ampera di Matraman ini, pembukaan resminya baru besok  (2 Febuari 2009). Tetapi pada hari ini sudah buka, banyak pembeli yang datang,  sehingga pelayan-pelayannya (yang terlihat masih agak canggung) cukup disibukan oleh kehadiran pengunjung.  Dari jumlah pengunjung yang banyak, menunjukkan bahwa keberadaan rumah makan ini sangat dirindukan warga Jakarta.

Oh ya, saya menyukai rumah makan ini, karena: sambel dan lalapannya. Dan sambel di sini, enggak terlalu pedas …  he he he…  Dan kedua, seperti biasa, tidak terlalu mahal.

Cuma sayang. Seharusnya pengunjung hari pertama, gratis … tetapi ini disuruh bayar ha ha ha…