Tag Archives: Raja Ampat

Bentangan Kars Wayag

j13

Foto: Bentangan Kars Wayag (10/12/16)

Inilah bentangan kars Wayag. Wisatawan dianggap belum ke Raja Ampat jika belum ke tempat yang eksotik ini. Butuh 6 jam perjalanan menggunakan speedboad dari Waiwo untuk mencapai lokasi ini. Jika ke sini, pastikan berangkat pagi pagi, agar bisa kembali ke Waiwo dengan langit masih terang.


Menjelajahi Raja Ampat (2)

Sudah saya bilang sebelumnya, bahwa baru kali ini saya menggunakan jasa pemandu wisata.  Dalam bayangan saya, pastinya nanti akan yang mendokumentasikan perjalanan saya, mungkin dalam bentuk video atau foto-foto saya selama perjalanan menjelajahi Raja Ampat.  Tidak berlebihan saya berharap, karena menurut saya, itulah yang (seharusnya) membedakan antara jalan secara independen yang semua kebutuhan serba diurus sendiri dibandingkan dengan bantuan jasa pemandu.

Pemandu, seharusnya memberikan motivasi agar kita semangat melakukan perjalanan ke sana, ada hal-hal yang membuat kita penasaran. Sayangnya sang pemandu ini, bukan menceritakan hal menarik, justru menceritakan hal-hal buruk mengenai tempat yang akan saya tuju, yaitu Wayag. Menurutnya medannya berat, jaraknya sangat jauh, dan untuk mendakinya sangat sulit. Sehingga mereka menyarankan untuk tidak jadi kesana.  Loh … 😦

Biaya perjalanan saya cukup mahal karena paketnya adalah untuk menjelajah sampai ke Wayag, lalu mau di gagalkan? Tentu saja saya tidak setuju.

Pagi pagi, walaupun agak kesiangan, saya putuskan untuk tetap ke Wayag. Rupanya, perjalanannya sangat jauh, membutuhkan waktu hampir 6 jam dari Paiynemo ke Wayag. Ketika saya lihat di Google Maps, posisi Wayag memang di ujung Raja Ampat. Jaraknya mungkin hampir separuh jarak kalau ke Maluku. Beruntung cuaca saat itu sangat cerah, air laut nampak tenang seperti di danau saja. Sehingga tidak begitu khawatir walaupun perjalanan sangat jauh.


Untuk memasuki kawasan tersebut harus lapor dulu di tempat pendaftaran di sebuah kantor kecil pos jaga kawasan Raja Ampat. Saat itu pengunjung sangat banyak, sehingga jika ke sana, harus antri menunggu yang di atas turun, barulah kita diijinkan naik.

Sambil menunggu antrian, kami sempatkan untuk menikmati hiu hiu liar yang lalu lalang di pantai pos jaga tersebut. Beginilah suasana pantai di pos jaga tersebut.

j6

Pantai Pos Jaga Wayag, Raja Ampat (10/12/16)

Berbeda dengan Paiynemo, untuk mendaki Wayag kondisinya memang masih alami, kita harus mencari pijakan sendiri dan sesekali mencari pegangan di antara batu batu karang yang tajam dan ranting-ranting pohon.

Cukup menguras tenaga untuk mencapai puncak, namun begitu sesampai di atas, sungguh pemandangan yang sangat indah luar biasa. Seluruh kelelahan, terbayar sudah, lunas. Inilah keindahan alam Indonesia yang memang harus disyukuri, karena hanya terdapat di Indonesia. Tuhan sudah menciptakan surga kecil, untuk kita nikmati.

j18

Puncak Bukit, Bentangan Kars Wayag, Raja Ampat (10/12/16)


Pulang Menuju Waiwo Resort

Matahari nampak sudah berada di ujung, hampir menyentuh batas garis laut. Warna merah keemasan sudah mendominasi warna langit saat itu.

j20

Nampak juga pelangi yang melengkung dengan sempurnanya.

j19

Menurut sang “sopir” kemungkinan kita pulang akan malam, sehingga menyulitkan dia menentukan jalur pulang. Waduh… kalau sang Nahkoda dan sang pemandu sudah berkata begitu, sudah berbahaya.

Semula saya memang akan ke Teluk Kabui dan Batu pencil, tetapi sepertinya dilewati karena sudah malam. Tidak apa-apa, saya memakluminya kalau gagal ke sana.

Tetapi yang saya heran sang sopir dan pemandu tidak tahu posisi ke resort tempat menginap. Sedang bercandakah? Dan nyatanya memang tersesat. Di kegelapan malam, kapal ini tetap berjalan, dengan bermodalkan pandangan mata dari jarak dekat saja. Dan saya melihat sang “sopir” agak panik, ketika tiba tiba saja ada sebuah benda di depan kapal. Dengan sekuat tenaga sang sopir memutar kemudinya. Ups … hampir saja, katanya.

Akhirnya, kapal ini berlabuh juga, bersandar di sebuah dermaga yang kelihatannya sangat bagus. Tetapi sayangnya, salah sandar karena bukan dermaga tempat kami menginap. Kami pun harus kembali ke speedboad.

Laut masih nampak tenang, hanya saja, kondisi di speedboad sangat gelap. Sambil berdoa agar lekas sampai. Sang pemandu terlihat beberapa kali menelepon resort untuk menentukan lokasi penginapan tersebut.

j25

Akhirnya, keresahan, kelelahan pun berakhir, ketika tanda tanda di mana speedboad ini harus bersandar. Sudah cukup malam, tetapi bersyukur.

Postingan ini masih draft, nanti akan diperbaiki lagi.

 

 


Video, Memberi Makan Hiu di Wayag

Ini adalah salah satu tempat memberi makan Hiu di Wayag. Lokasinya di Pos jaga Wayag. Setiap speedboad yang menuju Wayag, harus mampir ke sini untuk melapor. Hiu hiu liar di sini sudah terbiasa mendatangi tempat ini, sudah familier dengan kedatangan manusia. Kebiasaan pengunjung yang memberi makan, mungkin menjadi salah satu sebab kesukaan hiu hiu tersebut.

Di pos jaga ini pula diinformasikan, apakah di Wayag sedang banyak pengunjung atau tidaknya, mengingat bukit yang kecil sehingga harus antri untuk mengunjungi lokasi tersebut.


Video, Menjelajah Bukit Karang Piaynemo

Piaynemo adalah gugusan pulau karang atau yang lebih dikenal dengan sebutan miniaturnya Wayag. Jika wisatawan ke Raja Ampat, inilah tempat kedua yang wajib dikunjungi setelah Wayag. Seperti apa Wayag, pada Vlog berikutnya akan saya tayangkan.

Menurut “pak sopir” speedboad,  Piaynemo berasal dari bahasa masyarakat Biak yang artinya ujung tombak yang ditusukan. Untuk mencapai gugusan batu karang ini dibutuhkan 2 jam perjalanan dengan speedboad dari Waisai, Ibu Kota Raja Ampat.

Sebelum memasuki kawasan ini, setiap pengunjung wajib lapor di pintu masuk pos dermaga dan mengisi buku tamu.

Untuk mencapai bukit tertinggi dibutuhkan 15 menit dengan menaiki anak anak tangga yang terbuat dari papan papan kayu. Cukup aman dan nyaman, berbeda ketika akan mendaki bukit Wayag di ujung Raja Ampat maupun telaga bintang yang tak jauh dari tempat pendakian ini.

Dan mulailah, berpetualang di gugusan pulau karang Piaynemo.


Video, Keindahan Pasir Timbul di Raja Ampat

Walaupun udara agak mendung ketika kami berangkat dari pelabuhan rakyat usahamina. Tetapi sesampainya di pasir timbul, udara sangat cerah, matahari bersinar dengan teriknya.

Beruntung masih timbul pasirnya, biasanya disaat jam begini sudah tenggelam, kata sang nahkoda speedboat yang saya tumpangi. Beruntung juga masih ketemu “mahluk” yang masih berada di sana, walaupun hanya 6 orang dari Irlandia, tetapi pulau pasir itu masih cukup luas untuk kami jejakan kaki di sana.  🙂

Bayangkan jika sudah berhimpit himpitan … nggak kebayang jadinya 🙂 bisa jadi makanan hiu yang banyak saya temui di sini.

Untuk mencapai lokasi ini, butuh waktu 2 jam dari pelabuhan usahamina Sorong. Cukup melelahkan, tetapi terpuaskan ketika melihat indahnya pantai pasir putih ini.

 


Memberi Makan Hiu di Desa Sarpele

j7

Foto: Memberi Makan Hiu Liar di Pantai Desa Sarpele (09/12/2016)

Pemandangan tak biasa ini saya jumpai di sebuah pantai di sebuah pos pengawasan di Desa Sarpele.  Pos penjagaan kawasan Taman Nasional Raja Ampat ini dapat kita temui jika kita mau ke Pulau Wayag. Ketika saya ke sini, banyak kawanan hiu yang hilir mudik  ini yang bercampur dengan berbagai jenis ikan lainnya yang juga unik unik.

Semula saya berpikir, bahwa di sini tempat penangkaran hiu, ternyata bukan. Hanya kebetulan saja hiu hiu liar itu datang ke sini dan sudah terbiasa berinteraksi dengan manusia. Banyak pengunjung yang memberi makanan berupa potongan ikan kecil-kecil. Ikan ini adalah hasil tangkapan anak-anak penduduk Desa Sarpele.  Menarik.

 


Mengintip Keindahan Alam Piaynemo

img_9988

Foto: Salah satu sudut pemandangan di homestay Piaynemo (09/12/16)

Pemandangan yang indah ini, saya ambil dari jendela tempat saya menginap di pagi hari di homestay Piaynemo. Walaupun tempatnya sederhana, tetapi  sangat unik, karena berada di atas lagoon laut. Tepat di atas berlalu lalangnya ikan ikan dengan beraneka bentuk tepat di bawah tempat kami menginap. Menarik.