Category Archives: Lingkungan

Tanaman Hogweed Serang New York

Tanaman Hogweed raksasa (Sumber: http://wisplants.uwsp.edu)

Hogweed raksasa yang memiliki nama latin Heracleum mantegazzianum dikabarkan saat ini  mengalami peningkatan populasi yang sangat tinggi di New York. Keberadaannya saat ini telah  mengancam manusia karena getahnya yang sangat beracun.  Manusia yang kena getah ini, dikabarkan  akan mengalami seperti terbakar pada kulit, hingga tingkat tiga dan bersifat permanen.  Efek yang lebih berbahaya lagi adalah jika mengenai mata,  ini akan berakibat mengalami kebutaan.
Lanjutkan membaca

Iklan

Panas

Biasa kerja di ruang ber AC, sehingga ketika keluar kantor panasnya bukan main. Itu pengalaman yang lalu-lalu. Tetapi masalahnya siang itu ketika hendak menghadiri sebuah seminar di kantor Microsoft(23/10) sekitar pkl 11.30 wib panasnya luar biasa sekali, panas terik. Ada apa? 

Saya coba googling dan ternyata menurut sebuah informasi di Detiknews.com yang mengutip pendapat Endro Cahyono, Kepala Seksi Data dan Informasi BMG Jawa Timur, bahwa posisi bumi terhadapa matahari saat ini adalah posisi terdekat.  Dijelaskan bahwa bumi mengeliling matahari tidak dalam keadaan posisi bulat tetapi elips, dan saat ini merupakan pada posisi yang terdekat. Dijelaskan juga oleh Kukuh Rubiyanto, Kepala Subbidang Informasi Metereologi Public BMG  bahwa: posisi matahari  saat ini tepat berada di atas Pulau Jawa dan juga tidak adanya awan yang melindungi. Sehingga bukan Jakarta saja yang mengalami peningkatan suhu tersebut, tetapi juga Surabaya, dan Semarang.

Pertanyaannya, benarkah karena hanya persoalan itu? Sebetulnya menurut saya banyak faktor lain yang ikut menyumbang terjadinya peningkatan suhu tersebut. Pertama, adanya variasi iklim yang dipengaruhi oleh aktifitas alam seperti El Nino, La Nina, dan Dipole Mode. Kedua adalah adanya pemanasan global yang disebabkan oleh meningkatnya gas rumah kaca di atmosfer. Ketiga, pemanasan lokal di Jakarta sendiri yang disebabkan degradasi lingkungan karena kurangnya ruang hijau. Ditambah lagi kadar polusi di Jakarta yang sangat tinggi yang memerangkap sinar matahari itu sendiri, sehingga udara menjadi kian panas luar biasa.

Kalau saja Jakarta banyak pohon-pohon hijau, polutan yang sebagian besar berasal dari gas buang kendaraan bermotor itu tentu akan dapat diserap tanaman untuk proses fotosintesis. Sayang Jakarta saat ini lebih banyak mall, pembangunan gedung ketimbang hutan-hutan kota. Jadi tidak heran, kedepannya kita akan semakin gerah dan panas.


Air panas Cibiuk di Kawasan Konservasi

Malam ini saya menginap di homestay-nya Pak Komar, Sunda Jaya. Saya berharap tadinya di tempat ini akan ketemu banyak kawan-kawan dari milis komunitas backpacker Indonesia, yang satu tujuan dengan saya ke Pulau Peucang. Tetapi rupanya hanya ketemu dengan satu orang saja, asal Bandung. Sehingga rencana menyewa sebuah kapal pun gagal, karena biayanya menjadi sangat mahal, Rp 1.500.000,- pulang pergi.

 

Sesuai saran Pak Komar, sebaiknya ikut saja kapalnya, yang kebetulan akan menjemput  turis dari Cekoslovakia dan juga dari kelompok Actur (Auto 2000 Adventure) tetapi nanti malam.  Siplah … saran tersebut akhirnya saya setujui dengan biaya hanya sebesar Rp 250.000,- pulang pergi untuk 2 orang.

 

Keesokan harinya, sambil menunggu berangkat ke Peucang, seharian kami habiskan waktu di perkampungan tradisional Taman Jaya, areal persawahan, dan terakhir air panas Cibiuk, di kawasan hutan konservasi.

 

Penduduk di sini sangat ramah, sepanjang perjalanan selalu saja ada yang menyapa. Jalan-lan desa itu cukup luas, meskipun belum beraspal, hanya tersusun dari batu-batuan yang  berukuran cukup besar. Di kiri-kanan jalan banyak ditemui rumah-rumah panggung. Terlihat ada seorang Ibu yang sedang mencari kutu anak remajanya, ada yang sedang menyapu, ada juga yang lagi netekin anaknya. Beberapa rumah di antaranya terlihat  memiliki parabola, karena saluran televisi di sini rupanya tidak terjangkau oleh antena TV biasa. Semakin jauh kaki ini melangkah, semakin lama, rumah-rumah penduduk semakin jarang sampai akhirnya tidak ada lagi, sudah berada di sawah.

 

Menarik, memperhatikan para petani yang sedang menandur di area sawah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan yang dilatarbelakangi gunung Honje dan Cibiuk tersebut. Berjalan di antara pematang sawah yang sempit dan agak sedikit lembek, adalah kesempatan yang jarang terjadi. Sesekali saya berusaha mengimbangi langkah kami di antara pematang sawah, yang nyaris kehilangan keseimbangan, karena perut yang sudah agak membuncit.

Peluh keringat membasahi sekujur badan, ternyata kami sudah berada di perbatasan hutan yang sejuk, rimbun dengan gemerincing aliran sungai kecil dari dalam hutan menuju persawahan. Tempat yang mengasyikan. Berharap kami bisa menjumpai banyak binatang liar di sini. Aneh juga kan, kalau ke hutan, tetapi tidak menemui binatang liar seekorpun 😀 !.

 

Perjalanan di tengah hutan yang berliku-liku dan menanjak penuh perjuangan itu, berakhir di sebuah tempat, air panas Cibiuk. Saya pikir, Cibiuk ini adalah tempat asal mula nama rumah makan khas Sunda, Sambel Cibiuk. Rupanya bukan, lain lagi. Sambil beristirahat, dari kejauhan nampak beberapa ekor lutung hitam, Presbytis cristata bergelayutan di atas pohon, dan suara-suara burung yang saling bersahutan. Beberapa serangga kupu-kupu pun tak luput menjadi incaran kami untuk didokumentasikan.

 

Bak, seorang tour guide, Pak Komar pun bercerita, sambil menunjuk kesebuah tanaman bahwa ini adalah tanaman Songgom, daun kesukaan Badak Jawa, selain selungkar dan pucuk rotan. Ditambahkan, bahwa badak kalau makan, biasanya sambil jalan dan lurus. Lucu juga ya … Lalu, kalau ketemu Badak di tengah jalan dan mengejar kita? Istri saya menimpali, “gampang, tinggal belok saja, kalau perlu zigzag, bebas dech …”.

 

Dalam hati saya, bersyukurlah, kalau ketemu Badak, penduduk sini belum tentu ada yang pernah melihat badak secara langsung. Pak Komar sendiri menurut penuturannya sudah 10 kali berjumpa langsung. Jadi ingin ketemu … Kabarnya Badak sering ditemui di Sungai Cigenter, Cidaon, Handeleum, Citandahan dan Cibunar. Kalau beruntung, badak bisa ditemui di musim panas. Biasanya dia akan menuju sungai untuk minum, jadi tinggal tunggu saja di situ.

 

Menjelang sore, kami kembali ke ladangnya Pak Komar, dan disuguhi kelapa muda. Ah seger banget … Tidak lama kemudian, makanan diantarkan oleh istrinya Pak Komar, sayur kulit melinjo, ikan asin, lalap timun dan terong, serta sayur jamur. Wuih uenaknya… Istrinya rupanya memang jago masak, atau memang lagi lapar berat? He he he… Gabungan keduanya.

 

Sehabis makan, kami kembali ke homestay, tidur. Mempersiapkan perjalanan nanti malam menuju Pulau Peucang.

(Bersambung)

 


Krisis Pangan dan Lemari Penyimpan Benih

Beberapa waktu lalu, dikabarkan bahwa Norwegia telah melakukan upaya penyelamatan pangan dunia dalam menghadapi situasi “hari kiamat” yang diakibatkan oleh bencana alam seperti pemanasan global, gempa bumi, maupun akibat perang nuklir. Yaitu dengan dibangunnya sebuah lemari penyimpanan benih sedunia (Svalboard Global Seed Vault) di Longyearbyen.

 

Sebuah upaya yang mirip jaman Nabi Nuh, yang berupaya menyelamatkan manusia dan makhluk hidup lainnya dari penghukuman Tuhan melalui bencana air bah. Lemari penyimpan tersebut memuat jutaan bibit tanaman dari seluruh dunia yang disimpan di kedalaman 1000 km di gunung Arctic.  Sebuah antisipasi yang cukup visioner.

 

Lepas dari upaya-upaya yang terlalu jauh ke depan tersebut, saat ini justru bencana krisis pangan sudah ada di depan mata.  Saat ini krisis pangan seolah melanda hampir di semua Negara, yang berakibat efek domino. Kondisi ini sudah membuat instabilitas geopolitik di beberapa Negara.

Beberapa faktor pemicu krisis pangan tersebut, adalah sebagai berikut:

Pertama, kondisi haus pangan yang dipicu booming ekonomi di China dan India, yang mengakibatkan lonjakan harga. Kedua, iklim yang tidak kondusif dan efek pemanasan global menyebabkan produksi pangan gagal. Negara-negara penghasil pangan seperti Thailand, India dan China akhirnya memberhentikan ekspor dan lebih memprioitaskan kebutuhan dalam negeri.  Kecuali Indonesia yang justru malah mau mengekspor. Lho? Nampaknya sejauh ini kedaulatan pangan (kemampuan Negara memenuhi kebutuhan pangan warganya)  belum menjadi visi pemerintah. Padahal krisis pangan jelas-jelas sudah di depan mata. Ketiga, pemenuhan kebutuhan pangan menyebabkan kebutuhan energi berbasis fosil yang juga besar.  Keempat, tekanan terhadap energi fosil yang begitu besar menyebabkan banyak Negara mencari alternative energi (Biofuel), seperti  jagung, gandum, kedelai, dsb. Celakanya, upaya ini justru berbenturan dengan kepentingan perut.

Inilah kondisi real yang mulai kita hadapi hari-hari ini. Entah sampai kapan ?

Bagaimana menurut Anda?