Tag Archives: Penyakit

Diabetes (1): Mengapa sering berasa lapar, haus dan sering buang air kecil

Saya bukanlah petugas medis, kalaupun saya menuliskan artikel  ini, semata-mata ingin belajar mengenai seluk beluk penyakit ini.  Jadi, jangan ada yang bertanya mengenai penyakit ini, sebab dipastikan saya tidak bisa menjawab.

Saya perlu menuliskan ini, kebetulan, sepulang kantor tadi sore, saya menyempatkan diri untuk membesuk salah seorang rekan kerja yang kebetulan dirawat di Rumah Sakit Islam Jakarta. Buat saya membesuk orang sangat penting, karena ada banyak hikmah yang bisa dipetik, ketimbang ke tempat pesta. Dari penjelasannya dan istrinya saya ketahui, ternyata dia menderita Diabetes.

Informasi dari sebuah buku  “Diabetes” karangan dr. Savitri Ramainah, disebutkan bahwa penyakit ini  salah satunya disebabkan oleh faktor keturunan. Dan saya ingat nenek saya pun menderita penyakit ini yang akhirnya meninggal. Artinya,kalau informasi itu benar, tentu saya pun berpotensi akan menderita penyakit ini.  Wah, mengerikan?!. Artinya, saya tidak  bisa mengelak dari penyakit ini?

Saya koq kurang percaya dengan informasi itu. Informasi genetis tubuh itu tersimpan di dalam gen, semuanya terkode di sana, termasuk juga diabetes ini. Kalau ini benar, tentu manusia pertama, Adam pun menderita penyakit ini, yang kemudian diturunkan. Saya tidak yakin Tuhan iseng menaruh coding ini di dalam tubuh kita.

Tulisan ini menjadi hipotesis saya, bahwa penyakit ini bukan karena factor keturunan. Semoga wordpress tetap eksis, sehingga puluhan tahun ke depan saya masih bisa membaca hipotesis ini. Kalau ternyata saya menderita diabetes, berarti hipotesis saya ditolak. Tentu saja, saya berharap initidak terjadi.

Saya lebih percaya begini, semua informasi penyakit termasuk diabetes sudah dicoding di dalam gen. Jadi cetak birunya sudah ada di dalam gen setiap orang. Persoalannya adalah, ada yang dimunculkan dan ada yang tidak. Lalu, apa yang menyebabkan penyakit muncul, dan  bagaimana caranya  agar gen yang menyebabkan penyakit itu tidak muncul terekspresikan?

Jika dalam code gen ada diabetes, tentu ada gen regulatornya juga yang akan menghambat timbulnya penyakit tersebut. Intinya, kita bisa menghidupkan, sekaligus kita juga bisa mematikan (ada swicth on/off). Caranya, yaitu melalui cara berpikir kita. Berpikirlah positif, bahwa kita tidak akan menderita penyakit tersebut. Apakah sesederhana itu? Jawabnya, ya! Dan saya yakin dengan hasil riset yang pernah dilakukan oleh Kazuo Murakami, ahli genetika terkemuka dunia, pemenang Max Planc Research Award dan Japan Academi Prize mengenai ini adalah sebuah keniscayaan.

Hilangkan pemikiran bahwa penyakit itu akan diturunkan, sehingga keturunannya menjadi bersikap pasrah, seolah-olah memang sudah nasib yang sudah digariskan. Sehingga tidak bisa dihindarkan. Tentu saja sikap positif itu harus diimbangi juga dengan upaya untuk mencegah kecenderungan risiko-risiko yang menyebabkan penyakit tersebut. Masalah ini akan dijelaskan pada tulisan terpisah.

Saya tidak mau bahas lebih jauh mengenai ini, sebagaimana judul tulisan saya di atas, saya ingin membahas, mengapa penderita ini cena derung berasa lapar, sering haus dan sering buang air kecil.

Lapar, Haus dan Selalu ingin kencing

Hal ini disebabkan insulin yang diproduksi, tidak melekat pada reseptor (penerima). Sehingga sel tubuh menjadi berasa lapar. Yang kemudian pesan itu disampaikan ke otak. Otak merespon dengan pesan rasa lapar yang berlebihan. Meskipun porsi makan ditambah, tetapi glukosa yang dihasilkan tidak dapat digunakan untuk energi, karena dilepaskan kembali melalui air kencing. Kurangnya energi ini menyebabkan penderita mudah lelah. Karena kekurangan energy, akhirnya tubuh mengambilnya dari otot dan lemak. Hal ini lah yang kemudian penderita diabetes pun menjadi kurus.

(Bersambung)

Iklan

Konsep penyembuhan diri sendiri

Tubuh sebetulnya punya kemampuan untuk melakukan penyembuhan diri sendiri. Sebagaimana pengalaman saya selama ini. Atas kemurahan Tuhan saja, saya termasuk orang yang jarang sakit, dan jarang pula ke dokter. Tetapi bukan berarti tidak pernah sakit. Kalau sekedar batuk, pilek, demam, dsb terkadang dialami juga, tetapi biasanya hanya 1 atau 2 hari langsung sembuh, dengan tanpa minum obat. Itu dulu.

Hanya sejak setelah menikah saja, sepertinya kemampuan tubuh menyembuhkan diri sendiri semakin berkurang kekuatannya. Saat ini dibutuhkan obat warung untuk untuk dapat sembuh dari penyakit-penyakit tersebut, bahkan perlu beberapa hari untuk sembuh.

Ketidakmampuan tubuh dalam menghadapi penyakit ternyata semakin meningkat pula. Belakangan flu saya tidak sembuh-sembuh bahkan hingga sebulan lebih. Sengaja saya biarkan, apakah tubuh masih bisa menyembuhkan diri sendiri?. Ternyata tidak. Sehingga sejak saat itu dibutuhkan bantuan dokter untuk mengatasi penyakit tersebut.

Dari kasus tersebut, nampaknya ada trend peningkatan ketidakmampuan tubuh dalam melawan penyakit. Jika sebelumnya tidak minum obat, menjadi perlu minum obat warung. Jika sebelumnya dengan obat warung akan sembuh hanya dalam 2-3 hari, selanjutnya perlu 1-2 minggu untuk sembuh. Bahkan belakangan jika ketemu flu lagi, akan berbulan-bulan jika tidak diobati. Dan celakanya yang terkahir saya harus kedokter spesialis, untuk dapat sembuh dari penyakit tersebut.

Jadi, keberadaan obat dalam menghadapi penyakit, sebetulnya memadamkan kemampuan tubuh atau lebih tepatnya gen yang ada di dalam tubuh dalam menyembuhan diri sendiri.

Apa yang saya kemukakan di atas sebetulnya pengaruh kebiasaan saya sejak kecil, yang tanpa saya sadari sudah menjadi kebiasaan. Setiap menderita sakit, saya hanya bersikap pasrah, dan berdoa saja, karena memang kesulitan untuk membiayai pengobatan waktu itu. Sehingga jika terpaksa harus sakit menjadi terbiasa untuk tidak berobat, karena saya yakin tubuh akan sembuh dengan sendirinya. Ternyata ada baiknya juga mengambil sikap seperti ini.

Pendapat saya bahwa, tubuh punya kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri, ternyata ada dasar ilmiahnya. Sebelumnya saya tidak pernah membaca literature terkait dengan masalah tersebut. Secara tidak sengaja saya membaca hasil penelitian dari Dr. Kazua Murakami dalam bukunya: The Divine Message of The DNA. Ternyata konsep penyembuhan diri sendiri sudah muncul sejak jaman dulu, bahwa tubuh memang punya kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri. Lebih lanjut menurut Murakami (pada halaman 64), bahwa gen lah yang sebetulnya memerintahkan tubuh untuk sembuh. Di dalam gen ternyata sudah ada program untuk penyembuhan tersebut hanya saja tersembunyi (dorman). Gen dorman tersebut ternyata dapat diaktifkan, kalau saja kita mau menyalakan melalui pikiran-pikiran yang positif, bahwa tubuh akan sembuh.

Penyakit lain? ada juga, seperti pembengkakan kelenjar getah bening, akan saya tulis pada postingan terpisah.