Tag Archives: diabetes

Diabetes (6): Memperbaiki Kebiasaan Makan yang salah

Olahraga sudah dibahas, sekarang adalah  soal memperbaiki pola makan. Pola makan saya biasanya begini: pagi, sarapan  dan  menurut saya normal tidak ada masalah, demikian juga makan siang, jadi tidak perlu dibahas secara detail makanannya apa. Yang menjadi masalah adalah makan malamnya. Kalau makan malam, biasanya minimal adalah 2 piring   🙂   Menurut saya ini salah, seharusnya  cukup sekali saja, nggak perlu ada acara nambah segala.  Sejatinya, makan itu untuk bekerja, lah ini untuk tidur, nambah pula. Bagaimana perut nggak buncit???

Menurut Hiromi Shinya dalam bukunya Mukjizat Mikroba, “kalau memang masih lapar, makan buah apel yang dipotong kecil-kecil”. Masih lapar? Kebangetan!

Inilah kebiasaan makan yang salah, biasanya makan dulu, baru makan buah, salad dan sayur sebagai penutup. Harus dibalik, makan buah atau salad atau sayur dulu, baru makanan utama. Makan buah dan sayur lebih dulu maksudnya supaya lambung terisi lebih dulu, sehingga keinginan makan nasi yang biasanya suka nambah menjadi berkurang. Minimal tidak lagi 3 piring, tetapi cukup 1 piring   🙂

Keuntungan lain, makan buah dan sayur lebih dulu adalah  akan merangsang keluarnya hormon  inkretin, yaitu hormone yang dikeluarkan oleh saluran  usus. Hormon inkretin  ini akan menuju pancreas, sehingga organ ini akan mengeluarkan insulin.

Nah, saat makanan utama masuk, maka kadar insulin yang sudah cukup itu tinggal men-set agar makanan utama yang masuk itu tidak menyebabkan tingginya kadar gula dalam tubuh.

Gampang bukan? Tinggal praktek!

(Bersambung)

Iklan

Diabetes (5): Seberapa besar pengaruh olahraga dalam menghindari diabetes.

Baru kali ini, saya menjalani olah raga dengan “serius”, biasanya dilakukan hanya kalau ada waktu luang.  Tetapi kali ini ada waktu atau tidak, harus saya jalankan. Bukti keseriusan itu, kemarin saya membeli sepatu khusus untuk olahraga badminton, mereknya R**bok, warna putih, type REE6-J82036, Nomor 40. Sebetulnya sepatu itu bukan khusus untuk badminton sih, cocoknya untuk tenis. Masalahnya yang untuk badminton itu, warnanya yang nggak nahan. Genjreng banget. Saya nggak suka warna-warna mencolok, mengkilat pula.

Cuma beli sepatu saja koq diumumkan?  😀   Suka-suka yang punya blog dong.  Bukan, maksudnya mau hitung berapa lama umur sepatu ini, itu saja. Jadi, tulisan ini semacam logbook-nya lah. Itupun beli dengan harga discount 50%. Lumayan, kan nggak ada yang tahu kalau sepatu itu mereknya discount  🙂

Selama ini  saya olahraga menggunakan sepatu yang biasa saya gunakan untuk backpacking, dan sekarang sudah ringsek ujungnya  🙂

Seberapa besar pengaruh olahraga dalam menghindari diabetes? Ini dia catatan saya, yang diambil dari berbagai sumber:

  1. Olahraga akan membakar kalori, yang berarti akan membantu mempertahankan atau menurunkan berat badan.
  2. Olahraga akan meningkatkan jumlah reseptor, sehingga insulin bisa melekatkan diri. Dengan demikian akan meningkatkan penggunaan glukosa oleh sel-sel.
  3. Olahraga akan membantu meredakan stress, sehingga menghambat munculnya hormon yang berlawanan dengan fungsi insulin.
  4. Olahraga akan memperbaiki peredaran darah sekaligus  menjaga kondisi otot-otot jantung.

(Bersambung)

 


Diabetes (4): Penderita di Jakarta 1:8

Penyakit ini nampaknya sangat populer, sebab satu dari delapan orang penduduk Jakarta menderita penyakit ini.  Data tersebut diperoleh dari Divisi Endokrin dan Metabolik RSCM, hasil riset populasi  tahun 2006.   Bayangkan saja,  jika penduduk di Jakarta tahun 2012 ini  berjumlah 9,6 juta jiwa, maka berdasarkan perhitungan perbandingan tadi, maka jumlah penderita berjumlah 1,2 juta jiwa.

Menurut saya, jumlah penderita pastinya bakalan meningkat. Nggak percaya? Coba saja buktikan, banyak faktor penyebab yang membuatnya menjadi meningkat. Mungkin menarik untuk dijadikan topik penelitian, adakah korelasi antara semakin macetnya Jakarta dengan meningkatnya penderita diabetes? Atau ini, adakah korelasi antara jumlah kendaraan motor roda dua dengan meningkatnya penderita diabetes.

Cara menghitungnya, gampang, hitung saja, berapa jumlah kendaraan bermotor roda ini pada tahun 2006, dan berapa jumlahnya sekarang. Terus bandingkan juga bagaimana kemacetan Jakarta di tahun 2006, dibandingkan dengan sekarang. Dan hitung juga berapa jumlah penderita diabetes tahun ini.  Sebuah penelitian yang menurut saya menarik.

Terlalu luas? Bisa dipersempit, coba saja hitung, berapa jumlah karyawan di kantor Anda? Dan berapa jumlah penderita diabetesnya? Survey juga bagaimana mereka bertrasnportasi.

Hipotesis saya, ada korelasi!! Kemacetan akan membuat orang semakin stres. Demikian juga orang-orang yang selalu menggunakan kendaraan motor roda dua, membuat orang menjadi malas bergerak. Bahkan hanya untuk beli sabun mandi  ke warung dekat rumah saja, perlu naik motor.  Tubuh menjadi pasif.  Sehingga saya yakin penderita diabetes ini akan meningkat pesat. Berapa persen jumlahnya? Nah inilah yang perlu diteliti lebih jauh.

Saya, maunya kalau ke kantor itu, naik sepeda atau sambil jogging, masalahnya, takut  ketabrak …   😦   Jakarta tea atuh   🙂  Yang jalan di trotoar aja di tabrak, apalagi yang menyatu dengan kendaraan umum …

Karena nggak bisa, maka agar aktif, karena meja kerja saya di lantai 4, maka setiap pagi untuk mencapai lantai 4, saya pun menaiki tangga  sambil berlari.  Lumayan …  berapa ratus kalori tuh yang terbakar …


Diabetes (3): Hati-hati dengan perut yang membuncit

Sesungguhnya ini adalah bentuk perut saya sekarang ini   😦   makanya anak-anak saya pada complain. Dan si sulung pun menyuruh saya, “coba dech pah … berdiri tegak lurus, coba lihat jari kaki ke bawah, dan jangan membungkuk. Terlihat enggak?”.

Terlihat sih, tapi cuma ujungnya saja, sedikit, itupun sambil membungkuk sedikit …   🙂    “Artinya itu sudah termasuk buncit Pah …” begitu kata anak saya yang sulung.

Lain lagi sibontot, dia paling gemes lihat perut saya, selalu ingin menabrakan kepalanya ke perut saya  😀

Nampaknya saya harus benar-benar memberi  perhatian lebih untuk yang satu ini, memalui olahraga rutin dan diet rendah lemak.

Olahraga ini memang benar-benar bukan dikerjakan kalau ada waktu, atau pun sambil lalu. Harus benar-benar dijadwalkan. Itu adalah tekad saya. Makanya semalam saya coba cari sepatu khusus untuk  olahraga kesukaan saya, Badminton. Walaupun bisanya cuma tepak tepok, dan nggak pernah menang setiap bertanding.  Itu adalah olahraga yang saya sukai dibandingkan olahraga lainnya.

Lemak yang menumpuk di perut, atau disebut juga dengan lemak visceral adalah pangkal sering terjadinya diabetes. Semakin berat volume lemak visceral ini, risiko terkena diabetes akan semakin besar. Tidak percaya? Coba saja cek di jurnal Annals of Neurology edisi Mei 2010. Hasil riset yang melibatkan 700 orang dewasa ini, ternyata membuktikan hal tersebut.

Selain olahraga, program diet rendah lemak juga harus mulai dilakukan.

(Bersambung)


Diabetes (2): Inilah Faktor-faktor yang meningkatkan risiko

Pada mulanya adalah insulin, yaitu suatu hormon yang diproduksi oleh pankreas, yang fungsinya mengatur jumlah gula dalam darah.  Apabila hormon ini berkurang, maka akan  menyebabkan gangguan dalam memanfaatkan karbohidrat, lemak dan protein oleh tubuh.

Karbohidrat yang dikonsumsi, akan dipecah menjadi glukosa. Glukosa adalah sumber energy utama bagi sel. Glukosa ini bisa masuk ke dalam sel, apabila insulin melekat pada dinding sel (reseptor).  Jadi, kalau insulin kurang, maka tidak bisa masuk ke sel, dan otomatis tidak bisa menyediakan energy bagi sel itu sendiri. Ketiadaan energy pada sel, akan mengakibatkan fungsi-fungsi tubuh menjadi tidak normal.

Berikut ini, faktor-faktor  yang menyebabkan diabetes, di antaranya adalah:

Kegemukan. Berat badan yang berlebih menyebabkan kebutuhan insulin semakin meningkat. Demikian juga dengan sel lemak yang besar, mengakibat respon terhadap insulin pun tidak baik.

Usia. Dengan bertambahnya usia, kemampuan pancreas dalam memproduksi insulin menurun.

Virus. Ada beberapa jenis virus yang dapat menyebabkan sel-sel beta di pancreas menjadi rusak, sehingga tidak mampu memproduksi insulin secara optimal.

Stres. Ketika stress, biasanya tubuh akan mengeluarkan beberapa  hormon  yang justru menghambat efek insulin atas sel-sel.

Kurang aktif. Orang yang kurang aktif  akan mengakibatkan menurunnya aktifitas insulin.

(Bersambung)


Diabetes (1): Mengapa sering berasa lapar, haus dan sering buang air kecil

Saya bukanlah petugas medis, kalaupun saya menuliskan artikel  ini, semata-mata ingin belajar mengenai seluk beluk penyakit ini.  Jadi, jangan ada yang bertanya mengenai penyakit ini, sebab dipastikan saya tidak bisa menjawab.

Saya perlu menuliskan ini, kebetulan, sepulang kantor tadi sore, saya menyempatkan diri untuk membesuk salah seorang rekan kerja yang kebetulan dirawat di Rumah Sakit Islam Jakarta. Buat saya membesuk orang sangat penting, karena ada banyak hikmah yang bisa dipetik, ketimbang ke tempat pesta. Dari penjelasannya dan istrinya saya ketahui, ternyata dia menderita Diabetes.

Informasi dari sebuah buku  “Diabetes” karangan dr. Savitri Ramainah, disebutkan bahwa penyakit ini  salah satunya disebabkan oleh faktor keturunan. Dan saya ingat nenek saya pun menderita penyakit ini yang akhirnya meninggal. Artinya,kalau informasi itu benar, tentu saya pun berpotensi akan menderita penyakit ini.  Wah, mengerikan?!. Artinya, saya tidak  bisa mengelak dari penyakit ini?

Saya koq kurang percaya dengan informasi itu. Informasi genetis tubuh itu tersimpan di dalam gen, semuanya terkode di sana, termasuk juga diabetes ini. Kalau ini benar, tentu manusia pertama, Adam pun menderita penyakit ini, yang kemudian diturunkan. Saya tidak yakin Tuhan iseng menaruh coding ini di dalam tubuh kita.

Tulisan ini menjadi hipotesis saya, bahwa penyakit ini bukan karena factor keturunan. Semoga wordpress tetap eksis, sehingga puluhan tahun ke depan saya masih bisa membaca hipotesis ini. Kalau ternyata saya menderita diabetes, berarti hipotesis saya ditolak. Tentu saja, saya berharap initidak terjadi.

Saya lebih percaya begini, semua informasi penyakit termasuk diabetes sudah dicoding di dalam gen. Jadi cetak birunya sudah ada di dalam gen setiap orang. Persoalannya adalah, ada yang dimunculkan dan ada yang tidak. Lalu, apa yang menyebabkan penyakit muncul, dan  bagaimana caranya  agar gen yang menyebabkan penyakit itu tidak muncul terekspresikan?

Jika dalam code gen ada diabetes, tentu ada gen regulatornya juga yang akan menghambat timbulnya penyakit tersebut. Intinya, kita bisa menghidupkan, sekaligus kita juga bisa mematikan (ada swicth on/off). Caranya, yaitu melalui cara berpikir kita. Berpikirlah positif, bahwa kita tidak akan menderita penyakit tersebut. Apakah sesederhana itu? Jawabnya, ya! Dan saya yakin dengan hasil riset yang pernah dilakukan oleh Kazuo Murakami, ahli genetika terkemuka dunia, pemenang Max Planc Research Award dan Japan Academi Prize mengenai ini adalah sebuah keniscayaan.

Hilangkan pemikiran bahwa penyakit itu akan diturunkan, sehingga keturunannya menjadi bersikap pasrah, seolah-olah memang sudah nasib yang sudah digariskan. Sehingga tidak bisa dihindarkan. Tentu saja sikap positif itu harus diimbangi juga dengan upaya untuk mencegah kecenderungan risiko-risiko yang menyebabkan penyakit tersebut. Masalah ini akan dijelaskan pada tulisan terpisah.

Saya tidak mau bahas lebih jauh mengenai ini, sebagaimana judul tulisan saya di atas, saya ingin membahas, mengapa penderita ini cena derung berasa lapar, sering haus dan sering buang air kecil.

Lapar, Haus dan Selalu ingin kencing

Hal ini disebabkan insulin yang diproduksi, tidak melekat pada reseptor (penerima). Sehingga sel tubuh menjadi berasa lapar. Yang kemudian pesan itu disampaikan ke otak. Otak merespon dengan pesan rasa lapar yang berlebihan. Meskipun porsi makan ditambah, tetapi glukosa yang dihasilkan tidak dapat digunakan untuk energi, karena dilepaskan kembali melalui air kencing. Kurangnya energi ini menyebabkan penderita mudah lelah. Karena kekurangan energy, akhirnya tubuh mengambilnya dari otot dan lemak. Hal ini lah yang kemudian penderita diabetes pun menjadi kurus.

(Bersambung)


Kencing manis, diabetes mellitus

Seorang kawan di kantor, sebut saja  namanya Udhin (nama yang lagi ngetop kayanya).   Semula tubuhnya lumayan gemuk, dan kalau berjalan terlihat agak berwibawa,walaupun nampak dibuat-buat, supaya dianggap  mirip-mirip  anggota militer  🙂    Tanpa saya sadari, hampir sebulan ini, tidak terlihat di kantor. Tetapi hari itu tiba-tiba saja saya berpapasan. Ada yang berubah, badannya  menciut, kurus. Tidak lagi terlihat kewibawaan yang biasanya dia tunjukan. Tangannya yang  biasanya dia jabat dengan kuat kepada siapa saja yang bersalaman dengan dia. Saat itu tangannya tidak lagi bertenaga. Ketika saya tanya kenapa kurus?  Rupanya dia menderita kencing manis, Diabetes mellitus.
Lanjutkan membaca