Tag Archives: Bangkok

Perjalanan dari Bangkok ke Phuket

03-04-09, hari ke-4, di Bangkok

Sore itu, diantar oleh Kun Somai, kami menuju Southern Bus Terminal, untuk melanjutkan perjalanan ke Phuket. Sengaja tidak memilih pesawat, sebab ingin menikmati perjalanan dengan bus double decker ini, senyaman apa sih?. Sepertinya menarik!

Terminalnya, cukup bagus, nyaman, sudah terintegrasi dengan pusat perbelanjaan di sebelahnya, yang banyak menjual makanan khas Thailand dan juga beraneka macam baju. Loket penjualan tiketnya sendiri berada di lantai 2. 

Ada beberapa pilihan jam keberangkatan, yaitu: pkl 06.00; 07.00; 08.00; 16.30; 17.30; dan 19.30. Kami memilih pemberangkatan pkl 16.30. Pertimbangannya bisa tidur di perjalanan dan berharap bisa nyenyak dan bisa sampai di Phuket sekitar pkl 05.00 pagi.

Kami sengaja memilih duduk pada urutan ke-2 dari depan, di atas. Kalau paling depan takutnya kaget, jika tiba-tiba bangun, ternyata tidak ada supirnya 😀  Atau kalau ada apa-apa, kan yang di depan duluan …  Harga tiket THB 626 per orang, bis lainnya harganya beda-beda tipis.

Semula, bayangan saya mengenai bus double decker, atau sebut saja bis tingkat, memang bentuknya dua tingkat, akan berjalan lelet, sama seperti bis tingkat di Jakarta. Rupanya keliru. Bis ini berjalan sangat cepat luar biasa. Berangkat dari Southern Terminal Bus pkl 16.30, tiba di Phuket pkl 04.30. Total 12 jam perjalanan.

Jalan menuju kawasan selatan Thailand ini memang sangat mulus, ada dua jalur terpisah, dan tidak saling berpapasan, jadi sangat aman dan nyaman. Tidur pun semakin lelap, karena tersedianya bantal dan selimut. Hmmm… zzz … zzz …

Bis berhenti, dan saya lihat jam menunjukkan pkl 00.30 dini hari, saya tidak tahu nama tempatnya, yang pasti adalah tempat peristirahatan, dan tempatnya sangat ramai, banyak pedagang, tetapi sangat tertib dan rapih. Lapar juga ternyata, saya coba keliling, dan akhirnya pesanan saya jatuh pada sop daging sapi, di mana di bagian dasarnya sudah ada sayuran kol. Jadi mereka hanya tinggal menuangkan soup yang berwarna hitam tersebut di atas mangkok yang sudah ada irisan sayuran kol tadi. Ternyata lumayan enak.

Sementara menikmati makan malam,  tersebut, terdengar suara dari microfon dengan bahasa Thailand %$#@&*$# … sudah pasti saya tidak tahu artinya, hingga beberapa kali terdengar. Tidak lama kemudian ada seorang wanita muda yang mengelilingi setiap meja makan dengan berkalungkan papan pengumuman yang berbahasa Thailand juga, bolak balik di meja saya.

Selesai makan, kami kembali ke bis. Ternyata saya adalah orang terakhir yang kembali ke bis, dan semua mata tertuju ke saya. Rupanya informasi melalui microfon dan papan pengumuman tadi sebenarnya ditujukan ke saya 😀

Bus pun meluncur, menembusi pekatnya malam, kami pun kembali terlelap.

Bersambung 


Jalan Tak Pernah Sepi di Khao San Road

02-04-09, hari ke-3, di Bangkok

Pagi itu kami masih di antar oleh Somai Kun, dan kami sudah minta ke Angie, agar kami diantar saja ke Khao San Road dan biar pulangnya nanti sendiri, tidak perlu dijemput, takut merepotkan.

Khao San Road

Ada apa di  Khao San road?  Kabarnya inilah kawasannya para backpacker. Semula memang kami akan menginap di sini, karena di sinilah banyak penginapan murah meriah dan bersih. Sebuah tempat yang menarik, karena dari tempat ini juga para backpacker akan melanjutkan perjalanannya, semua keperluan perjalanan tersedia di sini Dan hebatnya lagi, harga yang ditawarkan benar-benar sangat murah, lengkap dengan akomodasi, makan dan tiket masuk. Kota yang nampak hidup, dan tidak pernah tidur.

Di sepanjang jalan, pagi dan siang, selalu ramai para pelancong, banyak travel agent, hotel, restoran, toko souvenir, money changer, dsb. Sedangkan malam hari jalan tersebut berubah menjadi kafe-kafe. Tidak salah rasanya jika Khao San road ini menjadi tempat favorit untuk dikunjungi.

Tiga kali kami bolak-balik di jalan ini, dan tidak terasa, tiba-tiba sampailah kami di Sungai Chao Phraya. Sungai yang menjadi alternative transportasi di dalam kota Bangkok. Di seberang sungai ini dari kejauhan terlihat Wat Arun atau Temple of Dawn.  Wat Arun juga merupakan salah satu bangunan yang menjadi ciri khas Bangkok. Untuk mengunjunginya kita bisa naik perahu. Tetapi sayang saya tidak sempat ke sana, sudah capek, kebanyakan jalan hi hi hi…  (sejujurnya saya tidak begitu suka dengan bentuk-bentuk bangunan, arsitektur, kecuali landmark, saya lebih menyukai keindahan alam)  ini juga lagi istirahat sambil tiduran di sebuah taman di penyeberangan Chao Phraya, sambil makan manisan mangga. Oh ya, mangga di Bangkok ini selalu tersedia loh … tidak tergantung musiman. Ukurannya besar, rasanya seperti mangga Indramayu, tetapi rasanya lebih enak, lebih manis, agak berair dan sedikit kecut … ditambah rempah-rempah … rasanya manteb banget.

Setelah istirahat cukup, perjalanan kami lanjutkan dengan menggunakan bis umum, entah tujuan kemana, karena kali ini memang kami sengaja menyesatkan diri hi hi hi … dan tiba-tiba kami berhenti di sebuah tempat yang namanya MBK (Mah Boon Krong). Ketika hendak membayar ongkos … eh … ternyata gratis. Rupanya pemerintah kota Bangkok ini memang baik banget sama warganya. Beda ya sama pemerintah kita … hi hi hi …

MBK adalah sebuah pusat perbelanjaan yang mirip-mirip ITC Mangga Dua. Barang-barang di sini terkenal murah, apalagi kalau beli dalam jumlah banyak. Kaos dengan bahan dasar hitam sekitar THB 80 sedangkan bahan dasar putih lebih murah lagi. Gantungan kunci sekitar THB 90 per 5 buah. Lumayan buat oleh-oleh teman sekantor, tidak membebani ruang tas dan lebih khusus lagi kantong. Jadi menurut saya tempat ini wajib di kunjungi meskipun bukan penggila belanja, seperti saya. Untuk sekedar kenang-kenangan saya membeli sebuah hiasan meja terbuat dari perak dengan gambar gajah di satu sisi dan sisi lainnya gambar tuk tuk.

Urusan souvenis selesai, saya kembali ke Apartemen kawan saya, Angie,  di Jl Withayu Road.  Sembari mengunjungi pusat-pusat perbelanjaan lainnya seperti: Siam Discovery Centre. Di sini tidak ada apa-apanya, tidak ada yang istimewa, standar. Siam Center hanya selewatan, jadi tidak benar-benar saya perhatikan. Central World, gedungnya megah, di atasnya ada penyewaan internet THB 20 per jam.

Bersambung


Panasnya Grand Palace

01-04-09, hari ke-2 di Bangkok

Somai Kun pula yang pada akhirnya mengantarkan kami keliling kota Bangkok, walaupun sempat kami tolak, tetapi Angie memaksa saya untuk tetap diantar oleh sopirnya. Wah jadi enak nih … hi hi hi …

Somai Kun mengantarkan saya  mengunjungi beberapa tempat wisata menarik di Bangkok, di antaranya: Grand Palace yang terletak di wilayah Ko Rattanakosin dan Wat Pho. Seperti kata Angi, bahwa saat ini Bangkok sedang panas, ternyata benar, begitu turun dari Alphardnya yang adem, luar biasa panasnya di Grand Palace. Grand Palace adalah land mark nya kota Bangkok, jadi tidak afdol rasanya kalau ke Bangkok tidak mengunjungi komplek ini. Walaupun tiket masuknya terbilang mahal, sekitar 350 bath,  sementara penduduk asli di sini gratis. Ada 3 obyek yang dapat dilihat di komplek Grand Palace,  yaitu: Wat Phra Kaew atau dikenal juga dengan Wat Phra Sri Rattanasatdaram, Grand Palace, dan Galeri.

Wat Phra Kaew atau yang sering disebut juga dengan Emerald Budha Temple, adalah kuil yang dianggap suci oleh masyarakat Budha di Thailand, karena di kuil ini pula ada patung Emerald Budha dalam posisi duduk. Wat Phra Kaew terletak di sisi utara dari komplek Grand Palace, arahnya sebelum masuk pintu  gerbang wisatawan. Jadi, ketika memasuki komplek ini, pastilah kita akan melewatinya.

Antri membeli tiket masuk ke Grand Palace

Grand Palace merupakan simbol Negara Thailand, lokasinya dikelilingi tembok sepanjang 1900 meter, sepertinya mirip-mirip Kraton Yogyakarta. Kabarnya bangunan ini didirikan tahun 1782 sebagai ibu kota ketiga setelah Ayutthaya yang dihancurkan Burma tahun 1767 dan Thonburi.

Puas mengelilingi Grand Palace, kami kembali keluar kompleks. Kami  hubungi Somai Kun yang sedang menunggu di parkiran, untuk menuju tempat wisata berikutnya, Wat Pho. Sambil menunggu, lucu juga melihat kendaraan khas Bangkok, yang disebut Tug Tug, banyak terparkir di depan kompleks sambil menawarkan jasanya. Tug tug ini ternyata larinya keceng banget, walaupun rodanya cuma tiga.

Wat Pho

Loh … yang namanya Wat Pho, ternyata lokasinya bersebelahan dengan Grand Palace, hanya dipisahkan oleh jalan. Sebelumnya, saya dapat informasi, bahwa untuk masuk ke Wat Pho, gratis, karena sudah satu paket dengan Grand Palace, eh … ternyata tidak, harus bayar lagi. Rupanya saya salah pengertian, harga tiket masuk adalah 50 bath.

Masuk ke sini harus berpakaian sopan, karena ini adalah tempat suci, tidak boleh pakai celana pendek, kalau kebetulan tidak membawa, bisa sewa. Masuk ruangannya pun harus buka alas kaki, seperti hal nya kalau ke Masjid.

Jika di Wat Phra Kaew dikenal patung Budhanya yang sedang duduk, maka di Wat Pho terkenal dengan patung Budha Raksasanya yang sedang tidur. Patung ini terbuat dari mas seberat 5,5 ton, panjang 46 meter dan tinggi 15 meter. Patung-patung khas negeri Siam itu juga  banyak terlihat disekitar kuil dengan bermacam-macam model.

Bersambung


Tiba di Bangkok

31-03-2009

Sore itu, setiba di Bandara Soekarno-Hatta, terus terang agak gugup, karena ini penerbangan pertama kali ke luar negeri, gratis pula. Yang bikin gugup, sebetulnya, karena gratisnya ini. Tidak begitu yakin, apakah tiket yang saya print sendiri ini, apakah benar-benar berlaku?. Oh … ternyata memang bisa digunakan, syukurlah. Kenapa bisa gretong? Karena saya pesan tiketnya, ketika Bangkok sedang dilanda kerusuhan besar-besaran, bahkan bandara pun saat itu dikuasai oleh para demonstran. Banyak orang-orang yang terjebak di bandara ini, sehingga pemerintah Indonesia pun perlu melakukan evakuasi saat itu. Lah saya malah beli tiket untuk kesana hi hi hi …  

Ketika melewati penjagaan pintu berikutnya, lagi lagi saya gugup, benarkah tidak bayar fiskal? Oh … ternyata memang tidak bayar, demikian juga istri saya, cukup menunjukan kartu keluarga. Aman.

Rugi loh sudah bayar pajak, tetapi tidak memanfaatkan fasilitasnya hi hi hi… dasar provokator.

Jam saya menunjukan pkl 19.45 wib, setelah 3 jam 25 menit di pesawat, kami tiba di Bandara Internasional Suvarnabhumi, tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Bangkok. Sebuah bandara yang sangat besar dan cukup megah, sangat berbeda jauh dengan kondisi bandara di tanah air.

Di dekat pintu keluar, ada kios  penukaran uang, tetapi ada yang aneh … semua mata uang bisa ditukarkan di sini, tetapi mengapa Rupiah malah tidak ada di dalam daftar? Untungnya saya bawa dolar, saya tukarkan 100 $ US ke Bath Thailand, saya pikir cukuplah untuk beberapa hari di Bangkok.

Seorang Kun Somai dan Alphard-nya ternyata sudah menunggu kami di parkiran, dia adalah sopir seorang teman saya, Angie. Angie adalah kawan saya ketika kuliah di ITB dulu, orangnya pinter, cantik  dan baek banget.  Seneng banget dijemput, paling enggak saya terhindar menjadi orang blo’on melihat kemegahan bandara yang hiruk pikuk namun teratur ini.

Angie ternyata tinggal di sebuah apartemen yang  menurut saya cukup luas, dan mewah, mirip sebuah hotel berbintang 5. Mungkin kebiasaan orang Bangkok kali ya, semua bangunan, bandara, jembatan, mobil bahkan rumah pun berukuran sangat lapang, tinggi dan luas. Angie dan suaminya memberi saya tumpangan untuk menginap beberapa malam di sana. Lumayan, dari pada nginep di hotel … hi hi hi … mendingan duitnya buat jalan-jalan, paling tidak menambah jalur perjalanan backpacker saya di kota Bangkok.

Bersambung


Rencana Backpacking ke 3 Negara ASEAN

Berbeda dengan tahun-tahun  sebelumnya yang selalu mengambil cuti diakhir tahun, kali ini jadwal cuti saya adalah dikaitkan dengan ulang tahun pernikahan saya. Perjalanan yang dituju adalah backpacking trip ke tiga Negara di Asia Tenggara,  dan Thailand adalah negara yang beruntung mendapat penghormatan kunjungan pertama saya keluar negeri, disusul Malaysia, dan Singapore.

Siang itu, ketika cek di websitenya, ternyata masih ada tiket promo untuk tanggal 31 Maret 2009. Tidak menyia-nyiakan waktu, segara saya daftarkan untuk 2 orang, saya dan istri saya. Anak-anak? Enggak ikutlah! Setahun sekali, anak-anak tidak perlu ikut, hari-hari lain, tentu kami akan selalu pergi berempat.

Ini adalah  pengalaman pertama kali booking secara online, melalui website sebuah maskapai penerbangan, Air Asia. Pembelian secara online, melalui internet menggunakan kartu kredit, ternyata sangat mudah, tidak sesulit yang saya bayangkan sebelumnya.  Tinggal memilih kota tujuan, kemudian menentukan tanggal pemberangkatan, dan semua jadwal penerbangan segera terpampang, disertai tarifnya. Secara default kursor akan selalu berada di harga termurah dari daftar harga tersebut.  Selanjutnya isikan data diri, dan nomor passport. Tentukan pembayaran, sebutkan nomor kartu dan juga tiga digit angka dibelakang kartu, beres.

Untuk alasan penggunaan inilah, saya mengajukan permohonan kartu kredit ketika pertama kali di tahun 2001 itu. Sejujurnya, saya tidak begitu suka dengan kartu kredit, karena bagi saya  tidak lebih dari sebuah kartu hutang. Dan baru kali ini, setelah 10 tahun kartu tersebut benar-benar saya manfaatkan. Jumlahnya pun sengaja saya batasi, sekedar untuk mencegah tindak kejahatan kartu kredit (fraud) di internet, meskipun beberapa kali pihak penerbit memberi kemudahan untuk menaikan batasan kredit, tetapi saya tolak.

Begitu kepastian tiket diperoleh, barulah saya mengajukan ke Bos untuk cuti  selama 12 hari dari tanggal 31 Maret 2009 hingga 11 April 2009. Saya termasuk karyawan yang rajin ngantor, sehingga jatah cuti saya pun utuh, dan langsung mendapat persetujuan.

Ini adalah perjalanan kali pertama keluar negeri, pasca pembebasan biaya fiskal. Sehingga dokumen berkaitan dengan pajak menjadi penting untuk disiapkan, seperti fotokopi kartu NPWP. Laporan pajakpun sudah saya laporkan, mencegah kalau-kalau ternyata NPWP saya begitu dicek ternyata tidak aktif, bisa-bisa harus bayar Rp 2,5  jt dikalikan dua menjadi Rp 5 jt, lebih besar dari biaya perjalanan itu sendiri. Tidak lupa saya siapkan juga fotokopi kartu keluarga, mengingat NPWP istri saya bergabung dengan saya.

Untuk mencegah kehilangan passport, saya sudah scan dan di simpan dalam bentuk digital. Sehingga jika ada masalah, tinggal download saja dokumen tersebut.

Tiket pergi sudah ditangan, dokumen sudah disiapkan, ijin dari Bos pun sudah dipegang.  Tugas sekarang adalah  hunting untuk tiket pulang.  Secara keseluruhan, rencana perjalanan saya adalah: Jakarta – Bangkok (dengan pesawat), Bangkok – Phuket (dengan bis), Phuket – Kuala Lumpur (dengan kereta api), Kuala Lumpur – Singapore (dengan kereta api), Singapore – Batam (dengan ferry), Batam – Jakarta (dengan pesawat).

Bersambung