Tag Archives: Phuket

Patong di waktu malam

Sorenya, sekitar pkl 18.30 kami pergi ke pantai Patong menggunakan Bis dengan harga tiket THB 25, cukup murah. Bis ini ternyata adalah bis terakhir, jam operasi bis ini menurut kondekturnya sebetulnya hanya sampai pkl 18.00. Kalau pun saya mendapatkan bis ini hanyalah factor keberuntungan saja. 

Ketika sampai di Patong kegiatan malam pun belum terlihat mencolok, beberapa ruas jalan yang menuju pantai, tampak baru di tutup. Semakin malam, kawasan ini semakin ramai, yang kebanyakan turis bule. Benar-benar kawasan hiburan malam yang tidak cocok dikunjungi keluarga yang membawa anak kecil.

Saya pun hanya sekali ini saja, hanya sekedar memenuhi rasa penasaran seperti apa Patong Beach di malam hari.

Pulangnya, agak bingung juga, karena malam sudah larut. Tuk tuk banyak, tetapi ongkosnya cukup mahal, sekitar THB 500. Sudah diupayakan di tawar, ternyata harga terendah hanya THB 350. Sehingga kami putuskan untuk naik taxi motor saja, yang setelah tawar menawar disepakati THB 250,-.

Yah, inilah pengalaman pertama menjajakan kaki di Pulau ini. Harga yang menurut saya cukup mahal, karena sewa sepeda motor seharian saja hanya THB 200, sebagaimana informasi yang saya peroleh di milis ibackpacker. Apa boleh buat, tidak ada pilihan lain. Ini adalah hari pertama di Phuket ini.

Bersambung

Iklan

Akhirnya, sampai juga di Phuket

Phuket, 04-04-09, hari kelima

Pagi itu, pkl 04.30, masih agak gelap setelah menempuh 12 jam perjalanan, akhirnya sampai juga di terminal bis Phuket. Saya masih belum tahu kawasan ini, supaya aman, saya  tetap di bangku terminal hingga agak terangan sedikit. Beberapa kali tukang tuk tuk menawarkan jasanya, bukannya tidak mau, tetapi saya tidak tahu kemana tujuannya hi hi hi … sebab catatan hasil rangkuman dari milis ibackpacker malah tertinggal di rumah.

Akhirnya si tukang tuk tuknya BT sendiri 😀 dan meninggalkan saya setelah sekitar 1 jam terus menerus “nongkrongin”, padahal sudah beberapa kali, saya katakan sedang menunggu jemputan … hi hi hi … bohong dikit, demi keamanan di negeri orang tidak apa-apa lah.

Agak siangan sedikit, barulah saya cari-cari tempat makan untuk sarapan di luar terminal bis. Di seberang jalan ternyata ada warung makan yang cukup ramai pengunjung, hmmm… kayanya sih  enak. Saya pesan makanan dengan bahasa Tarzan, tak lama kemudian beberapa piring kecil makanan disediakan di atas meja. Wah … banyak banget nih … apa boleh buat, sudah terlanjur pesan, akhirnya saya sikat semua. Ow ow ow  … ternyata ada kesalahan rupanya, seharusnya tidak perlu dimakan semua, karena yang dibayar adalah seberapa banyak yang di makan saja, lha ini semua nya disikat  …  buset. Terpaksa harus membayar cukup mahal juga untuk kebodohan ini. Sambil  bayar, dan enggak mau rugi, saya sempatkan tanya-tanya dengan si penjual yang tentunya dengan bahasa Tarzan lagi, mengenai hotel yang terdekat di sini. Ditunjukanlah hotel yang katanya murah,  tidak jauh dari rumah makan tesebut.

Sementara mencari, saya menemukan biro travel, dan bertanya hotel yang dekat di sini, dan dia pun menginformasikan ada beberapa hotel, dari yang murah meriah sekitar THB 100 hingga THB 650. Ada juga hotel On On, permalamnya hanya THB 150 untuk kamar mandi luar dan THB 250 untuk kamar mandi dalam.

Akhirnya sampailah sebuah hotel yang diinformasikan oleh si agent tadi. Sebuah bangunan yang cukup tua, di dalamnya ada café dan juga warnet. Saya pikir lumayan juga, sekarang saya tanyakan kepastian harganya kepada si resepsionis. Ternyata benar harganya sebesar itu, kemudian kami diijinkan untuk melihat dulu kondisi kamarnya. Pertama kali melihat saya pikir sangat sederhana banget, tetapi yang terpenting adalah bersih, dan wangi bersihnya pun tercium. Dan kamar ini mengingatkan saya kamar yang pernah digunakan oleh si Leonardo dalam film The Beach-nya. Cukup unik. Terlihat beberapa orang bule berseliweran di hotel itu. Saya putuskan untuk menginap di hotel ini saja. Ketika melihat di kartu namanya, ternyata hotel ini adalah hotel tertua di Phuket, berdiri sejak tahun 1928.

Setelah menerima kunci, saya pun segera ke kamar cuci muka sebentar. Tidak lama kemudian kembali ke luar. Sekedar melihat-lihat suasana sekitar hotel, mencari informasi. Dan makan siang, setelah itu kami kembali ke hotel, berleyeh-leyeh hingga sore hari.

Bersambung


Perjalanan dari Bangkok ke Phuket

03-04-09, hari ke-4, di Bangkok

Sore itu, diantar oleh Kun Somai, kami menuju Southern Bus Terminal, untuk melanjutkan perjalanan ke Phuket. Sengaja tidak memilih pesawat, sebab ingin menikmati perjalanan dengan bus double decker ini, senyaman apa sih?. Sepertinya menarik!

Terminalnya, cukup bagus, nyaman, sudah terintegrasi dengan pusat perbelanjaan di sebelahnya, yang banyak menjual makanan khas Thailand dan juga beraneka macam baju. Loket penjualan tiketnya sendiri berada di lantai 2. 

Ada beberapa pilihan jam keberangkatan, yaitu: pkl 06.00; 07.00; 08.00; 16.30; 17.30; dan 19.30. Kami memilih pemberangkatan pkl 16.30. Pertimbangannya bisa tidur di perjalanan dan berharap bisa nyenyak dan bisa sampai di Phuket sekitar pkl 05.00 pagi.

Kami sengaja memilih duduk pada urutan ke-2 dari depan, di atas. Kalau paling depan takutnya kaget, jika tiba-tiba bangun, ternyata tidak ada supirnya 😀  Atau kalau ada apa-apa, kan yang di depan duluan …  Harga tiket THB 626 per orang, bis lainnya harganya beda-beda tipis.

Semula, bayangan saya mengenai bus double decker, atau sebut saja bis tingkat, memang bentuknya dua tingkat, akan berjalan lelet, sama seperti bis tingkat di Jakarta. Rupanya keliru. Bis ini berjalan sangat cepat luar biasa. Berangkat dari Southern Terminal Bus pkl 16.30, tiba di Phuket pkl 04.30. Total 12 jam perjalanan.

Jalan menuju kawasan selatan Thailand ini memang sangat mulus, ada dua jalur terpisah, dan tidak saling berpapasan, jadi sangat aman dan nyaman. Tidur pun semakin lelap, karena tersedianya bantal dan selimut. Hmmm… zzz … zzz …

Bis berhenti, dan saya lihat jam menunjukkan pkl 00.30 dini hari, saya tidak tahu nama tempatnya, yang pasti adalah tempat peristirahatan, dan tempatnya sangat ramai, banyak pedagang, tetapi sangat tertib dan rapih. Lapar juga ternyata, saya coba keliling, dan akhirnya pesanan saya jatuh pada sop daging sapi, di mana di bagian dasarnya sudah ada sayuran kol. Jadi mereka hanya tinggal menuangkan soup yang berwarna hitam tersebut di atas mangkok yang sudah ada irisan sayuran kol tadi. Ternyata lumayan enak.

Sementara menikmati makan malam,  tersebut, terdengar suara dari microfon dengan bahasa Thailand %$#@&*$# … sudah pasti saya tidak tahu artinya, hingga beberapa kali terdengar. Tidak lama kemudian ada seorang wanita muda yang mengelilingi setiap meja makan dengan berkalungkan papan pengumuman yang berbahasa Thailand juga, bolak balik di meja saya.

Selesai makan, kami kembali ke bis. Ternyata saya adalah orang terakhir yang kembali ke bis, dan semua mata tertuju ke saya. Rupanya informasi melalui microfon dan papan pengumuman tadi sebenarnya ditujukan ke saya 😀

Bus pun meluncur, menembusi pekatnya malam, kami pun kembali terlelap.

Bersambung