Category Archives: Teknologi Informasi

Pentingnya Digitalisasi Dokumen

Saya kira, sudah waktunya, perusahaan-perusahaan itu  mendokumentasikan seluruh dokumen pentingnya  ke dalam bentuk digital. Kenapa? Jika sewaktu-waktu terjadi bencana, seperti tsunami, atau karena gunung anak krakatau yang akan bersiap-siap memuntahkan larvanya, perusahaan akan tetap memiliki arsip digitalnya.
Lanjutkan membaca


Aplikasi Pengukur Tes Pendengaran

Beberapa waktu lalu, saya menyempatkan diri untuk memeriksakan anak saya yang sulung ke Rumah Sakit THT, tepatnya tanggal 25 Juni 2012. Masalahnya adalah kalau saya memanggil seperti tidak dia dengar. Lalu, saya tanya juga, “bagaimana kalau di sekolah?”  Ternyata sama saja, terkadang dia tidak mendengar dengan baik apa yang gurunya terangkan.

Atas dasar inilah, maka saya bawakan anak saya ke dokter spsialis THT. Dari hasil laboratorium, ternyata tidak ada masalah dengan pendengaran tersebut. Masking Level (dB) Rinne baik yang kiri maupun kanan positif, demikian juga Weber 500, 1000, 2000 (saya tidak tahu istilah ini) tetapi dari keterangannya tidak ada lat.
Lanjutkan membaca


Mencoba implementasi aplikasi customer relationship

Kali ini saya menuliskan tentang sedikit pekerjaan saya, di bidang IT, sekaligus calon Technoprenuer …  (tahun depan, maunya!).

Beberapa hari ini, saya lagi coba salah satu aplikasi customer relationship, diantaranya  oSticket. Sebetulnya ada beberapa aplikasi sejenis, seperti: Crafty Syntax Live Help, Help Center Live, PerlDesk, PHP Support Tickets, Support Logic Helpdesk, dan Support Service Manager, dsb.

Banyaknya client yang harus dilayani, nampaknya perlu juga mémanage setiap keluhan client.  Dari aplikasi tersebut, nantinya bisa termonitor, kasus mana yang belum ditindaklanjuti, mana yang statusnya sudah close dan mana yang masih open. Aplikasi yang sangat penting untuk orang-orangf IT, apalagi perusahaan mengadopsi standar sertifikat ISO, dimana setiap keluhan harus dapat diselesaikan dalam waktu  4 jam.

Sudah lama nggak utak atik script, dan dulu juga nggak pernah juga sih.  Sehingga butuh waktu juga untuk penyesuaian. Masalahnya adalah, aplikasi yang pertama kali saya coba ini, nampaknya butuh beberapa hari ke depan untuk dimodifikasi sedikit sesuai kebutuhan perusahaan.

Untuk editing script ini,  semula saya gunakan Dev-PHP2, tetapi rupanya ada masalah dengan  extention file yang sudah dibuat, akhirnya saya gunakan PSPad Editor, dan berhasil, tidak ada masalah untuk lakukan editing.

Nantinya, para client, jika ada keluhan, tinggal isi formulir, submit, beres.  Untuk penyampaian ini bisa menggunakan melalui Handphone juga jika komputernya sendiri bermasalah.  Cara baru ini, setidaknya akan sedikit merubah kerja di dept IT, jika sebelumnya menggunakan cara-cara conventional menggunakan kertas, 3 rangkap pulak. Nantinya tidak lagi.

Pekerjaan ini sebetulnya tindakan bunuh diri  Dept IT. Koq bisa? Ya, iyalah, sebab jika selama ini pekerjaan kita tidak termonitor menjadi termonitor oleh Management. Bahkan history setiap permasalahan di sisi client akan mudah terbaca, sehingga menjadi alat gebuk buat departemen IT.    🙂

Bagaimanapun, hidup harus berubah!


Cari harddisk portabel? Pilih yang USB 3.0!

Ceritanya, mau antisipasi kerusuhan 27 Maret 2012 tadi pagi.  Sehingga kemarin saya membeli 3 buah harddisk portabel USB 3.0, merek Western Digital.  Seluruh data-data sudah saya backup di harddisk portable, kecil, kapasitas besar, cepat dan mudah dibawa-bawa.  Mengapa pilih yang USB 3.0? karena lebih powerfull. Percuma kapasitas besar, tetapi ketika melakukan backup, lambatnya minta ampun.  Inilah alasan mengapa harus memilih yang USB 3.0.

Secara teori  USB 3.0 memiliki bandwidth 5 Gbit/detik akan memberi  kecepatan 10 kali lipat di bandingkan dengan USB 2.0. Selain itu USB 3.0 mempunyai kemampuan baca dan tulis  yang stabil dan simultan pada kedua perangkat yang dikoneksikan. Di mana hal ini tidak terjadi pada USB 2.0.  Selain itu, penggunaan daya juga lebih rendah ketimbang USB 2.0.  Kompatibilitas pada USB 3.0 juga dapat digunakan pada perangkat yang masih menggunakan USB 2.0

Jadi, kalau mau beli harddisk portable external, pilihlah yang interface USB nya 3.0, jangan yang 2.0 yang mungkin akan jauh lebih murah.

Berikut ini ada beberapa harddisk portable USB 3.0,  yang disusun berdasarkan abjad, yaitu:

  1. Adata Nobility NH01
  2. Buffalo Ministation Stealth HD-PC T500U3 500 GB
  3. Buffalo Ministation Plus HD-PN-T500U3 500 GB
  4. Buffalo Ministation Extreme HD-PZU3 500 GB
  5. Hitachi Touro Mobile Pro 500 GB
  6. HP Portable HardDrive USB 3.0 1 TB
  7. Samsung M2 500 GB
  8. Seagate FreeAgent GoFlex 500 GB
  9. Seagete FreeAgent Go Flex 1 TB
  10. Western Digital My Passport Essential 500 GB
  11. Western Digital My Passport Essential SE 1 TB

Mana yang terbaik? Saya belum mencoba semuanya, tetapi pagi tadi ketika melakukan backup data dengan menggunakan Western Digital My Passport Essential SE 1TB, sangat cepat, tidak bising, dan ringan.

 


Ultrabook, kombinasi antara tablet dan notebook

Tulisan saya kali ini adalah bertema Teknologi Informasi, yaitu tentang Ultrabook. Ultrabook sebetulnya sudah dikenal sejak 4 bulan yang lalu. Tetapi baru kali ini saya mencoba menulis tentang ini, karena kebetulan saya baru saja mengomentari tentang ultrabook ini di sebuah blog.

Bermula adalah dengan dikeluarkannya prosesor ULV dari intel, maka lahirlah platform baru yang  oleh Intel disebut sebagai Ultrabook. Sebuah kombinasi konsep portabilitas dan konektifitas  yang dipunyai tablet dan produktifitas yang dimiliki notebook.

Perbedaan ini disebabkan adanya ULV (Ultra Low Voltage) yaitu prosesor mobile yang sangat irit konsumsi daya karena dukungan TDP  (Thermal Design Power).

Kondisi demikian, menyababkan Ultrabook sangat irit daya, tahan lama dalam penggunaan baterai. Desain pun sangat tipis dan ringan.

Ultrabook tidaklah dirancang untuk pekerjaan berat, termasuk untuk gaming. Hanya untuk pekerjaan ringan, seperti: aplikasi office, browsing, pengetikan dokumen, dan keperluan multimedia,  untuk menonton film beresolusi full HD.

Berikut ini 15 contoh Ultrabook yang tersedia di pasaran saat ini (27 Mar 2012) :

  1. LG Z330 Super Ultrabooks
  2. LG  Z430 Super Ultrabooks
  3. Asus Zenbook UX31
  4. Samsung Series 5 Ultra
  5. Samsung Series 9
  6. HP Folio 13
  7. Lenovo IdeaPad U300S
  8. HP Envy 14 Spectre
  9. Dell XPS 13
  10. Asus Zenbook UX21
  11. Lenovo IdeaPad U310 and U410
  12. Toshiba Satellite Z830
  13. Lenovo IdeaPad Yoga
  14. Acer Aspire S3
  15. Acer Aspire S5

Type yang disebutkan terakhir adalah merupakan prototype dari Ultrabook, kerjasaman antara Intel dengan Acer. Ultrabook ini pertama kali  dipasarkan di Indonesia, dan secara bersamaan juga diluncurkan di Taiwan.


Mengerjakan Dokumen Tender

Semalam, kerja sampai pagi lagi …  padahal sebelumnya sudah berkomitmen untuk tidak lagi mengerjakan dokumen proyek sampai pagi. Harus sudah disiapkan jauh-jauh hari. Nyatanya masih saja …  sepertinya sudah terbiasa untuk bekerja di  last minute    🙂

Gara-garanya? Kesalahan nomor proyek yang ditulis di jaminan penawaran, sehingga harus dibuat ulang, sementara itu providernya sudah tutup, sedangkan besok harus segera diberikan.

Sederhana, tetapi cukup untuk menggugurkan proses tender.  Walaupun peraturan sekarang hal sepele begitu tidak menggugurkan, tetap saja akan dipemasalahkan mengingat sebagian instansi  saat ini masih belum, dan baru mau akan memasuki  peraturan baru. Jadi, masih off line, belum secara LPSE murni.

Walaupun last minute, semoga saja proyek mendigitalisasi dokumen ini menang. Sebab ini proyek berbiaya rendah, walaupun marginnya kecil, tetapi akan banyak merekrut banyak karyawan baru. Punya nilai sosial dan perlu.  Soal digitalisasi dokumen sepertinya sekarang ini sebuah pekerjaan yang sedang banyak peminatnya. Banyak kantor, sangat membutuhkan jasa ini, ketimbang harus memiliki gudang yang penuh dengan tumpukan dokumen yang belum tentu akan dilihat setiap saat.

Bandingkan dengan jika dokumen itu dialihkan ke dalam bentuk didital, pastinya akan lebih praktis, pencarian dokumen pun akan lebih mudah. Sejatinya perusahaan modern akan meng-outsourcekan pekerjaan ini. Kalau cuma ratusan lembar atau ribuah lembar, tentu hal yang mudah untuk dilakukan oleh staf karyawan tersebut. Tetapi kalau dokumen itu sudah mencapai ratusan ribu lembar? Lebih baik perusahaan itu fokus saja pada bidang yang digeluti, sedangkan alih media ini serahkan pada perusahaan yang memang fokus dibidang tersebut.

Tertarik dengan bisnis ini?  Atau ada yang mebutuhkan digitalisasi dokumen?


Prosedur Pengurusan NIK

Beberapa hari ini saya sibuk menyelesaikan, dokumen NIK (Nomor Induk Kepabeanan) untuk beberapa perusahaan di Group perusahaan tempat saya kerja.  Sebetulnya ini, bukan pekerjaan yang termasuk jobdisc saya. Namanya juga orang IT, nampaknya harus serba bisa. Seorang IT memang dituntut untuk menjadi pekerja yang serba bisa, termasuk masalah yang satu ini  🙂

Saya  masih sibuk urusan ini, karena ada beberapa revisian alamat dan nomor SIUPAL kantor saya. Dan sekarang sudah diterbitkan NIK baru. Beres.

Mengapa saya harus bersibukria untuk urusan yang satu ini?  Saya ambil sisi positifnya saja, dengan melakukan ini berarti ada pengalaman baru buat saya, sama dengan pengurusan EDI (Electronic Data Interchange) beberapa tahun yang lalu. Soal-soal seperti ini, saya memang yang harus  menginisiasi. Buat saya penting juga, untuk menambah pengalaman. Dan tidak ada ruginya untuk tahu banyak masalah ini, walaupun harus agak sedikit menyita waktu, membuat pekerjaan utama saya menjadi terbengkalai.  Untuk orang yang kreatif, untuk urusan ini, sebetulnya urusan ini malah bisa menjadi pendapatan tambahan sebetulnya, sebab bisa membantu perusahaan lain,  yang masih belum berhasil memiliki NIK.

Nyatanya, saya lihat masih banyak perusahaan yang belum berhasil menyelesaikan masalah NIK ini. Ketika saya melirik ke meja  sebelah saya, sementara saya juga sedang mengurus persoalan yang sama, nampaknya mereka kesulitan, tetapi saya juga tidak dapat membantu, walaupun saya tahu pokok kesalahan mereka.

Pengumuman yang sudah disampaikan melalui berbagai media cetak oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai , pada tanggal 20 September 2011 yang lalu itu, kini sudah mulai diberlakukan. Pemberlakukan sudah dimulai sejak 1 Januari 2012. Beberapa kendala memang sempat muncul, tetapi semuanya sudah berhasil diselesaikan.

Sebetulnya, prosedur pendafatarannya sendiri sangat mudah, karena didaftarkan secara online di websitenya Bea dan Cukai. Perusahaan yang wajib melakukan registrasi kepabeanan sesuai Peraturan Menteri Keuangan nomor 63/PMK.04/2011 adalah importir, eksportir, pengusaha pengurusan jasa kepabeanan (PPJK), dan pengangkut. Jika masih bingung, bisa langsung datang ke kantor  Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai, Subdirektorat Registrasi Kepabeanan, Gedung B Lantai I, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Jl. Jenderal Ahmad Yani (By Pas) Jakarta.

Konsekuensi perusahaan yang belum memiliki NIK ini, dipastikan tidak dilayani proses kepabeanannya, yang pada gilirannya barang akan nyangkut di pelabuhan dan tidak bisa dikeluarkan.

Kebanyakan kesalahan mereka dalam mendaftar NIK adalah, mereka sudah mendaftar, tetapi ada kesalahan pengisian di waktu awalnya. Padahal ketika data perusahaan sudah diisi, mereka tidak bisa merubahnya lagi, karena Nomor NPWP adalah paten, demikian juga nama perusahaan, tidak bisa lagi dirubah.  Kondisi ini tentu saja tidak bisa berlanjut.   Dan sipengurus NIK ini pun akhirnya kembali lagi. Saya pun mau memberitahu, tetapi bagaimana ya … saya sendiri sedang sibuk juga dengan urusan ini. Masa mau nyelonong gitu …    🙂

Semoga dari sedikit uraian di atas dapat membantu.