Begadang di Rumah Sakit

debrot

Debby, sedang dirawat di rumah sakit

Tepat di ulang tahun saya, anak saya yang bontot mendadak sakit. Padahal semula janjian mau makan bersama, terpaksa dibatalkan. Semula saya menganggap penyakitnya biasa saja, mungkin penyakit anak jaman now:  paling  kebanyakan makan sambel, sehingga radang tenggorokan.  Bukan hal yang mengkhatirkan, sehingga saya akan memanfaatkan fasilitas BPJS ini. Sudah 4 bulan nggak bayar, sehingga hari itu saya bayar seluruh tunggakan sebesar Rp 1.200.000,- untuk 4 orang.  Lumayan besar juga dendanya ya.

Sesuai prosedur, pertama saya bawa ke Puskesmas. Hasil pemeriksaan, dokter mengatakan suspect difteri. Kok bisa? Bukankah anak saya sudah dua kali vaksin? Sampai di sini saya menduga bahwa itu diagnosis yang keliru. Jadi saya masih nyantai aja.

Tapi nanti dulu, ternyata anak saya dirujuk ke rumah sakit, karena peralatan di Puskesmas tidak lengkap. Dan untuk ke rumah sakit rujukan, puskemas sudah menyiapkan ambulans yang  juga didampingi perawat dari puskesmas.  Loh kok jadi heboh kaya begini?.

Saya sudah bilang ke dokter, “dokter nggak usah repot-repot, biar saya sendiri yang akan ke rumah sakit tersebut”.  Maksud saya biar saya pulang aja, baru besok saya lanjutkan ke rumah sakit. Ternyata dokter melarang, karena sudah menjadi prosedur bahwa pasien yang suspect difteri harus menggunakan kendaraan khusus dan diantar ke RS rujukan.

Sampai di Rumah Sakit, petugas tanya, “kenapa di bawa ke sini, karena disini sudah tidak lagi melayani penderita suspect difteri. Selain itu juga tidak tersedia ruang isolasi dan perlatan yang memadai”.

Waduh  … Kok bisa ada prosedur yang ngawur begini ya? Ya sudahlah, mungkin ini juga bagian dari proses “BPJS”. Saya jalani saja, sambil agak mulai sedikit panik juga.

Sebegitu hebohkah dalam menghadapi penyakit ini? Bisa jadi ya, karena daya tular penyakit yang disebabkan oleh bakteri difteri ini belum lama sudah menghebohkan Tangerang. Kota yang bersebelahan dengan DKI. Jenis penyakit ini seharusnya sudah tidak ada lagi di Jakarta, tetapi kenapa bisa muncul. Mungkin karena persoalan ini sehingga perlu penanganan serius agar tidak melebar kemana-mana.

Sejauh ini saya masih percaya bahwa anak saya bukan kena difteri. Tetapi begitu dicek oleh dokter spesialis, dan membandingkannya dengan penderita di sebelahnya yang semula suspect difteri yang ternayata bukan. Akhirnya saya percaya juga, kalau anak saya positif difteri.

Saat ini saya masih menunggu ketersediaan kamar kosong di RS khusus tersebut tersebut. Sementara ini saya harus menginap dulu di sini. Kamar yang dipaksa didesain menjadi ruang  untuk menjadi ruang dekontaminasi.  Menyedihkan.

Sampai di sini dulu, nanti lanjut.

12 Febuari 2018

therapy menulis, supaya nggak cepat  pikun 🙂

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s