Pelabuhan Karangantu

Banten, walaupun lokasinya bersebelahan dengan provinsi DKI Jakarta, justru saya belum pernah berkunjung ke sini. Sehingga tidak heran, ketika saya berkunjung ke Pelabuhan Karangantu, sempat tersasar. Beberapa kali saya hubungi seorang teman melalui handphone, untuk memastikan kalau jalan yang sedang saya lalui tidak  salah.

Dulunya, Banten adalah sebuah Negara merdeka, berdaulat, dan sangat terkenal baik di lingkungan nusantara maupun Negara-negara lain di dunia. Bahkan pelabuhan karangantu sendiri adalah pelabuhan penting yang ramai dikunjungi kapal-kapal dagang khususnya dari Cina, Arab, dan belakangan Eropa.

Kedatangan kapal-kapal itu, tidak hanya untuk menjual komoditas mereka, tetapi juga membeli berbagai komoditas yang berasal dari Banten.  Saat itu Banten menjadi pintu gerbang nusantara dengan dunia.

Kesultanan Banten pun menjadi kota metropolitan yang ramai, yang luasnya hamper sama dengan Amsterdam.

Namun dari balik kaca jendela, kami masih bisa menikmati sisa-sisa kejayaan Kesultanan Banten itu. Sisa-sisa peninggalan itu terlihat pada situs arkeologi kompleks Istana Surosowan, tempat bertahtanya para sultan Banten. Di mulai sejak Sultan Maulana Hasanuddin hingga yang terakhir Sultan Muhammad Rafiudin. Sisa-sisa kejayaan itu masih tergambarkan dengan jelas.

Seperti yang saya sampaikan pada tulisan saya sebelumnya, bahwa tujuan saya ke sini adalah mengunjungi beberapa tempat pelelangan ikan di Jawa, Bali dan Lombok terkait proyek yang sedang saya kerjakan.  Pelelangan ikan di Karangantu adalah lokasi kedua yang saya kunjungi setelah Cijayanti.

Cuaca hari itu, mendung, dan rintik-rintik hujan sudah mulai turun. Beberapa genangan air di ruas jalan, cukup membuat kendaraan yang kami gunakan belepotan oleh cipratan tanah.  Perjalanan selama dua jam itu, mengantarkan saya pada sebuah papan penunjuk jalan yang bertuliskan, “Pelabuhan Karangantu”.

Akhirnya sampai juga saya ke sini, di atas jembatan sebuah sungai tempat merapatnya kapal-kapal nelayan. Denyut nadi perekonomian, terlihat jelas dengan berlalu lalangnya kapal nelayan yang melintasi sungai. Entah kenapa dinamai Karangantu? Mungkin dulunya ada hantu di antara karang-karang itu?  :)   Kalaupun ada, aneh juga ya …  untuk apa dia nongkrong di situ?  Bukankah banyak tempat lain yang lebih menarik?   :D  Atau, bisa jadi karangnya yang bentuknya seperti hantu? Entah di mana letak karang itu?

Berbeda dengan Cijayanti yang kapalnya kecil-kecil, kapal nelayan di sini ukurannya lumayan besar-besar.

 


8 responses to “Pelabuhan Karangantu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: