Menjadi suratan yang terbuka

Sadarilah, ketika Anda meng-update status di media social atau menulis postingan di blog. Selain Anda menjadi pribadi yang jujur kepada diri sendiri, juga menjadi suratan terbuka yang bisa dibaca oleh siapa pun. Begitu juga ketika meng-upload foto-foto anda, dipastikan kehidupan Anda menjadi lebih terang benderang lagi di dunia maya. Betapa bahayanya itu. Tetapi kalau memang kita tidak pernah bermaksud hal hal lain, kenapa harus takut?

Lalu apa dampaknya?

Seandainya anda termasuk public figure, mungkin ini akan menaikan pencitraan Anda di mata publik.  Lah, kalau orang seperti saya ini? apa untungnya? …

Belum lama ini, saya ke Bandung untuk urusan sebuah proyek di Universitas Islam Bandung. Dan ternyata kehadiran saya dikenali oleh salah seorang mahasiswa di sana yang notabene termasuk ke dalam teman saya di account facebook.  Saya sendiri menerima permintaan add teman ini, karena (mungkin) persamaan visi dan persepsi terhadap sebuah bidang ilmu tertentu yang sering didiskusikan. Padahal sebelumnya saya belum pernah kenal dengan teman ini. Dan sampai sekarang pun tetap belum kenal, maksudnya belum pernah ketemu ketemu di darat.

Rupanya teman ini memperhatikan gerak gerik saya ketika saya berkunjung ke kampus tersebut. Dan dia mengenali saya karena wajah saya yang sering tampil di account saya.

Lah, kalau ternyata saya sedang berbuat jahat bagaimana? Betapa gampangnya saya dikenali kemudian diciduk …    😀

Point yang ingin saya sampaikan, dari kejadian tersebut di atas adalah: Anda adalah suratan terbuka, tulislah hal-hal yang baik, bukan hal-hal yang nantinya akan mempermalukan Anda sendiri oleh tingkah laku perbuatan kita.

Buatlah status yang sopan, sehingga ketika ketemu orang di jalan dan mengenali kita, tidak masalah.

Betapa bahayanya, ketika dikenali orang, ternyata kitanya sedang merampok, mencopet, menipu orang …   Beuh …  😀

Sebaliknya ketika kita melihat sebuah account dengan informasi yang tidak jelas, seperti: nama yang tidak sebenarnya, demikian juga alamat, sekolah, pekerjaan.  Tentu saja ada maksud-maksud tertentu. Mungkin tidak kali ini, tetapi nanti. Tidak ada fotonya (biasanya saya tidak akan melayani permintaan add account ini).

Mengapa tidak jujur kepada diri sendiri? Apalagi dengan membuat status palsu?

Baca juga artikel lainnya:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: