Nguliner: Sop Sumsum Tulang Sapi

Biasanya, kalau soal nguliner,  yang saya tulis adalah yang indah-indah. Tetapi kali ini tepaksa nggak! Jadi, saya mohon maaf. Pasalnya, kemarin sengaja tidak makan dulu dari Jakarta, tergiur ingin mencicipi sop sumsumnya di daerah Bogor.

Dengan perjalanan yang luar biasa, menembusi macetnya kota Bogor, di saat long weekend ini.   Akhirnya sampai juga. Saya parkirkan kendaraan di seberang jalan, di luar area rumah makan tersebut, karena memang tidak memungkinkan untuk parkir di sana.  Bukan karena banyaknya pembeli, tetapi karena jalanan sangat macet, tidak bisa nyeberang.

Sudah kebayang, akan nikmatinya seperti apa tuh Sumsum  :-)   ….   Sayangnya, ternyata sop sumsumnya,  tidak sesuai dengan apa yang diberitakan di koran, televisi, dsb.

Tentu saya harus menulis apa adanya, untuk menjadi perhatian si pengelola. Entah ini memang yang dijual produknya  seperti itu, atau ulah oknum internal di rumah makan tersebut untuk mencari keuntungan pribadi. Saya tidak tahu. Dan saya pun tidak mau berpikir negatif.

Yang jelas, ketika sore kemarin saya makan, dan memesan 2 porsi sop sumsum. Besar sekali ukuran tulangnya, nggak seimbang antara ukuran  nasi dan mangkuknya  :-)   Tetapi bukan itu masalahnya, karena tulang sapi memang besar, dilarang komplain!.  Masalahnya adalah, kenapa cuma tulangnya doang? Lah, itu tulang benar-benar gundul!  Tidak ada yang tersisa. Lalu, bagaimana saya bisa membedakan itu tulang baru dari “sononya” atau produk daur ulang?

Padahal seninya makan sumsung tulang sapi kan seperti ketika saya pernah makan  Sop sumsum Langsa di Medan, yang memang sangat asyik. Lah di sini, cuma tulangnya doang, plus sumsum di dalamnya yang seuprit. Ya, sumsum memang seuprit. Masalahnya kalau isinya cuma sumsum, ngapain juga beli tulangnya, yang nggak bisa diapa-apain  :-)

Yang makan tentu akan berpikir, apakah ini tulang bekas orang atau memang asli dari dapurnya begitu? Kalau memang baru, kenapa gundul begitu? sisain kek dikit  hehehe …   Tetapi, kalau memang produknya memang seperti itu, apakah ini tidak menjadi perhatian sipengelolanya terhadap kemungkinan efek psikologis orang yang makan?

Yah … itu soal makanan, sudah berlalu!  Nggak perlu dibahas. Tetapi yang pasti, tentu itu adalah terakhir kali saya ke situ.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: