Jangan menjadi bodoh dua kali karena rokok

Sudah diinformasikan di setiap kemasan produk rokok, bahwa merokok itu dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impoten, tetapi ada yang coba-coba mulai merokok. Ini kebodohan pertama. Begitu kecanduan, dan sudah menikmati, bahwa merokok itu enak, dan sekarang harus berhenti. Ini kebodohan kedua.  Semoga Anda  tidak mengalami dua kali kebodohan.

Saya termasuk orang yang beruntung, karena tidak terjajah untuk menjadi perokok.  Tetapi ada juga pengalaman ketika kecil dulu, saya disuruh menyalakan rokok, karena tangan dari Paman saya waktu itu kotor. Beberapa kali saya ditugaskan untuk menyalakan rokok itu hingga menyala. Untung tidak lama, karena selanjutnya saya tolak. Saya pikir ini adalah kesalahan.

Lalu, bagaimana dengan keluarga lain? Tentu tidak jauh berbeda, hanya saja mungkin dengan cara-cara dan lingkungan yang berbeda. Terbukti, adanya kasus di Sukabumi, seorang anak berumur 8 tahun ternyata perharinya menghabiskan rokok 40 batang. Ini yang baru terekspose ke public, lalu bagaimana yang tidak terekspos? Pasti jumlahnya sangat banyak.

Anak-anak belum mengerti akibat dari bahaya merokok, tetapi sudah terperangkap. Padahal akibat merokok, 400.000 nyawa melayang setiap tahunnya di Indonesia. Sebuah angka yang cukup tinggi. Tetapi bagi pecandu rokok itu, tidak bisa berbuat apa-apa, selain menyalahkan nasib, karena sudah tidak bisa terlepas.

Lalu, siapa yang diuntungkan? Tentu saja para pengusaha industry rokok. Dari masyarakat miskinlah konsumen terbesar rokok di Indonesia. Dan hebatnya, orang miskin di Indonesia sudah memberi modal kerja buat para pengusaha rokok itu untuk lebih mengembangkan bisnis  usahanya, seperti: Bisnis property,  pembelian bank, elektronik, dan infrastruktur. Hebatkan?  Mereka sudah terjebak dalam kecanduan, miskin, penyakit dan kematian.

Membuktikan, bahwa Indonesia adalah sorga bagi industry rokok, sekaligus neraka bagi rakyatnya.

Persoalan dampak merokok, rupanya masih belum ditangani serius oleh pengelola negeri ini.  Peringatan pemerintah atas bahaya merokok hanya sebatas menakut-nakuti, tidak menimbulkan efek jera.

Dan yang luar biasanya, kebanyakan orang kita, sudah tidak punya duit, tetapi untuk urusan rokok mah teteup. Kembali ke anak berumur 8 tahun di atas, betapa susahnya hidup orang tua si anak tersebut. Biaya untuk makan saja sudah susah, dan ini setiap hari harus membeli rokok 2 bungkus? Dan ini sudah bukan lagi dua kali kebodohan, melainkan kebodohan akut!

Coba kita hitung, jika 1 bungkus rokok itu harganya Rp 10.000,- maka 2 bungkus Rp 20.000,- dikalikan 30 hari, Rp 600.000,-  padahal pendapatannya sendiri sebagai tukang ojek, mungkin hanya Rp 1.500.000,- per bulan.   Artinya hamper separoh pendapatan hanya untuk rokok. Coba kalikan setahun, Rp 7.200.000,-  Ini belum termasuk bapaknya yang juga perokok?

Sebuah angka yang cukup besar, coba kalau uang segitu itu dimanfaatkan untuk hal-hal positif?

Berhentilah merokok sekarang!

Iklan

2 responses to “Jangan menjadi bodoh dua kali karena rokok

  • ded

    Syukurlah kita termasuk orang yang jauh dari rokok Mas. Masalahnya hitung2an seperti diatas tidak akan masuk dan tidak akan nyambung kalau kita sampaikan kepada para perokok….. 🙂
    Saya sudah sering mencoba….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: