Apakah Manusia Pernah Hidup Sejaman dengan Dinosaurus?

Tulisan ini ditujukan kepada pelajar dan mahasiswa  yang saat ini sedang mempelajari Teori Evolusi. Tulisan ini saya publikasikan juga di sini: http://www.kompasiana.com/harjo

***

Tulisan ini tidak bermaksud mendeskreditkan para penulis buku-buku teks pelajaran Biologi.  Saya juga menyadari bahwa mainstream disiplin ilmu ini masih menganggap bahwa teori evolusi adalah satu-satunya alternative yang diterima di dunia pengetahuan.

Kurikulum pendidikan memang mengharuskan teori evolusi sebagai pendidikan yang wajib di ajarkan khususnya di sekolah menengah atas  dan perguruan tinggi khususnya di Jurusan Biologi.

Melalui tulisan ini saya mencoba untuk mengemukakan pandangan yang berbeda tersebut. Kebetulan buku yang saya amati adalah:  Biology 3B for Senior High School Grade XII Semester 2 yang diterbitkan oleh ESIS, Agustus 2011,   ditulis oleh orang-orang yang saya hormati karena dedikasinya terhadap dunia pendidikan.

Buku ajar pada jilid ini lebih menitik beratkan pada pembahasan Teori Evolusi.  Sebagaimana dikusi saya dengan seorang dosen Biologi  di Bandung, yang saya kenal dengan usahanya untuk menghapus teori ini dari kurikulum pendidikan Biologi, yang sempat menjadi polemik beberapa tahun lalu di sebuah harian Kompas.   Berbeda dengan pandangan beliau, saya lebih menyarankan, bahasan teori evolusi tetap diajarkan, tetapi  dalam setiap pembahasan tema ini, dimasukan juga pendapat-pendapat lain yang menentangnya.

Sayangnya, hingga saat ini pendapat yang menentang tidak pernah ditulis di buku-buku ajar tersebut. Anak-anak adalah lahan subur untuk suatu indoktrinasi yang saya anggap bisa menyesatkan yang berujung tidak percaya kepada adanya “Sang Pencipta”. Sehingga perlu adanya informasi penyeimbang dari pembahasan tersebut.

Hal khusus yang ingin saya bahas pada tulisan kali ini adalah pada halaman 33 dari buku tersebut. “Menurut kalangan evolusionis, teori kreasionisme dianggap tidak valid karena kenyataannya banyak species hidup tidak sekaligus ada pada satu jaman. Misalnya, dinosaurus tidak hidup bersamaan dengan masa hidup manusia. Dinosaurus ada lebih dulu sebelum proses evolusi menghasilkan manusia”.

Saya tidak ingin membahas masalah teori kreasionisnya, karena penciptaan adalah domainnya agama. Kepercayaan tidak membutuhkan bukti-bukti. Kalau pun ada bukti, itu hanyalah pelengkap dari apa yang dipercayai.

Hal yang ingin saya bahas adalah, “Benarkah Manusia tidak pernah hidup sejaman dengan dinosaurus?”  Padahal banyak bukti-bukti yang menunjukan bahwa manusia memang pernah hidup sejaman dengan manusia, di antaranya adalah:

Penemuan jejak kaki manusia dan dinosaurus di Sungai Paluxy, Texas

Jejak kaki dinosaurus ini  diduga sudah berumur 100.000.000 tahun yang lalu, dan di antara jejak kaki dinosaurus tersebut terdapat jejak kaki manusia.  Hal ini membuktikan bahwa manusia itu hidup satu jaman dengan dinosaurus yang hidupnya justru lebih jauh dari manusia-kera yang selama ini dianggap “missing- link”.  Anehnya, dunia pengetahuan justru menolak temuan tersebut, hanya karena dianggap tidak mungkin manusia hidup sejaman dengan manusia.

Apa hak mereka untuk menolak temuan tersebut? Penolakan tersebut, jelas menunjukan bahwa kalangan evolusionis anti kebenaran.

Kalangan evolusionis memang punya kepentingan, sehingga temuan tersebut dianggap akan meruntuhkan sendi-sendi teori evolusi yang selama ini dibangun, sehingga mereka perlu untuk menentang dengan alas an-alasan yang tidak masuk akal, di antaranya, mempublikasikan bahwa: Pertama, jejak kaki itu adalah palsu, sebuah karya seniman di masa resesi pada saat itu; kedua, menurut mereka peneliti kreasionis sudah meninggalkan bukti tersebut; ketiga, mempropagandakan bukti tersebut menjadi bukti yang menguntungkan bagi kalangan evolusionis, dengan maksud menggunakan kelemahan itu menjadi kekuatan.

Publikasi tersebut, bisa kita lihat di website:  http://www.talkorigins.org. Informasi yang sama juga pernah dipublikasikan oleh  Dr. Philip Kitcher dalam Abusing Science .

Sudah lama pendapat-pendapat tersebut  dibantah oleh Dr. John D. Morris dalam bukunya “Tracking Those Incredible Dinousaurus”. Bahwa:  Jejak kaki dinosaurus dan manusia telah  ditemukan untuk pertama kalinya tahun 1908 justru sebelum masa depresi. Morris pun menyatakan bahwa temuan  itu adalah asli. Jejak kaki manusia itu, ditemukan di 20 tempat  terpisah  di sekitar sungai Paluxy.

Mereka menganggap bahwa temuan jejak kaki itu palsu, tetapi anehnya, justru kalangan evolusionis mempublikasikan temuan tersebut sebagai bukti evolusi, sebagaimana di tulis di buku-buku text Biologi perguruan tinggi di antaranya:  Biologi Jilid 3 Edisi Kelima,  karangan John W. Kimbal, halaman 761.

Ini artinya menggunakan kelemahan menjadi sebuah kekuatan untuk mendukung teori evolusi. Padahal foto-foto karya Roland T. Bird yang dicantumkan tersebut adalah bukti kebenaran jejak kaki dinosaurus, di mana di  tempat yang sama juga ditemukan jejak kaki manusia.

Tetapi kalau temuan Paluxy itu dianggap sebagai sesuatu yang palsu, mari kita lihat bukti penemuan lainnya, berikut ini.

Kisah Penemuan “Paluxy” di Kawasan Rusia

Sengaja saya menggunakan istilah “Paluxy” untuk mengingatkan kita, bagaimana sebuah kebenaran penemuan jejak kaki Dinosaurus dan manusia di Sungai Paluxy diputarbalikan oleh kalangan evolusionis. Penemuan itu dianggap palsu hanya karena mereka menganggap bahwa tidak mungkin manusia hidup sejaman dengan manusia.

Penemuan di Rusia ini pernah dipublikasikan oleh harian Sydney Morning Herald tanggal 21 Nopember 1983, yaitu dengan ditemukannya 1500-an  bekas jejak kaki dinosaurus  dan di antaranya ada jejak kaki manusia. Atas penemuan ini, seorang Profesor Ammaniyazov, Direktur Institut Geologi Turkmenia, mengungkapkan perlu merevisi sejarah umat manusia yang harus diperluas sampai 150 juta tahun.

Kisah penemuan “Paluxy” di kawasan Rusia ini menurut saya sangat penting, karena mereka tidak punya kepentingan terhadap kreasionis. Dan sejauh ini saya belum pernah melihat adanya penolakan dari kaum evolusionis, mengenai ini, kecuali menenggelamkan cerita ini.

Penemuan “Paluxy” Di Kawasan China

Ini adalah temuan yang paling terakhir, sebagaimana lilansir oleh Koran Xinhua,  18 Oktober 2011 yang lalu. Yaitu dengan ditermukannya ratusan jejak kaki Dinosaurus dan Prasasti yang berusia 700 tahun oleh para peneliti  dari China dan Amerika  ini berlokasi di Linhua Baozhai  (Lotus Mountain Fortress) Provinsi Chongqing, China, menunjukkan bahwa manusia pernah hidup sejaman dengan dinosaurus.

Linhua Baozhai  yang dalam bahasa China, artinya:  Benteng Gunung Lotus. Penelitian ini sendiri bermula dari cerita rakyat tentang bunga teratai  di kawasan tersebut. Ternyata bidang gambar yang membentuk teratai itu terkait dengan jejak-jejak kaki dinosaurus, berupa tanda riak dan retak lumpur yang terawat baik.  Para ahli itu berpendapat, bahwa, jejak kaki yang berjumlah 350-400 an itu berasal dari empat kelompok dinosaurus, yaitu: dinosaurus jenis predator, dinosaurus berukuran besar, kecil, jejak kaki dinosaurus pincang  dan dinosaurus jenis petarung.

Hasil penelitian ilmiah yang ditulis oleh  Xing Li-da dari University of Alberta, Adrieanne Mayor dari Stanford University, dan Chen Yu dari Museum Capital ini sudah dipublikasikan di  Geological Bulletin of China, Vol 30, No 10, Oktober 2011. Untuk melihat dokumennya bisa dilihat di sini:  http://www.xinglida.net/pdf/Xing_et_al_2011_Co-existing_Dinosaur_Tracks.pdf

Penutup

Saya kira penemuan terakhi ini adalah satu-satunya bukti  yang paling kuat, yang membuktikan bahwa manusia pernah hidup sejaman dengan dinosaurus.  Dan nampaknya para evolusionis tidak bisa berkelit lagi setelah sebelumnya berhasil mengelabui dengan menyebarkan  cerita-cerita palsu pada penemuan di Sungai Paluxy.  Akankah para evolusionis pun akan mempaluxykan penemuan ini?

Referensi

Kitcher, P. Abusing Science, MIT Press, Massachusetts, 1982

Video

http://www.youtube.com/watch?feature=player_detailpage&v=c44F0csL-DE#t=25s

Iklan

15 responses to “Apakah Manusia Pernah Hidup Sejaman dengan Dinosaurus?

  • Ni Made Sri Andani

    Thanks informasinya, Mas. Saya pernah mendengar sepintas mengenai hal ini -namun memang benar, karena info yang lebih banyak masuk adalah mengenai evolusi, selama ini saya tidak terlalu menaruh fokus pada penemuan-penemuan spt Paluxy & Lotus Mountain Fotress.. Paling hanya saat menonton film Dynothopia – sempat kepikir sepintas tentang kemungkinan manusia pernah hidup sejaman dengan dynosaurus.

    Pengetahuan dan teknologi manusia akan berkembang terus, dan saya yakin suatu saat apa yang kita yakini sekarang benar belum tentu semuanya terbukti benar di masa yang akan datang. Jadi buat saya, men-challenge status quo sebuah theory pengetahuan atau pendapat yang diyakini kebanyakan orang – spt mis theory Evolusi Darwin ini bukanlah sebuah hal yang tabu untuk dilakukan..

    • harjo

      Sepertinya, Teori Evolusi ini akan tetap jalan terus. Apapun bukti yg akan disodorkan tidak akan menggoyahkan teori tersebut. Meskipun secara defakto sudah tidak layak dipercaya, tetapi “dejure” nya masih tetap di terima, hanya karena tidak mau ada kata “Tuhan” di dalam dunia pengetahuan. Jadi, dunia pengetahuan harus bebas kata tersebut. Begitu.

  • Irfan Handi

    700 tahun yang lalu masih ada dino ya Mas?
    Bertarti memang benar menunjukkan bahwa manusia pernah hidup sejaman dengan dinosaurus. Wallahu’aklam….
    btw, terimakaish infonya Mas. 🙂

  • david

    Berarti benar tentang pengetahuan agama. Dinosaurus punah gara2 air bah zaman nabi nuh bkn gara2 meteor

    • harjo

      Pak David, maaf baru saja jawab, saya baru “ngeh” ada komentar dari Pak David .
      Jawaban saya, Iya betul!
      Hanya saja, perlu dikoreksi, bahwa Agama, domainnya kepercayaam, keyakinan, jadi . bukan pengetahuan.
      Kalau Teori evolusi, itu domainnya pengetahuan.
      Salam.

  • rime

    Mas Harjo, menurut saya setuju teori evolusi itu bukan berarti tidak percaya akan Tuhan. Pun juga jika setuju dengan opini ttg intelligent design, itu bukan berarti seseorang percaya akan Tuhan. Karena kedua hal tersebut hanya membahas cara bagaimana bisa banyak makhluk hidup di dunia ini. Sedangkan jika kita bicara ttg Tuhan, kita sudah tidak membahas tentang “bagaimana”, tapi “mengapa” atau “siapa”. Seperti yang diyakini kaum religius, Tuhan bisa melakukan apapun. Bukan tidak mungkin Dia menciptakan makhluk hidup melalui proses evolusi.

    Tentang jejak kaki di Sungai Paluxy, berat dugaan bahwa jejak kaki tersebut bukan jejak kaki manusia. Hipotesa bahwa manusia hidup di jaman dinosaurus masih dinilai terlalu ringan untuk kemudian naik pangkat jadi “teori”. Untuk menjadi sebuah teori (yang kemudian bisa masuk ke dalam kurikulum pendidikan), sebuah hipotesa perlu memiliki banyak bukti dan diuji secara ilmiah. Mungkin beda ceritanya jika di Sungai Paluxy ditemukan fosil manusia moderen (Homo sapiens).

    Kalangan ilmiah bukanlah orang-orang yang bisa sembarangan menolak atau menerima suatu hipotesa dan mengangkatnya menjadi teori. Jika memang suatu hipotesa benar, maka silakan tunjukkan bukti-buktinya, jika sesuai maka hipotesa tersebut akan diterima. Jika dianggap belum cukup bukti, ya pasti ditolak. Aturan mereka hanya itu saja. Tidak ada kepentingan-kepentingan politis atau konspirasi seperti yang dituduhkan dalam tulisan ini. Inilah yang membedakan kaum ilmuwan dengan kaum religius. Dan itu juga lah suatu contoh kenapa sains tidak bisa digabungkan dengan agama.

    • harjo

      Mbak RIme, saya setuju dengan pendapat Anda, “orang yang setuju teori evolusi, bukan berarti tidak percaya Tuhan”.
      Dan harus diingat, tidak sedikit juga orang yang menjadi atheis, agonistik, karena teori ini. Banyak contohnya, jika saya mau sebutkan. Dan saya termasuk orang yang tidak percaya, bahwa Tuhan menciptakan melalui proses evolusi. Ini adalah pemikiran saya ketika saya masih SMP dulu.

      Jika kamu tidak setuju dengan jejak di Paluxy. Bukankah ada 2 contoh lainnya di Rusia dan China. Khusus yang di China ini, bahkan sudah saya buatkan link jurnal ilmiahnya untuk dapat di download. Tentu, tidak sembarangan sebuah hasil karya ilmiah untuk bisa di muat di jurnal penelitian. Saya kira, 2 saksi ini sudah sangat cukup menguatkan. Dan itu bukan lagi teori, tetapi faktanya seperti itu.

      Sebuah karya ilmiah, sebelum masuk ke dalam jurnal ilmiah, itu harus melalui review lebih dulu oleh ahli yang memang berkompeten untuk itu. Dan dari jurnal itu, terbukti bahwa hipotesis manusia pernah hidup sejaman dengan dinosaurus, terbukti.
      Saya tidak mengerti maksud tuduhan Anda, bahwa saya ada kepentingan politik maupun konspirasi. Politik apa ya? Konspirasi dengan siapa? Apa yang saya tulis, murni hanyalah sekedar mengkritisi salah satu isi dari bagian buku tersebut. Apakah Ibu salah satu penulisnya?

      Sudah berkali-kali saya katakan dalam banyak diskusi dengan teman-teman agnostik maupun atheis, bahwa Agama dengan Ilmu Pengetahuan (teori evolusi) itu tidak bisa disatukan. Agama itu domainnya dari keyakinan, kepercayaan. Teori Evolusi itu domainnya dari ilmu pengetahuan, butuh bukti dan ada perdebatan di dalamnya.
      Keyakinan itu, tidak butuh bukti. Kalau sudah ada bukti, tidak bisa lagi disebut sebagai keyakinan. Dan saya yakin malam ini Anda sudah tertidur pulas ketika saya menuliskan jawaban ini. Ini adalah keyakinan, tetapi kalau saya sudah melihat dengan mata kepala sendiri anda sudah tidur, itu tidak lagi bisa disebut sebuah keyakinan.
      Khusus untuk teori evolusi, karena ini adalah katanya teori ilmiah, sehingga ada ruang untuk diperdebatkan, benar tidaknya teori tersebut.

      Buat saya tidak penting, apakah nantinya diterima atau tidak atas apa yang saya tulis. Paling tidak apa yang ditulis ini adalah menjadi penyeimbang di antara belantara informasi di dunia maya terhadap teori evolusi, yang menurut saya sudah sangat menyesatkan.

      Tks atas komentarnya. Salam

      • rime

        Yang saya maksud dengan kepentingan tuh ini loh mas:

        “Kalangan evolusionis memang punya kepentingan, sehingga temuan tersebut dianggap akan meruntuhkan sendi-sendi teori evolusi yang selama ini dibangun, sehingga mereka perlu untuk menentang dengan alas an-alasan yang tidak masuk akal, di antaranya, mempublikasikan bahwa: Pertama, jejak kaki itu adalah palsu, sebuah karya seniman di masa resesi pada saat itu; kedua, menurut mereka peneliti kreasionis sudah meninggalkan bukti tersebut; ketiga, mempropagandakan bukti tersebut menjadi bukti yang menguntungkan bagi kalangan evolusionis, dengan maksud menggunakan kelemahan itu menjadi kekuatan.”

        Dalam dunia sains, tidak dikenal hal-hal seperti itu. Jika memang ada data ilmiah yg bisa meruntuhkan suatu teori, itu tidak boleh dihalang-halangi atas dasar suatu “kepentingan”.

        Saya juga ga mau debat panjang lebar :). Saya intinya cuma mau menginformasikan bahwa jika ada data atau “fakta” yg kita anggap benar, kita bisa mengajukan itu ke dewan ilmiah internasional (dan sebagainya). Saya pikir mungkin ketiga data ini juga sudah didaftarkan. Kalau ternyata tidak dianggap sebagai fakta, ya si pengaju data harus legowo, karena begitulah cara sains berjalan dan berkembang. Saya bisa saja membuat jejak atau fosil palsu seperti manusia Piltdown di depan rumah saya, lalu saya bilang ini fakta. Tapi kan pada kenyataannya suatu dugaan bisa dinyatakan sebagai fakta jika mampu melewati uji ilmiah. Tanpa itu, sesuatu yg kita anggap “fakta” tetaplah menjadi hipotesa.

        Kalau Mas Harjo ingin ketiga data ini masuk ke dalam kurikulum pendidikan biologi di Indonesia, mungkin Mas Harjo bisa membantu para ilmuwan memperkuat argumen ttg data-data ini ke dewan ilmiah internasional. Karena setahu saya kurikulum sains di Indonesia juga tidak bisa sembarangan diubah-ubah, tapi harus mengacu pada persetujuan internasional. Kalau hanya mengajukan ke diknas, mungkin akan ditolak. Beda halnya dengan kurikulum lain seperti PPKn, sejarah, atau agama.

        Tapi ini hanya pendapat saya saja sih. Sangat mungkin saya salah. Ilmu saya juga masih cetek.

        Oiya, ternyata kita satu almamater. Kalau boleh tau, Mas Harjo ini S1-nya di mana dan jurusan apa ya? 🙂

      • rime

        Oiya, ada yg terlewat.

        “Sayangnya, hingga saat ini pendapat yang menentang tidak pernah ditulis di buku-buku ajar tersebut. Anak-anak adalah lahan subur untuk suatu indoktrinasi yang saya anggap bisa menyesatkan yang berujung tidak percaya kepada adanya “Sang Pencipta”. Sehingga perlu adanya informasi penyeimbang dari pembahasan tersebut.”

        Saya setuju bahwa sains perlu dipisahkan dari agama. Jika kita semua setuju dengan pernyataan ini, logisnya (menurut saya) yg perlu kita benahi untuk mengatasi kekhawatiran atheismeisasi ini adalah pemberdayaan guru biologi secara mumpuni.

        Jika memang sains terpisah dari agama, kenapa dibutuhkan informasi penyeimbang?

        Oiya lagi, saya bukan penulis buku itu. Ilmu saya masih terlalu cetek untuk jadi penulis buku paket kurikulum pendidikan formal. 🙂

  • rime

    (Maaf tulisannya ke-paste 2 kali)

    • harjo

      Mbak Rime,
      1.Seharusnya memang seperti itu, tetapi kasus penemuan Paluxi, faktanya tidak seperti itu. Anda bisa lihat sendiri di buku Biologi, Kimball, halaman 761. Gambar 32-1 yang diambil oleh Roland T. Bird itu adalah jejak kaki manusia di sebelah kanannya, dan jejak kaki dinosaurus di sebelah kirinya. Tetapi sipenulis (atau entah dia mengutip dari mana) mengelabuinya dengan menulis keduanya adalah jejak kaki dinosaurus.

      2. Sebuah teori, tidak masalah jika mau diperdebatkan karena memang ada ruang di dalamnya. Yang tidak boleh adalah soal keyakinan, Agama!.

      3. Sejatinya, sebuah data atau teori baru, jika ada yang lebih valid bisa didaftarkan di dewan ilmiah international, normativenya begitulan sains bekerja. Masalahnya adalah, khusus masalah berkaitan dengan evolusi, hal ini tidak berlaku.

      4. Teori Evolusi itu adalah sebuah konsensus ilmiah international, diterima bukan oleh karena bukti, tetapi oleh karena pendapat. Masalahnya adalah yang berpendapat adalah seorang professor-profesor kenamaan, sehingga apa yang disebut sebagai pendapat adalah bukti. Dan apa yang disebut dugaan yang banyak bertebaran di buku-buku biologi yang membahas evolusi adalah dianggap sebagai sebuah bukti.

      5. Saya tidak pernah mengusulkan untuk menghapus, teori evolusi itu tetap diajarkan sebagai sejarah perkembangan Biologi saja. Hanya saja, dalam setiap penjelasannya harus dicantumkan juga pendapat yang berseberangan dengan bahasan tersebut.

      6. Yang menjadi masalah, justru, guru-guru Biologinya sendiri banyak (tentu tidak semua) yang atheis, agnostic, yang selama ini menjadi teman debat saya. Terhadap guru-guru seperti ini benteng apa yang mau dibekali kepada anak didik? Tidak menutup kemungkinan untuk menjadi calon atheis, agnostic juga? Banyak contoh kasus seperti ini. Informasi penyeimbang yang saya maksudkan adalah, pada buku yang sama. Mungkin istilah jurnalistiknya cover both side lah … tetapi tentu dengan tidak memasukan unsur Agamanya, apalagi ayatnya. Karena menurut saya tidak dibutuhkan Agama untuk meruntuhkan teori evolusi, percayalah. Ini adalah hal yang logis, dan sangat logis yang bisa dibantah.

  • rime

    Tadi saya udah masukin komen (malah ke-paste 2x tapi kok ga masuk ya?). Saya paste lagi deh… Yang sebelum-sebelumnya yang sama silakan diapus aja Mas 🙂

    Oiya lagi (duh, kebanyakan “oiya” nih). Saya mencoba mencari materi referensi untuk 2 data terakhir (yaitu “Paluxy” Rusia dan China). Inilah hasil pencarian saya:

    1. Dengan memasukkan kata kunci “Ammaniyazov+Sydney Morning Herald+November 21 1983”, saya tidak menemukan referensi yang saya butuhkan untuk mengkroscek apakah benar ditemukan jejak kaki manusia di antara jejak kaki dinosaurus. Sila cek hasilnya di sini http://bit.ly/Ox6JgO

    2. Karena penasaran, saya coba cari googling paper Ammaniyazov yang berhubungan dengan “Turkmenistan” dan “jejak kaki”. Hasilnya adalah ini, tapi saya tidak menemukan versi elektroniknya.

    Ammaniyazov, K., Nigarov, A., and Uzakov, O., 1979, Petrified traces of animals in the paleodesert: Probl. Osvoeniia Pustyn, v. 5, p.80-82. [Pleistocene; Asia, Turkmenistan; Camelidae, Bovidae, gazelles, sheep, Felidae, Aves]

    Dari kata kunci yang tertulis di citation tersebut, tidak ada kata kunci “human” atau “homo sapiens”.

    Atau mungkin saya kurang giat mencarinya sehingga tidak ketemu. Apakah Mas Harjo punya link jurnal ilmiahnya? Kalau ada, boleh dong dibagi-bagi 🙂

    3. Tentang “Paluxy” di China, saya sudah buka jurnal ilmiahnya. Sayangnya jurnal tersebut ditulis dalam huruf Mandarin yang saya sama sekali ga bisa baca. Tapi di sana ada abstrak berbahasa Inggrisnya. Di abstrak tersebut dituliskan bahwa di situs Lianhua Baozhai ditemukan berbagai bukti geologis berupa jejak dinosaurus dan prasatsi kuno buatan manusia. Tetapi sama sekali tidak disebutkan bahwa keduanya berasal dari jaman yg sama, sehingga tidak bisa disimpulkan bahwa manusia hidup sejaman dengan dinosaurus.

    Mungkin ceritanya bakal sama jika (misalnya) ada penemuan prasasti tulisan manusia di Sangiran yg lokasinya berdekatan dengan lokasi ditemukannya Homo erectus. Apakah ini membuktikan kalau Homo sapiens dan Homo erectus hidup berdampingan?

    Abstrak memang hanya tulisan singkat dalam 1 paragraf, tapi abstrak mensarikan keseluruhan penelitian. Jika ditemukan bahwa jaman penulisan prasasti sama dengan jaman dinosaurus, seharusnya data itu juga terekam dalam abstrak.

    Saya tidak bermaksud yang aneh-aneh dengan berkomentar tentang hal ini, Mas Harjo. Saya hanya kebetulan terdampar di blog keren ini, terus saya gatel pengen komentar. Mengutip kata-kata Mas Harjo pada tulisan lain Mas Harjo (saya lupa di mana), saya hanya meluruskan. Mohon dikoreksi kalau salah. Salam 🙂

    • harjo

      1 dan 2 Tulisan tersebut memang tulisan lama. Di mana internet saat itu belum berkembang, sehingga kejadian itu mungkin tidak terdokumentasi dengan baik. Hanya ada versi cetak, beberapa tahun yang lalu.

      3. Masalah H erectus sebetulnya adalah “mahluk” rekaannya Dubois. Dubois memunculkan mahluk rekaan ini, di tengah keputusasaannya beliau yg tidak juga menemukan missing link itu. Dan sepertinya temuan Dubois itu tidak lagi dianggap penting, bahkan terakhir, dalam sebuah artikel di Kompas (saya lupa judulnya) tidak mencantumkan lagi Dubois sebagai bagian sejarah dari penemuan tersebut. Justru setelah saya mendebat habis2an masalah Dubois ini di milis evolusi itu.

      Maaf, penejalsan saya mungkin terlalu singkat, sesuai dengan postingan saya terakhir, di sini, https://harjo.wordpress.com/2012/06/26/menjadi-head-line-di-kompasiana/

      saya sedang sakit, dan saat ini masih belum pulih. Nanti saya lanjut. Salam.

  • sistematis

    saya dukung mas harjo 100%,,,,diliat dari tulisan nya mas harjo,,,,,menurut saya,,mas harjo orang jenius, jujur dan tulisannya bisa dipertanggungjawabkan tidak mengada2,,trims,,,Bravo mas harjo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: