Mengenal “Organ” Vestigial Bernama Rambut

Kali ini, saya ingin membahas  sesuatu yang sebetulnya tidak terlalu penting, yaitu soal rambut. Tetapi menjadi penting, karena rambut khususnya penutup tubuh,  termasuk juga beberapa organ lain seperti:  tulang ekor, usus buntu, amandel, oleh kalangan evolusionis dianggap sebagai “organ vestigial”.

Menurut mereka, “rambut-rambut di tubuh sekarang dianggap tidak berfungsi lagi, sebab manusia modern tidak hidup telanjang di padang rumput purba lagi”.

Benarkah Tidak Berfungsi?

Pembaca yang pernah belajar Biologi, tentu tahu dan pernah dengar nama  “organ vestigial” atau yang sering disebut juga dengan organ peninggalan. Vestigial berasal dari bahasa latin, vestigium, yang artinya jejak. Evolusionis menganggap, bahwa: keberadaan organ vestigial pada manusia ini dijadikan sebagai bukti pendukung kebenaran teori evolusi.

Charles Darwin sendiri, menyebut istilah vestigial ini dengan sebutan organ rudimen (The Origin of Species, hlm 571-581). Prof H.H. Newman, dalam bukunya, Evolution, Genetics and Eugenics mendefinisikan organ vestigial adalah organ-organ tak terpakai yang pada golongan hewan lain organ ini masih mempunyai fungsi.

Lain lagi cerita Billy Goldberg dan Mark Leyner (2005) dalam bukunya Why Do Men Have Nipples?  Mereka menyebut organ vestigial ini sebagai  penumpang gelap.Artinya, dulunya, rambut ini berfungsi menutupi seluruh tubuh, tetapi ketika manusia sudah sudah menggunakan baju sebagai penutup tubuh, sekarang tidak memiliki fungsi lagi.  Semakin tinggi tingkatan hewan tersebut, semakin banyak penumpang gelap yang ditinggalkan.

Weidersham, seorang ahli Anatomi mengklaim bahwa jumlah organ vestigial pada manusia berjumlah  180 buah. Padahal saat ini banyak organ yang dulu dikatakan tidak berfungsi, ternyata berfungsi. Tetapi saya tidak mau membahas semua, karena sudah banyak dijelaskan oleh banyak pakar dan yang terlibat langsung dalam penelitian terhadap obyek yang dipermasalahkan. Saya hanya membatasi diri pada persoalan rambu saja.

Sejak dulu, rambut halus penutup tubuh, seperti di dada, kaki dan lengan, sudah diketahui memiliki fungsi yaitu sebagai detector dalam menghadapi organisme parasit seperti kutu atau pacet yang menempel di tubuh. Di samping itu, keberadaan rambut juga menghambat pergerakan parasit  tersebut untuk menemukan tempat makanan.

Khusus masalah pacet ini saya punya pengalaman ketika melakukan orientasi studi mahasiswa baru di kaki Gunung Gede Pangrango, Sukabumi beberapa tahun yang lalu. Untuk orang yang kakinya tidak ada rambut (sedikit) biasanya tidak menyadari kalau kaki sudah digigit pacet dan tubuh si pacet ini mendadak tambun. Tetapi bagi orang yang kakinya berbulu, akan mudah merasakan ketika ada organism parasit yang menempel.

Dua minggu lalu, LiveScience (14/12/11), kembali mengangkat topic ini, yaitu terkait dengan laporan penelitian yang dipimpin oleh Michael Siva-Jothy seorang pakar ekologi evolusi dari University of Sheffield, Inggris. Penelitian dimaksudkan untuk menemukan cara mengendalikan serangga parasit ini dan mencegah penularan penyakit yang dibawa oleh serangga tersebut.

Penelitian ini dilakukan dengan merekrut  sukarelawan melalui situs jejaring social facebook. Sebanyak 29 mahasiswa dites dengan mencukur rambut pada salah satu lengan mereka.  Kemudian dites, berapa lama mereka mulai menyadari  keberadaan kutu itu pada lengan mereka, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh kutu itu untuk mencapai lokasi makanan.

Hasil penelitian ini jelas, membantah pandangan kaum evolusionis selama ini, bahwa rambut bukanlah organ vestigial.  Lebih tepatnya, rambut mempunyai fungsi yang sangat dibutuhkan oleh manusia.

Bukan Evolusi tetapi Devolusi

Secara logika, sebetulnya adanya organ vestigial, justru lebih menunjukan adanya  proses devolusi, bukan evolusi. Karena ada bagian yang tereduksi (rudiment) sebagaimana yang dikatakan Darwin. Artinya dulunya berfungsi menjadi tidak berfungsi, yang kemudian meninggalkan jejak. Sebaliknya jika vestigial ini tetap dijadikan sebagai bukti evolusi, seharusnya ada organ baru sebagai produk evolusi, yang muncul yang tidak pernah terdapat pada nenek moyangnya. Kenyataannya tidak ada satupun organ baru tersebut muncul.

*Malam Natal, 24 Desember 2011, sambil nungguin anak-anak latihan. Tulisan ini saya posting juga di Kompasiana.

 


6 responses to “Mengenal “Organ” Vestigial Bernama Rambut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: