Stres, menghadapi kemacetan Jakarta

Menghadapi kemacetan Jakarta, jika tidak extra sabar, bisa stress,  sakit jiwa, dan berakhir pada kematian. Nggak percaya?  Coba saja Anda bayangkan,  jarak rumah saya ke kantor hanya 7 km saja dengan waktu tempuh sekitar 25 menit, kalau tidak macet, seperti dihari Senin atau Sabtu.  Sore tadi ternyata menbutuhkan waktu 2 jam …   saya baru ingat ini adalah hari Rabu, hari paling sibuk, dan paling macet di Jakarta, entah kenapa … Yang pasti ketika hendak melewati Kelapa Gading dari arah Tg Priok, saya sudah melihat dari kejauhan,  sudah tidak bergerak sama sekali di fly over kelapa Gading, sehingga saya pilih jalan bawah, kemudian belok kiri  ke Jl Boulevard  Kelapa Gading, berharap di putaran depan bisa balik arah.  Tetapi apa yang terjadi? Pak Polisi dengan semangat 45-nya menyuruh, “balik arahnya  di depan!”. Ok, berarti dibelokan depan bisa balik arah, tetapi apa yang terjadi? Di sana ada Pak Polisi juga yang tidak kurang semangatnya mengatur lalu lintas, “silahkan belok di sana”.  Mulai stres … macet, dan harus mengejar waktu.  Akhirnya setelah belokkan ketiga, tidak dijaga lagi oleh Pak Polisi. Aman, masih keburu  … pikir saya.

Tentu tinggal lurus saja, pasti sampai tujuan. Tetapi apa yang terjadi? Jalan lurus itu, sudah dihalangi rantai,  tidak boleh lurus, harus belok.  Stres semakin meningkat, tetapi masih bisa terkendali, mobil saya jalankan perlahan-lahan. Lumayan  bergerak sekitar  10 meteran dari posisi berhenti terakhir dalam waktu 10 menit.

Dan kantor pun, sudah di depan mata,  tinggal 200-an meter lagi sampai, tinggal belok saja hehehe … Tanpa di duga, sebuah mobil Mitsubishi L 300 dengan Nopol B156x XXX, memotong jalur yang saya lewati, dan…. gubrak!!! Sisi kanan belakang  mobil terserempet … Akhirnya meledak juga kekesalan itu.

Dengan sigap saya suruh berhenti  mobil tersebut, agar mau bertanggungjawab. Dan meminta maaf atas kesalahan tersebut, hanya itu, selesai. Eh …  malah kabur.  Buset dah … terpaksa, main kejar-kejaran, akhirnya berhasil juga saya tangkap, kaya difilm-film.  Padahal keinginan saya, dia berani bertanggungjawab, saya memahami ini adalah kecelakaan, tidak diinginkan oleh siapapun. Dan saya hanya ingin dia meminta maaf, selesai. Ternyata, dia malah menuding saya yang salah. Lah kalau memang merasa benar, kenapa dia kabur? Dasar!

Akhirnya saya putuskan untuk diselesaikan oleh polisi saja. Ketika saya menuju kantor polisi itulah, eit … dia kabur lagi. Buset!

Perjalanan saya lanjutkan. Pas mau belok ke kantor, eh … lagi-lagi pak polisi dengan santainya, “silahkan belok di sana”. Bah! Kantor saya di depan ngapain harus muter ke sana?”  Sambil ngedumel, terpaksa jalan lurus, tetapi hanya beberapa meter,  dengan menggunakan jurus nekat, langsung saya putar saja, potong garis midian …  dan balik arah. Kalau mau ditilang, tilanglah …  kalau berani, tinggal berhenti di depan kantor koq. Hehehe … nggak berani pasti.

Perjalanan ini hanya 7 km saja, bagaimana dengan teman-teman di kantor yang lokasinya di Tangerang, Bekasi, Bogor … Apa nggak lebih  stress ya? Ampun dech ! Semoga nggak cepat tua di jalan!

*Ssttt …  jangan dijadikan contoh, lagi stres!


7 responses to “Stres, menghadapi kemacetan Jakarta

  • Evi

    Mas Harjo, kalay begini terus emang gak lama nih bisa jadi kita cepat mati. Apa tiap Rabu minta ijin dr kantor kerja dr rumah
    Saja. Hehe

  • harjo

    Hehehe, gk bisa mbak, bisa dipecat sayanya …

  • Ely Meyer

    memang ndak dicatat nomor plat mobilnya ? …. aku yg cuma mbaca saja sdh keki ya, apalagi yg langsung ngalami sendiri.
    7 km = 2 jam ? mending aku nggenjot sepeda saja …. 2 jam di atas mobil nggonduk sisan ya aduh … kalau nggak sering sering refreshing bisa stress Har

    liat kamu lg online, sayang ya nggak bisa chatting🙂 .. kalau sesama blogger lain aku biasa chatting pakai gmail

    • harjo

      Iya, sebetulnya saya lebih suka tinggal di daerah Bogor, ketimbang di Jakarta hehehe … Masalahnya kalau tinggal di Bogor, maka kalau bolak balik ke kantor, hitungannya: dalam setahun sekitar 4 bulan di jalan … buset!
      Karena Bogor – Jakarta, butuh waktu 7 jam pp. Tua di jalan.
      Jadi sebetulnya tinggal di Jakarta ini masih mending. 🙂

    • harjo

      Iya saya biasa pake Yahoo, belum pernah pake Gmail, nanti saya coba lihat-lihat ya …

  • ded

    Kalau tinggal di Jakarta mau ga mau harus siap-siap mental Mas, bagaimanapun keadaan seperti ini masih belum ada solusinya yang tepat. Mungkin benar juga caranya Mb Ely Mayer, pakai sepeda aja Mas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: