Menikmati Lebaran di Tanah Baduy

Memasuki Kampung Baduy, memang terasa berbeda dengan kawasan lain di Indonesia. Perbedaan nampak dari cara mereka berpakaian, yang menggunakan kain, tetapi tidak seperti umumnya, hanya sampai selutut, kebaya dengan warna biru gelap, dan topi lebar yang terbuat dari anyaman bambu untuk kaum perempuan. Rumah-rumah penduduk, tampak begitu rapat dan sederhana yang semuanya terbuat dari anyaman bambu dengan tiang-tiang dari kayu. Suasana kampungnya begitu rimbun dengan tajuk tanaman yang menutupi hampir seluruh pemukiman.  Itu baru Baduy luar, perjalanan saya belum sampai ke Baduy dalam.

Suasananya pastilah akan berbeda, mungkin akan lebih  “baduy banget” sebagai penduduk  yang sudah  terisolir ratusan tahun dengan dunia luar.  Kalau saja ada waktu, pastinya akan menarik jika dijadikan sebagai topik penelitian mengenai keberadaan penduduk ini. Dalam teori evolusi dikenal dengan hipotesis  isolasi geografis, untuk membuktikan kebenaran teori evolusi. Menggunakan obyek penduduk Baduy pastilah menarik untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis tersebut.

Hari itu,  sebetulnya saya bermaksud akan mengunjungi kawasan Baduy dalam tersebut, tetapi mengingat perjalanan kali ini diikuti  anak-anak saya yang masih kecil yang kebetulan sedang libur lebaran.  Sehingga perjalanan kali ini hanya di batasi di halaman Baduy luar saja. Itu pun cukup menarik.

Secara ekonomi, penduduk Baduy luar ini sangat menikmati keuntungan dari kunjungan para turis yang datang ke kawasan tersebut. Tidak mengherankan jika di dekat pintu gerbang ke kawasan tersebut sudah ada mini market Alfa Mart, yang membuat gigit jari para pedagang lainnya karena tersedot ke minimarket tersebut. Yang belum adalah Indomart, ada yang berminat? He he he …  lucu juga sih, kawasan unik seperti ini seharusnya tidak perlu ada minimarket seperti itu. Serasa kurang afdol berada di kampung Baduy yang sudah terkenal di seluruh dunia ini.

Penduduk Baduy dalam,  yang menjadi obyek tontonan sepertinya tidak menikmati hasil dari kunjungan turis tersebut.  Mereka adalah penduduk yang sangat sederhana, pamali bagi mereka jika menggunakan produk-produk moderen dari luar.

Istilah Baduy  adalah nama sebuah gunung dan sungai yang ada di kawasan tersebut, bukan nama suku. Penduduknya sendiri lebih suka di sebut sebagai orang Kanekes.  Untuk mengunjungi Baduy sendiri dibutuhkan waktu seharian perjalanan seperti: Cibeo, Cibeungkung, Cikeusik, Nyalindung dan Lebak Sibeudug dan Cikeuta Warna.  Pemandu, biasanya tidak mengantar sampai ke sana, hanya disekitaran Baduy luar saja.

Bagaimana suasana lebaran di Baduy? Nampak biasa saja, tidak meriah, sebagaimana di daerah lain, yang  meriah dengan suara takbir dan bedug. Maklum di sini tidak mengenal Agama seperti yang dikenal pada umumnya, hanya ada istilah Agama Sunda Wiwitan.


4 responses to “Menikmati Lebaran di Tanah Baduy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: