Diblokir Komunitas Teori Evolusi

Sudah seminggu, saya diblokir dari group penyuka Teori Evolusi, di facebook.com/teori.evolusi. Saya sendiri meng-add komunitas tersebut karena undangan dari sebuah milis yang saya ikuti, evolusi@yahoogroups.com 

Dari undangan tersebut, akhirnya saya meminta add untuk diikutsertakan pada komunitas tersebut. Beberapa diskusi sempat saya ikuti, juga sempat membuat thread, “Penemuan Pithecantropus erectus oleh Eugene Dubois sesungguhnya adalah sebuah penipuan systematis”. Dari peserta diskusi tersebut, ternyata  tidak ada yang mampu membantah atas fakta yang saya ungkapkan tersebut.  Hadiahnya, thread tersebut dihapus oleh adminnya.

Saya juga memberi komentar pada salah satu thread, bahwa: “Sesungguhnya Archaepteryx, bukanlah nenek moyang bangsa burung” . Mereka meminta informasi link nya, semula saya enggan, saya pikir pastilah mereka akan selalu update terhadap perkembangan terbaru dibidang yang sehari-sehari mereka geluti. Tetapi setelah diberi link, tidak lama kemudian pendapat saya malah di hapus, dan nama saya pun di banned untuk selamanya dari komunitas tersebut.

Terbukti, bahwa komunitas evolusi tersebut tidak mampu membantah pendapat alasan penolakan saya terhadap teori evolusi, khususnya pada persoalan yang saya jadikan topik tersebut.  Ketika pendapat tersebut, bertentangan … dan mereka pun akan menghapusnya. Itulah potret kecil sebuah perkembangan teori evolusi di dunia ilmiah saat ini.

Ketika tidak ada fakta pendukung, mereka tidak segan-segan untuk membuat bukti palsu. Ketika bukti palsu itu terungkap, mereka sudah bersiap-siap berevolusi lagi ke bukti lain yang mereka anggap lebih mendukung.  Ketika mereka kurang PD  (=percaya diri) terhadap bukti yang mereka ungkapkan, meskipun hanya dari 3 buah fosil tulang yang sesungguhnya sangat sulit untuk direkontruksi menjadi bentuk “Pithecantropus erectus” tetapi mereka berani berspekulasi untuk dipertontonkan kepada publik, “inilah manusia kera, nenek moyang manusia moderen”.  Persoalan, nanti banyak yang komplain, gampang! Nanti dibuat lagi, yang penting dipertontonkan dulu contoh produknya.  Karena sudah ada “contoh produknya” maka bermunculanlah penemuan-penemuan lainnya berjenis “Pithecantrhopus erectus”lainnya mengikuti contoh produk yang dibuat oleh Dubois. Bagaimana dengan contoh produk pertama? Sudah tidak dianggap lagi.  Sang evolusionis pun akan berkata, “kata siapa P erectus nya Dubois adalah nenek moyang manusia modern” Nah … tidak akan habis-habis kan?

Jadi, ketika mendiskusikan topik ini, kuncinya adalah, fokus pada dari mana persoalan itu bermula. Karena jika bergeser dari persoalan itu, maka diskusi evolusi tidak akan pernah berakhir, karena jawaban evolusionis pun akan berevolusi pula.

Kedua, jangan pernah menghadapkan teori evolusi dengan Agama. Agama dan Teori evolusi adalah fakta yang saling berlawanan. Agama adalah masalah kepercayaan, sebuah persoalan yang tidak dapat didiskusikan. Kepercayaan adalah hak masing-masing orang yang mempercayainya. Berbeda dengan Teori Evolusi yang katanya adalah teori ilmiah. Tentu ada ruang untuk  kita diskusikan benar tidak nya teori tersebut.

Saya sendiri adalah orang yang tidak mempercayainya, meskipun beberapa tahun mempelajarinya di bangku kuliah, tetapi kesimpulan saya tetap. Tidak percaya kepada teori tersebut. Saya juga pernah bekerja di museum Zoologi (Puslit Biologi, LIPI) mempelajari fosil-fosil yang disusun, dipamerkan. Tetapi kesimpukan saya tetap, tidak percaya kepada susunan urut-urutan fosil yang dipamerkan.  Saya juga pernah mengajar, menjadi asisten untuk matakuliah  Taxonomi, ilmu yang mempelajari klasifikasi mkhluk hidup, yang menjadi pintu gerbang di terimanya Teori Evolusi.  Tetapi kesimpulan saya tetap, tidak percaya kepada teori tersebut. Lalu, bagaimana dengan orang yang tidak pernah belajar Teori Evolusi, tetapi percaya kepada teori tersebut? Jawabannya sederhana, “mereka tidak secara detail mengerti teori tersebut”. Kalau saja mereka tahu duduk persoalan bagaimana bukti-bukti itu dikemukakan,  pastilah mereka akan membuang jauh-jauh teori tersebut. Satu persatu, nanti akan saya ungkapkan melalui blog ini.

Iklan

9 responses to “Diblokir Komunitas Teori Evolusi

  • tidungparadise

    Seharusnya orang dulu lebih tahu.
    kakek saya dulu belum tahu pesawat terbang,tapi dia jelas tahu siapa yang menanam pohon jati besar di depan rumah yang usianya hampir ratusan tahun.

  • V Haikal

    Itu page bukan grup , apa anda tidak tau bedanya ?

    • harjo

      Tks atas koreksinya, saya memang kurang begitu familier dengan peristilahan di komunitas jejaring sosial tersebut. Intinya, yg saya maksud adalah: Sekelompok orang yang berdiskusi tentang teori evolusi di situs jejaring sosial tersebut.
      Menurut saya istilahnya memang aneh-aneh … 🙂
      Saya sendiri jarang juga update status di “tembok” … 😀

  • V Haikal

    Mana permalink thread yang anda komentari ?

  • laurens

    wah wah jadi seru nich

    • harjo

      Biasalah, dalam ilmu yang satu ini layak untuk diperdebatkan. Karena memang banyak hal yang ganjil yang dikemukakan oleh para pendukungnya. Sikap memban saya di komunitas tersebut, membuktikan bahwa komunitas itu ingin mensterilkan dari orang-orang yang beseberangan. Kecuali orang yg besebrangan itu mampu dia hadapi. Tetapi khusus pendapat saya, mereka tidak mampu untuk menolak argumentasi saya makanya diban. 🙂

  • Diblokir komunitas teori evolusi (lagi) « Harjo

    […] Secara tidak sengaja saya membuka page-nya, komunitas teori evolusi di sini, facebook.com/teori.evolusi.  Sebuah page dari jejaring sosial, di mana saya pernah menjadi anggota di dalamnya untuk berdiskusi, yang kemudian diban (blokir) oleh para pengelolanya beberapa waktu lalu, seperti yang pernah saya ceritakan di sini. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: