Tilang? Siapa Takut!

Dulu, ketika pertama kali membawa kendaraan, orang yang paling saya  ditakuti di jalan raya  adalah polisi.  Entah kenapa harus takut ya? Mungkin kebiasaan naik angkot dan melihat si sopir kalau ketemu polisi, sudah seperti melihat hantu,  mungkin?. Lambat laun ketakutan itu hilang dengan sendirinya, karena kebiasaan perilaku oknum polisi itu sendiri.

Damai, itu adalah kata mantera, ketika bernegosiasi dengan polisi karena kedapatan, kita dianggap bersalah atau dipersalahkan, entah apa yang salah. Sayangnya, justru kata “damai” itu sendiri ditawarkan oleh oknum polisi itu sendiri. Sengaja saya gunakan kata “oknum” karena kenyataan tidak semua polisi berperilaku seperti itu. Banyak kawan saya yang menjadi anggota polisi tetapi, jujur dan bersih.

Tulisan ini, ditujukan kepada orang yang baru menggunakan kendaraan. Jadi, kalau Anda sudah tahu, abaikan saja tulisan ini. 

Sesungguhnya, bahwa tilang menilang, itu soal biasa, lumrah dan sering terjadi. Hanya saja seringkali kita berusaha untuk tidak mau berurusan terlalu jauh, ke pengadilan lah … kejaksaan lah … sepertinya super ribet.  Saran saya, kalau memang bersalah, dan harus ditilang, ya tilanglah, tidak ada masalah. Yang penting ketika ditilang itu sesuai dengan pasal yang dituduhkan atas pelanggarannya,d an ini harus dicek betul.  Sekarang ini, kalau berdamai dengan oknum polisi, sepertinya tarif nya sudah tinggi.  Jadi, kenapa tidak bersedia untuk ditilang saja, yang mungkin saja akan jauh lebih murah dan uang hasil tilang itu, benar-benar masuk ke kas negara.

Saran ini, tentu jika kena tilang di daerah sendiri, kalau di luar daerah, tentu kita harus berusaha keras untuk berdamai.

Mungkin SIM atau STNK akan diambil oleh mereka, dan sebagai bukti tanda tilang akan diberikan oleh mereka. Selanjutnya, tinggal cek saja, tanggal berapa sidang, di ruang apa dan jam berapa.

Seperti biasa, saya nggak pernah ke pengadilan. Karena kalau ke pengadilan pun calonya luar biasa banyak. Dari pada bayar calo di pengadilan, kenapa nggak berdamai saja dengan oknum polisi??  Jadi, kalau sudah siap ditilang, ya harus hindari juga soal calo di pengadilan ini, yang jumlahnya banyak sekali, dari tukang parkir, bahkan oknum petugas yang berseragam pengadilan juga bisa merangkap sebagai calo.

Dari pada repot-repot, biasanya saya nggak ke pengadilan, abaikan saja.  Hanya saja perlu diperhatikan jadwal waktu pengambilan, jangan sampai berkas masih  berada di Pengadilan Negeri. Kalau waktu sidang misalnya bulan Juni 2011, ya ambil saja di bulan Juli langsung di Kejaksaan.

Proses mengambilnya nggak berbelit-belit, langsung ambil di loket depan. Tinggal masukan saja tanda tilang itu, dan beberapa menit (tidak sampai 5 menit) STNK atau SIM kita langsung keluar, dengan membayar denda yang jumlahnya enggak seberapa dibanding biaya “damai”.

Sebagai perbandingan, bulan lalu, dengan kesalahan lampu belakang tidak menyala, yang tidak saya sadari. Didenda hanya Rp 60.000,- saja. Dan hari ini baru saja saya ambil di Kejaksaan Negeri Jakarta Timur.

Jadi, jangan takut kalau ditilang.


5 responses to “Tilang? Siapa Takut!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: