Naik Kereta ke Beijing

Chengdu, 11 April 2010

Setiap langkah perjalanan memang  sangat saya nikmati. Jadi, ketika bepergian menggunakan pesawat yang hanya 1-2 jam, rasanya koq ada yang aneh gitu …  anehnya, kalau tiba-tiba sudah sampai di tujuan hehehe …  Itu satu soal, soal lain, ongkos dengan menggunakan pesawat dari Chengdu ke Beijing, sangat mahal.  Sebagai perbandingan, jika naik pesawat harganya RMB 1160, sedangkan kereta hanya RMB 417. Jadi kami lebih memilih naik kereta saja, bisa melihat aktifitas penduduk desa,  keindahan alam yang dilalui, dan juga  bisa menikmati enaknya naik kereta yang lama perjalanannya  hampir 32 jam. Tentu akan menjadi pengalaman yang luar biasa.

Jarak, antara station kereta dengan penginapan saya letaknya tidak terlalu jauh.  Cukup berjalan kaki, sore itu saya pesan tiket lebih dulu, dengan harga RMB 600,- per orang, untuk pemberangkatan pkl 21.00 wib nanti malam. Station itu memang luar biasa padatnya, tetapi untuk para orang tua, di sini tidak perlu antri, mereka bisa langsung “nyelonong” membeli tiket. Berbahagialah para orang tua di sini, karena mereka sangat dihormati.

Pipi mereka rata-rata memerah, mungkin karena udara yang terlalu dingin. Ada juga orang yang mukanya lebar, tetapi matanya agak sipit … mungkin itu adalah orang Tibet, karena berbeda dengan kebanyakan orang China yang lain.

Setelah tiket diperoleh, saya mencoba juga kuliner di Chengdu, di antaranya yaitu masakan ikan, entah ikan apa dan dimasak apa …  lihat saja di foto.  Mau tahu cara memesan makanan yang dibuat seperti ini? Saya gunakan bahasa Tarzan, dan masuk ke dapurnya dan langsung tunjuk ikannya, dan minta dibuatkan seperti masakan yang ada disebelah saya hehehe … Ikannya enak banget, harganya juga lumayan, 3 kali harga menginap. Kalau tahu mahal begini nggak beli dech … hehehe …

Selesai makan, segera kembali ke penginapan, untuk siap-siap berangkat menuju Beijing.

***

Keretanya ternyata bersih, tidak ada tempat duduk, tetapi langsung tempat tidur bersusun tiga.  Disediakan bantal dan selimut. Setiap gerbong ada supervisinya.  Tersedia air panas untuk memasak mie atau nyeduh teh. Ada wastafel untuk sikat gigi. Inilah untungnya naik kereta, bisa tidur, nggak perlu bayar hotel. Dan tahu-tahu besok sampai. Hanya saja, memang penumpangnya rada jorok, suka meludah sembarangan. Walaupun begitu, orangnya sangat penolong. Ketika tertidur ada salah seorang penumpang yang menyelimuti saya.

Banyak sekali terowongan yang dilalui, entah sudah yang keberapa kali, nggak kehitung saking banyaknya. Jam 22.00 lampu-lampu di dalam kereta dimatikan, memberi kesempatan kepada penumpang untuk istirahat. Tak lama kemudian ….  Zzz … zzz … zzz…

Matahari tampak sudah mulai terbit, masuk melalui celah-celah jendela …  sepanjang jalan tak habis-habisnya terlihat hamparan ladang gandum. Sangat luas, terlihat indah.  Sesekali melewati pinggiran sungai dan juga pemukiman penduduk. Menarik. Sama dengan kereta di Indonesia, di atasnya ada juga layanan penjualan makanan,  minuman, buah-buahan, majalah, buku. Harga di atas kereta tidak begitu jauh berbeda, hanya sekitar 1-2 RMB saja.

Perjalanan yang panjang, akhirnya mengantar kami di kota Beijing.

(Bersambung)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: