Sisa-sisa Salju di Mt Emei

Mt Emei, 10 April 2010

Sepulang dari penangkaran Panda, saya menaiki bus nomor lainnya.  Akhirnya saya terdampar di sebuah stasion bis, Chengdu Tourism Distributing Center. Beruntung saya terdampar di sini. Rupanya dari sini pula saya bisa tahu, kalau dari tempat inilah kita bisa memulai perjalanan ke tempat-tempat wisata lain di Chengdu. Melalui papan informasi, ada banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi, lengkap dengan jarak, waktu pemberangkatan, dan tariffnya. Yang jadi masalah adalah, tidak dijelaskan waktu tempuhnya, sehingga tidak tahu, apakah pulangnya ada kendaraan lagi, mengingat wilayah yang dituju adalah daerah pegunungan. Mt Emei, sebenarnya bukan target destinasi, jadi tidak ada persiapan sama sekali.  Rencana semula adalah Tibet.

Dengan mempertimbangkan jarak tempuh, dan bisa kembali ke penginapan sore atau malam harinya, saya memilih daerah tujuan wisata Mount Emei (Emeishan). Harga tiket adalah RMB 41 per orang, menggunakan bis medium. Akhirnya kami tiba di sebuah kota, yang saya sendiri tidak tahu, semula saya pikir akan tiba di daerah pegunungan. Tetapi rupanya saya diturunkan di daerah sini. Persis kaya di Jakarta, yang dibujuk-bujuk untuk naik kendaraannya. Tetapi saya tolak semua, karena rupanya sayabenar-benar  sudah salah turun. Terlanjur turun, saya juga tidak mau menggunakan jasa mereka. Untuk beberapa saat  mengalami disorientasi, segera saya cari tempat makanan, untuk sekalian cari informasi.

Dan rupanya untuk mencapai pegunungan Emei, memang harus berganti kendaraan, butuh waktu sekitar 2 jam lagi. Buset!!! Padahal waktu sudah menunjukan pkl 19.00 wib.  Sepertinya saya harus menginap di kota ini. Dengan di antar oleh “sopir angkot”. Saya menginap di Yue Bin Hoter, tarifnya murah, dibandingkan di Chengdu, hanya RMB 50. Sebuah hostel yang sangat bersih, lengkap dengan air hangatnya. Tediri dari 3 lantai dimana untuk penginapan berada di lantai 2 dan 3, sedangkan lantai 1 nya adalah minimarket.

Saya taruh tas dikamar, dan segera bergegas keluar kamar, untuk melihat-lihat keadaan di sekitar hotel. Rupanya station bus tidak jauh dari tempat saya menginap. Di sini juga ada tempat-tempat wisata menarik, dan maaf,  saya agak kesulitan menyebutkannya karena ditulis dengan tulisan China.  Saya juga baru tahu, kalau daerah tempat saya menginap ini namanya adalah adalah Bouguo. Mirip-mirip kaya Cipanas sebelum naik ke Gunung Gede/Pangranggo.  Kotanya sepi, tetapi meriah, banyak lampu-lampu dipenggir jalan.  Di kawasan ini, banyak tempat penginapan, dan  tempat kuliner.  Para pedagang teriak-teriak di pinggir jalan ke setiap mobil yang akan menuju Emeishan. Entah menawarkan apa? Mungkin penginapan atau jual makanan … saya nggak tahu persis.

Malam semakin larut, udara dingin sangat menusuk hingga ke sendi-sendi tulang.  Tidak seperti biasanya kalau tidur hingga larut, malam itu tidak. Saya segera tidur, karena harus mempersiapkan fisik  untuk esok hari yang akan naik ke Mt Emei.

***

Pagi-pagi saya sudah bangun, menyiapkan segala sesuatunya, dan bergegas menuju station bis untuk menuju Mt Emei.  Tiket masuk ke Mt Emei, ternyata lumayam mahal, 3 kali biaya menginap di hostel, RMS 150 perorang. Jadi, di pintu gerbangnya, saya disuruh keluar dari bis dulu satu persatu untuk membayar tiket masuk. Selanjutnya kita menggunakan bis yang sama melanjutkan perjalanan ke Puncak Mt Emei.  Sepanjang perjalanan, pemandangan di kiri kanan jalan sangat indah. Udara China yang biasanya selalu tertutup awan tebal, kelabu. Justru di sini kita bisa melihat,  batas antara tertutup awan tebal dan terbuka, terkena sinar matahari langsung. Seolah perjalanan itu, hendak meluncur menembusi pekatnya awan, keluar menuju teriknya sinar matahari.  Luar biasa! Gumpalan awan di bawah itu, di antara pungung gunung, bagaikan lautan, yang sangat indah. Padahal ini di puncak gunung.

Dua jam perjalanan, akhirnya saya tiba di Mt Emei.  Dari kejauhan, saya melihat masih ada sisa-sisa salju yang belum cair. Untuk mencapai puncak gunung, rupanya harus berjalan kaki lagi. Lumayan jauh dan tinggi. Kalau tidak mau capek, sebetulnya ada juga jasa tandu, diangkut hingga ke puncak gunung.  Di kirin kanan jalan setapak ada penjual-penjual the khas China, jamur, dan beberapa tanaman lainnya yang saya tidak mengerti.  Di sepanjang jalan, saya juga menemui beberapa ekor kera berwarna keemasan, tetapi pipinya merah, induk dengan anaknya.

Pendakian, yang sempat beberapa kali istirahat itu, akhirnya tiba juga di puncak Mt Emei. Rupanya di atas sini, ada tempat Ibadah untuk umat  Budha.  Tersedia juga cable car. Bekas-bekas salju dari kejauhan sekarang sudah bisa saya pegang, seperti es serut rupanya.

(Bersambung)


2 responses to “Sisa-sisa Salju di Mt Emei

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: