Enaknya Libur Lebaran ke Dieng

Ada kenikmatan sendiri, ketika melakukan perjalanan, di hari libur Lebaran. Kenapa? Karena perjalanan  sore itu ke Jawa Tengah, sangat  dimanjakan oleh beberapa  bots dari beberapa perusahaan  di sepanjang perjalanan. Kalaupun tidak ada botnya,  minimal umbul-umbulnya sangat meriah, seolah mengantar perjalanan saya … 🙂

Jalur menuju Dieng dan pulangnya

Kalau mobil belum sempat di cek di rumah, bisa dicek di sepanjang perjalanan, bahkan ditangani langsung oleh produsen mobilnya. Badan capek, tinggal pijat dari perusahaan obat penyakit otot dan kesemutan. Pulsa habis? Nggak usah khawatir, banyak yang menjual. Lapar? Tinggal nyeduh mie dari perusahaannya langsung, sambil dengerin musik dangdutan.  Jalan-jalan relative sudah diperbaiki oleh pemerintah daerah.  Bisa saling lihat-lihatan dengan pemudik lainnya. Kalau beruntung bisa masuk tipi, diliput pulak. Asyikkan???

Pintu gerbang menuju Dieng Plateau

Nah … sore itu, setelah berlebaran dengan mertua, dan tetangga kiri kanan.  Kami langsung menuju Jawa Tengah, tepatnya dataran tinggi Dieng. Jalur yang kami pilih adalah melalui Jalur Selatan: Bandung – Tasikmalaya – Cilacap – Purwokerto –  Purbalingga – Banjaran – Wonosobo – Dieng (kalau pulangnya saya lewat Tegal – Cirebon – Cikampek – Jakarta).  Berangkanya tidak macet, hanya tersendat selepas TOL Cikampek ke TOL Purbalenyi, setelah itu lancer. Tiba di Dieng pkl 13.00 wib, keesokan harinya. Sempat tertidur di Pom Bensin di daerah Cilacap, karena ngantuk.

Perjalanan kali ini pun tidak lagi direpotkan dengan jalur yang akan dilalui, karena ketersediaan Google Maps di Android saya.  Hanya beberapa kali saja sempat bertanya, untuk meyakinkan arah yang dituju (sebagai informasi, bahwa di Diengnya sendiri,  sinyal dari operator XL tidak berhasil terdeteksi,

Salah satu pemandangan di Dataran Tinggi Dieng

kecuali IM3 dan Mentari). Selepas dari Wonosobo, menuju Dieng, perjalanannya menaik, dengan pemandangan di kiri kanan jalan, ditumbuhi tanaman khas dataran tinggi: kentang, kubis,wortel, seledri,   dsb.  Aroma kotoran pupuk kandang pun … sudah tercium …  dari pada menghirup polusi knalpot mobil, kayanya mendingan nyium ini dech … 😀

Sampai di sini, kami langsung cari penginapan,  tempat yang kami pilih adalah: Homestay Arjuna dengan tariff:  Rp 250.000,-. Sebenarnya lumayan mahal untuk ukuran homestay, tetapi mengingat saat ini sedang libur lebaran, jadi terbilang murah, saya pilih homestay ini. Lumayan bagus, di banding homestay lainnya, bersih dan sepertinya masih baru

tempat tidurnya. Cuma nggak ada lemari, nggak ada meja, nggak dapat sarapan … 😦   Sebagai informasi, bahwa di Dieng  tidak tersedia hotel berbinang,  hanya homestay yang diperbolehkan berdiri. (daftar homestay, akan dituliskan secara terpisah).

Telaga Warna

Dieng berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya pegunungan di mana tempat para dewa bersemayam.  Terletak di ketinggian 2000-an di atas permukaan laut, jadi cukup tinggi. Bandingkan dengan Tibet yang mencapai 4000-an mdpl, dengan suhu 10-15 C. Ada beberapa tempat menarik di dataran tinggi Dieng, di antaranya: Telaga Warna, Telaga Pengilon, Gua Semar, Gua Sumur, Gua Jaran, Candi-candi  Dieng, Kawah Sikidang,  dsb. Tiket terusan untuk ke lokasi-lokasi tersebut, cukup merogoh kocek sebesar Rp 20.000,- saja.

Telaga Warna di Dieng, sangat indah, memantulkan aneka warna.  Di sebelahnya  terdapat telaga yang menyerupai cermin, Telaga Pengilon namanya.  Dan di antara ke dua telaga tersebut

Komplek Candi Hindu, Arjuna

terdapat: Gua Semar; Gua Sumur yang di dalamnya terdapat sumber air suci yang disebut Tirta Perwitasari; dan Gua Jaran.  Di lokasi ini umuat Hindu sering melakukan upacara Medhak Tirta.

Di lokasi ini juga saat ini sudah dilengkapi sarana pusat interpretasi potensi alam dan budaya Kawasan Dataran Tinggi Dieng yang diberi nama Dieng Plateau Theater (DPT).  Di DPT ini pengunjung akan disuguhi audio visual dan film tentang Dieng dan akifias vulkanik di sini. Menarik. Jadi, selain menikmat keindahan alam, pengunjung juga bisa belajar mengenai vulkanologi.

Kawah Sikidang, adalah salah satu kawah yang terdapat di Dieng yang saya kunjungi. Meskipun nampak menggolak, ternyata ini akibat suhu tinggi di bawah permukaan, jadi, bukan karena akifitas magma.

Kawah Sikidang

Ketika kesana suhu maupun gas yang keluar selalu dimonitor oleh petugas untuk keamanan pengunjung.  Hal ini bisa dimengeri mengingat pengalaman penduduk Dieng yang pernah mengalami petaka di tahun 1979 akibat gas yang keluar dari kawah-kawah aktif di sini.


4 responses to “Enaknya Libur Lebaran ke Dieng

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: