Apa orang Sunda kurang kreatif?

Dalam sebuah proposal yang saya ajukan ke Management, bahwa outing departemen saya kali ini akan mengambil tempat di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Proposal sudah dibuat, itenerary sudah disusun, approval dari Management pun sudah saya peroleh. Tetapi rupanya ada hal yang luput dari pemikiran saya sebelumnya, yaitu peserta orang hamil dan bayi yang masih berumur 5 bulan di departemen saya.

Sedang mengambil gambar di Candi Cangkuang

Sebuah milis di ibackpacker pun tidak merekomendasikan, sehingga rencanapun diganti menjadi, ke arah Garut. Saya sendiri tidak ada persiapan, jadi  tidak tahu apa yang akan dilakukan di sana. Nikmati saja.

Siapa yang paling gendut?

Team IT

Makan siang di Mulih Kdesa

Di Garut, kami menginap di Hotel Cipanas Indah, dengan tarif permalam Rp 350.000,- per villa. Karena jumlah peserta cukup banyak, kami ambil 2 villa.  Sedangkan makan siangnya  di Mulih Kdesa, dengan “bintang tamu”, jeng-jeng (baca: jengkol) goreng.

Ada beberapa tempat yang sebetulnya,  yang bisa  dikunjungi kalau ke Garut, seperti:

  • Situ Cangkuang, jarak dari kota Garut:  16 km
  • Curug Citiis, jarak: 8 km
  • Situ Bagendit, jarak: 13 km
  • Ngamplang, jarak: 5 km
  • Kawah Telaga Bodas, jarak: 28 km
  • Kawah Papandayan, jarak: 27 km
  • Cagar Budaya Ciburuy, jarak: 15 km
  • Air Telaga Neglasari, jarak: 86 km
  • Curug orok, jarak: 29 km
  • Pantai Darmaga, jarak: 84 km
  • Pantai Sayang Heulang, jarak: 86 km
  • Pantai Santolo, jarak: 88 km
  • Pantai Gunung Geder, jarak: 94 km
  • Pantai Cijeruk Indah, jarak: 99 km
  • Kampung Dukuh, jarak: 96 km
  • Hutan Sancang

Sayangnya tidak kesampaian, hanya Candi Cangkuang, dan beberapa pusat kerajinan jaket kulit di Jl A. Yani, Sukaregang saja yang berhasil dikunjungi. Tiket masuk ke Candi Cangkuang, cuma dipungut Rp 3.000,- saja, sudah termasuk ongkos rakit bambu dan masuk ke candi. Kabarnya, candi ini dibangun pada abad ke-8 dan ditemukan pada tanggal 9 Desember 1966.  Candinya tidak begitu besar, apalagi jika dibandingkan dengan candi-candi di Jawa. Apa orang-orang Sunda kurang kreatif?  :-)  Penasaran, saya cari definisi  candi di wikipedia, bahwa candi adalah bangunan tempat ibadah dan penginggalan masa lampau yang berasal dari Agama Hindu-Budha, sebagai tempat pemujaan Dewa-dewa. Candi Cangkuang sendiri terletak di antara 4 gunung, yaitu: Gunung Haruman, Keledong, Mandalawangi dan Guntur. Lokasinya terletak di Kampung Pulo, Desa Cangkuang.  Nama Cangkuang sendiri adalah nama dari sejenis tumbuhan Pandanus furcatus. Untuk mencapainya harus meenggunakan rakit, karena melewati Situ.

Di sebelah candi, juga terdapat makam kuno yang oleh penduduk setempat dianggap keramat, yaitu makam Arief Muhammad yang merupakan leluhur penduduk setempat,  dan juga keturunan Kerjaan Mataram.   Di dalam candi, kabarnya juga ada arca Syiwa. Secara umum candi ini berukuran kecil dan tidak ada relief nya, sebagaimana kebanyakan candi yang sering kita lihat. Karena tidak ada reliefnya inilah sebagai dasar perkiraan bahwa candi ini diperkirakan dibuat pada abad ke-8 tersebut.

Kembali ke pertanyaan saya tadi, apa orang Sunda kurang kreatif dalam hal candi? Mohon koreksi apabila salah, dan sangat mungkin salah. Saya ini bukan orang yang akhli dalam bidang kepurbakalaan, jadi mohon dikoreksi. Menurut saya dalam hal jumlah banyaknya candi, ternyata: Jawa Barat hanya memiliki 4 situs saja yaitu: Batujaya, Bojongmenje, Cibuaya dan Cangkuang sendiri. Bandingkan dengan daerah lain, seperti Jawa Tengah dan Yogyakarta, yaitu: Banyuniba, Barong, Borobudur, Dubrah, Dieng, Gebang, Gedong Sanga, Ijo, Kalasan, Kedulan, Lumbung, Mendut, Pawon, Plaosan, Prambanan, Pringapus, Ratu Baka, Sambisari, Sari, Sewu, dan Sukuh.  Di Jawa Timur seperti: Badhut, Bajangratu, Brahu, Cetha, Gunung Gangsir, Jago, Jawi, Kidal, Kolam Segaran, Panataran, Plumbangan, Rimbi, Sadon, Sawentar, Singasari, Surawana, Tegawangi, Tikus, dan Wringinlawang.  Dan hampir seluruh candi di tempat lain, itu bentuknya punya relief dan dengan bentuk yang lebih bagus. Sedangkan di Jawa Barat, tidak ada reliefnya, bahkan cenderung sederhana.

Kalau umur dibangunnya candi tersebut hanya berdasarkan relief, apakah tidak salah ya? Sebab candi-candi yang lain ternyata ada yang lebih tua, tetapi ada juga reliefnya? Ada yang bisa kasih pencerahan?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: