Bandara LCCT Kuala Lumpur

06/04/2010

Rencananya, saya berangkat ke Chengdu bersama dengan kawan sekantor, Srie dan suaminya. Sayangnya ketika harinya tiba, malah dia nggak bisa pergi. Padahal tiket sudah dibeli. Kebetulan saja si AA membatalkan penerbangannya pada hari itu, sehingga saya bisa mengklaim untuk bisa minta dikembalikan.

Sebelumnya, ketika masih di Jakarta, saya sudah hubungi pihak AA mengenai permohonan pengembalian uang tersebut, tetapi rupanya management AA di Jakarta dengan di Kuala Lumpur, berbeda, sehingga untuk mengurusnya harus hubungi AA yang di Kuala Lumpur. Duh … repotnya, untungnya sedang berada di Kuala Lumpur, kalau nggak? Susah!

Klaim itu akhirnya saya  sampaikan di LCCT R16 dan ternyata tidak sulit, hanya saja tidak dalam bentuk uang cash melainkan dikembalikan ke kartu kredit pada waktu kita pesan.  Memesan tiket jauh-jauh hari memang mengandung banyak risiko. Pekerjaan yang mendadak yang tidak bisa dialihkan  atau jatah cuti yang tidak mencukupi, bisa hangus nih tiket. Makanya strategi saya dalam mencari tiket promo adalah yang benar-benar memberikan nol rupiah, bukan hanya sekedar murah. Sehingga ketika gagal, kerugian pun tidak begitu besar. Itung-itung beramal saja sama si Tuan Frenandez, sang empunya AA.

Kondisi LCCT ternyata lumayan bagus, walaupun bandara khusus untuk berpenerbangan murah. LCCT ini lebih didominasi oleh warna merahnya AA atau jangan-jangan bandara ini juga milik perusahaan tersebut? Saya tidak tahu persis, dan saya juga nggak sempat Tanya ke Mbah Google.

Uang ringgit terakhir saya sudah habis dibelikan mie yang ada di pojok ruangan bandara. Lumayan enak, dan saya pikir cukuplah untuk mengganjal perut selama penerbangan nanti ke Chengdu.

Saya khawatir, apakah ada biaya lain lagi? Setelah melalui beberapa pemeriksaan, oh … ternyata tidak. Berbeda dengan di Indonesia, selalu ada biaya tak terduga. Di sini pajak dan tiket pesawat sudah jadi satu. Entah kenapa di Indonesia, pajak bandara tidak disatukan saja dengan tiket pesawat? Dan kenapa harus mahal. Jadinya kan lucu, tiket pesawat dengan pajak, lebih mahal pajak he he he … Ke Singapura hanya Rp 55.000,- berdua, tetapi pajaknya malah Rp 300.000,-  Sepertinya pajak bandara di Indonesia paling tinggi di antara Negara-negara Asean. Betul nggak ya?

Bersambung


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: