Tiba di Bangkok

31-03-2009

Sore itu, setiba di Bandara Soekarno-Hatta, terus terang agak gugup, karena ini penerbangan pertama kali ke luar negeri, gratis pula. Yang bikin gugup, sebetulnya, karena gratisnya ini. Tidak begitu yakin, apakah tiket yang saya print sendiri ini, apakah benar-benar berlaku?. Oh … ternyata memang bisa digunakan, syukurlah. Kenapa bisa gretong? Karena saya pesan tiketnya, ketika Bangkok sedang dilanda kerusuhan besar-besaran, bahkan bandara pun saat itu dikuasai oleh para demonstran. Banyak orang-orang yang terjebak di bandara ini, sehingga pemerintah Indonesia pun perlu melakukan evakuasi saat itu. Lah saya malah beli tiket untuk kesana hi hi hi …  

Ketika melewati penjagaan pintu berikutnya, lagi lagi saya gugup, benarkah tidak bayar fiskal? Oh … ternyata memang tidak bayar, demikian juga istri saya, cukup menunjukan kartu keluarga. Aman.

Rugi loh sudah bayar pajak, tetapi tidak memanfaatkan fasilitasnya hi hi hi… dasar provokator.

Jam saya menunjukan pkl 19.45 wib, setelah 3 jam 25 menit di pesawat, kami tiba di Bandara Internasional Suvarnabhumi, tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Bangkok. Sebuah bandara yang sangat besar dan cukup megah, sangat berbeda jauh dengan kondisi bandara di tanah air.

Di dekat pintu keluar, ada kios  penukaran uang, tetapi ada yang aneh … semua mata uang bisa ditukarkan di sini, tetapi mengapa Rupiah malah tidak ada di dalam daftar? Untungnya saya bawa dolar, saya tukarkan 100 $ US ke Bath Thailand, saya pikir cukuplah untuk beberapa hari di Bangkok.

Seorang Kun Somai dan Alphard-nya ternyata sudah menunggu kami di parkiran, dia adalah sopir seorang teman saya, Angie. Angie adalah kawan saya ketika kuliah di ITB dulu, orangnya pinter, cantik  dan baek banget.  Seneng banget dijemput, paling enggak saya terhindar menjadi orang blo’on melihat kemegahan bandara yang hiruk pikuk namun teratur ini.

Angie ternyata tinggal di sebuah apartemen yang  menurut saya cukup luas, dan mewah, mirip sebuah hotel berbintang 5. Mungkin kebiasaan orang Bangkok kali ya, semua bangunan, bandara, jembatan, mobil bahkan rumah pun berukuran sangat lapang, tinggi dan luas. Angie dan suaminya memberi saya tumpangan untuk menginap beberapa malam di sana. Lumayan, dari pada nginep di hotel … hi hi hi … mendingan duitnya buat jalan-jalan, paling tidak menambah jalur perjalanan backpacker saya di kota Bangkok.

Bersambung


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: