Ada apa dengan Pasar (Tradisional) Koja?

Seperti sudah menjadi kebiasaan di negeri ini. Setiap kali “peremajaan”  pasar traditional  selalu saja terjadi bentrok, antara pemilik kios dengan pengelola pasar yang dibantu oleh satpol keamanan.  Kenapa sih tidak dirundingkan saja, di antara pihak-pihak yang berkepentingan? Mengapa selalu saja menggunakan bahasa kekerasan (untuk urusan yang seharusnya sangat sederhana)?

Saya sendiri pada posisi yang mendukung keberadaan pasar Koja tersebut yang memang setiap ada kebutuhan selalu berbelanja ke pasar tersebut. Sebagaimana yang pernah saya posting di blog saya yang lain, di sini.  Di sana terlalu banyak orang-orang kecil, yang hanya mendapatkan beberapa rupiah saja dari dagangannya. Sebab dari sana saya justru melihat denyut nadi perekonomian, yang begitu hidup.  Pasar traditional memang tidak senyaman jika kita ke pasar-pasar swalayan yang berudara sejuk. Semua seolah terlayani dengan “baik”, tanpa kita sadari, sebetulnya kita yang membayar untuk “kebaikan” tersebut. Saya tidak bisa membayangkan jika semua masyarakat kita hanya melulu ke pasar swalayan, padahal  cuma untuk membeli odol, beugh …

Saya bukan tidak suka kenyamanan, tetapi saya lebih sangat menikmati dinamika yang ada di pasar traditional tersebut. Sejak dini hari, mereka sudah mempersiapkan dagangannnya, di tengah iringan musik dangdut yang disetel keras-keras.  Ketika kuliah di Bogor dulu, setiap malam saya suka nongkrong di daerah Pasar Bogor atau Ramayana Bogor, hanya sekedar untuk melihat orang-orang yang menurunkan sayur mayur dari mobil-mobil bak terbuka dari desa-desa sekitar. Sementara pedagang lain sibuk menyiapkan dagangan di bawah terangnya lampu patromak sewaan, tak lama kemudian para pembeli yang kebanyakan dari restoran pun berdatangan. Wah … pokoknya seru banget. Di sinilah asyiknya menonton pemandangan pasar traditional tersebut.

Tetapi anehnya, seolah-olah pemerintah koq seperti  tidak begitu suka dengan keberadaan pasar-pasar traditional tersebut. Seolah-olah keberadaan pasar tersebut menunjukan ciri  ketertinggalan, apalagi   jika tidak ada yang namanya Mal, Supermarket atau apapun namanya.  Padahal kalau sudah berdiri pun berapa banyak mall yang pada akhirnya mubajir, tidak laku di jual. Banyak contoh-contoh seperti ini, dan tentu tidak perlu saya sebutkan. Sebab akan semakin tidak laku lagi he he he…

Belum lagi supermarket-supermarket yang tidak tahu diri, yang seenaknya buka usaha di daerah-daerah pinggiran. Apa kurang puas buka usaha di kota-kota besar? Di mana nuraninya para pengusaha tersebut? Di mana juga nurani pemerintah daerah yang mengijinkan berdirinya supermarket terkenal berdiri di wilayahnya?

Terkait dengan kritikan saya kepada supermarket terkenal yang pernah saya postingkan sebelumnya, hingga pada akhirnya beberapa kali saya diundang yang katanya ada acara “round table”, untuk mendengar masukan-masukan. Tetapi saat itu saya tidak sempat hadir, masalahnya waktunya tidak ada.  Kalau cuma sekedar mendengar masukan, mungkin baca postingan saya aja dech … he he he…

Kembali ke masalah Pasar Koja, sebetulnya apa rencana dari pengelola pasar tersebut? Apa benar mau diremajakan? Saya koq tidak melihat kemungkinan akan dibangun. Sebab saya melihat di brosur pemasaran Mall yang baru dibangun di sebelahnya, justru di petanya dijelaskan bahwa kawasan tersebut akan dijadikan kawasan hijau.

Kawasan hijau? Sepertinya sebuah kata yang keren banget he he he… Masalahnya, kenapa juga dibangun Mal di kawasan tersebut? Bukankah di daerah tersebut sudah ada pasar traditional? Bukankah itu namanya pembunuhan? Membunuh usaha orang! Lalu bagaimana dengan nasib para keluarganya?

Selain lokasinya yang berseberangan dengan pasar traditional. Koja Trade Mall (KTM) ini pun bersebelahan persis dengan Bangunan Sekolah.  Tentu ini akan berpengaruh pada tingkah laku pada anak didik.  Sejak bangunan ini didirikan pun sudah sangat mengganggu, bunyi paku bumi, bunyi suara kuli bangunan memasang tembok, dsb.  Membuat pendengaran anak saya pun, saat ini sudah berkurang. Saya punya hipotesis bahwa gangguan pendengaran anak saya (dan mungkin juga anak-anak yang lain di sekolah tersebut) sepertinya ada kaitannya dengan pembangunan mall tersebut. Hipotesis yang menurut saya perlu diuji, dan menarik untuk dijadikan bahan skripsi atau tesis. Sayang saya tidak punya waktu banyak.

Nasi sudah menjadi bubur, Mall sudah berdiri, Pasar Tradisional sudah roboh, yang tersisa hanyalah kebencian dari orang-orang pemilik kios,  kedongkolan para guru yang terganggu oleh bisingnya suara mesin, dan anak-anak yang tidak lagi bisa mendengar dengan baik, tidak lagi bisa konsentrasi penuh pada pelajaran, karena pikirannya terganggu oleh hiruk pikuk kegaduhan pasar.

“Siapa yang kuat, dialah yang berkuasa”.  Jargon jadul ini , ternyata masih berlaku…

Iklan

6 responses to “Ada apa dengan Pasar (Tradisional) Koja?

  • Ikkyu_san

    hmmm memang yang kuat yang berkuasa ya…
    miris.

    EM

    Ya begitulah … 😦

  • langitjiwa

    sayang sekali bila pasar2 tradisional satu persatu hrs hilang ( dibongkar)
    pasar2 tradisional adalah ciri khas masyarakat indonesia sejak dari dulu.
    sungguh,kalau saya belanja di pasar tradisional ada yang asik menyusuri lorong demi lorongnya,dan baunya itu loh yg bikin kangen,haha
    beda jauh dgn suoermarket yg sdh berAC,hehehe
    semua serba diatur,beda dgn pasar tradisonal,mau belanja pake daster,pake sarung,(asal jgn telanjang aja) disitulah seninya.ini mnrt saya loh,mas.haha

    Setuju masn, di ruangan ber AC juga, mata saya suka perih mas, suka terlihat merah …

  • uwiuw

    pasar tradisional indonesia itu memang harus hilang. Seperti banyak hal yg banyak kebudayaan lokal kita. Dgn nangis tersedu kita mengantar wayang orang, mainan tradisional, topeng monyet, dll. Akhirnya bila budaya itu kita butuhkan maka dia akan bertahan, bila tidak yah harus disingkirkan 😀

    begitu jg dgn pasar tradiional bila masih berpikir tradisional. Kejam terdengarnya tp masak kita harus melindungi sesuatu yg ngak mau melindungi dirinya sendiri. 😀

    Iya, betul juga he he he…

  • ciwir

    memang begitulah. orang berduit sak penaknya udelnya dewek…..
    kalo aku punya kekuasaan, tak gusur itu MALL-MALL tak ganti jadi pasar tradisional semua!!!!!!!

    He he he… jangan esmosi mas …

  • muhammad zulfadhli bin yahya

    salam.maaf mencelah.just wanna give opinion.hmm,tatkala membaca artikel saudara harjo,rasa marah meluap-luap.suara orang bawahan tidak diendahkan,suara atasan aja yang laku.,haih,realiti zaman sekarang yang sudah agak jelek.maaf bahasanya ga enak didengar,hehe.fadli malaysia,itb student.

    Salam juga … senang rasanya dengan komentar anda di blog saya.

  • Blogger Senayan

    tukeran link yuu
    kabari saya kalo berkenan
    thanks

    Ayukk. Nanti saya berkunjung …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: