Serentaun, budaya kasepuhan Banten Kidul di Gunung Halimun

Seren Taun adalah pesta panen tahunan secara turun temurun yang disimpan di dalam Leuit si Jimat, yaitu sebuah lumbung komunitas kasepuhan. Sebagai lambang kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat Kasepuhan Cipta Gelar di hutan belantara Gunung Halimun.

Wilayah hutan Gunung Halimun merupakan ekosistem hutan hujan tropis terluas di Pulau Jawa. Saking luasnya, kita akan bingung sendiri jika ke sini, yang mana puncak gunung ini sesungguhnya?. Karena wilayahnya yang berupa punggung gunung yang sambung menyambung  dengan ketinggian bervariasi mulai dari 500 meter dpl hingga 2000 meter dpl. Tambahan lagi, bahwa kawasan ini sejak tahun 2003 sudah disatukan dengan kawasan Gunung Salak menjadi wilayah yang dilindungi, membentang pada tiga wilayah kabupaten, yaitu Bogor, Sukabumi dan Lebak.

Saya sendiri memasuki wilayah ini dari arah Pelabuhan Ratu melalui jalan berbatu nan terjal melalui Desa Sirna Resmi hingga Kasepuhan Cipta Gelar dengan waktu tempuh sekitar 2 jam.

Sebetulnya ada beberapa komunitas Kasepuhan lainnya di kawasan Taman Nasional ini, yaitu: Sirnaresmi, Ciptamulya, Cisitu, Cusungsang, Ciusul, Cibedug, Urug, Cicarucub, Bayah, dan Giru Jaya. Loh koq di Taman Nasional diperbolehkan tinggal? Nah, di sinilah menariknya lokasi ini. Komunitas di sini sudah lebih dulu ada sebelum kawasan ini dijadikan Taman Nasional. Bahkan sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Mereka adalah sisa-sisa keturunan pasukan Pajajaran yang kemudian menyingkir ke hutan balantara Halimun karena serangan tentara Kesultanan Banten.  Kepala adat Kasepuhan disebut Abah, yang merupakan keturunan Prabu Siliwangi yang saat ini dipimpin oleh Abah Ugi Sugriana Rakasiwi.

Hal menarik di Kasepuhan Cipta Gelar ini, sebagaimana yang dikemukakan oleh Abah Ugi bahwa penanaman padi hanya ditanam satu kali dalam setahun. Berbeda dengan kawasan lain yang biasanya 1 tahun bisa mencapai 3 kali panen. Setiap hasil panen kemudian disimpan disebuah lumbung yang disebut Leuit di Jimat, yaitu sebuah lumbung komunitas yang menjadi simbol kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat setempat. Menurut Abah Ugi bahwa lumbung ini adalah untuk persediaan makanan yang dapat menghidupi masyarakat kasepuhan selama 2 tahun.

Acara yang berlangsung dari tanggal 1 hingga 3 Agustus 2008 ini, juga dihadiri oleh pejabat Bupati Sukabumi,  cukup meriah. Beberapa pesta rakyat digelar selama 3 hari berturut-turut di antaranya: Jipeng, Topeng, Wayang Golek, Ujungan, Debus, Pantun Buhun, Angklung, Dok-dok lojor, Calung renteng, Celempungan, Karinding, Pencak Silat, Gondang, dsb. Semoga keberadaan dan kelestarian hutan di gunung Halimun dapat terpelihara dan masyarakat di dalamnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam membangun ekosistem, dengan tidak saling meniadakan. Seren taun, adalah sebuah kegiatan yang cukup menarik, yang bisa dijadikan sebagai magnet dalam mendukung kegiatan kepariwisataan di Sukabumi dan sekitarnya.

Sebuah pertanyaan yang menggelitik dan ingin saya kemukakan diblog ini untuk didiskusikan, yaitu kebiasaan mereka yang suka pindah (tergantung wangsit yang diterima si Abah) karena setahu saya sebelumnya adalah bertempat di Cipta Rasa, dan sekarang Cipta Gelar. Apakah nantinya tidak akan merusak ekosistem yang ada? Pada tulisan mendatang akan dibahas, bagaimana kearifan mereka dalam memelihara kohesi yang baik antara lingkungan dan keberadaan masyarakat di atasnya.

(Bersambung)

Iklan

9 responses to “Serentaun, budaya kasepuhan Banten Kidul di Gunung Halimun

  • pengendara

    apakah mereka nomaden,
    atau punya tempat tinggal tetap namun hidup berpindah-pindah. karena kalau dilihat digambar sepertinya mereka bangun rumah permanen.

    Bisa jadi disebut nomaden, tetapi dengan jangka waktu yang lama, tergantung wangsit.

  • syifa

    cariin ttg kbdyaan banten dong

  • ade adinda

    sumpah di sana sangat indah dan menyenangkan,,
    abah ugi cakep

  • RIDO

    saya sangat senang dengan maju nya masyarakat di wilayah banten kidul… sepenenggilan antam setelah antam pasca tambang tidak ada sesuatu yang siknifikan terhadapperubahan dan perkembangan perekonomian di cikotok, cisungsang cisitu padahal harapan masyarakat disini masyarakat mengharapkan setelah pasca tambang daerah cikotok cisungsang dan cisitu tidak di tinggalkan begitu saja melainkan dapat di tingkat kan prasarana dan sarana nya, sedangkan dalam undang undang pertambangan UU No 4 Th 2009 disebutkan disana bahwa kewajiban perusahaan setelah Pasca Tambang adalah mereboisasi lahan kawasan Pertambangan nya dan memberikan kontribusiterhadap Perkembangan Sarana serta Fasilitas fasilitas Publik di sekitar kawasan pertambangan nya .. inilah yagn nanti nya menjadi pekerjaan rumah kita bersama , mengingat sebagian besar masyarakat di wilayah banten selatan hidupdari usaha pertambangan rakyat sebaiknya pemerintah memikirkan untuk memberikan ijin Usaha pertambangan rakyat terhadap masyarakat di wilayah ini sehingga masyarakat tidakmenjadi susah dalam pencaharian nya

  • Budi

    gila d sana tuh muanteb banget dah, gw dah beberapa kali kesana, dimulai dengan keinginan abah ugi untuk membuat radio komunitas adat sekarang bernama Radio Suara Cipta Gelar (RSC) di glombang 107,7 FM, tanggapan masyarakat d sna juga positif, biarpun d atas gunung tapi masalah teknologi mereka ga kalah, untuk pelestarian alam mereka juga hebat, pokonya salut buat masyarakat ada di Kesatuan adat banten kidul

  • Intan Kenanga

    Hebat… Luar Biasa Hebat… jadi kangen sama kampung halaman desa Ciptagelar banten kidul…

  • noorhaddie

    orang sunda intina kudu maju..

  • Witjaksana

    Melestarikan budaya adalah suatu yg baik dimana kita bisa banyak belajar tentang hidup dan kehidupan dan untuk apa kita dihidupkan, succes

  • cep teddy

    myvillage is beatifull deh…. I miss…. all people (TURKI)
    we hope …… Banten people can compitition in the word

    Acara seren taun yang diadakan setelah panen raya biasany bertepatan dengan bulan juni & juli… ketika acar tersebut diadakan itu tidak hanya diadakan di kasepuhan yang satu saja melainkan disana ada beberapa kasepuhan, dan acara dan adatnya pun berbeda tapi sebagian besar hampir sama, kebanyakan adat banten kidul tersebut. banyak dihadiri oleh pejabat pemerintahan kota dan daerah… banyak hal yang banyak dipetik dari acara tersebut diantaranya saja kesejahteraan masyarakat kian hari meningkat seiring dengan kemajuan jaman..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: