Kisah Perjalanan ke Gunung Halimun

Ini adalah kisah perjalanan saya dan istri ke Gunung Halimun. Sebuah tempat menarik yang patut dikunjungi oleh Anda yang mengaku backpacker, penikmati keindahan alam, budaya dan tempat-tempat eksotik. Seren Taun, Cipta Gelar 3 Agustus 2008. (Bagian ke-1)

Sebuah rencana yang sudah kami susun sejak 2 minggu yang lalu. Beberapa persiapan sudah kami lakukan, termasuk di dalamnya mencari informasi menarik di sana dari sebuah majalah National Geographic edisi Juli 2008.

Perjalanan kali tidak menggunakan kendaraan, namanya juga backpacker, masa bawa kendaraan? Yang pasti, yang dibawa ya, backpack. Untungnya menggunakan kendaraan umum, kita bisa sambil tidur … he he he… 

Hari sabtu (2/8), sepulang kantor dengan menggunakan kendaraan umum, kami naik Bis MGI (AC) trayek Depok – Sukabumi, dengan ongkos sebesar Rp 20.000,-.  Cukup nyaman, karena 1 bis isinya cuma 5 orang. Karena saking nyamannya berkendaraan bis ini yang  rencananya berhenti di Cibadak menjadi terlewat hingga kota Sukabumi :D  hujan yang mengguyur deras sepanjang perjalanan membuat saya semakin terlelap. Untung dibangunkan kondekturnya, kalau enggak bisa-bisa langsung masuk ke poolnya.

Sehingga saya harus balik lagi dengan menggunakan angkot menuju Cibadak. Sampai di sini, waktu sudah menunjukan pukul 21.00 wib, ternyata bis menuju Pelabuhan Ratu sudah tidak ada. Akhirnya kami  menggunakan kendaraan omprengan, Suzuki APV dengan tarif Rp 20.000,-. Sampai di Pelabuhan Ratu sekitar pkl 24.00 wib, perjalanan terpaksa tidak bisa saya lanjutkan, karena sudah larut malam. Mencari penginapan, dan langsung ngorok.  Ini di luar agenda, sebetulnya rencananya pemberangkatan seharusnya tanggal 2 Agustus malam, tetapi berhubung ada beberapa pekerjaan di kantor  yang harus dilakukan lebih dulu, termasuk sekolah anak-anak, membuat rencana tersebut menjadi tertunda.

Pagi-pagi, setelah kami menginap semalaman di sebuah hotel dekat kantor polisi, langsung menuju terminal untuk mencari kendaraan menuju Cipta Gelar, yaitu kendaraan Hi Line. Banyak kenek-kenek yang mengerubungi kami di terminal itu. Untuk menghindari kerumunan tersebut, seperti biasa kami gunakan jurus “cari makan dulu”. Dan yang dipilih adalah bubur ayam. Lumayan enak, atau memang lagi lapar ya? Sampai habis 2 mangkok, sebuah rekor baru yang sebelumnya tidak pernah😀

Mengapa saya tetap menunggu si Hi-Line ini. Karena sesuai informasi dari milis NGI, bahwa ongkosnya cuma Rp 35.000,- bandingkan jika naik ojek yang bisa mencapai lebih dari Rp 100.000,-. Tetapi kendaraan yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang juga.  Tiba-tiba si mamang ojeknya  menawarkan dengan harga Rp 150.000,- untuk 2 orang dan 2 motor. Langsung saya setujui.

Dan ternyata, begitu setuju, datanglah sang Hi Line itu memasuki kawasan terminal. Hah?? Yah … karena sudah deal lebih dulu (pantang bagi saya membatalkan deal tersebut), saya tetap naik ojek motor. Sejauh ini saya masih belum kebayang jalanan menuju ke sana sebetulnya seperti apa. Sampai di Pangguyangan jalanan masih lumayan bagus, walaupun banyak lobang tetapi dapat dilalui oleh kendaraan roda empat. Biasanya pengunjung yang membawa kendaraan biasa di parkir di daerah ini. Ada beberapa penginapan. Perjalanan setelah ini, sangat parah, tetapi bisa dilewat oleh kendaraan offroad. Jalanan cukup terjal dengan kemiringan 45 derajad bahkan lebih. Sehingga sesekali saya harus turun dari motor, karena tidak kuat nanjak si mamangnya. Tibalah kami di sebuah desar yang cukup indah, namanya adalah desa Cita Rasa. Kabarnya sebelum pindah ke Cipta Gelar pada tahun 2001 di sinilah tempat si Abah. Alasan kepindahan katanya karena menerima wangsit yang mengharuskan masayrakat tersebut pindah.

Perjalanan yang cukup melelahkan dan menegangkan tersebut, akhirnya kami sampai juga di lokasi, dengan memakan waktu kurang lebih 2 jam-an. wajar saja jika ongkos ojeknya Rp 150.000,- bahkan akhirnya saya tambahkan.

Ternyata suasana di sini sudah sangat ramai, ada beberapa artis yang saya kenal tetapi tidak tahu namanya nampak hadir. Sekedar catatan, penduduk di sini yang bekerja di kota, jika Lebaran bisa jadi tidak pulang tetapi untuk acara yang namanya Seren Taun, kata mamang tukang ojek,  pasti pulang. Bisa kebayangkan ramenya?

Acara yang dimulai sejak tanggal 1 Agustus itu, ketika saya datang hanya menyisakan tinggal beberapa acara saja. Banyak wartawan dari media cetak maupun elektronik berseliweran, penduduk di sini pun sangat ramah, sesekali meraka bertanya, “dari media apa mas?”. Nah loh he he he… bingung saya jawabnya.

Banyak dari antara mereka sudah menginap sejak 2 hari yang lalu di Imah Gede, rumah Abah. Saya sendiri termasuk yang diundang dalam sebuah milis untuk menginap di situ. Tetapi karena jadwal pekerjaan saya tidak menentu, saya memilih jalan sendiri.

Siapakah masyarakat Cipta Gelar? Sangat menarik.  Nantikan pada tulisan saya selanjutnya.

 


9 responses to “Kisah Perjalanan ke Gunung Halimun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: