Ngintip Banteng di Padang Penggembalaan Cidaon

Perjalanan kami selanjutnya, adalah padang penggembalaan Cidaon,  rencananya sih mau melihat kumpulan banteng (Bos javanicus) yang sedang merumput. Untuk memasuki kawasan ini rupanya harus membayar lebih dulu di pos penjagaan Balai Taman Nasional Ujung Kulon Resort Peucang, sebesar Rp 10.000,- . Dengan menggunakan kapal motor kami menyeberangi laut sekitar 20 menit, akhirnya sampailah di dermaga Cidaon.

 

Sesuai ketentuan TNUK bahwa, untuk memasuki kawasan ini, pengunjung harus di antar oleh pemandu setempat. Kami trekking dari dermaga menuju padang penggembalaan, yang rupanya tidak terlalu jauh, hanya butuh kurang lebih 10 menit perjalanan saja.

 

Sesampainya di sini, saya menaiki menara pengintai yang tingginya kurang lebih 5 meter-an. Dari menara pengintai ini seharusnya saya bisa melihat kawanan banteng. Namun sayang sekali, mungkin  karena waktu yang tidak tepat, kami tidak melihat seekor pun banteng yang nongol. Rupanya untuk melihatnya, harus sore hari. Kekecewaan tersebut terobati dengan adanya beberapa ekor burung merak yang sempat terlihat dari kejauhan. Bagi saya, melihat burung merak sudah sering, tetapi melihat di habitat alaminya, tentu merupakan kejadian langka.

 

Menurut informasi, bahwa jumlah populasi Banteng di TNUK, pada tahun 1970 yang dicatat oleh Hoogerwerf berjumlah 100 ekor. Tahun 1978 jumlahnya meningkat menjadi 200  ekor (Blower dan Zon, 1978), kemudian bertambah lagi menjadi 748 ekor (TNUK, 1984), dan pada tahun 1997 penelitian yang dilakukan oleh Dr. Harini tercatat sudah mencapai 905 ekor.

 

Kabarnya, menurut informasi penelitian terakhir yang dilakukan oleh Yayasan Mitra Rhino dan WWF di sini, bahwa besarnya jumlah populasi banteng ternyata mempengaruhi laju perkembangbiakan badak Jawa (Rhino sondaicus), yang menjadi primadona TNUK. Persaingan ini diduga diakibatkan oleh  menyusutnya padang penggembalaan dan bertambahnya populasi banteng, sehingga perilaku makan banteng menjadi berubah, yaitu semakin masuk ke dalam hutan. Kedua binatang herbivora ini saling bersaing dalam memakan  tumbuhan yang sama. Persaingan ini mengakibatkan sediaan makanan bagi badak menjadi berkurang. Akibatnya pola aktifitas dan pemakaian ruang jelajah pun berpengaruh pada kualitas hidup dan perkembangan badak. Hal ini mudah dipahami karena banteng hidup dalam berkelompok sehingga mudah dalam melakukan reproduksi. Berbeda dengan badak yang cenderung soliter, ditambah gangguan banteng menyebabkan kualitas hidup badak menjadi kurang.

 

Sekitar pukul 10.00 wib kami kembali berlayar ke Pulau Peucang, sambil makan nasi goreng yang disiapkan oleh ABK. Wah asyiknya … 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: