Guru koq, disamakan dengan teroris

Profesi guru seharusnya dijunjung tinggi, mereka adalah orang-orang yang punya nurani,  komitmen tinggi untuk mendidik anak-anak bangsa. Itu sebabnya saya menjadi terkejut, ketika tiba-tiba saja,   mendengar kabar beberapa guru dianggap sebagai teroris, harus berhadapan dengan Dansus 88 Antiteror. Pencitraan guru sebagai teroris adalah sebuah kabar buruk. Pantaskah pendidik diperlakukan seperti itu?

 

Padahal kalau ditelaah lebih jauh, penyebabnya adalah system pendidikan yang kurang tepat. Di jaman reformasi ini, praktek-praktek otoriter dan arogansi kekuasaan ternyata masih ada, justru di bidang paling fundamental, pendidikan.  Kecurangan adalah satu soal (yang memang tidak bisa dibenarkan), soal lain, mengapa hal itu bisa terjadi?.

 

Seharusnya belajar bukanlah semata-mata untuk menyiapkan diri menghadapi ujian, melainkan belajar mengembangkan kemampuan menghadapi kehidupan. Berangkat dari pemikiran tersebut, menurut saya ujian nasional tidak bisa dijadikan ukuran untuk meningkatkan pendidikan.

 

Di Negara lain,  ujian nasional diadakan tujuannya hanyalah untuk memonitor dan menjaga standar pendidikan, di Indonesia justru bersifat vonis, lulus atau tidak.

Padahal sepengetahuan saya masih banyak persoalan yang melingkupi sekitar ujian nasional itu sendiri, sebagaimana yang pernah dikemukakan sebelumnya oleh Mantan Kepala Pusat Pengujian Dep. Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kompas (4/12/2007). Di antaranya, masalah metodologis yang dinilai tidak mengikuti kaidah pengelolaan system ujian yang baik, skor penilaian tidak menggunakan skala yang benar, selain itu ujian tidak dilaksanakan oleh lembaga yang punya otoritas di bidang pengujian.

 

Kritik dan protes yang ditujukan ke pemerintah oleh guru, dan pelajar, atas pelaksanaan ujian nasional beberapa waktu lalu, juga kemenangan atas  class action warga negara di Pengadilan Tinggi nampaknya tidak membuat pemerintah bergeming. Anjing menggonggong, ujian nasional pun terus berjalan.

 

Ujian Nasional akhirnya menjadi satu-satunya alat ukur dalam menilai kelulusan siswa.

Kepala Sekolah dan guru menjadi terbebani oleh target, sehingga perlu mengembangkan jurus-jurus tertentu dalam menghadapi berbagai macam soal, dengan waktu yang sesingkat-singkatnya. Tidak sedikit juga, demi reputasi banyak sekolah yang mengadakan kerjasama dengan lembaga-lembaga bimbingan belajar.

 

Kebijakan politik atas pendidikan tersebut, membuat sekolah saat ini tidak lebih dari institusi pelatihan (drilling), alias bimbingan belajar.  Sejatinya, sekolah adalah sebuah tempat pembelajaran (learning).  Keputusan politik tersebut, tidak sedikit membuat guru terjebak untuk berbuat curang, karena kasihan terhadap siswa yang tidak lulus. Sementara kepala sekolah pun dibebani target kelulusan.

 

Sudah saatnya ujian nasional itu dihentikan. Kembalikan otonomi guru, pulihkan citra dan wibawa mereka sebagai pendidik.

Bagaimana dengan pendapat Anda?

 

Iklan

4 responses to “Guru koq, disamakan dengan teroris

  • nh18

    HAH …
    Judulnya serem amat yak …

    But aku setuju banget dengan kalimat terakhir postingan mas Harjo … !!!

    Sudah saya ganti judulnya mas, sebelumnya “Ketika guru dianggap sebagai teroris”
    Kayanya sama aja ya?

  • uwiuw

    sy setuju dgn keputusan pemerintah. semakin kompetitif sebuah generasi semakin bagus kemungkinan mereka mewakili bangsa mereka di dunia internasional. buat hidup mereka sejak awal agar mereka lebih tangguh. kalau dibanding generasi kami, yg lulus sma thn 2000…anak anak sekarang tuh juh lebih kompetitif dan ekspresif. dan dgn jujur sy berani mengatakan mereka lebih siap nantinya dgn perubahan2 drastis 🙂

    Sepertinya untuk kasus ini, kita beda warna ya Mas … he hehe … Kita kan tidak harus satu warna. Masalahnya, anak-anak yang diuji sekarang ini warnanya beda-beda tetapi diukur dengan alat ukur yang sama. Masa orang yang sekolah di SLB menggunakan soal yang sama dengan orang di sekolah biasa. Demikian juga perbedaan antara Sekolah di daerah terpencil yang minim fasilitas dengan di daerah kota-kota besar.

  • realylife

    setuju banget pak
    semoga , guru ke depannya bisa jadi panutan dan hidup layak se layak layaknya
    amin

  • elyswelt

    bicara tentang guru ….. hmmm jadi kangen ngajar lagi nih 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: