Arsip Tag: Teori Evolusi

Diblokir komunitas teori evolusi (lagi)

Secara tidak sengaja saya membuka page-nya, komunitas teori evolusi di sini, facebook.com/teori.evolusi.  Sebuah page dari jejaring sosial, di mana saya pernah menjadi anggota di dalamnya untuk berdiskusi, yang kemudian diban (blokir) oleh para pengelolanya beberapa waktu lalu, seperti yang pernah saya ceritakan di sini.

Kemarin saya sempat melihat ada seorang yang menanyakan masalah saya tersebut, kenapa saya sampai diban,  sebagaimana diskusi di page tersebut di bawah ini, yang saya copykan dari pagenya, http://www.facebook.com/teori.evolusi, sebagai berikut:

Chodirin San,  15 April 2012, “ Minta tanggapan dari pengelola. Beginikah cara bertindak pengelola? Membanned jika tidak mampu berargumentasi?

http://harjo.wordpress.com/2011/08/22/dibanned-dari-komunitas-teori-evolusi/

Kemudian pertanyaan tersebut ditanggapi oleh Karl Kanadi, 16 April 2012, seorang Founder and President Indonesian Atheist, “ Anda bisa lihat di sini bahwa ada banyak komentar2 dan argumen2 yg tidak diban karena isi argumennya, bahkan ada beberapa makian dan provokasi yg kami biarkan meski seharusnya diban. Hari Jo masih ada post2nya meski sudah agak lama beberapa bulan lalu, jawaban2 dari kami juga masih lengkap.  Alasan seseorang diban hanyalah bila dia melakukan “trolling”, yakni tidak beritikad baik dalam berargumen, ditunjukkan dengan memberikan makian atau pernyataan2 tidak sopan menyerang personal, atau mengulang pertanyaan2 yg sama dan tidak menghiraukan jawaban yg telah diberikan. Kalau anda masih meragukan moderasi page ini, silahkan anda atau siapapun untuk copy paste dan post ulang argumen2 yg anda sebut membuat kami tidak mampu berargumentasi dan kami akan coba menjawabnya. Anda bisa post di thread ini ataupun buat thread baru di wall. Selama tetap diperhatikan cara penyampaian dan kesopanan dalam berdiskusi tentu tidak akan ada masalah”.

Kemudian, ditanggapi kembali oleh Chodirin San.

Chodirin San, 16 April 2012,  ”Lantas apa alasan anda membanned atau memblokir pak hari? Kalo lihat history2 diskusinya dikompasiana dan di milis yahoogroups, tidak pernah saya dapati beliau melakukan makian, mengulang2 pertanyaan yg sama atau tidak menghiraukan jawaban atas diskusinya. Apalagi melhat track record pekerjaan beliau, sepertinya tidak mungkin melakukan hal2 bodoh seperti yg anda sebutkan.

Justru yang berisi makian dan provokasi itu yang sebenarnya bodoh, sehingga saya melihat cukup masuk akal jika tidak dibanned, karena di satu sisi akan merendahkan orang yg memaki tersebut dan disisi lain bisa jadi alasan untuk memamerkan bahwa pengelola sangat demokratis. Tapi saya tidak akan memperpanjang polemik ini. Saya hanya minta penjelasan kenapa sampai pak hari dibanned/diblokir. Thanks”.

Kemudian, direspon oleh Horas Halihi Raja.

Horas Halihi Raja, 17 April 2012,  “Hari Jo dibanned atas keputusan beberapa pengelola, bukan karena makian atau kata2 kotor, tetapi karena tidak perduli dengan tanggapan/respon terhadap opininya dan ngotot bertahan walaupun sudah jelas2 respon2 tersebut menjawab argumennya. Hari Jo juga diajak melanjutkan diskusi di tempat lain, di profil masing2 yang ngajak, termasuk saya, tetapi dia malah ngotot telah menganggap dirinya ‘menang’ karena telah dibanned dari page ini, bagi saya sih lebih baik memaki2 daripada bersifat seperti itu hehehehe”

Kemudian ditambahkan oleh Karl Karnadi,

Karl Karnadi , 17 April 2012 “‎ ..kalau menurut anda demikian anda dipersilahkan untuk post ulang pertanyaan atau argumen yg dia nyatakan dan kami akan menjawabnya”.

Saya hanya ingin mengomentari atas diskusi tersebut.

  1. Saya diban dari page tersebut, karena memang para pengelolanya tidak mampu membantah terhadap fakta-fakta  yang saya kemukakan di antaranya mengenai temuan fosil Eugene Dubois, mengenai Homo erectus.
  2. Saya tidak pernah memaki-maki  dengan kata-kata yang tidak sopan, hal ini bisa dilihat dari setiap kalimat yang saya ungkapkan, saya tidak pernah berkata yang sifatnya memaki. Bisa dilihat di milinya evolusi yang dikelola oleh seorang penerjemah buku-buku bertema evolusi.
  3. Saya dianggap mengulang-ngulang, ngotot dan bertahan atas pendapat saya. Kalau memang benar begitu, bukankah pengelola bisa menjawab juga, tanpa harus memban. Apa yang dia lakukan menunjukan bahwa yang ngotot adalah pihak mereka, ngotot tidak mengakui kekurangannya, sehingga perlu mensterilkan pendapat yang berseberangan dari page tersebut. Apakah seperti itu, cara bederbat? bukankah katanya teori evolusi adalah teori ilmiah, sehingga ada ruang untuk diperdebatkan, benar tidaknya teori tersebut.
  4. Kata-kata kotor, memang diijinkan, seperti yang saya lihat pada diskusi saat ini berlangsung, tetapi selama jalannya diskusi itu mereka kuasai. Tetapi begitu tidak dikuasai, langsung disterilkan, mungkin akan bernasib sama.

Terakhir, sebetulnya kenapa sih saya berepot-repot berdebat, diskusi mengenai ini, yang sepertinya tidak akan ada habis-habisnya, membuang energi, memboroskan waktu?. Tujuan saya hanya satu, untuk mengimbangi informasi yang keliru, dari rimba raya di dunia maya. Salah satunya dari page tersebut, dan juga sosialisasi dari teman-teman yang bersikap atheis, dan menularkan ide-idenya melalui account di jejaring sosial tersebut.

Menurut saya atheis adalah soal kepercayaan, sama seperti Agama. Dan itu adalah hak siapapun, di mana saya tidak perlu untuk campur tangan atas urusan orang lain tersebut, dan itu harus dihormati. Tetapi saya merasa perlu mengingatkan, tentunya melalui tulisan-tulisan dan komentar saya, jika menjadi atheis itu karena menggunakan kendaraan  teori evolusi ini. Teori evolusi adalah bidang kajian saya selama ini. Dan saya tahu betul di mana letak kesalahan dan awal mula kesalahan dari ilmu tersebut.

Dan pemikiran saya inilah, yang saya berusaha untuk tularkan kepada segenap pembaca, baik melalui blog, page, jejaring sosial dll. Salah satunya ada di http://kompasiana.com/harjo dan juga di sini.  Sudah ada belasan artikel saya buat di sana. Tetapi sebagaimana keinginan dari Karl Karnadi dan Horas Halihi Raja yang dia kemukan di page tersebut, untuk mendiskusikan masalah tersebut, nyatanya hingga saat ini, belum ada argumen yang dia sampaikan, untuk membantah tulisan-tulisan saya tersebut.


Apakah beruang berevolusi menjadi paus? (1/2)

Paus adalah salah satu hewan yang sangat luar biasa dan mengagumkan. Ada dua hal menarik yang, membetot rasa keingintahuan saya. Pertama, mengapa binatang yang cerdas dan perenang ulung  di samudra raya ini, justru  sering  terempas? Kedua, apakah benar bahwa paus adalah hasil evolusi dari beruang?

Kasus-kasus  terdamparnya paus di Indonesia, semakin sering terdengar belakangan ini, terakhir kejadian di Bali.  Sejak tahun 1987 hingga 2011  tercatat sudah ada 78 kasus.  Menurut para peneliti mamalia laut, yang dibahas dalam Majalah National Geographic  Indonesia edisi April 2012,  “ada 4 kemungkinan yang menyebabkan paus terdampar. Pertama, karena sakit yang disebabkan oleh parasit atau tercemar logam berat. Kedua, mengalami disorientasi, baik karena pengaruh sonar frekuensi rendah atau  karena cuaca yang buruk. Dan  ketiga,  karena pengaruh bintik matahari dan siklus bulan”.

Saya tidak ingin membahas lebih jauh mengenai ini, saya ingin langsung membahas pada pertanyaan kedua, apakah Paus Berevolusi dari Beruang?

Sampai saat ini, para evolusionis masih  kekeuh, bahwa,  paus itu berevolusi dari salah satu ras beruang, yang bentuknya mirip seekor anjing.  Pemikiran ini bermula ditularkan oleh tulisan Charles Darwin melalui bukunya, The Origin of Species. Meskipun sejak awal penerbitan buku tersebut khususnya masalah evolusi paus ini sudah banyak ditentang oleh para ahli, tetapi tidak sedikit juga yang mendukung.

Saya termasuk orang yang tidak percaya, karena memang tidak ada dasar ilmiahnya.  Dan untuk jumlah yang tidak sedikit inilah saya ingin mencoba menularkan pemikiran saya.

Sebagaimana dikemukakan banyak para ahli sebelumnya, bahwa  penolakan itu didasarkan pada adanya batasan ketat di dalam informasi genetis yang sudah ada.  Variasi di dalam spesies  itu dimungkinkan, termasuk juga pada beruang, tetapi variasi ini tidak menambah informasi baru di dalam gen sehingga mengubahnya menjadi ikan paus.

Tetapi Darwin berpendapat berbeda, dia berimajinasi,  variasi itu dapat berkembang tanpa batas.  Suatu ras beruang, melalui seleksi alam, menjadikannya semakin terbiasa dengan lingkungan perairan, sehingga mulut semakin lebar, sampai akhirnya menjadi paus.

Tentu saja pandangan ini tidak bisa dipertanggungjawaban. Kondisi lingkungan yang berubah tidak bisa diabsorbsi ke dalam informasi genetis. Ini adalah dasar penolakan para ahli di awal penerbitan bukunya Darwin itu.

Saya akan membahas masalah ini, tetapi saya coba kaitkan dengan penelitian baru-baru ini yang dilakukan oleh Alistain Evans dan timnya dari Monash University. Para peneliti, yang terdiri dari 20 ahli Biologi dan Paleontologi itu, yang katanya berhasil mengukur laju kecepatan evolusi pada beberapa kelompok hewan mamalia.

Hasil penelitian yang dipublikasikan baru-baru ini dalam Jurnal Proceedings of The National Academy of Science’s itu cukup menarik. Menariknya, mereka menyimpulkan bahwa perubahan bentuk dari hewan seukuran tikus ke gajah dibutuhkan 24 juta generasi. Sedangkan paus butuh dua kali lebih cepat dari mamalia darat. Sehingga kurang lebih, mungkin,  dibutuhkan 12 juta generasi untuk menjadi paus.  Artinya, ada 12 juta representasi generasi atau spesies transisi dari beruang ke bentuk ikan paus.

Kalau pendapat Darwin itu benar, bahwa paus itu berevolusi dari beruang. Maka sesuai penelitian Evans dkk, paling tidak dibutuhkan 12 juta generasi. Nah, sekarang mari kita telaah pemikiran Darwin itu, menggunakan perhitungannya Evans.

Serentetan generasi dari beruang hingga menjadi paus itu, bukanlah jumlah yang sedikit. Kalau hipotesis Darwin itu benar, dan penelitian Evans itu itu bisa dibuktikan.  Tentunya akan banyak ditemukan timbunan fosil-fosil species hewan transisi sebelum paus itu menjadi beruang.  Itu baru hanya dari satu contoh spesies saja, yang produk akhirnya Paus.  Lalu bagaimana dengan spesies  hewan lainnya yang sama-sama mengalami evolusi?  Artinya, betapa luar biasa tebalnya lapisan kerak planet bumi ini oleh timbunan fosil.  Sangat, sangat, tebal!.  Tetapi, adakah bukti-bukti fosil hewan transisi ini yang ditemukan?

Sehingga tidak heran, jika Darwin pun dalam  The Origin of Species pun sempat galau, sebagaimana yang dia tulis secara khusus pada halaman 185. Menurutnya,  “jika spesies  berasal dari spesies lain melalui perubahan, mengapa kita tidak melihat  banyak bentuk transisi di mana-mana?”

Kegalauan Darwin pun beralasan, faktanya, hewan peralihan yang seharusnya jumlahnya luar biasa itu tidak ditemukan di belahan bumi mana pun.  Sejak buku ini diterbitkan tahun 1958, hingga artikel ini saya tulis, 27 April 2012, fosil-fosil peralihan itu tidak pernah berhasil ditemukan. Paling tidak dari 12 juta spesies peralihan itu, ada 5 atau 10 atau 20 fosil.

Fakta kedua

Saya mencoba mengikuti logikanya para evolusionis, kira-kira bagian apa yang lebih dulu mengalami perubahan,  sebelum  beruang  itu nyemplung menjadi paus?  Mungkin,  tubuhnya yang semula  dilindungi oleh bulu yang tebal dan lebat, akan mulai berkurang;  atau, tangannya yang semula memiliki cakar akan berubah menjadi ada sedikit selaput; atau, kakinya, yang mungkin akan menghilang, dan seterusnya. Dan tentu, masih banyak perubahan-perubahan awal lainnya.

Pertanyaannya,  apakah bentuk perubahan awal itu sudah dapat berfungsi  dengan baik? Tentu saja belum berfungsi.  Perubahan kecil itu tentu bukan suatu kebaikan, melainkan kerugian bagi eksistensi hewan tersebut. Bayangkan, bulu tebal yang dia butuhkan di udara yang dingin, yang notabene masih hidup di darat justru malah berkurang. Cakar yang dia gunakan untuk bertahan hidup melawan musuh alaminya, justru menjadi ditumbuhi selaput. Kakinya, sedikit demi sedikit mulai menghilang yang justru masih sangat dibutuhkan ketika dia hidup didarat.

Perubahan-perubahan kecil (mikro mutasi) ini jelas-jelas sangat merugikan bagi kelangsungan hidup hewan tersebut.  Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak berguna di tahap awal perkembangan bisa terus berkembang, apalagi diabsorbsi menjadi informasi genetis? Jangankan berkembang, bertahan hidup saja susah. Konklusi yang sama, juga pernah dijelaskan oleh Richard Goldschmidt, seorang ahli genetika dari University of California, dalam bukunya, Material Basis of Evolution. Menurutnya, kumpulan mutasi-mutasi kecil tidak dapat membentuk spesies baru. Variasi yang terjadi bukanlah spesies yang  insipien (spesies permulaan).

Dengan demikian, tidak adanya rentetan fosil peralihan yang terkubur di lapisan kerak bumi, membuktikan bahwa hipotesis Darwin mengenai evolusi Paus ini keliru. Lalu, apakah penelitian Alistain Evans itu tidak layak dipercaya?  Khusus masalah ini, akan saya bahas pada tulisan terpisah.

Tulisan ini saya posting juga di http://kompasiana.com/harjo

Grand Kempinski, 27 April 2012


Sampai kapan wajah bayi masih terlihat lucu dan menggemaskan?

Anda punya bayi? Coba perhatikan, betapa lucunya dia? Semua orang pasti  menyukai  dan menyayanginya karena wajahnya yang imut dan menggemaskan. Seiring bertambahnya usia, lambat laun tingkah pola dan wajahnya yang lucu akan hilang. Semua orang tahu itu. Tetapi yang tidak banyak orang  menyadari, pada usia berapa kelucuan itu mulai hilang?  Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa  wajah bayi itu terlihat lucu?

Dua persoalan ini lah yang coba dijawab oleh para peneliti Psikologi dari China dan University of Toronto, seperti yang dikutip dari www.tempo.co.  Menurut Lu Zhu Luo, Hong Li dan Kang Lee yang tergabung dalam penelitian tersebut menyatakan  bahwa, bayi akan terlihat lucu hingga berumur 4,5 tahun. Selebihnya menurut mereka tidak lucu lagi, banyak yang berubah sesuai dengan usia perkembangannya.

Mengapa wajah bayi terlihat lucu?

Para peneliti itu menjelaskan bahwa,  wajah bayi yang lucu dan imut  dengan mata besar dan bening, hidung serta mulut yang mungil adalah terkait dengan strategi manusia dalam mempertahankan species. Bentuk wajah yang imut itu memungkinkan peluang bayi untuk selamat.

Jika pengertian selamat yang mereka maksudkan adalah dalam konteks keberlangsungan hidup, saya setuju. Contoh kasus,  tidak sedikit, kejadian di rumah sakit, seorang ibu yang berencana meninggalkan bayinya, mungkin karena tidak jelas suaminya. Tetapi begitu si dokter tahu, niatan si ibu ini, biasanya dokter menyarankan agar melihat bayinya dulu. Lihat matanya, dan kelucuannya, akhirnya si ibu ini pun menggagalkan niat jahat tersebut sehingga si bayi pun selamat dan terpelihara.

Melihat contoh kasus yang saya kemukakan diatas, normative, bisa dimengerti, maksud dari pengertian mempertahankan species itu. Tetapi konsep mempertahankan species pada contoh kasus di atas bukan seperti itu, berbeda dengan konsepnya para evolusionis.

Saya kira ada yang kalimat yang mengelabui bahkan menyesatkan. Menurut  saya, manusia, tidak bisa mengatur strategi untuk memilih bagaimana bentuk terbaik untuk dilahirkan sehingga bisa selamat, selama masa usia  tersebut. Kalau memang benar, lalu, bagaimana mekanisme pemilihan bentuk-bentuk tersebut dilakukan oleh manusia?.

Bisakah kita memilih bentuk hidung mancung, kulit putih, rambut merah agar menjadi lebih disukai oleh orang-orang di Asia dan sebaliknya?.  Hal yang tidak mungkin bisa dilakukan. Sama halnya dengan tidak mungkinnya cerita bentuk-bentuk bayi untuk memilih menjadi imut dan menggemaskan, sebagai strategi mempertahankan keberlangsungan species.

Imut, dan  menggemaskan adalah tahap perkembangan awal bayi. Secara alamiah umumnya memang seperti itu. Padahal bentuk imut dan lucu, bukan saja milik pada bayi manusia, juga pada  makhluk hidup lainnya.  Anjing kampung misanya, betapa lucu dan imutnya anjing-anjing itu ketika masih kecil, bahkan saya sering keliru, dikira adalah keturunan anjing ras. Dan ketika sudah besar, betapa jeleknya anjing ini yang ternyata hanya anjing kampung biasa.

Atau jika Anda pernah ke baby zoonya  Taman Safari,  betapa lucunya harimau, orangutan, kuda nil ketika masih bayi. Lalu, bagaimana pada tahapan perkembangan selanjutnya? Anda sendiri yang bisa menilai.

Kekeliruan tahap embrio

Kekeliruan  serupa pernah terjadi sebelumnya tetapi pada tingkat embiro, ketika Haeckel melakukan perbandingan pada bentuk luar dari beberapa embrio hewan. Tahapan awal perkembangan embrio semua vertebrata mirip, sejak awal pembelahan, morfogenesis dan deferensiasi. Kemiripan inilah dianggap sebagai bukti hubungan evolusi antar vertebrata. Sehingga Haeckel  berani mengambil kesimpulan bahwa  tahapan-tahapan perkembangan embrio itu memiliki asal muasal yang sama. Sama-sama melalui tahapan bentuk-bentuk yang seperti ikan dan seterusnya sampai mencapai perkembangan  kebentuk kera. Teori inilah yang kemudian dikenal dengan Teori Rekapitulasi, yaitu sebuah rekapan evolusi makhluk hidup dalam sebuah perkembangan embrio.

Apa yang dilakukan Haeckel adalah sebuah karya yang mengelabui, dan menyesatkan. Ada beberapa bagian yang dihilangkan, ada juga bagian lain yang ditambah, dengan maksud skenario evolusi yang dianalogikan melalui perkembangan embrio itu sesuai dengan harapan para evolusionis.

Saat ini para evolusionis sudah tidak lagi menggunakan perbandingan embriologi ini sebagai bukti evolusi. Tetapi sayangnya di beberapa buku pelajaran sampai dengan saat ini masih saja bukti itu dicantumkan.

Kesimpulannya, bahwa penelitian yang dilakukan para ahli Psikologi itu penting bagi pengetahuan, sayangnya masih terkontaminasi oleh cara berpikirnya para evolusionis.

(Catatan: Tulisan ini, saya posting juga di sini:  http://kompasiana.com/harjo


Apakah Manusia Pernah Hidup Sejaman dengan Dinosaurus?

Tulisan ini ditujukan kepada pelajar dan mahasiswa  yang saat ini sedang mempelajari Teori Evolusi. Tulisan ini saya publikasikan juga di sini: http://www.kompasiana.com/harjo

***

Tulisan ini tidak bermaksud mendeskreditkan para penulis buku-buku teks pelajaran Biologi.  Saya juga menyadari bahwa mainstream disiplin ilmu ini masih menganggap bahwa teori evolusi adalah satu-satunya alternative yang diterima di dunia pengetahuan.

Kurikulum pendidikan memang mengharuskan teori evolusi sebagai pendidikan yang wajib di ajarkan khususnya di sekolah menengah atas  dan perguruan tinggi khususnya di Jurusan Biologi.

Melalui tulisan ini saya mencoba untuk mengemukakan pandangan yang berbeda tersebut. Kebetulan buku yang saya amati adalah:  Biology 3B for Senior High School Grade XII Semester 2 yang diterbitkan oleh ESIS, Agustus 2011,   ditulis oleh orang-orang yang saya hormati karena dedikasinya terhadap dunia pendidikan.

Buku ajar pada jilid ini lebih menitik beratkan pada pembahasan Teori Evolusi.  Sebagaimana dikusi saya dengan seorang dosen Biologi  di Bandung, yang saya kenal dengan usahanya untuk menghapus teori ini dari kurikulum pendidikan Biologi, yang sempat menjadi polemik beberapa tahun lalu di sebuah harian Kompas.   Berbeda dengan pandangan beliau, saya lebih menyarankan, bahasan teori evolusi tetap diajarkan, tetapi  dalam setiap pembahasan tema ini, dimasukan juga pendapat-pendapat lain yang menentangnya.

Sayangnya, hingga saat ini pendapat yang menentang tidak pernah ditulis di buku-buku ajar tersebut. Anak-anak adalah lahan subur untuk suatu indoktrinasi yang saya anggap bisa menyesatkan yang berujung tidak percaya kepada adanya “Sang Pencipta”. Sehingga perlu adanya informasi penyeimbang dari pembahasan tersebut.

Hal khusus yang ingin saya bahas pada tulisan kali ini adalah pada halaman 33 dari buku tersebut. “Menurut kalangan evolusionis, teori kreasionisme dianggap tidak valid karena kenyataannya banyak species hidup tidak sekaligus ada pada satu jaman. Misalnya, dinosaurus tidak hidup bersamaan dengan masa hidup manusia. Dinosaurus ada lebih dulu sebelum proses evolusi menghasilkan manusia”.

Saya tidak ingin membahas masalah teori kreasionisnya, karena penciptaan adalah domainnya agama. Kepercayaan tidak membutuhkan bukti-bukti. Kalau pun ada bukti, itu hanyalah pelengkap dari apa yang dipercayai.

Hal yang ingin saya bahas adalah, “Benarkah Manusia tidak pernah hidup sejaman dengan dinosaurus?”  Padahal banyak bukti-bukti yang menunjukan bahwa manusia memang pernah hidup sejaman dengan manusia, di antaranya adalah:

Penemuan jejak kaki manusia dan dinosaurus di Sungai Paluxy, Texas

Jejak kaki dinosaurus ini  diduga sudah berumur 100.000.000 tahun yang lalu, dan di antara jejak kaki dinosaurus tersebut terdapat jejak kaki manusia.  Hal ini membuktikan bahwa manusia itu hidup satu jaman dengan dinosaurus yang hidupnya justru lebih jauh dari manusia-kera yang selama ini dianggap “missing- link”.  Anehnya, dunia pengetahuan justru menolak temuan tersebut, hanya karena dianggap tidak mungkin manusia hidup sejaman dengan manusia.

Apa hak mereka untuk menolak temuan tersebut? Penolakan tersebut, jelas menunjukan bahwa kalangan evolusionis anti kebenaran.

Kalangan evolusionis memang punya kepentingan, sehingga temuan tersebut dianggap akan meruntuhkan sendi-sendi teori evolusi yang selama ini dibangun, sehingga mereka perlu untuk menentang dengan alas an-alasan yang tidak masuk akal, di antaranya, mempublikasikan bahwa: Pertama, jejak kaki itu adalah palsu, sebuah karya seniman di masa resesi pada saat itu; kedua, menurut mereka peneliti kreasionis sudah meninggalkan bukti tersebut; ketiga, mempropagandakan bukti tersebut menjadi bukti yang menguntungkan bagi kalangan evolusionis, dengan maksud menggunakan kelemahan itu menjadi kekuatan.

Publikasi tersebut, bisa kita lihat di website:  http://www.talkorigins.org. Informasi yang sama juga pernah dipublikasikan oleh  Dr. Philip Kitcher dalam Abusing Science .

Sudah lama pendapat-pendapat tersebut  dibantah oleh Dr. John D. Morris dalam bukunya “Tracking Those Incredible Dinousaurus”. Bahwa:  Jejak kaki dinosaurus dan manusia telah  ditemukan untuk pertama kalinya tahun 1908 justru sebelum masa depresi. Morris pun menyatakan bahwa temuan  itu adalah asli. Jejak kaki manusia itu, ditemukan di 20 tempat  terpisah  di sekitar sungai Paluxy.

Mereka menganggap bahwa temuan jejak kaki itu palsu, tetapi anehnya, justru kalangan evolusionis mempublikasikan temuan tersebut sebagai bukti evolusi, sebagaimana di tulis di buku-buku text Biologi perguruan tinggi di antaranya:  Biologi Jilid 3 Edisi Kelima,  karangan John W. Kimbal, halaman 761.

Ini artinya menggunakan kelemahan menjadi sebuah kekuatan untuk mendukung teori evolusi. Padahal foto-foto karya Roland T. Bird yang dicantumkan tersebut adalah bukti kebenaran jejak kaki dinosaurus, di mana di  tempat yang sama juga ditemukan jejak kaki manusia.

Tetapi kalau temuan Paluxy itu dianggap sebagai sesuatu yang palsu, mari kita lihat bukti penemuan lainnya, berikut ini.

Kisah Penemuan “Paluxy” di Kawasan Rusia

Sengaja saya menggunakan istilah “Paluxy” untuk mengingatkan kita, bagaimana sebuah kebenaran penemuan jejak kaki Dinosaurus dan manusia di Sungai Paluxy diputarbalikan oleh kalangan evolusionis. Penemuan itu dianggap palsu hanya karena mereka menganggap bahwa tidak mungkin manusia hidup sejaman dengan manusia.

Penemuan di Rusia ini pernah dipublikasikan oleh harian Sydney Morning Herald tanggal 21 Nopember 1983, yaitu dengan ditemukannya 1500-an  bekas jejak kaki dinosaurus  dan di antaranya ada jejak kaki manusia. Atas penemuan ini, seorang Profesor Ammaniyazov, Direktur Institut Geologi Turkmenia, mengungkapkan perlu merevisi sejarah umat manusia yang harus diperluas sampai 150 juta tahun.

Kisah penemuan “Paluxy” di kawasan Rusia ini menurut saya sangat penting, karena mereka tidak punya kepentingan terhadap kreasionis. Dan sejauh ini saya belum pernah melihat adanya penolakan dari kaum evolusionis, mengenai ini, kecuali menenggelamkan cerita ini.

Penemuan “Paluxy” Di Kawasan China

Ini adalah temuan yang paling terakhir, sebagaimana lilansir oleh Koran Xinhua,  18 Oktober 2011 yang lalu. Yaitu dengan ditermukannya ratusan jejak kaki Dinosaurus dan Prasasti yang berusia 700 tahun oleh para peneliti  dari China dan Amerika  ini berlokasi di Linhua Baozhai  (Lotus Mountain Fortress) Provinsi Chongqing, China, menunjukkan bahwa manusia pernah hidup sejaman dengan dinosaurus.

Linhua Baozhai  yang dalam bahasa China, artinya:  Benteng Gunung Lotus. Penelitian ini sendiri bermula dari cerita rakyat tentang bunga teratai  di kawasan tersebut. Ternyata bidang gambar yang membentuk teratai itu terkait dengan jejak-jejak kaki dinosaurus, berupa tanda riak dan retak lumpur yang terawat baik.  Para ahli itu berpendapat, bahwa, jejak kaki yang berjumlah 350-400 an itu berasal dari empat kelompok dinosaurus, yaitu: dinosaurus jenis predator, dinosaurus berukuran besar, kecil, jejak kaki dinosaurus pincang  dan dinosaurus jenis petarung.

Hasil penelitian ilmiah yang ditulis oleh  Xing Li-da dari University of Alberta, Adrieanne Mayor dari Stanford University, dan Chen Yu dari Museum Capital ini sudah dipublikasikan di  Geological Bulletin of China, Vol 30, No 10, Oktober 2011. Untuk melihat dokumennya bisa dilihat di sini:  http://www.xinglida.net/pdf/Xing_et_al_2011_Co-existing_Dinosaur_Tracks.pdf

Penutup

Saya kira penemuan terakhi ini adalah satu-satunya bukti  yang paling kuat, yang membuktikan bahwa manusia pernah hidup sejaman dengan dinosaurus.  Dan nampaknya para evolusionis tidak bisa berkelit lagi setelah sebelumnya berhasil mengelabui dengan menyebarkan  cerita-cerita palsu pada penemuan di Sungai Paluxy.  Akankah para evolusionis pun akan mempaluxykan penemuan ini?

Referensi

Kitcher, P. Abusing Science, MIT Press, Massachusetts, 1982

Video

http://www.youtube.com/watch?feature=player_detailpage&v=c44F0csL-DE#t=25s


Mengenai “Organ Vestigial” Bernama Rambut (2)

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya berjudul, “Mengenal Organ vestigial bernama rambut”.

Tadi sore, ketika hendak menservice kendaraan, saya baru tahu kalau ternyata montir mobil di kantor saya, Pak Kosasih namanya, ternyata punya helaian rambut yang keluar dari lobang telinganya, panjang banget, dan cukup banyak.   Saya pikir, termasuk “makhluk langka” ini orang  :-)   …  sebab sangat jarang orang yang memiliki ciri-ciri seperti itu.  Kalau ternyata ada orang yang mempunyai ciri seperti itu, apakah rambut itu disebut sebagai “organ vestigial”?.

Sambil tertawa kecil,  saya tanya,   “Pak, itu rambut yang keluar dari telinga itu, apakah masuk sampai ke dalam lobang telinga?”  Dia jawab, “iya!”. Sambil penasaran saya tanya lagi, ”apakah terus tumbuh dan memanjang?” dia jawab, “iya, tetapi akan dipotong setiap kalau rambut di kepala akan di cukur”.  Saya tanya lagi, “apakah tidak terganggu dengan kondisi seperti itu?” Dia jawab, “tidak, justru untung, tidak ada serangga atau binatang kecil lainnya berhasil masuk. Kalaupun masuk akan segera terdeteksi makhluk yang masuk itu, dan dengan refleks saya tampar  telinga yang sedang berusaha dimasukin oleh serangga tersebut”.

Dari pengalaman perjumpaan dengan orang di atas, menunjukkan bahwa yang namanya, organ vestigial itu tidak ada, dan kalau boleh dibilang, terlalu mengada-ada,  sebagaimana yang disangkakan selama ini oleh para evolusionis. Jadi, tidak benar apa yang dikatakan Darwin tentang organ rudimenter ini.  Tidak benar juga apa yang dikatakan Newman tentang organ yang sudah tidak terpakai. Tidak benar juga apa yang dikatakan oleh  Billy Goldberg dan Mark Leyner, sebagai penumpang gelap.

Kesimpulan yang mengatakan suatu organ tidak berguna yang ada pada makhluk hidup adalah kesimpulan  yang terlalu terburu-buru oleh para ahli jamannya Darwin. Sayangnya tulisan seperti itu masih saja menjadi referensi akan bukti kebenaran teori evolusi yang diajarkan di sekolah-sekolah. Perkembangan penelitian semakin banyak mengungkap akan fungsi-fungsi “kevestigialannya”  (organ yang selama ini dianggap vestigial)  itu.

 

*Masih nungguin istri yang sedang ada urusan di kantor TransJakarta


Mengenal “Organ” Vestigial Bernama Rambut

Kali ini, saya ingin membahas  sesuatu yang sebetulnya tidak terlalu penting, yaitu soal rambut. Tetapi menjadi penting, karena rambut khususnya penutup tubuh,  termasuk juga beberapa organ lain seperti:  tulang ekor, usus buntu, amandel, oleh kalangan evolusionis dianggap sebagai “organ vestigial”.

Menurut mereka, “rambut-rambut di tubuh sekarang dianggap tidak berfungsi lagi, sebab manusia modern tidak hidup telanjang di padang rumput purba lagi”.

Benarkah Tidak Berfungsi?

Pembaca yang pernah belajar Biologi, tentu tahu dan pernah dengar nama  “organ vestigial” atau yang sering disebut juga dengan organ peninggalan. Vestigial berasal dari bahasa latin, vestigium, yang artinya jejak. Evolusionis menganggap, bahwa: keberadaan organ vestigial pada manusia ini dijadikan sebagai bukti pendukung kebenaran teori evolusi.

Charles Darwin sendiri, menyebut istilah vestigial ini dengan sebutan organ rudimen (The Origin of Species, hlm 571-581). Prof H.H. Newman, dalam bukunya, Evolution, Genetics and Eugenics mendefinisikan organ vestigial adalah organ-organ tak terpakai yang pada golongan hewan lain organ ini masih mempunyai fungsi.

Lain lagi cerita Billy Goldberg dan Mark Leyner (2005) dalam bukunya Why Do Men Have Nipples?  Mereka menyebut organ vestigial ini sebagai  penumpang gelap.Artinya, dulunya, rambut ini berfungsi menutupi seluruh tubuh, tetapi ketika manusia sudah sudah menggunakan baju sebagai penutup tubuh, sekarang tidak memiliki fungsi lagi.  Semakin tinggi tingkatan hewan tersebut, semakin banyak penumpang gelap yang ditinggalkan.

Weidersham, seorang ahli Anatomi mengklaim bahwa jumlah organ vestigial pada manusia berjumlah  180 buah. Padahal saat ini banyak organ yang dulu dikatakan tidak berfungsi, ternyata berfungsi. Tetapi saya tidak mau membahas semua, karena sudah banyak dijelaskan oleh banyak pakar dan yang terlibat langsung dalam penelitian terhadap obyek yang dipermasalahkan. Saya hanya membatasi diri pada persoalan rambu saja.

Sejak dulu, rambut halus penutup tubuh, seperti di dada, kaki dan lengan, sudah diketahui memiliki fungsi yaitu sebagai detector dalam menghadapi organisme parasit seperti kutu atau pacet yang menempel di tubuh. Di samping itu, keberadaan rambut juga menghambat pergerakan parasit  tersebut untuk menemukan tempat makanan.

Khusus masalah pacet ini saya punya pengalaman ketika melakukan orientasi studi mahasiswa baru di kaki Gunung Gede Pangrango, Sukabumi beberapa tahun yang lalu. Untuk orang yang kakinya tidak ada rambut (sedikit) biasanya tidak menyadari kalau kaki sudah digigit pacet dan tubuh si pacet ini mendadak tambun. Tetapi bagi orang yang kakinya berbulu, akan mudah merasakan ketika ada organism parasit yang menempel.

Dua minggu lalu, LiveScience (14/12/11), kembali mengangkat topic ini, yaitu terkait dengan laporan penelitian yang dipimpin oleh Michael Siva-Jothy seorang pakar ekologi evolusi dari University of Sheffield, Inggris. Penelitian dimaksudkan untuk menemukan cara mengendalikan serangga parasit ini dan mencegah penularan penyakit yang dibawa oleh serangga tersebut.

Penelitian ini dilakukan dengan merekrut  sukarelawan melalui situs jejaring social facebook. Sebanyak 29 mahasiswa dites dengan mencukur rambut pada salah satu lengan mereka.  Kemudian dites, berapa lama mereka mulai menyadari  keberadaan kutu itu pada lengan mereka, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh kutu itu untuk mencapai lokasi makanan.

Hasil penelitian ini jelas, membantah pandangan kaum evolusionis selama ini, bahwa rambut bukanlah organ vestigial.  Lebih tepatnya, rambut mempunyai fungsi yang sangat dibutuhkan oleh manusia.

Bukan Evolusi tetapi Devolusi

Secara logika, sebetulnya adanya organ vestigial, justru lebih menunjukan adanya  proses devolusi, bukan evolusi. Karena ada bagian yang tereduksi (rudiment) sebagaimana yang dikatakan Darwin. Artinya dulunya berfungsi menjadi tidak berfungsi, yang kemudian meninggalkan jejak. Sebaliknya jika vestigial ini tetap dijadikan sebagai bukti evolusi, seharusnya ada organ baru sebagai produk evolusi, yang muncul yang tidak pernah terdapat pada nenek moyangnya. Kenyataannya tidak ada satupun organ baru tersebut muncul.

*Malam Natal, 24 Desember 2011, sambil nungguin anak-anak latihan. Tulisan ini saya posting juga di Kompasiana.

 


Menelusuri Kembali Jejak Sang Pemburu Missing Link, Eugene Dubois

Tulisan ini saya posting juga di sini, http://kompasiana.com/harjo

Alasan saya menulis tema  ini, sebetulnya sederhana, hanya sebagai penyeimbang saja, dari belantara informasi di dunia maya, yang menurut saya menyesatkan. Banyak account-account Facebook yang membuat  status di wall-nya yang secara terang-terangan melecehkan Agama, demikian juga semakin bertebarannya  fanpage-fanpage yang bertema Teori Evolusi ini. Terakhir, saya di banned oleh salah sebuah fanpage bertema evolusi tersebut, hanya karena mereka tidak mampu mempertahankan status yang mereka buat, yang kemudian saya komentari. Organisasi organisasi Atheis semakin banyak di beberapa daerah. Menjadi Theis maupun Atheis adalah hak setiap orang.  Tetapi menggunakan teori evolusi sebagai pijakan untuk menjadi atheis adalah sebuah kesalahan.

Membaca judul di atas, tentu ada yang bertanya, apakah tidak salah dengan judul di atas? Jawabnya, Tidak! Tulisan ini memang  bermaksud untuk menyoal kisah perburuan manusia kera (Homo  erectus) yang dilakukan oleh Eugene Dubois.

Anda yang  pernah mempelajari Sejarah maupun Biologi, tentu tidak asing lagi dan tahu dengan  nama Eugene Dubois. Tetapi masalahnya adalah banyak yang tidak tahu, bagaimana fosil-fosil itu dibentuk dan dibangun sehingga membentuk karakter H.erectus yang kita kenal.

Seorang dokter Belanda itu sengaja masuk menjadi anggota militer demi berkesempatan berburu fosil-fosil peralihan khususnya antara kera dan manusia. Perburuan Dubois dimulai sejak tahun 1887 di daerah Sumatera, namun di tempat itu dia  tidak berhasil. Pencarian selanjutnya dilakukan di Pulau Jawa, dan dipusatkan di Lembah Bengawan Solo dekat Trinil. Selama lima tahun  Dubois menghabiskan waktu  untuk berburu fosil manusia kera.

Jadi, mindsetnya memang sudah membenarkan akan adanya makhluk transisi tersebut. Sehingga ketika ditemukan sebuah fosil yang tidak jelas berasal dari makhluk apa, langsung menyimpulkannya sebagai fosilnya manusia kera, yang belakangan disebutnya sebagai   Homo erectus. Penemuan ini jelas ditolak oleh banyak Universitas di Eropa pada saat itu. Tetapi para evolusionis tetap saja menganggap sebagai sebuah penemuan penting. Di mana saat itu memang masih banyak kekosongan bukti teori evolusi, khususnya  dari bukti fosil dan lebih khusus lagi fosil antara manusia dan kera. Sehingga  penemuan tersebut, oleh kalangan evolusionis tetap dianggap mempunyai konstribusi yang sangat besar dalam  dunia pengetahuan, khususnya penemu mata rantai penghubung antara manusia dan kera.  Hasil penemuannya itu banyak dibahas  diberbagai media massa, buku-buku evolusi, danjurnal ilmiah. Demikian juga  patung-patung H. eretus itu sudah banyak dibuat untuk dipamerkan di  museum-museum di seluruh dunia, untuk lebih meyakinkan kepada dunia, bahwa: “inilah bukti bahwa  manusia berevolusi  dari  kera”.

Saya mencoba mengangkat persoalan ini terkait  dengan temuan jejak-jejak manusia purba di Selatan Tulungagung  tahun lalu. Yaitu dengan ditemukannya:  sampah dapur (Kjokken Moddinger), berupa:  24 fosil terumbu karang, 92 fosil gastropoda yang terdiri dari: siput, cangkang kerang, keong dan tiram oleh sekelompok peneliti yang  tergabung dalam Kelompok Kajian Sejarah dan Sosial Budaya (KS2B) (okezone.com, 26 Feb 2010).

Masalah Kokken Moddinger ini nanti akan saya bahas pada tulisan terpisah. Kesempatan ini saya  hanya ingin  membatasi pada Homo erectus nya Eugene Dubois.

Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi seorang Eugene Dubois, tetapi sekedar mengungkapkan bagaimana sebuah penemuan seperti itu bisa dikatakan ilmiah? Dan bagaimana juga masyarakat ilmiah menerima temuan itu sebagai sebuah kebenaran?

Hal ini bisa dipahami, karena menurut evolusionis, bahwa manusia berevolusi dari  makhluk yang mirip kera, sehingga sangat mungkin akan ditemui bentuk-bentuk fosil transisi tersebut.  Maka belomba-lombalah orang mencari fosil-fosil  tersebut. Tetapi kenyataannya link itu masih tetap missing. Bentuk-bentuk transisi itu tidak pernah ditemukan sebagaimana harapan para evolusionis. Akhirnya mereka membuat fosil yang tidak pernah mereka temukan, seperti yang pernah dilakukan oleh Charles Dawson dengan manusia Pilt Downnya.  Sebuah skandal yang paling menghebohkan dalam sejarah  ilmu pengetahuan. Karena kenyataan Pilt Down adalah fosil rekaan yang dibuat dari tulang rahang kera yang baru mati digabungkan dengan tengkorak  manusia berusia 500 tahun.

Penipuan ini belakangan terbongkar  berkat penelitian yang dilakukan oleh Kenneth Oakley dengan Metode Fluorinnya.  Padahal sudah 500-an thesis doctor yang dilahirkan dari fosil  “jadi-jadian” ini. Betapa luar  biasanya, efek domino penipuan yang dilakukan oleh Charles Dawson tersebut.

Lalu, bagaimana dengan Dubois?

Menurut saya, apa yang dilakukan oleh Dubois, tidak kalah “hebatnya” dengan apa yang dilakukan oleh Dawson. Celakanya, justru belum ada yang mempermasalahkan dan menggugurkan penemuan tersebut.

Perhatikan fakta-fakta berikut yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat awam.

Pertama, masyarakat  tidak tahu kalau ternyata  H.erectus itu ternyata disusun dari  hanya 3 buah tulang fosil, yaitu: atap kepala, gigi geraham dan tulang femur (paha), lihat gambar. Lalu, bagaimana  Eugene Dubois bisa merekonstruksi  3 potongan fosil itu sehingga seperti yang kita ketahui sekarang ini melalui gambar-gambar, patung-patung yang dipamerkan di museum-museum di seluruh dunia.

Kedua, masyarakat pun tidak tahu, kalau masing-masing tulang fosil  itu ditemukan di lokasi yang berjauhan, sekitar 12 meteran jauhnya jarak antara penemuan sebelumnya dengan tulang femur  (Theunissen, 1989).  Bagaimana dia bisa, memastikan bahwa fosil itu berasal dari makhluk yang sama?

Ketiga, masyarakat pun tidak tahu, kalau masing-masing tulang fosil  itu ternyata ditemukan pada waktu yang berbeda-beda.  Fosil gigi ditemukan tahun 1890, tempurung 1891, dan femur  tahun 1892.

Ketiga fakta ini tidak banyak diketahui oleh masyarakat,  mereka hanya tahu setelah berbentuk manusia kera  yang ada di buku-buku pelajaran sekoklah dan museum-museum.

Tetapi mengapa hal sepenting ini seperti dibiarkan terjadi oleh masyarakat imiah, seolah-olah, penemuan Eugene Dubois adalah merupakan sebuah kebenaran?

Jawabnya sederhana, para pendukung teori evolusi tertalu bersemangat bahwa evolusi itu benar terjadi.  Sehingga hal-hal yang menyesatkan, tidak masuk akalpun dianggap merupakan sebuah kebenaran.

Jika sebelumnya Dubois, dianggap mempunyai kontribusi dalam  bidang pengetahuan khususnya Biologi dan  Paleontologi.  Sebaliknya justru menurut saya, dia sudah mengelabui , hanya demi membuktikan bahwa  evolusi benar-benar terjadi.

Penutup

Sebetulnya ada sebuah “rahasia umum” dari penemuan Dubois ini, karena selain  H.erectus, Dubois juga menemukan Homo wajakensis. Mengapa disebut rahasia umum? Rahasia, karena seharusnya Dubois tidak  menemukannya, atau kalau menemukan seharusnya dirahasiakan, karena akan menjadi blunder dari penemuan H.erectus itu sendiri. Karena H.wajakensis adalah manusia modern yang ditemukan pada lapisan tanah yang sama dengan penemuan H.erectus.

Tentu hal yang lucu, jika H.erectus adalah nenek moyang manusia modern sementara pada lapisan tanah yang sama juga ditemukan H.erectus. Atas kesalahan itu, apa yang dilakukan oleh para ahli, khususnya  pendukung  teori evolusi? Pertama, mereka menyingkirkan secara diam-diam.  Meskipun buku-buku pelajaran di sekolah masih ada yang menuliskan tentang hal ini. Sehingga tidak mengherankan jika  dalam buku Asal-Usul Manusia karangan Richard Leakey, tidak lagi menyebut H. erectusnya Dubois sebagai bagian dari asal usul manusia. Kedua, mengganti H.erectus temuan Dubois dengan H.erectus lainnya  di  tempat lain, yang  juga tak kalah menyesatkan. Nampaknya sebuah kebohogan baru perlu diciptakan untuk menutup kebohongan sebelumnya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.