Sambungan
Untuk menuju Goa Lalay sendiri, dari homestaynya Pak Hudaya hanya butuh waktu sekitar 5 menit saja. Ketika ke sana, jalan menuju lokasi, belum bisa dilalui kendaraan bermotor, masih dalam proses pembangunan, yaitu menggunakan berbahan semen di plester. Sedangkan mobil masih tidak bisa melewati. Jadi kami parkirkan kendaraan hanya di depan rumah penduduk tak jauh dari jalan raya. Jarak dari jalan raya ke Goa Lalay kurang lebih 800 meteran. Di sepanjang jalan ada banyak penduduk yang menawarkan lampu petromak sekaligus menjadi guide kita menuju goa.
Sepanjang perjalanan kami melewati, pemukiman penduduk, perkebunan, jalan setapak, jembatan gantung, dan kuburan dan persawahan. Mulut goa itu ternyata sempit, tidak menyangka kalau yang dihadapan saya itu adalah goa, karena dari dalamnya mengalir aliran sungai yang debitnya cukup deras. Membawa anak-anak, cukup ragu juga jika harus masuk. Mengingat sungai nya cukup dalam, sekitar sepaha orang dewasa dan dasarnya berlumpur.
Ketika saya tanya ke anak-anak, apakah mereka berani masuk? Rupanya mereka ingin sekali masuk, kecuali Debby yang agak takut. Ujung gua ini menurut guide ternyata bisa tembus hingga 1 km. Lumayan jauh. Sehingga kami tetapkan untuk masuk, tetapi hanya setengah perjalanannya saja. Yang penting, anak-anak sudah bisa melihat dan mengenal stalaknit dan stalaktit, dan seperti apa gua itu. Dan apakah banyak keleawarnya?
Gua ini cukup gelap, sehingga jika tidak membawa patromak, sudah pasti, tidak akan ada yang bisa dilihat. Menyusuri kedalaman gua, ternyata cukup melelahkan, apalai sikecil ini maunya digendong, wah …
Bersambung
Baca juga yang ini:
Sawarna (26-27 Juni 2010)
































