Arsip Kategori: Wisata

Rambut Putih

Raiway Station Chengdu

Apakah rambut anda sudah dipenuhi uban? Saya sudah, meskipun baru beberapa lembar saja  :-) . Rambut putih adalah kemuliaan, begitu kata nats Alkitab. Jadi, rambut yang memutih sebetulnya adalah sebuah hal yang alami, wajar,  apalagi di saat usia sudah memasuki kepala empat.

Hanya saja, ada juga rambut beruban karena penyakit. Walaupun umur baru belasan, mereka sudah dipenuhi uban. Seperti kawan saya, Toto namanya, bahkan saat ini malah sudah putih semua, tidak ada lagi yang tersisa. Padahal usianya seumuran dengan saya. Untuk kasus seperti ini, sebetulnya menurut saya tidak ada masalah, jika mereka lakukan upaya-upaya lain untuk menutup kekurangan tersebut, dengan di buat hitam misalnya.

Bicara soal rambut beruban, sebetulnya harus bersyukur, sebab di luar negeri, seperti di China, Eropa atau Australia. Orang berambut putih sangat dihormati, selalu mendapat prioritas layanan, terlebih dalam penggunaan layanan public. Mereka selalu di dahulukan. Betapa enaknya menjadi orang berambut putih di negeri orang!

Pengalaman saya di kota Chengdu, tepatnya di Chengdu Railway Station, ketika saya sedang antri-antrinya untuk membeli tiket kereta dari Chengdu ke Beijing. Tiba-tiba saja seorang tua yang sebetulnya tidak terlalu tua juga, hanya karena rambutnya saja yang sudah memutih. Orang itu  tanpa antri, langsung ke loket dan dilayani. Kejadian ini membuat saya melongo. Loh koq bisa. Saya yang berjarak 5 orang di belakang orang beruban ini pun, langsung saya tegur, dengan bahasa Tarzan tentunya,  ^%&*# $!@& …  yang artinya, “Pak, kenapa bapak langsung nyerobot begitu, apakah bapak tidak lihat antrian yang begitu panjang?” Dan dia pun menjawab dengan bahasa yang saya juga tidak mengertin  :-)

Tetapi ada seseorang yang akhirnya menerjemahkan, bahwa untuk orang berambut putih mendapat prioritas di sini, jadi tidak perlu antri. Oh begitu ya …

Kalau begitu berbahagialah orang berambut putih … Bagaimana dengan di Indonesia?


Sambil jualan, nyopet juga …

“Kejahatan bisa terjadi, karena ada peluang dan kesempatan, waspadalah, waspadalah!”. Itu adalah penggalan kalimat yang biasa diucapkan oleh seorang bertopeng, di sebuah acara berita di station televisi swasta.

Tetapi menurut saya, kajahatan bisa juga karena memang sudah menjadi kebiasaan. Kenapa disebut kebiasaan? karena kejahatan mereka ternyata sudah biasa diketahui oleh masyarakat sekitarnya. Artinya, biasa dilakukan oleh mereka.

Ini adalah sebuah kejadian yang saya lihat dan saksikan sendiri di depan sebuah restoran di Kota Mataram, Lombok, beberapa waktu yang lalu.  Seorang Ibu di sebuah angkot sebelumnya memberitahu ke saya, “hati-hati, karena disini banyak sekali pencopet, meskipun dia itu pedagang, bisa juga merangkap menjadi pencopet”.

Semula saya nggak begitu percaya dengan apa yang dikatakan si ibu itu, yang saya temui di angkot ketika sama-sama perjalanan dari Gili Trawangan menuju Mataram.

Tetapi, bagaimana pun saya tetap harus waspada atas nasihat tersebut. Selesai makan di restoran tersebut, dan ketika keluar, banyak pedagang yang menawarkan  mutiara yang dijajakan oleh para penjual tersebut. Kebaikan istri saya, semua penjual di belinya, tentu karena harganya sangat murah, jadi semua kebagian untuk dibeli, walaupun setiap pedagang hanya satu jenis barang. Kasihan nggak ada yang beli, sepi begitu …

Ternyata di antara pedagang itu, masih sempat-sempatnya seorang oknum pedagang untuk  berniat mencopet. Dari kejauhan saya perhatikan sang oknum pedagang itu. Tentu saya sebut oknum, karena tidak semua pedagang bersikap seperti itu. Sambil meraba-raba bawaan istri saya, pedagang itu mencari-cari obyek yang mungkin bisa dicopet. Rupanya sang pedagang itu tersadar kalau ulahnya sedang diperhatikan oleh saya. Semula saya bermaksud menangkap orang itu dan membawanya ke kantor polisi, tetapi saya urungkan. Karena memang tidak ada yang sempat di ambil oleh dia.

Satu hal yang saya tidak habis pikir, apakah kurang cukup dengan apa yang mereka usahakan sebagai pedagang mutiara? Sehingga mereka mau mencopet juga?

Sungguh, orang yang tidak tahu berterima kasih.


Pencuri Penyu

Penyu sisik atau dalam bahasa latinnya Chelonia mydas adalah salah satu hewan yang dilindungi. Sayangnya, banyak masyarakat kita justru masih saja banyak yang memburu hewan ini. Ini terlihat ketika saya hendak ke  Pulau Tidung beberapa waktu lalu. Di salah satu kapal yang sedang sandar di dermaga Muara Angke, saya mendapati hewan ini terkurung di bak penampungan air. Dan ketika ketahuan oleh saya, salah seorang anak buah kapal cepat-cepat menutupnya dengan terpal.

Saya pikir ini perbuatan yang sangat tidak terpuji, yang terjadi justru di daerah wisata yang baru akan berkembang, Kepulauan Seribu. Seharusnya para pengelola kapal sadar, bahwa meningkatnya kunjungan wisatawan ke daerah ini, salah satunya adalah adanya keindahan alam, keanekaragaman hayati yang masih terpelihara baik, yang justru lokasinya tidak jauh dari Ibu Kota Negara.

Meningkatnya kungjungan wisatawan tentu akan menaikan pula pendapatan buat mereka sendiri. Semoga kita tidak lagi menemui ulah beberapa oknum kapal seperti ini lagi di masa yang akan datang.

 

 


Nguliner Ikan Bakar Sulawesi di Lapiaza

Akhir-akhir ini saya agak jarang menjalankan hobi yang satu ini, nguliner. Masalahnya bukan apa-apa,  ternyata kebanyakan nguliner menyebabkan dampak yang lain, khususnya penyakit “mata”. Mata pencaharian maksudnya!  :-)   Sehingga agar seimbang antara pemasukan dan pengeluaran, menjadi  agak dikurangi kegiatan ini.   Tetapi kemarin untuk sementara pantangan itu dicabut, kebetulan bertepatan dengan hari ulang tahun istri saya.

Tempat makan yang dipilih, seperti biasa ikan bakar di Lapiaza, Kelapa Gading.

Sebetulnya, ikan bakarnya sih standar. Di mana-mana kan ikan bakar kan memang begitu. Cuma yang membedakan dibanding ikan bakar lain adalah bumbunya itu loh. Ikan bakar Sulawesi itu selalu menyediakan 4 macam bumbu sambelnya. Ini dia jenisnya: Sambel mangga, sambel yang pakai daun kemangi (saya nggak tahu namanya), sambel yang pakai potongan tomat (ini juga nggak tahu namanya), dan terakhir sambel yang cuma cabe aja tetapi ditambah cuka. Mantap kan? Iyalah … kalau yang hobbi sambel tentunya.

Sebetulnya, makan yang ginian akan lebih nikmat kalau diiringi musiknya Sunda yang pake suling itu loh. Yang lagunya nggak selesai-selesai itu… Tetapi malam itu diiringi live music …  dengan dekorasi background christmas white.

Selesai dari Lapiaza, pulangnya, mampir dulu di tukang Duren, nah … makanan yang selama ini “diharamkan” mengingat  penyakit asam urat, tetapi  istri saya hobbi banget sama buah yang berduri itu. Akhirnya yang dilarang-larang selama ini, disikat habis.

Selamat ulang tahun, semoga panjang umur, GBU.

Paginya? Biasa  … kumat!  Jadi memang harus benar-benar dilarang. 


Batu Tulis

Batu bertulis ini dibuat oleh raja Surawisesa (1521 – 1535) satu diantara putra dari Prabu siliwangi raja pajajaran. Tujuan prasasti ini adalah untuk mengenang kebesaran ayahandanya. Situs ini terletak di desa Batu Tulis, Sukasari, No 54 Bogor.  Di dalamnya terdapat 15 buah batu terasit yang terdiri dari 6 buah batu di dalam bangunan cungkup, 2 buah di serambi dan 6 buah di halaman.
Continue reading


Curug Cigamea

Jika Anda bosan dengan tempat wisata yang itu itu terus, mungkin berwisata ke hutan perlu juga sekali-kali. Salah satunya adalah Curug Cigamea (Curug = Air terjun dalam bahasa Sunda). Tidak perlu khawatir, walaupun berjalan di tengah hutan, tetapi jalannya berhotmix dan cukup aman, paling tidak itu pengalaman saya kemarin (5 Juni 2011). Curug ini lokasinya berada di Gunung Bunder, Kawasan Taman Nasional Gunung Salak Halimun. Untuk memasuki kawasan ini, jika dari Bogor,  salah satunya adalah melalui jalan ke arah Lewiliang. Persisnya, setelah melewati Kampus IPB Dramaga,  kurang lebih sekitar 5 km belok ke kiri ke arah Gunung Salah Endah.  Kalau bingung, Anda bisa  tanyakan saja dengan orang di sepanjang jalan untuk menuju ke Gunung Bunder.
Continue reading


Kota Tua

Lagi iseng jalan-jalan di Kota Tua, di depan terminal ternyata ada yang lagi kumpul-kumpul, mungkin komunitas fotografi, sedang “ngerubungin”   seorang wanita, yang ternyata seorang foto model. Jadi ikut-ikutan ambil gambarnya. Walaupun yang lain, cameranya bagus-bagus, lensanya  panjang-panjang …  cuek aja … yang penting bisa ngejepret. Ini dia hasilnya:
Continue reading


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.