Arsip Penulis: harjo

Pecel Picung


Pagi ini sebetulnya  ada janji, mau ketemuan temen-temen kuliah di Bogor, sekaligus menghadiri acara Kolokium.  Tetapi waktunya bersamaan, karena i, saya  ada janji juga dengan seorang pengacara di Raffles Hill Cibubur.

Jadinya, saya harus mampir dulu di sini sebelum nantinya lanjut ke Bogor. Terpaksa, datangnya menjadi agak  siangan dikit. Nggak masalah lah, dari pada nggak datang sama sekali. Jarang-jarang ketemu temen lama. Tetapi ketemu pengacara ini juga sama pentingnya.

Masalahnya, ketika sampai di sini masih terlalu pagi, dan orang yang akan ditemui pun ternyata belum siap. Jadilah saya harus menunggu dulu, mengulur waktu, sambil mencari-cari sarapan.  Dan akhirnya ketemulah dengan rumah makan ini, Pecel Picung.

Warungnya sederhana, tetapi nampak ramai pengunjung. Kesimpulan awal saya, pastilah makananya enak dan (mungkin)  murah. Masa sih, makanan tradisional begitu mahal? Dan ternyata memang betul, enak dan murah.

Jadi, boleh dicoba nih. Alamatnya di dekat pom bensin Shell, sebelum perumahan Raffless.

 


Hari ini facebook sedang bermasalah?

Pagi ini, facebook sepertinya sedang bermasalah, tidak bisa diakses. Hanya tampil headernya saja, sedangkan contentnya nggak muncul. Kenapa ya? Apa cuma saya yang mengalami ini?

Sudah coba beberapa kali, hasilnya tetap sama. Apakah ini ada kaitannya dengan masalah saham facebook yang lesu? Belum lagi tuntutan tiga investor kepada Mark Zuckerberg pendiri dan CEO situs jejaring sosial tersebut yang diajukan ke pengadilan di Amerika Serikat.  Saya tidak begitu mengikuti perkembangan.

Dalam seminggu terakhir ini saya memang agak sedikit keranjingan masalah  facebook. Bukannya apa-apa, ada beberpa alasan, pertama, saya sedang diskusi intensif di pagenya biologipedia. Kedua, saya sedang mencari seseorang yang berusaha menipu dokumen shipping lines untuk pengambilan barang dari bea cukai dengan mengatasnamakan sebuah perusahaan. Lalu kenapa harus mencari di facebook? Karena saya yakin, bahwa tidak ada kejahatan yang sempurna.  Dan biasanya kebanyakan orang sadar atau tidak suka menaruh data-data pribadi di situs tersebut.

Nah, sepertinya orang ini lupa, kalau dia pernah menaruh no handphone di sana.  Ketahuan dech …

 


Ngopi …

Secangkir kopi ini mungkin bisa memberi tambahan semangat kerja di pagi ini. Walaupun nggak biasa ngopi,  sekali-sekali nyobain nggak ada salahnya.  Dulu, saya nggak suka kopi, karena ampasnya itu loh … tapi sekarang sepertinya terjadi perubahan “format” kopi. Dulu itu, kopinya pahit, bikin nggak bisa tidur.  Sekarang nggap pahit lagi, bahkan lebih banyak santannya, plus nggak ada ampasnya.

Ngopi, sepertinya sudah menjadi bagian dari gaya hidup bagi orang-orang “gedean”. Makanya, saya nggak heran kalau secangkir kopi santan  itu bisa mencapai harga puluhan ribu rupiah. Tidak heran juga, jika bisnis cafe-cafe kopi bermunculan di mana-mana. Tidak heran juga, kopi yang berasal dari kotoran luwak pun harganya bisa mencapai harga yang gila-gilaan.

Dan lebih gila lagi, orang kecil seperti saya koq mendapat undangan ngopi dari sebuah situs berita online … apa nggak hebat saya ini, walaupun orang kecil  :-)   Katanya saya disuruh datang pada hari Kamis, 14 Juni 2012, pkl 18.00 – 21.00 wib, bertempat di Menara Bank Mega. Hebatkan saya ini?  Dan hebatnya lagi, saya masih belum tahu apa bisa datang nggak ya  … soalnya, ternyata ngopi itu singkatan dari, Ngrobrolin Peristiwa Internet.


Ternyata sulit, menghentikan autodebet kartu kredit…

Saya berlangganan kartu kredit sejak tahun 2000-an, sengaja saya batasi limitnya hanya tiga jutaan. Tujuannya adalah untuk keperluan transaksi secara online, dan memang selama ini  hanya dipergunakan untuk keperluan itu saja.

Beberapa tahun yang lalu, saya sempat membeli beberapa domain untuk beberapa perusahaan yang menjadi client saya dan beberapa juga di antaranya dipergunakan untuk keperluan sendiri. Belajar bisnis, ceritanya mau jadi technopreneur. Kenyataannya tidak mudah, tidak seperti angin surga yang diceritakan oleh Jeff  Bezos yang membuatnya menjadi salah satu orang terkaya di dunia.

Ada juga domain yang saya mau matikan, karena perusahaan tersebut sudah tutup, dan sudah tidak menjadi client saya lagi. Tentu saja tidak saya perpanjang lagi.

Masalahnya adalah, dalam dua tahun ini ternyata perusahaan tempat saya mendaftarkan domain, di godaddy.com melakukan autodebet melalui kartu kredit saya.  Artinya selama ini perusahaan tersebut melakukan penagihan melalui kartu kredit tersebut tanpa sepengetahuan saya.  Celakanya kebiasaan jelek saya, tidak suka melihat tagihan kartu kredit, karena memang tidak pernah transaksi off line. Untuk hal itulah, seharian tadi saya minta kepada otoritas bank untuk memblokir pembayaran tersebut.

Tetapi rupanya, hal itu tidak mudah dilakukan, karena menurut bank,  dia tidak punya otoritas untuk menghentikan transaksi. Artinya transaksi tidak bisa dicegah dan tetap berjalan. Meskipun kita sudah melaporkan hal tersebut. Dan mereka tetap tidak bisa melakukan hal tersebut.   Saya tidak tahu, apakah memang begitu aturannya?   Dan saya pun tidak bisa berbuat apa-apa, selain terus menerus mereka melakukan autodebet.

Kalau memang demikian, betapa bahayanya bertransaksi menggunakan kartukredit secara online? Akhirnya, saya tidak melakukan pembayaran atas tagihan kartu kredit tersebut, hingga 2 bulan, akibatnya seluruh tagihan terblokir termasuk perusahaan yang melakukan autodebet.

Apakah dengan cara itu, sehingga terhindar dari pembayaran autodebet? Dan baru berhenti ketika memang tidak ada dana yang perlu dibayarkan ke pihak mereka. Betapa lucunya cara bank, kalau memang seperti itu. Tidak punya kuasa untuk memblokir pembayaran meskipun itu atas permintaan nasabah.

Akhirnya, mau tidak mau saya harus menghubungi godaddy.com untuk menonaktifkan domain tersebut dan tidak lagi melakukan autodebet. Karena pihak Bank yang tidak bisa melakukannnya.

Rupanya, apa yang saya duga tahun 2000-an lalu terbukti. Dan ketika saya minta untuk mengganti kartu.  Rupanya pihak bank tidak bisa menjamin bahwa itu akan tetap terjadi.

Hmmm …


Akhirnya, target pun meleset …

Target pekerjaan yang seharusnya selesai 30 April 2012 lalu, akhirnya meleset hingga 15 Mei 2012, itu pun  dengan jumlah di bawah target yang seharusnya. Terpaksa, harus merevisi kontrak   :-(  untung bisa direvisi, kalau nggak?? Bisa kacau!

Banyak faktor yang harus dibenahi.  Jika sebelumnya, saya tidak terlalu ketat terhadap staf. Sekarang mau tidak mau memang harus mulai di atur, padahal sebelumnya  mau masuk jam berapa, dan pulang jam berapa bebas, yang penting target tercapai. Bukankah itu aturan yang enak? Setiap Sabtu pun libur, yang penting target perminggu tercapai.  Kalau tidak tercapai, silahkan masuk di hari Sabtu.

Nyatanya, Sabtu tetap libur, walaupun jumlah target tidak tercapai.  Cuti bersama pun diliburkan, padahal  hutang pekerjaan sebelumnya sudah menumpuk.  Dengan terpaksa, mau nggak mau, sekarang harus ketat.  Menunjukkan bahwa,  rupanya kebanyakan orang  lebih suka kerjaj  dalam keadaan  underpresure …

Nampaknya untuk tahap kedua ini, saya perlu mengambil sikap tegas itu. Karena bagaimanapun saya harus bertanggungjawab untuk memenuhi target yang telah disepakati di dalam kontrak.


Kalau lagi suntuk, ini yang saya kerjakan

Kalau lagi suntuk, hal yang saya lakukan biasanya adalah ke toko buku.  Umumnya,  orang lain  mungkin dapat diatasi dengan mengopi, nongkrong di café sambil mendengarkan musik, dsb. Masalahnya saya kurang menyukai kegiatan tersebut. Saya lebih memilih ke toko buku.

Seperti siang ini, di saat jam istirahat kantor, karena dari sinilah  biasanya inspirasi muncul. Menjadi obat mujarab, ketika energy yang ada di dalam tubuh melemah, disorientasi, tidak jelas apa yang mau dikerjakan lebih dulu.

Rak demi rak saya susuri, rata-rata sudah pernah saya lihat judulnya, walaupun tidak pernah dibaca isinya. Penelusuran ini berhenti, ketika mata ini tertuju pada sebuah buku kecil warna hijau. Sebuah buku biografi Jeff Bezos, berjudul  “Dari Garasi Jeff Bezos mendirikan amazon.com”.   Tergolong  buku jadul sebetulnya, sering saya dengar kisahnya, tetapi baru kali ini melihat dan membaca bukunya. Padahal ada versi ebook nya yang gratis. Tetapi sekarang sudah mulai untuk membiasakan diri untuk tidak terus menerus di depan monitor. Mata saya sudah mulai cepat lelah, sehingga sepertinya perlu ke cara-cara konventional.

Sejak tahun 1995, Jeff mendirikan amazon.com, sebuah toko online yang semula hanya menjual buku sederhana, tetapi sekarang sudah menjadi toko online terbesar dunia, dengan berbagai macam barang dagangan yang super lengkap, seperti:  DVD, CD, software, pakaian, mainan, makanan, dan perhiasan.

Apa yang menyebabkannya berhasil, inilah yang saya coba cari tahu dari buku yang ditulis oleh Bernard Ryan  yang diterbitkan tahun 2005 itu.

Jeff berhipotesis bahwa, kunci keberhasilan penjualan menggunakan teknologi tinggi adalah menjual barang berteknologi rendah, seperti buku. Dan rupanya hipotesis tersebut terbukti.  Apa yang diakukan sukses luar biasa, sehingga pada tahun 1999 Jeff menjadi man of the year versi majalah Time.  Menjadi salah satu orang terkaya di dunia di usia 33 tahun.

Ketekunan, keahlian teknis, dan komitmen terhadap  kualitas yang dimilikinya adalah langkah selanjutnya, jika ingin usaha itu tetap berjalan.

Saya kira ini adalah pelajaran yang sangat berharga,sebuah inspirasi yang menyegarkan  di tengah-tengah maraknya penjualan online di saat itu, tetapi di lain pihak banyak juga yang berguguran.

Beberapa jam kemudian, handphone  saya tiba-tiba berbunyi, rupanya ada tagihan  untuk layanan webhosting saya di salah satu provider.  Rupanya ada benang merah, kenapa  tiba-tiba saya membaca buku itu, dikaitkan dengan pesan melalui SMS.

Semoga ke depannya  bisa lebih menekuni  salah satu bisnis yang satu ini.


Susahnya, kalau cuti pun diatur juga oleh Pemerintah

Bagi kebanyakan karyawan, hari kejepit adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu, bahkan sudah diplanning jauh jauh hari.  Bagi saya, tentu hal yang sangat merisaukan.  Bagaimana mungkin saya liburkan, sementara target belum tercapai, bahkan sangat jauh dari target yang seharusnya.  Karena bagi saya pun ada tanggungjawab yang harus dipenuhkan kepada institusi yang sekarang menjadi client saya.

Terkadang saya juga menyalahkan pemerintah, kenapa untuk urusan cuti-cuti(an) harus diatur segala oleh pemerintah? Setiap orang tentu punya perencanaan sendiri, kapan dia harus mengambil cuti, kapan tidak, yang tidak harus diseragamkan.

Saya sendiri adalah seorang pegawai di sebuah perusahaan, selain juga sebagai calon Technopreneur, semoga (doain ya!!.  Saat ini masih berdiri di dua kaki, atau masih menggunakan 2 topi.  Cuti itu pun saya tidak gunakan, saya masih tetap masuk seperti biasanya, walaupun hati kecil ini, ingin juga sih cuti, berlibur sama anak-anak. Tetapi apa bole hbuat, saya harus masuk, karena kebjikan manajemennya memang seperti itu. Tidak ada empati kepada karyawan. Bahkan Sabtu pun masuk!

Lalu, bagaimana sikap saya terhadap karyawan saya sendiri? Saya liburkan! Dengan catatan di hari-hari mendatang bisa dikejar kekurangan karena cuti bersama ini. Bagaimanapun saya masih punya empati terhadap mereka.  Semoga mereka pun punya sikap yang sama, berempati terhadap saya, untuk mengejar target yang sudah ditetapkan, sambil mengejar juga ketertinggalan selama ini. Semoga.

 


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.