Spekulasi tentang Manusia Jawa

Saya merasa perlu mendokumentasikan diskusi ini diblog saya, hanya sebagai arsip pribadi saja. Isi diskusinya sendiri ada di mailing list evolusi@yahoogroups.com. Bermula ketika sebuah e-mail yang ditulis oleh orang yang dengan menggunakan e-mail “Sang”, mengirimkan e-mailnya seperti di bawah ini, yang kemudian dibahas oleh:

Prasydianto, Guru Biologi dari sebuah SMU, kelas Internasional di Jakarta.

Andya Primanda, penerjemah beberapa buku bertema evolusi, di antaranya: Asal-Usul Manusia, tahun 2003, karangan Richard Leakey

Dan saya, Harjo

Sang, 31 Mei 2008,

Kenapa saya bilang Teori Evolusi omong kosong?
Kebanyakan paleontolog, arkeolog hanya bisa menduga-duga, menarik konklusi dll…. tapi kalau ditanya bukti konkretnya apa? Kebanyakan jawab: ini jawaban yg paling masuk akal dari berbagai alternatif yaitu bahwa semua makhluk berevolusi dan bermutasi berdasar seleksi alam/
Tidak ada bukti kuat, tidak bisa dieksperimenkan, tidak bisa diamati sebab adalah kejadian masa lalu, tapi hanya bisa menarik kesimpulan yg langsung jadi ilmu pengetahuan bahwa tulang belulang dll adalah sebuah proses kearh yg lebih baik…. ini kata nya pengikut dan turunan Darwin…
jadi proses evolusi adalah hoax…..

Prasydianto, 3 Juni 2008

Kadang saya bisa terlalu emosi untuk menjawab posting-posting seperti ini. Berdiskusi secara ilmiah artinya adalah membangun argumentasi berdasarkan bukti empiris yang dapat diobservasi oleh indera kita. Beberapa pihak yang menolak evolusi saya anggap sebagai rekan diskusi untuk membantu pemahaman saya sendiri terhadap evolusi. Seperti juga poting terdahulu yang berkata “mungkin ada hikmah dengan munculnya Harun Yahya”. Kami para biolog jadi mempelajari text-book evolusi dan memperoleh pemahaman yang lebih baik serta memperkuat argumen kami
tentang evolusi. Tapi posting yang seperti di bawah ini bukan dari golongan yang ingin berdiskusi. Saya bilang terus terang, posting seperti ini adalah “Fool rush in”. Darimana saya bisa katakan itu? satu-satu saya jabarkan.

“Sang”  wrote:
kebanyakan paleontolog, arkeolog hanya bisa menduga-duga, menarik konklusi dll…. tapi kalau ditanya bukti konkretnya apa? kenapa saya bilang omong kosong?

Prasydianto:
Untuk bapak Moderator Andya..coba dimatrikulasi lagi penulis posting tersebut. Dicerahkan sedikit dari sisi Paleontologinya. Kayaknya justru bukti fosil deh yang mendukung evolusi. Apakah yang dimaksud ga mendukung itu adalah fosil peralihan? sudah banyak tuh. Apakah yang dibilang omong kosong adalah belum ketemunya missing link di beberapa spesies? cobalah cari di google tentang Punctuated Equilibrium.

“Sang”  wrote:
tidak bisa dieksperimenkan, tidak bisa diamati sebab adalah kejadian masa lalu, tapi hanya bisa menarik kesimpulan yg langsung jadi ilmu pengetahuan.

Prasydianto:
Untuk masalah tidak bisa dieksperimenkan, saya anjurkan untuk mengikuti diskusi ZS dan DNL di milis ini tentang sains historis dan eksperimen. Setelah membaca perlahan dan melihat referensinya barulah bisa beropini. Untuk masalah menarik kesimpulan, rasa-rasanya semua
sains beroperasi dengan cara yang sama. Pertama menyanyakan sesuatu, membuat dugaan, mengadakan percobaan dan menarik KESIMPULAN. Jadi yang anda gugat bukan hanya evolusi tapi semua metode sains. Saran saya adalah matikan komputer anda sekarang juga! karena itu adalah hasil dari sains.

“Sang” wrote:
jadi proses evolusi adalah hoax…..

Prasydianto:
Tidak ada yang menuntut anda untuk menerimanya, dan tiada hak bagi anda untuk menjustifikasinya sebagai Hoax pula. Anda salah masuk milis mungkin. Jika anda merasa tidak nyaman dengan tuduhan saya, saya tantang anda untuk beragumentasi secara logis bukan dengan emosi. Dan satu lagi sertakan nama jelas anda, kita tidak ingin bersembunyi di belakang anonimisitas bukan?

Hari Jonathan, 3 Juni 2008
HJ:
Menurut saya, justru hasil-hasil penelitian fosil, memang benar-benar hanya dugaan saja.
Seperti penemuan manusia Phitecanthropus erectus, bukankah yg diketemukan hanya tulang femur dan gigi geraham saja, itu pun lokasi jaraknya sangat berjauhan.

Harus dibedakan antara sains pada umumnya dengan Teori Evolusi (TE). Sebab menurut saya, TE memang benar-benar tidak bisa dibuktikan secara metodologi penelitian. Paling-paling kata-kata yg sering muncul adalah dalam texbook buku Biologi yang membahas evolusi adalah “Patut diduga” atau kalau tidak sesuai dg pola evolusi akan dikatakan ” Seharusnya begini, begitu, dst”

“Sang”  wrote:
jadi proses evolusi adalah hoax…..

HJ:
Saya berpendapat, lebih cenderung untuk menyebutnya sebagai pelajaran sejarah saja di bidang
IPA, khususnya bagaimana perkembangan ilmubiologi itu sendiri. Masalah TE bukanlah pada persoalan diterima atau tidak. Dan sudah seharusnya perbedaan tersebut tidak menjadikan orang menjadi emosi. Saya sendiri, lebih suka jika dalam pelajaran evolusi, seyogyanya juga diinformasikan pendapat-pendapat dari para biolog-biolog yang tdk percaya kepada teori evolusi.

David G, 3 Juni 2008

HJ : Menurut saya, justru hasil-hasil penelitian fosil, memang benar-benar hanya dugaan saja. Seperti penemuan manusia Phitecanthropus erectus, bukankah yg diketemukan hanya tulang femur dan gigi geraham saja, itu pun lokasi jaraknya sangat berjauhan.

David: Bagaimana anda sampai pada kesimpulan bahwa Teori Evolusi itu keliru karena yang ditemukan hanyalah tulang femur dan gigi geraham saja?

Hari Jonathan,  4 Juni 2008

HJ: Dear Pak David.  Saya kira semua tahu bahwa dalam TE, disebutkan bahwa banyak bukti-bukti yang mendukung Evolusi diantaranya adalah:
1. Dari paleontologi
2. Dari anatomi perbandingan
3. Dari Embriologi
4. Biokimia perbandingan
5. Dari Struktur kromosom
6. Dari keserupaan pelindung
7. Dari penyebaran geografis
8. Dari domestikasi.

Membahas persoalan itu semua, tentu sangat luas. Fosil hanyalah salah satu, yg disebut-sebut sebagai pendukung (bukti) teori evolusi. Dan Pithecanthropus erectus (Pe) hanyalah salah satu dari contoh fosil saja. Dan apa yg ditemukan dengan Pe, hanyalah : gigi geraham saja dan tulang femur. Lalu, bagaimana mungkin, bisa direkontruksi sedemikian rupa sehingga bentuknya seperti yang kita lihat foto-fotonya di buku-buku pelajaran di SMA maupun Biologi di PT dan museum, lalu ditunjukan kepada dunia dan masyarakat umum (yg tidak tahu menahu) bahwa inilah manusia kera yang tegak, yg disebut sebagai nenek moyang kita.
Demikian Pak David.

David G., 4 Juni 2008

David: Bagaimana anda sampai pada kesimpulan bahwa Teori Evolusi itu keliru karena yang ditemukan hanyalah tulang femur dan gigi geraham saja?

Andya, 4 Juni 2008

Andya: Bung Hari Jonathan, tolong pernyataan anda dikoreksi: ‘Pithecanthropus
erectus’ (Homo erectus)
yang ditemukan Dubois di Jawa TIDAK HANYA berupa tulang paha (femur) dan gigi, tapi juga batok kepala dengan kapasitas otak 900cc (lebih besar drpd simpanse, lebih kecil drpd manusia modern),. http://www.athenapub.com/13dbox1.htm Dan fosil Homo erectus nggak cuma satu, tapi BANYAK. Bahkan ada ‘Turkana Boy’ yang kerangkanya lengkap.
Berdasarkan Turkana Boy, tidak ada keraguan lagi mengenai seperti apa struktur Homo erectus: dari leher ke bawah sudah modern, leher ke atas primitif! Hanya orang-orang yang nggak mau melihat bukti ini yang sok mempertanyakan rekonstruksinya, http://en.wikipedia.org/wiki/Turkana_Boy Tolong perbarui pengetahuan anda, bung.

Hari Jonathan,  4 Juni 2008

HJ:  Dear Pak Andya Primanda,  terima kasih atas sarannya, untuk memperbaharui pengetahuan saya. Dalam buku pelajaran memang ditulis, ditemukan tulang tempurung, femur dan 2 buah gigi. Saya memang tidak mencantumkan tempurung kepala itu, karena saya dan kebanyakan creationis, tidak mempercayai bahwa itu merupakan bagian dari keseluruhan yg ditemukan oleh Eugene Dubois thn 1890. Karena lokasi penemuan antara tulang femur dengan tulang tempurung berjarak sekitar 600 inch demikian juga posisi gigi lebih jauh lagi. Sulit untuk menerima jika itu berasal dari satu makhluk yang sama. Tentu pada kasus ini sebagaimana pendapat “Sang”, hanyalah dugaan saja, jika ini berasal dari makhlu yang sama.
Menurut saya, terlalu berani mengambil konklusi seperti itu. Jika hanya dari 3 potongan bagian tersebut, lalu dibuat dari tanah liat shg berbentuk seperti manusia kera dan lalu dipamerkan kepada umum, yg katanya sebagai bukti evolusi. Percaya atau tidak tentu merupakan pilihan.
Mohon maaf, pada kasus fosil ini saya pada posisi yang tidak percaya. Sebagaimana saya juga tidak percaya kepada manusia Piltdown yg direkonstruksi oleh Dawson dkk. Bagaimanapun saya menghargai sikap Anda jika anda tetap mempercayai manusia Pe, karena beberapa alasan yg Anda kemukakan tentunya. Semoga dengan diskusi ini, dapat memacu kita untuk lebih memperdalam pemahaman terhadap teori ini. Anda percaya kepada TE tentu akan lebih memperdalam, dan saya yg Kreasionis akan lebih banyak belajar lagi.

Prasydianto 4 Juni 2008

HJ:  Fosil hanyalah salah satu, yg disebut-sebut sebagai pendukung (bukti) teori evolusi. Dan Pithecanthropus erectus (Pe) hanyalah salah satu dari contoh fosil saja.

Prasydianto:
Memang betul, Bukti evolusi bukan hanya didasarkan pada bukti fosil saja. Terdapat bukti-bukti lain yang mendukung terjadinya evolusi. Contoh Resistansi terhadap antibiotik merupakan contoh yang jelas bagaimana seleksi menimbulkan varian-varian yang sintas di generasi mendatang. Belum lagi molecular clock antara spesies-spesies yang berkerabat. Hal tersebut menunjukan adanya konvergensi hipotesis perihal pertanyaan “apa yang menyebabkan mahluk hidup begitu
beragam?”. Kalaupun bukti fosil dirasa kurang meyakinkan, maka bukti-bukti dari berbagai bidang disiplin ilmu lain (Biokimia, Genetika Molekuler dan Animal Behavior) mungkin mampu membuat anda lebih tertarik mempelajari mekanisme evolusi.

HJ:
Menurut saya, terlalu berani mengambil konklusi seperti itu. Jika hanya dari 3 potongan bagian tersebut, lalu dibuat dari tanah liat shg berbentuk seperti manusia kera dan lalu dipamerkan kepada umum.

Prasydianto:
Itulah yang dinamakan Sains Pak Jonathan. Ilmuwan hanya bisa menduga dan mencoba membuat perkiraan. Jikalai semua hal sudah jelas seperti matahari di siang hari, saya yakin itulah akhir dari sains. Ilmu-ilmu IPA sendiri mengalami masa-masa dimana dogma atau teori yang lama dirombak atau dipugar habis oleh pembaharunya. Salah satu rekan saya di Biologi juga berpendapat sama “bagaimana mungkin bisa merekontruksi wajah dari tulang saja?”, saya balik bertanya “bagaimana mungkin astronom bisa mendeteksi lubang hitam (yang cahaya pun tak bisa lepas darinya) hanya dengan gangguan gravitasi di bintang sekelilingnya?”. Ilmuwan menggunakan metode ekstrapolasi dengan sangat hati-hati, perkiraan atau dugaan yang
dibuat dapat dipertanggung jawabkan dan diulang oleh rekan ilmuwan lain. Jika anda tetap berpendapat bahwa rekonstruksi wajah PE tidak sesuai, maka ajukanlah hipotesis yang membantahnya dari segi ilmiah. Bagaimana jika datanya kurang? datanglah ke Sangiran dan galilah lebih dalam dan luas. Dan jika anda menemukan sesuatu, anda akan mendapat apresiasi dari komunitas paleontolog karena membantu mereka memahami bidang studi mereka.

HJ:
Pada kasus fosil ini saya pada posisi yang tidak percaya. Sebagaimana saya juga tidak percaya kepada manusia Piltdown yg direkonstruksi oleh
Dawson dkk

Prasydianto:
Sains dipraktekkan oleh manusia, dan manusia tidak lepas dari ketamakan dan kesalahan. Saya tidak mengagungkan komunitas ilmuwan sebagai komunitas yang suci dan tanpa cela. Tapi sains punya mekanisme untuk mendeteksi kebohongan, itulah kelebihan yang dimilikinya. Hoax tentang Piltdown man sendiri dibongkar oleh ilmuwan lain yang meragukan hasil temuan tim terdahulu. Sama seperti Agama, berapa orang yang emosi melihat polah FPI di televisi,
termasuk saya sendiri. Tapi saya tidak serta merta menyalahkan Islam sebagai agama saya. Itu hanyalah perbuatan orangnya bukan ajarannya.

HJ:

Semoga dengan diskusi ini, dapat memacu kita untuk lebih memperdalam pemahaman terhadap teori ini. Anda percaya kepada TE tentu akan lebih memperdalam, dan saya yg Kreasionis akan lebih banyak belajar lagi.

Prasydianto:
Setuju, dengan berdiskusi secara logis, kita bisa memahami perbedaan yang ada tanpa memaksakan pendapat yang satu ke yang lain.

Andya, 4 Juni 2008

Andya: Bung Hari, Anda rupanya suka pilih-pilih bukti, ya? Anda sudah tahu ada tempurung kepala 900cc tapi SENGAJA mengabaikan? Saya pernah lihat cast tempurung kepala itu di Museum Nasional, ukurannya lebih kecil dari kepala manusia modern dan lebih besar daripada
kepala simpanse… Anda nggak lihat atau sengaja nggak memperhatikan saya menyebut fosil Homo erectus TIDAK HANYA Pithecanthropus temuan Dubois? Fosil Homo erectus itu banyak. Bahkan ada yang lengkap. Turkana Boy, salah satunya. Anda lihat tidak di link wikipedia yang saya berikan? Kerangkanya lengkap, nyaris tidak ada ruang spekulasi bagi bentuknya. Jadi omongan Anda soal ilmuwan Cuma tebak-tebakan itu tidak bisa dipertanggungjawabkan
Percaya tidak percaya memang pilihan, tapi mengabaikan bukti itu sih curang namanya.

Tapi saya tidak heran, karena biasanya kreasionis suka pilih-pilih melihat bukti. Yang mereka anggap mendukung dipelototi terus, yang bisa bikin mereka bingung mereka anggap tidak ada (seperti anda dengan enaknya melupakan Turkana Boy).

Piltdown diangkat lagi… Anda tahu, bung, Piltdown itu sebenarnya palsuan yg dibuat untuk menolak fosil manusia purba betulan, Australopithecus afarensis ‘Taung child’, yang ditolak kalangan ilmuwan karena berasal dari Afrika? Zaman sekarang nggak ada lagi yang menganggap Piltdown sebagai bukti evolusi. Kecuali para kreasionis yang butuh sasaran (yang tidak relevan lagi). Saya nggak usah pake kata-kata mutiara soal belajar lagi itu ya. Kecuali tandatangan saya itu.

Hari Jonathan, 6 Juni 2008

Prasdianto:
Memang betul, Bukti evolusi bukan hanya didasarkan pada bukti fosil saja. Terdapat bukti-bukti lain yang mendukung terjadinya evolusi. Contoh Resistansi terhadap antibiotik merupakan contoh yang jelas  bagaimana seleksi menimbulkan varian-varian yang sintas di generasi mendatang. Belum lagi molecular clock antara spesies-spesies yang berkerabat. Hal tersebut menunjukan adanya konvergensi hipotesis perihal pertanyaan “apa yang menyebabkan mahluk hidup begitu
beragam?”. Kalaupun bukti fosil dirasa kurang meyakinkan, maka bukti-bukti dari berbagai bidang disiplin ilmu lain (Biokimia, Genetika Molekuler dan Animal Behavior) mungkin mampu membuat anda lebih tertarik mempelajari mekanisme evolusi.

HJ:
Setuju Pak, sebagaimana buku-buku text pelajaran Biologi, bahwa banyak bukti lain, selain fosil. Seperti yang bapak sebutkan di atas. Tetapi untuk sementara masalah kita batasi dulu pada masalah fosil ini saja. Sebab saya yakin banyak para evolusionis maupun creationis yang ingin menuangkan unek-uneknya mengenai hal ini. Masalah, seperti antibiotik, virus, bakteri, biokimia, genetika molekular, behavior animal saya juga sebenarnya ingin segera menjawab tetapi, saya pikir lebih baik kesempatan mendatang akan kita bahas. Saat ini kita fokus pada masalah fosil, seperti yg sy tulis di subyeknya.

Prasydianto:
Itulah yang dinamakan Sains Pak Jonathan. Ilmuwan hanya bisa menduga dan mencoba membuat perkiraan. Jikalai semua hal sudah jelas seperti matahari di siang hari, saya yakin itulah akhir dari sains. Ilmu-ilmu IPA sendiri mengalami masa-masa dimana dogma atau teori yang lama dirombak atau dipugar habis oleh pembaharunya. Salah satu rekan saya di Biologi juga berpendapat sama “bagaimana mungkin bisa merekontruksi wajah dari tulang saja?”, saya balik bertanya “bagaimana mungkin astronom bisa mendeteksi lubang hitam (yang cahaya pun tak bisa lepas darinya) hanya dengan gangguan gravitasi di bintang sekelilingnya?”. Ilmuwan menggunakan metode ekstrapolasi dengan sangat hati-hati, perkiraan atau dugaan yang
dibuat dapat dipertanggung jawabkan dan diulang oleh rekan ilmuwan lain. Jika anda tetap berpendapat bahwa rekonstruksi wajah PE tidak sesuai, maka ajukanlah hipotesis yang membantahnya dari segi ilmiah. Bagaimana jika datanya kurang? datanglah ke Sangiran dan galilah lebih dalam dan luas. Dan jika anda menemukan sesuatu, anda akan mendapat apresiasi dari komunitas paleontolog karena membantu mereka memahami bidang studi mereka

HJ:
Karena bersifat dugaan itu lah Pak, maka saya menganggap bahwa Teori Evolusi adalah hanya kepercayaan semata-mata. Tentu, akhirnya ada yang percaya ada yang tidak. Dan dalam hal ini saya pada posisi yang tidak percaya. Namun demikian saya akan tetap sangat menghargai sikap Bapak yang mempercayai Teori Evolusi. Masalah bantahan terhadap Homo erectus, bukankah sudah banyak yang membantahnya sejak tahun 1900-an?

Andya:
Anda rupanya suka pilih-pilih bukti, ya? Anda sudah tahu ada tempurung kepala 900cc tapi
SENGAJA mengabaikan? Saya pernah lihat cast tempurung kepala itu di Museum Nasional, ukurannya lebih kecil dari kepala manusia modern dan lebih besar daripada
kepala simpanse…

HJ:

Mas Andya, saya bukannya pilih-pilih bukti. Saya tentu sangat tidak nyaman untuk mempercayai H.erectus yang diketemukan tersebut sebagai bukti nenek moyang manusia moderen. Bayangkan Dubois menemukan fosil gigi tersebut tahun 1890, sedangkan fosil tempurung kepala ditemukan tahun 1891, baru kemudian tahun 1892  dia menemukan fosil tulang femur. Tambahan lagi, lokasi penemuan fosil-fosil tersebut jaraknya pada lokasi yang sangat berjauhan.
Saya pribadi sangat sulit mempercayai jika temuan tersebut berasal dari makhluk hidup yang sama. Tetapi anehnya, fosil-fosil tersebut bisa direkonstruksi sedemikian rupa, disusun dan dibuat menjadi seperti yang gambarnya banyak kita lihat di buku-buku teks pelajaran sekolah, kemudian dipamerkan di museum-museum di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri sebagaimana yang pernah saya lihat, ada di musium Sangiran (kebetulan saya pernah ke sini tahun 2001), museum Trinil (saya pernah ke sini tahun 2002), museum Geologi Bandung (saya pernah ke sini tahun 2003) dan museum Zoologi Bogor (setiap 2 bulan saya kesini). Menurut informasi tersebut dijelaskan bahwa, inilah nenek moyang manusia. Manusia kera yang berjalan tegak. Dan supaya lebih keren, agar lebih meyakinkan orang oleh Dubois diberi nama Pithecanthropus erectus / Homo erectus.

Andya:
Anda nggak lihat atau sengaja nggak memperhatikan saya menyebut fosil Homo erectus TIDAK HANYA Pithecanthropus temuan Dubois?

HJ:
Saya bukannya tidak ingin menjawab, terhadap contoh yang Mas Andya kemukakan, pada waktunya pasti akan saya jawab, hanya saja, sekali lagi bahwa Teori Evolusi itu sangat luas, agar memudahkan dalam diskusi ini, makanya saya akan membatasi lebih dulu masalah Fosil, tepatnya manusia Pithecanthropus erectus, dan lebih tepatnya lagi khusus temuan dari Dubois ini saja, H.erectus.

Benar bahwa temuan Dobois tidak hanya P.erectus saja, tetapi Dubois juga menemukan Homo wajakensis, yang ditemukan di daerah Wajak pada lapisan tanah yang sama dengan ditemukannya P.erectus. Tetapi anehnya yang namanya H.wajakensis ini hanya terkenal di pelajaran Sejarah (IPS) sekolah waktu SD/SMP saja. Sedangkan di dunia Sains (IPA), justru tidak begitu dikenal, karena apa?

Karena H. wajakensis itu adalah manusia sejati seperti manusia saat ini. Tentu fakta ini harus ditutupi, sebab jika tidak tentu akan tidak sesuai dengan pola evolusi sebagaimana yg dianut para evolusionis selama ini.

Andya:
Fosil Homo erectus itu banyak. Bahkan ada yang lengkap. Turkana Boy, salah satunya. Anda lihat tidak di link wikipedia yang saya berikan? Kerangkanya lengkap, nyaris tidak ada ruang spekulasi bagi bentuknya. Jadi omongan Anda soal ilmuwan Cuma tebak-tebakan itu tidak bisa dipertanggungjawabkan http://www.athenapub.com/13dubox1.htm Dan fosil Homo erectus nggak cuma satu, tapi BANYAK.

HJ:
Fosil H .erectus memang banyak, justru saking banyaknya malah membingungkan para evolusionis itu sendiri. Salah satunya, adalah penemuan fosil manusia purba di Kenya belum lama ini oleh tim peneliti internasional sebagaimana yang ditulis di Jurnal Nature edisi Agustus 2007. Dalam teorinya, bahwa evolusi manusia sekarang (H.sapiens) berasal dari H.erectus, dan H.erectus berasal dari H.habilis dan seterusnya. Tetapi apa yang terjadi dengan penemuan 2 fosil tengkorak tersebut adalah, tengkorak yang satu milik H.habilis, sedangkan yang satunya lagi milik H.erectus . Menurut Susan Anton, profesor antropologi di Universitas New York  menjelaskan bahwa keduanya hidup berdampingan. Penjelasan tersebut diperkuat oleh Ian MacDouglall Ahli geologi dari Universitas Nasional Australia, yang ikut menggali di Kenya itu
yang mengatakan bahwa penemuan fosil-fosil tersebut mengindikasikan mereka hidup
di area yang sama, meskipun memiliki relung ekologi yang berbeda. Pertanyaan sekarang adalah, bagaimana mungkin H.erectus berasal dari H.habilis sementara mereka hidup berdampingan?.

Anandya:
Bahkan ada ‘Turkana Boy’ yang kerangkanya lengkap. Berdasarkan Turkana Boy, tidak ada keraguan lagi mengenai seperti apa struktur Homo erectus: dari leher ke bawah sudah modern, leher ke atas primitif! Hanya orang-orang yang nggak mau melihat bukti ini yang sok
mempertanyakan rekonstruksinya.http://en.wikipedia.org/wiki/Turkana_Boy
Tolong perbarui pengetahuan anda, bung.

HJ:

Penjelasan Anda sebetulnya sudah menjawab pertanyaan Anda sendiri, bahwa menurut saya Turkana Boy memang manusia moderen. Sekarang mari kita diskusikan apa yang menyebabkan bagian-bagian tertentu itu (leher ke atas) dikatakan para evolusionis dan Anda masih primitif.
Disebutkan bahwa Turkana Boy memiliki tonjolan alis mata yang tebal serta volume otak yang lebih kecil, 900 – 1100 cc. Saya tidak sependapat, jika hanya gara-gara memiliki tonjolan alis mata, lalu dikatakan manusia primitif. Saya berharap Anda tidak menutup mata, bahwa kita
pasti pernah melihat orang dengan type tersebut, entah di Mall atau dalam perjalanan. Saya sendiri sering melihat orang-orang seperti itu. Dan saya sangat mendukung jika ada di antara anggota milis ini mau melakukan riset atau survey mengenai hal ini. (Pak Pras, saya kira ini topik menarik untuk membuat tulisan atau karya tulis atau skripsi untuk murid Bapak). Sedangkan mengenai volume otak yang kecil, menurut saya bukan petunjuk bahwa tingkat kecerdasan maupun ketrampilannya rendah. Demikian juga sebaliknya, volume otak yang besar, bukan jaminan tingkat kecerdasannya baik. Tentu kita semua tahulah contoh mengenai hal ini, dengan melihat contoh ada orang yang pandai dan ada orang yang tidak pandai. Pandai dan tidak pandai, menurut saya lebih ke pengaturan internal otak. Bukan pada volume otak yang besar.
Sebaiknya kita tidak lagi memperdebatkan masalah ini lagi, karena Richard Leakey (seorang evolusionis sejati) sendiri dalam bukunya The Making of Manking (1981), menjelaskan bahwa tonjolan alis mata dan ciri-ciri lainnya adalah sekedar perbedaan di antara ras-ras manusia moderen saja.

Anandya:
Percaya tidak percaya memang pilihan, tapi mengabaikan bukti itu sih curang namanya.
Tapi saya tidak heran, karena biasanya kreasionis suka pilih-pilih melihat bukti. Yang mereka anggap mendukung dipelototi terus, yang bisa bikin mereka bingung mereka anggap tidak ada (seperti anda dengan enaknya melupakan Turkana Boy)

HJ:
Menurut saya, dari kasus H.wajakensis yang ditemukan oleh E.Dubois sudah cukup membuktikan bahwa yang mengabaikan bukti, justru kalangan evolusionis sendiri. Dengan meminjam istilah Anda, H.erectus selalu di pelototin terus sementara H.wajakensis karena tidak sesuai dengan pola skenario evolusi di abaikan, tidak diungkapkan.
Masalah Turkana Boy, sudah saya bahas di atas.

Anandya:
Piltdown diangkat lagi… Anda tahu, bung, Piltdown itu sebenarnya palsuan yg dibuat untuk menolak fosil manusia purba betulan, Australopithecus afarensis ‘Taung child’, yang ditolak kalangan ilmuwan karena berasal dari Afrika? Zaman sekarang nggak ada lagi yang menganggap Piltdown sebagai bukti evolusi. Kecuali para kreasionis yang butuh sasaran (yang tidak relevan lagi).

HJ:

Saya mengangkat masalah Piltdown, dalam konteks ketidakpercayaan yang sama terhadap fosil H.erectus yang ditemukan oleh E.Dubois yang kemudian direkayasa seolah-seolah betulan. Bagaimana mungkin hanya dengan menemukan fosil femur, gigi dan tempurung bisa diambil kesimpulan makhluk tersebut berjalan tegak. Atas ketidakpercayaan orang pada jaman itu, maka para evolusionis merasa perlu membentuk manusia Piltdown, sebagai bukti evolusi untuk mendukung teorinya.

Anandya:
Saya nggak usah pake kata-kata mutiara soal belajar lagi itu ya. Kecuali tandatangan saya itu.

Pendapat Hari Jonathan:
Maaf, saya kurang mengerti dengan tandatangan yang anda maksudkan, apakah buku?. Tetapi saya coba cari informasi dari Google, saya baru tahu kalau Anda ternyata adalah penerjemah beberapa buku bertema evolusi. Saya baru menyadari, ternyata buku yang saya beli sejak tahun 2003 mengenai Asal-Usul Manusia, karangan Richard Leakey adalah Anda sendiri yang menerjemahkan. Jika ada kesempatan, mungkin saya perlu tandatangan Anda untuk kenang-kenangan, jika kita pernah berdebat mengenai hal ini :-) Saya sendiri adalah kolektor buku-buku bertema evolusi, tetapi sebatas keingintahuan saya saja, bagaimana para evolusionis mengungkapan sejarah alam dan makhluk hidup di dalamnya.

Sekali lagi, evolusi adalah kepercayaan semata. Ada yang percaya tentu ada yang
tidak. Bagaimanapun saya tetap menghargai perbedaan pandangan tersebut.

Salam hangat,
Hari Jonathan

Hari Jonathan, 17 Maret 2009

Pak Andya,
Saya sebetulnya sangat tertarik berdebat / berdiskusi lebih lanjut dengan anda, khususnya masalah Pithecanthorpus erectus ini, tetapi sayang waktu itu anda, tidak melanjutkan diskusi mengenai masalah ini. Saya terarik dengan buku terjemahan anda, mengenai asal usul manusia,. Pada 12 Febuari 2009 (Peringatan 200 tahun Charles Darwin) yg lalu pun, saya berharap ketemu anda di UI, tetapi sayang saya enggak tahu, anda berada di mana.

Salam,
Hari Jonathan

About these ads

6 responses to “Spekulasi tentang Manusia Jawa

  • agorsiloku

    Tulisan Mas Haryo membuka lebih banyak kaum terpinggirkan yang lebih cenderung menolak teori evolusi sebagai sebuah pendekatan. Mas betul, bukan karena persoalan agama maka teori atau lebih tepat evolusi ditolak. Namun juga, bukankah Darwin memang sejak dari awal mempertimbangkan untuk menolak kehadiranNya karena teorinya.
    Namun juga, teori evolusi lebih banyak mengajarkan taksonomi ilmu untuk memilah-milah mahluk hidup.
    http://agorsiloku.wordpress.com/2007/04/07/apakah-teori-evolusi-didasari-alasan-penolakan-adanya-tuhan/

    Salam hangat, agor

  • harjo

    Agor,
    Terima kasih atas komentarnya.
    Sebetulnya yg menelurkan gagasan Klasifikasi (memilah-milah makhluk hidup) adalah Carl. Linnaeus, yaitu seorang yang tidak percaya kepada Teori Evolusi. Masalahnya, gagasan tersebut justru diadopsi oleh evolusionis, dan dijadikan sebagai bukti Teori Evolusi. Bahkan dijadikannya sebagai pintu gerbang diterimanya Teori Evolusi pada saat itu.

  • Izal

    Mas Harjo….Yang anda katakan omong kosong belaka. Biar bagimanapun saya lebih percaya apa yang dikatakan HY. Teori yang beliau kemukakan berasal dari sumber yang kuat.

    • harjo

      Pak Izal,
      Yang Anda maksudkan omong kosong itu, bagian yang mana? Sepertinya Anda belum membaca secara lengkap isi diskusi di atas. Tolong dipahami kembali, saya sependapat dengan apa yg ditulis oleh HY.

  • chodirin

    Itu pak Anandya dan Pak Pras gak menanggapi lagi ya?
    Sepertinya gak berkutik tuh, makanya KABUR dari diskusi/perdebatan.
    sudah ketemu sama pakarnya langsung kabur. Hahaha
    begitulah cara2 mereka berdiskusi, tidak mau mengakui kebenaran.

    Salut angkat dua jempol saya buat Pak harjo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 71 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: