Berkunjung Ke Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), seperti tidak ada artinya jika tidak membahas tentang Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) yang saat ini jumlahnya hanya sekitar 55 ekor saja. Dulu, kabarnya badak ini tersebar di Jawa seperti Gunung Slamet, Kedu, Wonosobo, Rembang, Nusa Kambangan, Gunung Ciremai, Priangan Selatan, Pelabuhan Ratu, Telaga Warna, dan Garut serta Sumatra Selatan. Tetapi saat ini keberadaan hewan tersebut hanya ada di TNUK. Sehingga tidak heran jika TNUK saat ini menjadi satu-satunya tempat di dunia yang menjadi rumah terakhir bagi badak Jawa, yang dijadikan sebagai kawasan konservasi dan World Heritage Site yang ditetapkan oleh Komisi Warisan Dunia UNESCO.
Sifatnya yang soliter dan sangat peka terhadap kehadiran manusia membuat badak ini sangat sulit ditemui. Bahkan penduduk yang sudah bertahun-tahun tinggal di sini pun belum tentu pernah ketemu hewan bercula tersebut.
Dari jaman saya kuliah dulu hingga saat ini ternyata jumlah tersebut belum juga bertambah. Mengapa sih jumlahnya tetap segitu, apakah ada yang salah dalam pengelolaan? Atau bisa jadi penelitian WWF dan Yayasan Rhino itu memang benar, bahwa ada persaingan antara banteng dan badak dalam sediaan makanan. Tetapi masa sih, hutan yang begitu luas, tidak mampu menampung hewan yang jumlahnya menurut saya belum seberapa itu?. Nampaknya sampai saat ini masih menjadi tanda tanya.
Oh ya, ada cerita lucu, bahwa ternyata kadang-kadang penduduk di sini suka menggunakan kotoran badak untuk dijadikan rokok. Jadi kotoran badak itu diisap ke mulutnya J katanya harum hmmm …
Sore itu, kami kembali ke Jakarta, tetapi tidak lagi ke Taman Jaya, melainkan melalui langsung Sumur. Sampai di rumah sudah dini hari, pukul 00.30 wib, karena langsung menjemput anak-anak saya yang saya titipkan di rumah orang tua. J hi hi hi … dasar orang tua geblek.
(Photo di atas diambil dari situsnya Departemen Kehutanan, kalau tidak salah yang photo Allan Compost?, betul enggak ya?).
Baca juga, tulisan saya yang lain:
1. Perjalanan Menuju Taman Nasional Ujung Kulon
2. Air Panas Cibiuk di Kawasan Konservasi
4. Dari Taman Jaya Berlayar Menuju Ke Pulau Peucang.
kotoran badak buat jadiin rokok dan harum kang?
weits, rasanya gak sama dengan kotoran kucing ato ayam yang wanginya aduhai itu kan, kang?
Jadi pengen tau rasa rokok-nya X-O (ArrgHhgahhhh)
Blog mas review2 ilmiah juga, n ga kalah sama media komersil
Udah ga zaman positivisme n dikotak2in. Keseragaman adalah rezim.
Soal risiko populer n ilmiah, mending ilmiah dengan gaya pop (gak bikin dahi berkerut). Terlalu pop juga bisa jadi terlalu mainstream n keburu kalah sama bloger lain yg udah duluan. Tetep begini aja Mas, model jurnal gitu. Jarang dibuat n kemungkinan bakal banyak dicari orang.
Makasih dah mampir
PS: Masi penasaran sama rokoknya (doh)
wew…
rokok kotoran badak?
weks…
ntar klo dah nyobain, cerita2 ya, mz…
btw, masih segitu2 aja jumlahnya?
hhhmm.. harusnya masih bisa disyukuri, g berkurang jumlahnya..
btw, biar gak ketemu badaknya, ketemu gak sama kotorannya?
Aku pernah dapat bekas tapaknya & tahinya di Way Kanan. Ah melenceng dr yg diomongin: badak Jawa.
Tambahan juga mas. Badak jawa juga bisa main film lho. Dia bermain di film kungfu panda sebagai Commander Vachir, penjaga penjara yang hanya menawan satu tawanan: tai lung.
Mungkin bisa dilihat di sini:
http://albaz.wordpress.com/2008/08/06/mas-slamet-main-di-kung-pu-fanda/
(maaf, numpang nyantumin blog teman. Thanks ya)
masa sih?
emang bener klo kotoran badak bisa di jadikan rokok?
aneh
pengen tahu lebih banyak lagi nih!apa bener kotoran badak bisa di jadiin rokok!
gila lo masa kotoran badak elo hisap,kalau gw udah mati kali