Malam ini saya menginap di homestay-nya Pak Komar, Sunda Jaya. Saya berharap tadinya di tempat ini akan ketemu banyak kawan-kawan dari milis komunitas backpacker Indonesia, yang satu tujuan dengan saya ke Pulau Peucang. Tetapi rupanya hanya ketemu dengan satu orang saja, asal Bandung. Sehingga rencana menyewa sebuah kapal pun gagal, karena biayanya menjadi sangat mahal, Rp 1.500.000,- pulang pergi.
Sesuai saran Pak Komar, sebaiknya ikut saja kapalnya, yang kebetulan akan menjemput turis dari Cekoslovakia dan juga dari kelompok Actur (Auto 2000 Adventure) tetapi nanti malam. Siplah … saran tersebut akhirnya saya setujui dengan biaya hanya sebesar Rp 250.000,- pulang pergi untuk 2 orang.
Keesokan harinya, sambil menunggu berangkat ke Peucang, seharian kami habiskan waktu di perkampungan tradisional Taman Jaya, areal persawahan, dan terakhir air panas Cibiuk, di kawasan hutan konservasi.
Penduduk di sini sangat ramah, sepanjang perjalanan selalu saja ada yang menyapa. Jalan-lan desa itu cukup luas, meskipun belum beraspal, hanya tersusun dari batu-batuan yang berukuran cukup besar. Di kiri-kanan jalan banyak ditemui rumah-rumah panggung. Terlihat ada seorang Ibu yang sedang mencari kutu anak remajanya, ada yang sedang menyapu, ada juga yang lagi netekin anaknya. Beberapa rumah di antaranya terlihat memiliki parabola, karena saluran televisi di sini rupanya tidak terjangkau oleh antena TV biasa. Semakin jauh kaki ini melangkah, semakin lama, rumah-rumah penduduk semakin jarang sampai akhirnya tidak ada lagi, sudah berada di sawah.
Menarik, memperhatikan para petani yang sedang menandur di area sawah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan yang dilatarbelakangi gunung Honje dan Cibiuk tersebut. Berjalan di antara pematang sawah yang sempit dan agak sedikit lembek, adalah kesempatan yang jarang terjadi. Sesekali saya berusaha mengimbangi langkah kami di antara pematang sawah, yang nyaris kehilangan keseimbangan, karena perut yang sudah agak membuncit.
Peluh keringat membasahi sekujur badan, ternyata kami sudah berada di perbatasan hutan yang sejuk, rimbun dengan gemerincing aliran sungai kecil dari dalam hutan menuju persawahan. Tempat yang mengasyikan. Berharap kami bisa menjumpai banyak binatang liar di sini. Aneh juga kan, kalau ke hutan, tetapi tidak menemui binatang liar seekorpun
!.
Perjalanan di tengah hutan yang berliku-liku dan menanjak penuh perjuangan itu, berakhir di sebuah tempat, air panas Cibiuk. Saya pikir, Cibiuk ini adalah tempat asal mula nama rumah makan khas Sunda, Sambel Cibiuk. Rupanya bukan, lain lagi. Sambil beristirahat, dari kejauhan nampak beberapa ekor lutung hitam, Presbytis cristata bergelayutan di atas pohon, dan suara-suara burung yang saling bersahutan. Beberapa serangga kupu-kupu pun tak luput menjadi incaran kami untuk didokumentasikan.
Bak, seorang tour guide, Pak Komar pun bercerita, sambil menunjuk kesebuah tanaman bahwa ini adalah tanaman Songgom, daun kesukaan Badak Jawa, selain selungkar dan pucuk rotan. Ditambahkan, bahwa badak kalau makan, biasanya sambil jalan dan lurus. Lucu juga ya … Lalu, kalau ketemu Badak di tengah jalan dan mengejar kita? Istri saya menimpali, “gampang, tinggal belok saja, kalau perlu zigzag, bebas dech …”.
Dalam hati saya, bersyukurlah, kalau ketemu Badak, penduduk sini belum tentu ada yang pernah melihat badak secara langsung. Pak Komar sendiri menurut penuturannya sudah 10 kali berjumpa langsung. Jadi ingin ketemu … Kabarnya Badak sering ditemui di Sungai Cigenter, Cidaon, Handeleum, Citandahan dan Cibunar. Kalau beruntung, badak bisa ditemui di musim panas. Biasanya dia akan menuju sungai untuk minum, jadi tinggal tunggu saja di situ.
Menjelang sore, kami kembali ke ladangnya Pak Komar, dan disuguhi kelapa muda. Ah seger banget … Tidak lama kemudian, makanan diantarkan oleh istrinya Pak Komar, sayur kulit melinjo, ikan asin, lalap timun dan terong, serta sayur jamur. Wuih uenaknya… Istrinya rupanya memang jago masak, atau memang lagi lapar berat? He he he… Gabungan keduanya.
Sehabis makan, kami kembali ke homestay, tidur. Mempersiapkan perjalanan nanti malam menuju Pulau Peucang.
(Bersambung)




Wah …
cantik ini …
semacam laporan perjalanan ini
asik-asik
waduh pak, tambah asyik ceritanya…ditambah foto2 pemandangan yang cantik…halah jadi pengen euy…
[...] 2. Air Panas Cibiuk di Kawasan Konservasi [...]
Pak, saya dan teman2 berencana mau ke Ujung Kulon awal tahun… Perjalanannya dari Jakarata pakai motor (rame2)..
Kira kira biaya nya apa aja ya buat masuk kesitu ?? Trus motor bisa dititip dimana ?? Ke Ujung Kulon naek motor itu pilihan yang tepat ga se ?? Tempat2 yang direkomendasikan apa aja ya?? Tips2 nya dibagi2 dunk Pa’….
(Kalo bisa jawaban saya dikirim lewat email ya Pa’…)
Makasih ….