Feeds:
Tulisan
Komentar

Ledakan bom

Pagi itu, saya bermimpi, ada cahaya putih, yang makin lama makin mendekati mata saya dengan cepatnya, hingga membuat saya kaget dan terbangun. Saya lihat jam, ternyata masih menunjukan pkl 04.00 wib. Sejak saat itu saya tidak bisa lagi tidur.

Dan betapa terkejutnya saya, ketika sesampai di kantor, dari speaker terdengar ada berita adanya ledakan bom di hotel JW Mariot dan Ritz Carlton. Oh, baru sadar ternyata arti mimpi semalam itu adalah ternyata kejadian bom ini.

Sungguh, peristiwa yang membuat miris, dan menyesakan hati.

Berenang di Ocean Park

oceanpark1

Kebetulan kemarin dapat tiket gratis ke Ocean Park BSD City dari pembelian modem dan berlangganan koneksi internet melalui Smart. 

Tiket yang jumlahnya 6 lembar ini, akhirnya saya manfaatkan bersama keluarga, istri dan anak-anak. Harga berlangganannya modemnya sendiri adalah Rp 990.000,- sementara harga tiket masuk OceanPark ini adalah Rp 60.000,- per orang. Jadi, nilai tiket itu sekitar Rp 360.000,-. Saya pikir, lumayan.

oceanpark2

Sebuah kolam yang menurut saya, mirip-mirip di Atlantis. Di sini, bentuk kolam, mirip pantai, ada ombak buatannya. Buka mulai pkl 09.00 wib dan tutup pada pkl 19.00 wib.

Lokasi Ocean Park ini berada di kompleks perumahan BSD Citi. Sebuah tempat yang baru kali ini saya kunjungi. Sengaja berangkat agak sorean, pulang gereja, supaya tidak terlalu panas. Sampai di lokasi sekitar pukul 15.30 wib. Voucher yang saya peroleh kemudian ditukar dengan struk pembelian tiket masuk dan juga mendapat coint smart.

oceanpark3

Coint smart ini semacam uang deposit untuk keperluan membeli segala sesuatu di dalam arena. Jadi, tidak lagi menggunakan uang cash, melainkan berbentuk coint yang dimasukan ke dalam pergelangan tangan.  Cukup praktis.

Tidak terasa, ternyata sudah pkl 19.00 wib. Itupun diusir oleh penjaga kolam untuk segera naik. Prit … prit … priiiiiiittttttt …

Kami pun segera berkemas dan pulang ke rumah.

Pulau PramukaWalaupun tidak begitu jauh dari Jakarta, justru daerah wisata ini, malah belum pernah kami kunjungi. Pulau Pramuka, merupakan salah satu pulau yang berada di gugusan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Kabarnya di pulau inilah terdapat sarana pelestarian Penyu Sisik, Eretmochelys imbricata. Pulau yang luasnya hanya 9 Ha ini cukup menarik, sehingga ketika anak-anak saya meminta untuk berkunjung ke sana, segara saya setujui.  

Tidak seperti biasanya, Senin itu, pkl 05.00 wib, anak-anak sudah bangun, pakaian renang, perlengkapan snorkeling,  makanan ringan, dan perlengkapan lainnya, semua sudah disiapkan dan dimasukan ke dalam tas punggung.  Masing-masing bertanggungjawab untuk membawa tas punggungnya sendiri-sendiri.  Saya sendiri, sudah menyiapkan Camera digital, binocular, charger, dan flashdisk cadangan. Pokoknya, pkl 06.00 pagi itu,  kami sudah siap berangkat menuju Muara Angke, untuk menyeberang ke Pulau Pramuka.

Pkl 07.00 wib kami sudah tiba di Muara Angke, sebuah pelabuhan rakyat yang sangat sederhana. Terlihat ada beberapa kapal yang sandar. Barang-barang  bercampur jadi satu dengan penumpang. Bahkan ada juga beberapa motor yang ikut dinaikan, yang ditempatkan bagian depan kapal. Tidak terlihat banyak turis, karena memang bukan tanggal merah, kebanyakan adalah penduduk sekitar kepulauan seribu. Tidak tersedia bangku-bangku khusus untuk duduk, jadi penumpang, cukup dengan duduk selonjoran saja di palka kapal.

Tentu ini adalah pengalaman pertama untuk kami. Nampak si Adriel sangat menikmati perjalanan ini. Tidak seperti biasanya dia berani bertanya-tanya  kepada sang Captain Kapal, yang kebetulan duduk dibelakang kemudi. Debby terlihat muntah-muntah, karena tidak terbiasa, begitu juga saya yang nyaris saja. Dengan waktu tempuh 2 jam 15 menit, dan ongkos Rp 30.000,- perorang dan Rp 15.000,- untuk anak-anak, akhirnya sampailah kami di Pulau Pramuka. Penduduk, nampak ramah, semua tersenyum atas kehadiran kami yang nampak seperti turis (gembel) ini. Beberapa di antaranya menawarkan tempatnya untuk di inapi, yang lain menawarkan hotel dan hostelnya, tetapi nampak tidak begitu memaksa. Jumlah penduduk yang tidak seberapa ini, memang sangat menyolok jika ada pendatang  yang hadir.

Petualangan di Pulau Pramuka pun di mulai

Saya susuri semua lokasi, sambil mencari-cari penginapan yang murah meriah, ke sisi sebelah kanan dermaga, hingga ke ujung pulau. Tetapi rupanya tidak ada, hanya ada 1 hostel saja yang terlewat, tetapi seperti tidak ada penghuninya, sehingga kami tidak berani masuk.

Kembali lagi ke dermaga, dan mampir di warung kopi, sambil memesan indomie. Mulailah kami bertanya-tanya kondisi sekitar sini. Dari obrolan singkat, diperoleh keterangan bahwa disini ada beberapa hostel/wisma, di antaranya adalah: Wisma Delima, Wisma Dermaga, dan Wisma PHPA. Rata-rata harga perhari adalah Rp 350.000,- an. Fasilitasnya ada AC, TV, dsb, tetapi sayangnya semua fasilitas tersebut hanya bias dinikmati mulai pkl 17.00 wib.  Maklum, karena untuk penerangan di sini hanya menggunakan genset. Setelah dipertimbangkan, akhirnya saya memilih wisma PHPA, yang ratenya, setelah ditawar menjadi  Rp 250.000,-. Sebuah wisma yang sangat besar. Bisa menampung 15-an orang sebetulnya, karena di dalamnya sudah tersedia beberapa matras untuk tidur. Jadi kalau rombongan., menginap di sini terhitung murah. Hanya saja, karena kami hanya berempat, jadi sebetulnya cukup mahal juga.

Di depan wisma, ada peralatan outbond, dengan pohon-pohon besar yang cukup teduh, menara pengawas, sementara di sisi kiri ada lapangan bola yang cukup luas. Di sisi kanan wisma terdapat sarana penetasan telur penyu sisik, yang menurut saya cukup menarik, untuk dipelajari oleh anak-anak. Tempat yang tidak begitu luas, tetapi di dalamnya terdapat beberapa kolam yang terbuat dari fiber glass berwarna biru. Di mana di setiap kolam disi oleh penyu seumuran, dan di kolam lainnya dengan umur yang berbeda, jadi agak besaran sedikit, hingga yang sudah dewasa, di kelompokan terpisah berdasarkan umur.

Rupanya, di sini hanyalah sebatas tempat penetasan telur penyu saja. Sedangkan penyunya sendiri  tidak pernah mendarat untuk bertelur di pulau ini. Sepengetahuan saya, di dunia, ada 7 jenis penyu. Penyu sisik adalah salah satunya, dan merupakan hewan langka yang dilindungi oleh Undang-Undang. Ketujuh jenis penyu tersebut adalah sbb:

  1. Penyu hijau (Chelonia mydas)
  2. Penyu sisik (Eretmochelys imbricata)
  3. Penyu lekang kempii (Lepidochelys kempi)
  4. Penyu lekang (Lepidochelys olivachea)
  5. Penyu belimbing (Dermochelys coriacea)
  6. Penyu pipih (Natator depressus)
  7. Penyu tempayan (Caretta caretta)

Penyu merupakan hewan yang sangat unik, tubuhnya terbungkus oleh karapas keras yang pipih, dan dilapisi zat tanduk. Karapas ini berfungsi untuk melindungi diri dari predatornya. Sedangkan di bagian bawah, dada dan perut dilundungi dengan yang disebut plastron.  Penyu juga memiliki alat dayung (fliper) pada bagian depan, dan fliper bagian belakang sebagai kemudi.

Pulau Pramuka hanyalah salah satu tempat penangkaran, tempat-tempat populer lainnya adalah:  Pantai Selatan Jawa Barat, Pangumbahan, Cikepuh; Pantai Selatan Bali, dekat Kuta; Kalimantan Tengah (Sungai Cabang); Pantai Selatan Lombok; dan Jawa Timur (Alas Purwo).

Pulau yang tidak begitu luas ini, habis kami jelajahi hanya dengan 1 jam-an saja. Sebuah pulau yang termasuk padat, berjumlah 1004 jiwa, yang terdiri dari suku Bugis, Tangerang, dan Jakarta.

Pulau Pramukanya sendiri, menurut saya tidaklah begitu menarik. Hanya saja, dari sinilah awal pemberangkatan kita jika ingin ke pulau-pulau sekitarnya dengan menggunakan ojek kapal. Di Pulau ini juga tersedia toko yang menyewakan peralatan menyelam, dengan harga sekitar Rp 40.000-an, lokasinya tepat di sebelah rumah sakit dan kantor pos.

Setelah istirahat sebentar di penginapan, sorenya kami berangkat ke pulau Karya, yang menurut penduduk sangat menarik untuk berenang anak-anak, karena pasirnya yang putih bersih. Kami menumpang ojek kapal, dengan ongkos yang hanya Rp 3.000,- per orang. Tiga puluh menit perjalanan, akhirnya kami sampai di Pulau Karya. Pulau yang nampaknya tidak ada “perumahan penduduknya”, hanya semacam komplek atau kantor kepolisian. Di sisi sebelah kanan dermaga, nampak pasir putih, dan saya pun membiarkan anak-anak berenang di pantai, yang cukup teduh, karena terlindung pohon-pohon. Saya sendiri malah memanfaatkan untuk tiduran di tepian dermaga. Lumayan, untuk menghilangkan penat. Dan kebetulan tidak ada pengunjung lainnya.

Hari sudah menjelang sore, kami pun bersiap-siap  kembali ke dermaga, menunggu kapal ojek yang akan ke Pulau Pramuka. Cuaca masih sangat cerah, langit nampak biru, pertanda tidak ada polusi, berbeda dengan Jakarta yang selalu kelabu, penuh dengan polusi yang menyesakan. Sulit membedakan antara sedang mendung dengan polusi. Gelombang ombak, mengantar kami di atas kapal, seakan tidak terasa, hingga tiba kembali di pulau Pramuka.

Malamnya, kami memancing di sekitar dermaga, menggunakan umpan “udang-udangan” hingga beberapa jam, ternyata tidak berhasil. Lalu umpan kami ganti dengan cumi betulan yang kami peroleh dari pemancing lain. Setelah beberapa menit, melemparkan umpan kelaut, ternyata tetap tidak berhasil. Yah… memang pada dasarnya kami tidak hobi memancing, dan juga tidak ada seekorpun yang berhasil di peroleh. Kegiatan mincing pun kami hentikan, pulang ke wisma, istirahat, tidur.

Malam, semakin larut, suara genset terdengar dari kejauhan, yang sedikit mengganggu. Mengingatkan saya sewaktu kecil, ketika PLN belum menjangkau rumah saya, suara genset inilah yang menjadi pendengaran setiap malam. Nyamuk, cukup banyak, tetapi beruntung si pengelola sudah menyediakan “Baygon”, tinggal semprot, beres.

Mungkin saking capenya, bangun tidurpun semuanya jadi kesiangan. Pukul 09.00 wib, Buset!. Itu pun dibangunkan oleh sipengelola wisma, yang dia pikir sudah tidak ada penghuninya lagi.

Selesai mandi, kami pun segera mencari makanan. Di sini, banyak penjual makanan, bahkan warung padang pun ada. Hanya saja, dari semalam saya mencari penjual ikan baker, ternyata di Pulau Pramuka ini tidak ada yang menjual. Harus menyeberang naik kapal lagi, ada pulau yang khusus menjual ikan bakar. Bah …

Sebelum pulang, anak-anak sempat mengumpulkan beberapa specimen, kerang-kerangan, dan juga tukik yang sudah mati, yang katanya untuk bahan pelajaran, nanti di rumah. Karena besok akan pilpres, pkl 13.00 wib, kami segera kembali ke Muara Angke.

Tulisan ini seharusnya diposting sejak bulan Desember 2008 lalu, karena kesibukan, baru kali ini diupload.

Berbeda dengan tahun-tahun  sebelumnya yang selalu mengambil akhir tahun, kali ini jadwal cuti saya ditentukan oleh sebuah maskapai penerbangan Air Asia. Luar biasa banget tuh maskapai, bisa  mengatur hidup orang untuk cuti.

Bagaimana pun saya, harus mengobarkan diri, demi 2 lembar tiket yang murah meriah, untuk backpacking trip ke tiga negara Asia Tenggara, Thailand, Malaysia, dan Singapore.  Begitu cek di websitenya, ternyata masih ada tiket yang nol rupiah untuk tanggal 31 Maret 2009. Tidak menyia-nyiakan waktu, segara saya daftarkan untuk 2 orang, saya dan istri saya.

Ini pengalaman pertama kali booking secara online, melalui website dan pembayaran menggunakan kartu kredit. Ternyata sangat mudah, dan sederhana,  tinggal memilih kota tujuan dan asal, tentukan tanggal pemberangkatan, dan semua jadwal penerbangan segera terpampang, disertai tarifnya. Selanjutnya isikan data diri, nomor pasport, dsb. Tentukan pembayaran, sebutkan nomor kartu dan juga angka dibelakang kartu, beres.

Begitu kepastian tiket diperoleh, barulah saya mengajukan ke Bos untuk cuti selama 12 hari dari tanggal 31 Maret 2009 hingga 11 April 2009. Karena saya termasuk karyawan teladan, selalu rajin masuk kantor, sehingga jatah cuti saya utuh, dan langsung mendapat persetujuan.

Sekarang tinggal hunting untuk tiket pulang. Beberapa maskapai penerbangan sudah saya cek melalui masing-masing website. Tetapi rupanya saat itu harga tiket semua mahal, baik langsung dari Bangkok – Jakarta, Kuala Lumpur – Jakarta, maupun Singapore – Jakarta. Saya coba cek Batam – Jakarta, ternyata ada yang murah, hanya Rp 190.000,- an saja. Akhirnya kembali saya booking secara online menggunakan Air Asia lagi, tanggal 11 April 2009.

Sekarang tiket pulang pergi sudah saya peroleh,  yang perlu saya siapkan adalah itenary lengkapnya, dan juga tempat-tempat yang akan dikunjungi. Serta bagaimana mengurai pengeluaran selama backpacker tersebut, agar bisa murah.

Jadi, itenarynya adalah: Jakarta – Bangkok (dengan pesawat), Bangkok – Phuket (dengan bis), Phuket – Kuala Lumpur (dengan kereta api), Kuala Lumpur – Singapore (dengan kereta api), Singapore – Batam (dengan ferry), Batam – Jakarta (dengan pesawat).

Bersambung

Lucu juga, hanya gara-gara kirim e-mail ke teman-teman dekat, yang berisi keluhan terhadap layanan sebuah rumah sakit bertaraf international. yang tidak memuaskan,  berakhir dengan dijebloskannya pasien  ke penjara. 

Prihatin!!! Itu kata yang bisa saya ungkapkan, atas kasus yang menimpa Prita Mulyasari (32 thn), karena dianggap melanggar Pasal 27 ayat (3) UU ITE.  Bisa jadi memang UU ITE itu mengandung celah yang bisa diselewengkan untuk membungkam musuh yang tidak disukai. Pada akhirnya membuat orang akan menjadi berhati-hati dalam mengemukakan pendapat, takut kena gugat.

Padahal keluhan Ibu Prita ini dilindungi Undang Undang  No 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, sehingga tidak bias dijerat oleh UU ITE.

Ibu dengan dua anak yang masih balita ini, awalnya hanya persoalan kekesalannya karena kesalahan mendiagnosa penyakit yang diderita. Karena kekeliruan tersebut, akhirnya minta pindah rumah sakit, dan sudah tentu dia harus melihat hasil diagnosa yang telah dilakukan oleh dokter sebelumnya, agar memudahkan dalam pengecekan oleh dokter selanjutnya.

Sebetulnya adalah hak pasien untuk mengetahui hasil pemeriksaan tersebut, karena dia sudah membayar mahal untuk keperluan tersebut, jadi sebetulnya wajar-wajar saja.  Karena layanan yang tidak memuaskan tersebut itulah yang akhirnya keluhan tersebut disampaikan lewat e-mail ke teman-teman Prita.

Ternyata e-mail tersebut, justru menyebar kemana-mana, menjadi tidak terkendali, yang menurut Rumah Sakit itu, merugikan pihaknya, karena dianggap melakukan pencemaran nama baik, yang kemudian melaporkan masalah ini ke pihak yang berwajib.

Bukankah kalau memang e-mail itu dianggap mengganggu, dan mencemarkan nama baik, bias dilakukan dengan hak jawab? Tetapi malah melakukan tuntutan pidana/perdata yang pada akhirnya merugikan institusi rumah sakit itu sendiri, karena ternyata dukungan moril terhadap Ibu muda ini mengalir deras.

Klarifikasi pun sebetulnya sudah dilakukan oleh pihak rumah sakit, melalui harian Kompas dan Media Indonesia pada saat itu. Tetapi nampaknya belum puas, sehingga merasa perlu untuk menggugatnya ke pengadilan, dan berakhir dengan kemenangan pihak rumah sakit.

Saya sebagai orang awam, melihatnya jadi lucu juga, jika akhirnya Rumah Sakit itu, berhasil mengkriminalisasi pasiennya yang notabene sebetulnya mengambil keuntungan dari pasiennya. Jelas, tindakan rumah sakit ini terlalu berlebihan, yang pada akhirnya menjadi boomerang dan merugikan pihak rumah sakit itu sendiri.

Catatan kecil ini mungkin berguna ketika kita dihadapkan pada pilihan, apakah membeli Netbook atau Notebook? Berikut ini adalah  sebagian perbedaan di antara keduanya.

Perbedaan mencolok antara Netbook dengan Notebook adalah lebih kepada fungsionalitas. Walaupun keduanya mirip, tetapi keduanya didisain dan keperuntukan yang berbeda.

Dari sisi ukuran layar LCD, Netbook memiliki ukuran layar yang lebih kecil sekitar 7 – 10 inci, sedangkan Notebook 10 – 17 inci.

Dari sisi berat dan ukuran, Netbook berukuran lebih ringan dan ringkas, karena umumnya Netbook tidak dibebani oleh optical disk drive (walaupun ketika tulisan ini dibuat, saat ini sudah tersedia juga Netbook dengan pemutar DVD, yaitu keluaran Asus, type  Eee PC 1004DN). Netbook yang beratnya hanya 1 kg-an, karena tidak disertai optical disk drive, akan lebih mudah untuk dibawa-bawa oleh sipengguna. Sedangkan Notebook cenderung lebih besar dan lebih berat.

Dari sisi harga, Netbook cenderung lebih murah, berkisar antara Rp 3 – 5 jt-an, sedangkan notebook lebih mahal, paling tidak di atas Rp 5 jt-an.

Kebanyakan Netbook umumnya memiliki spesifikasi yang lebih rendah, karena hanya menggunakan prosesor Intel Celeron atau Atom N270/280, yang memiliki konsumsi daya dan keluaran panas yang rendah,  sehingga system operasi yang cocok digunakan adalah Windows XP yang lebih ringan, bukan Vista yang boros resource. Lalu bagaimana dengan Linux? Menurut Steven A. Ballmer, CEO Microsoft (Kompas, 1 Juni 2009), bahwa tahun lalu (2008) 98 persen produk netbook yang dipasarkan menggunakan Linux, sedangkan sekarang (2009) 89 persen netbook tersedia menggunakan Windows.

Jadi mana yang akan dipilih?  Untuk orang yang mobil, nampaknya akan lebih cocok menggunakan Netbook ketimbang Notebook. Netbook digunakan sebatas untuk keperluan berinternet, chatting, pengelolaan e-mail dan sedikit aplikasi office.  Sedangkan untuk penggunaan yang berat, seperti halnya design graphis, pengelolaan gambar, editing video, dan game, lebih cocok menggunakan notebook.

Sudah lama sebetulnya beredar isu, bahwa ada CD dari sebuah majalah computer yang sering mengandung virus pada CD yang dia sertakan. Bahkan bukan pada CD nya saja tetapi juga pada salah satu website dari group dari perusahaan tersebut, disinyalir ikut menyebarkan virus. Dibuktikan kata sebuah postingan di sebuah blog, kalau sudah berkunjung situs tersebut, dan sesudahnya discan dengan antivirus lain, ternyata kedapatan virus di PC nya.

Saya sendiri pernah mencoba untuk membuktikan kebenaran berita tersebut, setahun yang lalu, khususnya pada antivirus buatannya. Dan memang, antivirus tersebut ketika discan menggunakan antivirus yang lain, selalu dianggap sebagai virus. Memang aneh. Koq antivirus dianggap sebagai virus. Sehingga saat itu, saya memang tidak lagi menggunakannya untuk keperluan men-scan PC-PC yang saya maintenance. Dan saya juga tidak lagi memperpanjang berlangganan majalah tersebut sejak saat itu. Dan saya juga tidak ingin menjatuhkan reputasi dari majalah tersebut. Dengan tidak ikut-ikutan menulis apapun diblog ini. Biarkan itu menjadi catatan saya sendiri. Dan saya berharap bahwa apa yang saya lakukan sebelumnya mungkin saja keliru.

Sesudah satu tahun tidak berlangganan, dan saya kembali berlangganan majalah tersebut. Yah, untuk pembelajaran buat staf saya di Departemen IT termasuk juga pencerahan buat saya tentunya. Dan tak lupa juga menjajal antivirus yang disertai majalah tersebut. Terlebih saya memang sedang menghadapi beberapa permasalahan dengan virus di kantor.

Tetapi rupanya, majalah tersebut masih saja memberikan “bonus” virus / trojan / spyware di CD yang menyertai majalah tersebut. Sehingga dengan berat hati saya harus menulis ini.

Ketika saya cek dengan menggunakan Norton Antivirus 2009, ternyata di CD tersebut (edisi 06 2009) terdeteksi: Spyware e.RemPSteal, yaitu pada direktory:

e:\tool-kit\magazine\fresh softwares full version\chromespass 1.05\chromespass 1.05.zip
dan Trojan Horse pada direktory:
e:\patch&update\auto patcher\windows xp sp3\apup_bin\uz.exe
Seperti diperlihatkan pada gambar di bawah ini:

virus

 

Atas kasus ini, saya benar-benar menjadi curiga, jangan-jangan memang benar seperti yang dikatakan isu yang ditulis pada beberapa blog lain, bahwa virus-virus yang beredar di Indonesia ini justru berasal dari majalah tersebut? Atau paling tidak terkait dengan kepentingan majalah tersebut?

Harapan saya semoga saja tidak, dan jika memang benar, saya berharap, hentikan cara-cara tersebut yang hanya demi mengeruk keuntungan sesaat dengan merugikan orang lain, sekaligus menjatuhkan reputasi majalah tersebut.

Sungguh menjengkelkan!

Sebab dalam beberapa hari terakhir ini, banyak workstation di kantor saya, terkena virus Yuyun.VBS ini. Walaupun enggak begitu ganas, alias biasa-biasa saja, virus yang katanya buatan orang lokal, tetap saja mengganggu.

Ciri kehadiran virus ini, yaitu dengan adanya shortcut Harry Potter di dalam folder, dan Yuyun_cantix di dekstop, dsb. Sehingga computer akan terasa lambat. Dan tanda-tanda inilah yang banyak sekali ditemui di beberapa PC yang terhubung ke LAN, di kantor saya.

Cara kerjanya, ia membuat file auto.exe yang berisi script untuk autorun.inf, thumb.db, microsoft.lnk, dan new folder.lk. yang selanjutnya dicopykan ke setiap folder di computer target, termasuk removable drive. Dan dengan cara yang sama, virus ini membuat file induk kembali pada shortcut di direktory document yang juga berisi autorun.inf, thumb.db dan membuat file database.mdb. Selanjutnya membuat shorcut kembali tetapi dengan nama sesuai nama direktori yang ada didirektori Mydocument.

Jadi virus ini akan :

1. Membuat seluruh folder menjadi shortcut Ada beberapa nama shortcut yang dimunculkan Yuyun.vbs, di antaranya: New Harry Potter, New Folder, SuratQ, Game, Download, dsb.

2. Membuat folder di desktop dengan nama: Yuyun_cantix, yang tidak bisa dihapus.

Penyebaran virus ini ternyata cukup luas di Indonesia. Tetapi cukup gampang juga memusnahkannya. Beberapa di antaranya dengan menggunakan SMADAV, ANSAV dan juga PCMAV. Sedangkan penggunaan Norton 2009 ternyata tidak begitu manjur, tidak terdeteksi.

Semula saya sempat terkecoh juga dengan keberadaan file thumbs.db ini. Setahu saya file ini digunakan Windows sebagai cache informasi file gambar pada direktory yang mempunyai gambar tersebut. Enggak tahunya itu adalah file virus.

Berikut caranya, matikan lebih dulu file wscript.exe yang sedang running. File ini adalah compiler windows yang digunakan untuk menjalankan script. Caranya yaitu tekan tombol ctrl+alt+del berbarengan sehingga masuk ke Task Manager, cari file wscript.exe, pilih end proses.

Sedangkan untuk menghapus shortcut Yuyun_cantix itu, hapus keynya di regiter editor, klik HKEY_CLASSES_ROOT, cari CLSID, cari lagi yang namanya {111111-2222….}, sampai ketemu yuyun_cantix, hapus keynya. Selanjutnya bisa dihapus shortcut tersebut.

Sudah semingguan ini saya punya mainan baru, Facebook. Entah sihir apa yang membuat saya menjadi keranjingan. Yang pasti melalui facebook ini, teman-teman SMP Negeri 91 Jakarta, SMA Negeri 39 Jakarta, tiba-tiba saja bermunculan. Saat saat indah dulu, kembali terngiang dalam ingatan, seolah peristiwa demi peristiwa baru saja terjadi kemarin, ahhh… betapa indahnya masa-masa itu.

Himpitan ekonomi yang membelit, dan bagaimana susahnya seorang nenek berjuang demi cucunya sekolah kala itu, seperti tidak terpikirkan sama sekali, oleh anak yang baru gede berseragam abu-abu, yang katanya pendiam, pemalu dan banyak jerawat itu. Yang dia tahu, cuma main dan sekolah, itu saja.

Dua puluh tiga tahun sudah berlalu, banyak waktu yang tiba-tiba saja hilang, dan saya pun sibuk dengan urusan kuliah, masing-masing berjuang demi hari esok dan masa depan yang lebih baik. Dan pergumulan pun dimulai. Apakah jadi orang? atau jadi gelandangan!

Dan sekarang tiba-tiba saja banyak kawan-kawan dulu muncul namanya di account facebook, foto-foto jadulpun bertebaran. Sadar, ternyata kemajuan teknologilah yang akhirnya menyatukan kita, masa lalu dengan masa kini. Ternyata dunia itu benar-benar seluas daun kelor, sempit. Itu jargon jadul, dibuat ketika computer belum diciptakan.

Intip sana, intip sini, ternyata banyak kawan-kawan yang sudah berhasil jadi “orang”, ada juga kabar kawan-kawan yang sekarang sudah almarhum. Jadi orang? Ya, saya sebut jadi orang, walaupun yang saya maksud jadi orang itu adalah kalau sudah punya account di facebook. Paling tidak dia sudah punya duit untuk membiayai koneksi ke internet. Jadi orang, kalau dia mengirimkan postingannya dari mobile facebook. Jadi orang, kalau dia mengabarkan lulusan perguruan tinggi anu. Jadi orang, kalau dia sudah jadi pengusaha anu. Jadi orang, kalau sudah berkeluarga dan punya anak. Jadi orang, kalau sudah punya rumah. Jadi orang, kalau sudah menjadi pejabat publik. Jadi orang, kalau sudah punya pekerjaan di sebuah perusahaan yang keren. Yah, pokoknya … minimal, kalau saya berhasil menemukan nama mereka di facebook ini, artinya dia sudah berhasil jadi orang. Walaupun bisa jadi, dia buat account di warnet, atau mencuri-curi waktu di kantor walaupun sudah dilarang. Paling tidak, dia jadi orang, karena sudah melek teknologi.

Melek teknologi informasi untuk orang seumuran saya dengan anak-anak sekarang beda loh. Bisa jadi, aplikasi-aplikasi berbasis internet tersebut untuk anak-anak sekarang hal yang sangat biasa, wajar, lahir pun sudah dibantu melalui teknologi komputer. Tentu akan menjadi luar biasa untuk orang seumuran saya, yang kala itu, hanya mengenai mesin ketik, dan masih terasa aneh dengan apa yang namanya “computer”. Jadi kalau muncul di facebook, ini benar-benar luar biasa, pastinya jadi orang.

Hidup ini terasa singkat, seolah baru saja “kemarin” ketemu, ngobrol di kantin belakang sekolah dengan terpingkal-pingkal, karena berhasil ngibulin guru Agama ketika menanyakan, “coba sebutkan macam-macam minuman keras?”. Di jawablah oleh seorang kawan, “Preston, Castrol, dsb :D

Itu adalah salah satu memory yang masih saya ingat.

Hey, kenapa tiba-tiba saya bisa terjerumus di Facebook? Ini gara-gara si Netty, yang membuatkan account saya di website tersebut. Padahal saya sendiri sebetulnya kurang begitu menyukai aplikasi jaringan pertemanan tersebut. Wong saya tidak terbiasa bergaul koq. Tentu saya tidak bisa membiarkan seluruh staf di kantor berlomba-lomba membuat account, di tengah-tengah kapasitas bandwidth yang sudah mulai morat marit.

Maapin bos, biar saya saja yang punya account facebook, yang lain tidak boleh :D Dasar!!!

Menarik, tontonan acara RCTI, malam minggu yang lalu, The Master. Final yang mempertemukan antara Joe Shandy dengan Limbad adalah suguhan yang memang saya tunggu-tunggu. Kedua nya memiliki “aliran” yang berbeda, boleh dibilang Joe Shandy lebih kearah permainan otak, sementara Limbad kearah permainan otot. Keduanya sama-sama menarik, meskipun pada “aliran” yang berbeda. Sehingga menurut saya, seharusnya keduanya tidak bisa “diadu” karena perbedaan type permainan tersebut.
Kalaupun pada akhirnya dipertarungkan, tinggal hanya faktor suka dan tidak suka saja. Dan polling sms lah yang akhirnya menentukan.

Nah, justru di sini lah yang lebih menarik perhatian saya, bukan pada kedua figur tersebut, melainkan lebih kepada, bagaimana penilaian masyarakat terhadap kedua master tersebut. Mana yang lebih disukai masyarakat kita, otot ataukah otak?
Ternyata dari polling sms, masyarakat lebih memilih otak ketimbang otot. Meskipun dengan perbedaan persentase yang sangat kecil. Saya memang suka Limbad, tetapi melihat aksi-aksinya, buat saya mengerikan. Berbeda dengan Joe Shandy, yang memang luar biasa pintarnya, sehingga menarik untuk ditonton.
Keduanya pantas menyandang The Master, hanya faktor otot dan otaklah yang akhinya menjadi penentu, mana yang lebih disukai.

Tulisan Sebelumnya »